
Aisyah sudah menganggap wanita dan pria itu sebagai kedua orang tuanya, entah kenapa melihat mereka beberapa hari ini membuat hatinya tersentuh, mengingatkan dan membayangkan bila kedua orang tuanya masih ada, pastilah mereka akan duduk bersama, Aisyah bisa memamerkan kehamilannya juga membawa suami yang begitu dia cintai.
Air matanya menetes tak terkira, dia hanya sendiri berdiri di batasan ruang tengah dan tamu itu, melihat kedua mertuanya yang tengah saling memijat dan tertawa di ruang tamu.
Ibu merasa ada yang mengawasinya, dia lantas menoleh dan senyumnya melebar, melambaikan tangannya agar Aisyah mendekat.
"Kenapa sayang?" sambut ibu sambil berdiri, dia ajak Aisyah duduk di sampingnya, ibu berada diantara ayah dan Aisyah. "Kenapa sampai menangis begitu, apa Bas melukai hatimu?"
Aisyah bergeleng, itu memancing ayah untuk mengancam kalau sampai Baskara berani melukai hati menantunya, mana Aisyah adalah menantu pertama di rumah ini yang paling menjaga diri dan kehormatan keluarga sekalipun dia diledek atau mendapatkan terjangan ombak besar kala itu.
"Ayah, Ais kan bilang kalau bukan salahnya Bas, jangan aneh-aneh sama anaknya, tanya dulu kenapa ini!" ibu peringatkan suaminya yang mudah terpancing emosi kalau membahas lelaki melukai wanita. "Ais bilang kenapa!"
Dengan suara pelan dan lembutnya, di tengah isak tangis yang ada, Aisyah ungkapkan apa yang tadi mengganjal di hatinya, mengenai kedua orang tua yang sudah tak bisa dia pandang dan jamah, sontak ibu dan ayah pun mengingat kedua orang tua mereka yang telah lebih dulu, rasanya sesak dan menyiksa.
Dunia ini sungguh tak ada artinya bila kedua orang tua sudah tak ada di dekat mereka, mau membanggakan apa dan memamerkan apa rasanya sia-sia karena mereka tak akan bisa menilai upaya dan hasil yang kita dapatkan.
Aisyah hidup sendiri sejak dia masih anak-anak, tapi satu hal yang ayah suka dari menantunya itu, keteguhan Aisyah sejak kecil dan tak mengubah fitrahnya sama sekali sebagai wanita baik.
Ayah tepuk dadanya, meminta dua wanita itu bersandar, kalau ada Shafiyah pasti jadi tiga wanita di dekatnya.
"Aku juga ayahmu, Bas pun bisa kau anggap sebagai ayah, sebentar lagi dia akan menjadi ayah, intinya berbahagialah karena hal baik masih Tuhan berikan di hidup kita, bertemu dengan orang baik adalah anugrah terindah, jangan sedih!" Ayah ingat orang tuanya juga. "Lakukan yang terbaik untuk mereka, kalau ada apa-apa, jangan sungkan berbagi, Is!"
"Iya, Ayah. Ais tidak enak kalau ceritanya Ais malah membuat dan menjadi beban bagi kalian berdua."
"Hei, jangan gitu, Ibu dari nikah sampai punya anak tiga juga sering ngobrol sama orang tua berdua, Ayahmu ini posesif, Bas masih dibolehin, Ibu dulu dicariin terus!" ibu dengan semua memori yang wanita punya, masa lalu dari abad berapa saja pastilah diingat.
Aisyah tegakkan kepalanya, "Ayah mau cucu pertama apa, laki atau perempuan?"
Ayah berpikir sejenak, dia lalu tersenyum.
"Kalau bisa laki-laki, dia kan yang pertama dan bebannya pasti banyak, jadi bahu lelaki lebih dirasa bisa di sini. Tapi, bukan berarti Ayah menolak perempuan ya, jangan dihubungkan, mau perempuan atau laki, itu sudah yang terbaik dan tetap cucuku, keturunan Aksara!"
__ADS_1
Duar,
Ibu cubit pinggang ayah, "Keturunan Aksara saja, terus aku mana, keluargaku mana??!" membela hak ibu kandung Baskara yang tak lain kakak sepupu ibu sendiri. "Hayo, Bas kan bukan anak Ayah saja, jangan egois!"
Mundur, kalau sudah mau perang dunia begini, lebih baik Aisyah menghilang saja, karena kalau tidak, dia pasti menjadi obat nyamuk bagi keduanya.
Hak ibu dan ayah, perang dingin dimulai lagi.
Pelan-pelan Aisyah mengambil jarak, dia berjalan cepat kembali ke kamar, dua pria di rumah ini tak ada yang bekerja, Nakula dan Baskara.
"Kan, aku cuman buat umpama, Bu. Jangan marah!" ayah mengaku kalah pada istrinya.
"Tidak mau, tidak ada umpama!"
Kan, tahu begitu dia tadi tidak berbicara saja, enak main pijat-pijat.
***
Baskara genggam tangan istrinya itu, tiba di mana saatnya mereka bisa melihat anaknya itu laki-laki atau perempuan.
Awalnya ingin menjadi kejutan, tapi karena ada saran untuk diperiksa saja untuk berjaga-jaga akan barang yang dibeli agar tidak banyak yang terbuang atau tidak cocok.
Aisyah mau untuk mengetahui anaknya laki atau perempuan, akhirnya. Berbekal kesiapan mental yang dia pupuk berminggu-minggu dan bibirnya yang tak berhenti untuk terus berdoa, Aisyah terus mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Yanda," panggilnya lagi.
"Iya, Nda. Tidak apa, aku di sini sama kamu!" Baskara kuatkan lagi.
"Jangan kecewa ya misal-"
"Ssst, kamu ngomong apa sih, Nda ... tidak ada yang kecewa, dia itu anak kita, mau laki atau perempuan, dia tetap anak kita!" sekali lagi, Baskara tak mau istrinya itu beranggapan buruk padanya yang seolah mengagungkan anak lelaki saja, padahal yang ada di pikiran Baskara adalah bila dia mendapatkan anak perempuan, tinggal dia buat lagi sampai jadi anak lelaki. "Ayo, masuk, Nda!"
__ADS_1
Aisyah genggam tangan itu, dia berjalan setengah menempel pada suaminya, sapaan ramah dokter di sana biasanya membuat dia tenang, kali ini tegang meskipun Baskara terus meyakinkannya akan semua baik-baik saja.
Ibu hamil itu berbaring, satu tangannya masih terus ada digenggaman sang suami, sementara dokter bersiap akan pemeriksaan lanjutan.
Monitor hitam itu mulai menampilkan hasilnya, mata mereka saling beradu mencari titik di mana mereka bisa menentukan anak itu berjenis kelamin apa.
Dokter tersenyum, "Waahh, pantas suka godain ayahnya katanya ya, dia pendukungnya ibu ini, panglima perang dia!"
Panglima perang, apa maksudnya?
Baskara menoleh bersamaan dengan kepala Aisyah yang setengah terangkat, meminta penjelasan pada dokter yang memeriksanya, apa yang dimaksud dengan panglima perang itu.
"Anaknya cowok ini, Bu, Pak!"
Dua pasang mata itu sontak melebar, semakin dibuat panas saat dokter mengarahkan kursornya pada titik di mana dinyatakan sebagai tiang tegak calon buah hati keduanya.
Baskara berdiri sambil menepuk dadanya, dia pandangi lagi tiang kecil yang bergerak dan endak ditutupi lewat monitor itu.
"Hayo, apa yang mau kau sembunyikan dari Yandamu, Dek?!" ujarnya. "Kita punya tiang yang sama!"
Hush!
Aisyah tarik tangan suaminya, ucapan Baskara membuat dokter dan suster terkejut, jantung mereka seperti diremat dan mau lepas dari tempatnya.
Memiliki tiang yang sama, apa itu?
Tahan, dokter dan suster itu menahan gerak bola mata mereka, jangan sampai melirik Baskara dan menuju pada titik di mana wanita di ranjang itu bisa hamil.
Tiang yang sama, sial!
***
__ADS_1
Yang nunggu Ajejeng sabar ya, akhir bulan ini bucil kejar babas