
Dor, dor, dor!
Plak, plak, plak!
Seharusnya dia tak ikut ke sini kalau hanya untuk sembunyi di bangku paling belakang, siapa yang tega melihat suaminya main tembak dan pukulan, bisa se-santai itu Baskara mengayunkan tangan dan kakinya.
Bahkan, di sini Aisyah bisa melihat dengan jelas bekas luka yang suaminya terima, itu ada juga jahitan karya Baskara, entah dia mau main apa sampai berani coba-coba menjahit sendiri, lain kali Aisyah buka jasa jahit kulit di rumahnya.
Astaga,
"Nda," panggil pria yang sudah berkeringat tidak karuan, belum lagi di ujung sana ada Saka, sang adik ipar yang didampingi Shafiyah, menjadi pendukung setia dan perawatnya, Baskara pun dulu juga adiknya itu. "Nda, masa kalah sama Sofi, hayo sini!"
"Pahit, pahit, pahit!" gumam Aisyah, takut dia.
"Nda, siapa dong yang bersihin keringatnya, gerah ini!"
Aisyah berikan handuk itu tanpa melihat, bukan takut tergoda dengan tubuh bagus suaminya, tapi takut kalau dia berteriak histeris karena pasti ada bekas pukulan Saka di sana.
Entah, sukanya main pukul sesama saudara.
Bucil: Latihan Ais, latihan!
"Nda, dibantu dong!" Baskara tarik tangan Aisyah hingga ibu hamil itu duduk ke pangkuannya, dia paksa, kalau tidak, pasti sembunyi sampai mereka pulang.
Aisyah angkat wajahnya, dia lihat wajah tampan itu, ada luka di sudut bibir yang tidak lain tandanya robek sedikit, Aisyah menoleh pada Saka, sama ada bekas seperti itu.
Ini luar biasa, dia tidak mau kalau anaknya nanti adu pukul seperti itu, tidak mau.
Tapi, bisa apa, kan nanti suaminya yang melatih langsung seperti yang ayah mertuanya katakan.
"Sakit?"
"Tidak, melihatmu jadi tidak sakit, ehehehehe."
"Hush, aku kira Yanda ke sini mau apa, ternyata perangnya sama Saka, dia terluka parah tidak?"
"Kan kita sama-sama tahu posisi yang diserang mana, ini bukan adu bebas, Nda." Baskara meringis saat Aisyah memberi obat pada luka bibirnya. "Kalau gini, aku jadi tidak bisa menciumimu lama, Nda."
"Bagus, Ais bisa tidur nyenyak!"
__ADS_1
"Eh, kan yang sakit atas, bawah tidak, wek!" suka menggoda Aisyah yang jelas kalah dan kelabakan, istrinya itu baru cerewet setelah hamil, pasti butuh banyak bantuan kosa kata.
Sementara di sudut lainnya, Shafiyah dengan telaten merawat luka dan membersihkan bekas keringat Saka, sentuhan yang lembut dan perlahan, hanya ringisan kecil yang sama seperti Baskara pada luka di bibir itu.
Berulang kali Saka menjatuhkan wajahnya ke bahu kecil Shafiyah, membuat adiknya itu mengomel sekaligus tertawa karena gesekan rambut Saka di lehernya, dua saudara yang menggemaskan, tatapan sayang tak luput dari mata Saka, selagi tak ada ayah yang membatasi dia minta dimanjakan oleh adiknya.
"Siapa yang menang?" tanyanya.
"Nakula."
"Kakak!" Shafiyah endak turun dari pangkuan Saka, tapi Saka tahan, menekan dengan kedua tangannya. "Ih!"
"Kenapa, dia memang menang kan karena sudah membuat ratu kecilku ini jatuh hati, hem? " Saka gesekkan ujung hidungnya ke pipi bulat Shafiyah. "Kapan dia ke rumah, hem? Selagi aku ada di sini, bukan hanya ayah dan kak Bas yang menemuinya, aku juga mau ikut beradu mata di sana, kapan?"
Shafiyah cubit ujung hidung itu, "Tidak tahu, dia bilang ke kak Bas dalam minggu ini, memangnya mau Kakak apakan?"
"Memastikan dia bisa membahagiakan dan bertanggung jawab padamu, apalagi memangnya, kalau dia tidak bisa, akan aku usir dari rumah!"
"KAK BAS, KAK SAKA NAKAL!" adunya membuat Baskara sontak menoleh, tidak jadi mencium Aisyah, sementara Saka tergelak. "Diam, jangan tertawa, mau ditinju lagi?!"
Ancaman yang sama sekali tidak mempan untuk kedua kakak lelakinya, Saka justru menggodanya sampai mau menangis dan Baskara baru mendekat memindahkan tubuh kecil itu ke pangkuannya, memeluk bergantian, Aisyah abadikan moment ini.
"Aku bilang ayah, biar!"
"Bilang ayah atau ke Nakula?" ledek Saka.
"Saka," tegur Baskara sambil menarik telinga Saka.
"Rasakan, tangan Kak Bas pasti sakit kalau jewer!" Shafiyah julurkan lidahnya.
Cekrik, cekrik, cekrik ...
Ibu hamil yang mulai aktif, mengambil moment ini dari berbagai sudut sampai suaminya gemas, takut kalau terpeleset karena berpindah-pindah tempat terus.
***
"Nda, jangan dandan cantik-cantik!" melirik istrinya yang masih duduk di depan meja rias. "Nda, bedak saja cukup!"
Aisyah tidak menjawab, dia lirik sedikit sambil bergaya memanyunkan bibirnya, seolah dia tengah memakai lipstik saja, lalu memamerkan make up lengkap hadiah pernikahan.
__ADS_1
"Ck, Nda ... kamu ya," geramnya.
Baskara tak kurang akal, dia bergegas ke ruang ganti, membongkar lemari Aisyah dan mengambil barang yang bisa membuat istrinya itu berhenti.
Cadar?
"Yanda mau aku pakai ini?" menoleh, dia tunjukkan kalau wajahnya tidak dipoles apapun, hanya bedak, semua masih asli, bahkan bibirnya sedikit pucat.
"Jangan dandan aku bilang!"
"Tidak ada ini loh, Yanda. Coba lihat, cuman bedak saja, tapi bibirnya Ais pucat loh, boleh ya yang itu, tipis saja, ya Yanda?" Aisyah rebut cadarnya, dia lempar ke ranjang. "Nanti, cuman keluarga inti saja kan, sama keluarganya Nakula, tidak ada yang tertarik denganku kok, boleh ya?"
Baskara perhatikan lagi, memang pucat wajah Aisyah kalau tidak diberi warna sedikit, tapi dia tidak rela dilihat segar orang lain.
Baiklah, hanya sedikit, tapi demi melegakan hati suaminya, Aisyah bawa penutup wajahnya itu.
"Dek, Yanda mu cemburuan, tapi tidak masalah, Bunda suka, eheheheh ... pakai ini ya." Aisyah pakai hingga hanya kening dan matanya yang terlihat.
"Begitukan cantik!" tapi, Baskara mendekat, dia lepas penutup itu, tak ada yang berlebihan dari wajah Aisyah, lebih cantik di rumah daripada kalau mau ke luar, make up itu dia pakai kalau di rumah saja. "Nanti, pulang dari ini harus lebih cantik!"
"Mmmmm, Yanda!"
Kan, jadi hilang pewarna bibirnya, sama saja hanya memakai bedak, suaminya memang seperti ini, tapi Aisyah akui, dia sedikit berubah sejak hamil, mood-nya tak stabil seperti dulu.
Aisyah lingkarkan tangannya di lengan Baskara, kedatangan mereka memang menarik perhatian.
"Yanda, aku jadi ingin tahu si Arsy yang katanya mau Saka pinang setelah anak kita lahir, Eheheheh."
"Ssstt, kan kepo lagi kamu, Nda!"
"Ini anaknya Yanda yang bikin kepo loh, Ais ikut saja!"
Baskara usap perut yang mulai tampak itu, meminta anaknya tenang dan tidak membuat Aisyah banyak tingkah, apalagi kepo tadi, astaga, dia gemas kalau terus begini.
"Yanda, itu-"
"Mau tanya apalagi, Nda?" dia melirik ke atas, kamar lamanya. "Yanda ajak ke sana loh kalau kamu kepo terus!" slink, mengancam.
"Ish!" Aisyah sembunyi saja kalau begitu.
__ADS_1