Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

"Ahahahahahah, yakin Bas mau cuti?" Yoga merangkak tidak percaya.


Kabar Baskara cuti selain dia sakit gigi dan menikah itu dianggap sebuah pembodohan bagi mereka, sejauh ini sekalipun Baskara cuti, tidak ada yang namanya pengajuan isi form, dia hanya berkata saja, tapi tetap hari itu memonitoring rekan kerja seolah dia ada di kantor juga.


Bahkan, yang di lapangan gemetar kalau dia ikut komentar mendadak, ini sebuah keajaiban.


Brak!


"Bagaimana mau percaya, Bas kan memang tidak pernah sepenuhnya mau cuti, tapi kali ini yang bilang dan memberi izin langsung pimpinan besar, tuan Aksara Raya kalau kata Sofi, di kota itu yang ada alun-alunnya, dia mau ke sana, ajak Aisyah bulan madu," jelas Pian.


"Kenapa tidak menyewa hotel bintang kejora di sini?"


"Gila apa!" Pian bekap mulut Nando. "Mereka itu mau cari udara segar, bukan cuman mau ganti ****** *****, otak ini ya isiannya selain ukuran ****** *****, apaan sih?'


Nando cengar-cengir, dia melirik pada Wira yang baru saja dari ruangan Sena, dari wajahnya bisa ditebak kalau Wira mual berlama-lama di sana, sudah seperti rudal mau meledak saja.


Sejak kehamilan Gina, tak ada topik lain yang akan Sena bahas selain hal itu, setiap kali bertemu akan membicarakan kelucuan ngidam dan tingkah manja Gina.


"Dia tidak paham sekali dengan hati para jomlo!" Wira pukul bahu Nando. "Dari pintunya aku buka, sampai mau aku tutup, masih saja membahas masalah istrinya yang bangun pagi itu membuka mata begini dan begini, lah memang kalau bangun tidur, tidak membuka mata apa? Kan, aku malas!" menunjukkan ekspresi kesal sempurna.


"Ahahahahaah, makan tuh ocehan suami bucin level demit!" timpal Yoga.


Hening,


Mereka bergabung dalam satu meja, mulai sadar sedari tadi membahas masalah program hamil, bulan madu dan kelucuan ibu hamil. Menoleh ke teman kanan dan kiri, mereka tidak ada yang mempunyai pasangan sejati, bahkan masih suka bermain kenalan saja.


"Satria itu sudah nikah, istrinya juga sudah hamil, harusnya kau juga!" Wira tunjuk Yoga.


"Hubungannya?"


"Kan, kalian satu tingkatan, Pian juga, kenapa coba kalian belum kasih kita kawula muda ini contoh, kalah sama Bas!"


"Heh, orang itu ada yang jodohnya langsung tampak, ada juga yang hilang timbul kayak kita, masa iya kemarin putus cuman gara-gara ban bocor, tasku ketinggalan di kantor, pinjam duit dia, marah!" oceh Pian membela diri.


"Ahahahahah ...."


Tidak ada yang diuntungkan di sini, sama sekali tidak ada, mereka seolah memenangkan pendapat mereka tanpa mau ada yang menilai benar dan salah, entah apa yang akan terjadi pada mereka nantinya.


Surat pengajuan resmi cuti Baskara kembali menjadi topik hangat diantara mereka, bahkan ada yang sudah menerawang kalau nanti Baskara akan membawa kabar baik setelah bulan madu ini.


"Buna itu bagaimana?" Yoga teringat si pelamar sewa rahim itu.


"Dia masih sering ke sini, cv nya tidak diterima, dia sudah interview, tapi kesannya buruk sekali, sangat buruk, menyedihkan menjadi dia, sungguh!"


Nasib yang malang, walau begitu dia masih sering menemui Baskara di kantor ini, mau dibalas atau tidak, dia menunggu sambil mengumpat di depan loby, begitu Baskara tiba, tidak ada hal lebih dari lirikan yang dia terima.


"Aku yakin dia itu sudah gila, kalian tidak ada yang mau menampungnya apa?"


"Hush, kau saja. Bisa-bisa gajiku habis sehari karena dia!" tolak mereka kompak.


***


Aisyah menerima tawaran suaminya itu, Baskara belum memastikan sampai kapan mereka akan berada di sana, intinya mereka sudah bersepakat akan pergi bukan diminggu ini mengingat Aisyah sedang datang bulan.


Walau Baskara tak keberatan, tapi Aisyah yang tahu kalau suaminya setelah bekerja berat selalu membutuhkan hadirnya, dia tidak tega. Akhirnya, untuk minggu ini berlalu dengan banyak persiapan, termasuk membeli vitamin yang nantinya berguna untuk stamina keduanya di tempat baru.


Ingat, Aisyah tidak tahu kalau ada form cuti itu, yang dia pahami di sini, dia ikut suaminya bekerja di kantor cabang baru.


"Ya, A-isyah?"


"Kakak bawa celana kain ini berapa?" celana untuk kerja maksudnya.

__ADS_1


"Hmmm, bawa tujuh saja, nanti tiga hari sekali kamu bisa mencucinya di sana, ada mesin lengkap."


Aisyah mengangguk, dia siapkan seperti yang suaminya mau, rona senang di wajahnya kembali terbit, dia merasa menjadi istri yang berguna kalau sampai ikut suaminya dinas, menyiapkan baju dan makanan di sana, hal yang membedakan Baskara sebelum menikah dan setelah menikah.


Setiap langkahnya ada di bawah pantauan Baskara, pria ini memastikan di mana Aisyah benar-benar merasa nyaman pada pilihannya.


Lagi, bila senyum itu terbit karena hal kecil yang Aisyah temukan di koper atau tatanan lemarinya, pancingan itu akan sampai padanya juga, di dekat pintu, menempel dan ikut tersenyum.


"Kaaak, di sana tempat menginapnya luas atau cuman di unit kayak biasanya?"


"Semacam rumah, A-isyah. Tidak terlalu besar, tapi ini model rumah, bukan gedung, jadi kalau kamu mau kenalan dan belanja sayur bersama tetangga, kamu bisa melakukan itu, aku tidak akan melarangnya, asal jangan rumpi ya!"


"Ahahaahahahh, di sana ada sawah tidak?"


"Ada, kamu boleh ke sana kalau mau, tapi tunggu aku atau nanti ada maid yang menemanimu, bagaimana?"


"Apa jauh?"


"Tidak, di belakang rumahnya, sayang."


"Apa, serius?" Aisyah jingkrak-jingkrak senang. "Ayah punya cabang di sana juga ya ternyata, aku jadi mikir bagaimana ayah menangani semuanya, apa itu tidak sulit?"


"Ada keluarga di sana, kita nanti berkunjung juga. Oh iya, karena ini cabang baru, aku tidak terlalu bekerja yang bagaimana, A-isyah. Jadi, jangan kaget kalau aku sering di rumah!" dia harus memberi note dulu. "Aku di sana hanya berkunjung saja."


"Tapi, kenapa sampai lama?"


"Kamu tidak mau bertemu keluarga lainnya di sana, ada orang tua Pian juga, tidak mau?"


Ah, jangan bilang begitu, Aisyah justru sudah membayangkannya sejak jauh-jauh hari, kalau dia akan bertemu dengan banyak orang di sana.


Dua koper berukuran sedang sudah Aisyah siapkan, tak lupa ransel berisi makanan dan camilan selama perjalanan, mereka akan naik kereta api ke sana, benar-benar perjalanan yang Aisyah tunggu-tunggu.


"Hei, mau digendong?"


Aisyah bergeleng, dia cium pipi Baskara, menguselnya sembari berbisik kata terima kasih.


"Terima kasih sudah mengajak aku, terima kasih sudah membuat aku merasa berguna dan Kakak butuhkan, terima kasih sudah sabar, terima kasih tidak jahat di rumah, Ais tidak akan mendapatkan gantinya Kakak!"


"Memangnya siapa yang mau diganti? Enak saja-" dia lipat lengan kaos panjangnya. "-sini lawan aku dulu kalau mau ganti-ganti posisi, sebesar apa badannya?"


"Ahahahaha, kaaan ...."


Baskara takup wajah itu, dia pandangi cukup lama sebelum akhirnya dia dekap, tidak ada yang diganti ataupun mengganti.


Kekurangan pasangan bukan berarti membuat kita mencari yang lainnya, justru harus dilengkapi, dibesarkan hatinya dan tentu saja dengan cara yang tidak menurunkan rasa percaya dirinya.


"Kakak tahu tidak?"


"Tidak tahu, kamu belum bilang!"


"Auahahaha, aku baru saja mendapatkan pesan prank!" dia tunjukkan, mendapat uang ratusan juga, sekali lagi dia tertawa di pangkuan Baskara.


"Ada saja orang menipu seperti ini, uang belanjamu kurang, A-isyah?"


"Tidak."


"Dapur ada yang perlu aku perbaiki?"


"Tidak."


"Isi lemari?"

__ADS_1


"Tidak." Aisyah menahan tawa.


"Kalau begitu, kamu tidak butuh hadiah dari orang ini, bilang ke dia kalau bisa, ditunggu suamiku di rumah, nanti dikasih tunai sama dia, tapi harus cabutin rumput dan hitung dapat berapa ya!"


"Ahahahaahahahahah, sudah hentikan!"


Bik Nur memandang dari kejauhan, rumah tangga pastilah ada ujiannya, dia berharap dua insan itu diberi kekuatan sampai doa mereka terjawab.


Tuan mudanya memang berhati baik, walaupun kerap dia tahu bagaimana tegas dan garangnya Baskara di luar rumah, bik Nur yakin bila ada lawannya tahu Baskara seperti ini, tentu mereka tak akan ada yang mau percaya.


Jangankan memerintah Aisyah yang bagaimana, lebih sering meminta izin dan menawarkan apa Aisyah mau atau tidak.


"Bibik!"


"Eh, iya, Non?" terkejut, mendekap kain pel.


"Bibik mau ngepel rumah atau mau bikin basah bajunya?"


What!


Sedari tadi, bik Nur memeluk kain pel yang seharusnya dia peras dan gosokkan pada lantai, melamun rupanya.


Buru-buru wanita itu melepaskan setengah melempar tongkat pelnya, berlari ke belakang bergegas mengganti baju, malu.


"Mau aku yang mengepel rumah?"


"Tidak, jangan!" Aisyah melarang. "Nanti, kalau bik Nur kembali, dia merasa tidak enak, Kak."


"Kalau begitu, aku pel kamar saja!" putusnya.


"Jangan, sudah bersih!"


"Terus, aku harus apa ini? Aku tidak ada pekerjaan, A-isyah, apa?" salah sendiri tidak masuk kerja.


Aisyah lingkari lengan suaminya, "Jalan-jalan, Kak!"


Tahu, ini waktunya atm ke luar dari sarangnya.


***


Bruk!


"Maaf, maaf ya!" Aisyah bantu gadis di depannya ini berdiri.


"Kamu?" tunjuk Buna. "Ck, waaah, waaah, ketemu juga sama yang disembunyikan di kantor ini, mana aku tidak boleh bertemu, di mana suamimu?"


"Kenapa mencari suamiku?" balas Aisyah.


"Ya mau apa lagi, bisa-bisanya dia menolak surat lamaran kerjaku di kantornya, aku ditolak mentah-mentah, harusnya kan aku diberi kesempatan, apalagi mobilnya baru membuat mobil kekasihku rusak!"


Sabar, Aisyah tahan emosinya.


"Benar, kalian tidak mau menyewa aku?"


"Buna," sahut Aisyah. "Kamu itu berharga, cantik dan sempurna, jangan bertingkah rendah. Kalau kamu berpikir dengan begini akan mendapatkan suami yang baik dan sayang, itu salah. Jodohmu cerminan dirimu, itu artinya kamu membuat kerusakan di cerminmu sendiri. Mau punya suami yang hamilin gadis di mana-mana, atau buat wanita bersuami hamil?"


Sial!


Baskara hentikan langkahnya, dia kira siapa berbicara dengan Aisyah, ternyata Buna. Lebih baik dia berdiri di balik rak besar ciki itu.


"Ya aku butug uang, kerjaan tidak ada yang mau!" aku Buna. "Bilang ke suamimu, biar persolia di sana mau nerima aku!"

__ADS_1


__ADS_2