
Nakula dan keluarganya berdiri begitu Baskara mengajak masuk Aisyah, mereka menyapa hangat dan Aisyah berulang kali menebarkan senyumnya, menjadi titik perhatian di mana mereka takjub melihat Aisyah kesekian kalinya.
Hanya wanita ini yang kuat di samping Baskara, wanita yang membuat Baskara ingat akan rumah dan segera kembali usai tugasnya, hanya untuk memastikan Aisyah baik-baik saja.
"Sudah berapa bulan ini?" tanya ibu Nakula.
"Alhamdulillah mau jalan tiga, eheheheh, silakan dicicipi kuenya, Bu!" Aisyah usap lembut lengan wanita itu sebelum kembali duduk ke sisi suaminya.
Glek,
Nakula tidak tahu harus berkata apa saat ini, di depannya ada tiga pria gagah yang berwajah hampir mirip, senyum mereka pun sama, tipis dan penuh peringatan.
Yang tengah tentu ayah Shafiyah, sedang di sampingnya para anak muda yang tak lain Baskara dan Saka. Ibu diapit oleh Shafiyah dan Aisyah, begitu pandangan Nakula mengedar dan dia gugup.
"Aksa, malam ini sungguh menjadi malam yang kami tunggu dan harapkan, membahagiakan tentunya bisa berkunjung ke sini untuk bertukar kabar dan semakin mempererat hubungan keluarga, terlebih lagi dimalam ini, kami sekeluarga datang untuk menyampaikan keinginan anak kami, Nakula, meminang Shafiyah ...."
Ayah sontak menoleh pada Shafiyah, gadis kecilnya itu tampak dewasa malam ini, mana malu-malu sambil menunduk, menutupi wajahnya dengan rambut coklat yang tidak dia japit.
"Ekhem, obrolan ini sudah beberapa hari yang lalu Baskara bahas dengan Nakula, hanya moment ini memang menunggu Saka ikut hadir, dia ingin melihat dan menjadi saksi ada seorang pria yang berani mengambil tanggung jawab atas adiknya. Saya senang, hubungan kerabat kita bisa semakin dekat, tapi bagaimana kesungguhan Nakula ke Sofi, selama ini tidak ada tanda yang bisa aku kenali?" balas ayah.
Nakula tegapkan punggungnya, dia harus mengatakan ini dengan jelas.
"Paman, Bibi ... seperti yang aku katakan ke Baskara soal isi hati itu, memang sudah lama rasa itu ada, tapi sengaja aku menunggu waktu yang tepat karena tak mau gegabah atau mungkin menjalin hubungan yang tidak jelas dengan Shafiyah, kalaupun harus aku nyatakan, harus dimoment ini, tidak perlu aku menunggu lama dan membuat Shafiyah menggantung karena aku tidak akan menundanya, aku sangat menghormati Shafiyah, kalau dia menerimaku malam ini beserta keluarganya, aku mau segera menikah, tidak mengulur dengan status pacaran," ungkap Nakula penuh keyakinan.
Ayah mencoba memancing Nakula, "Bukannya pacaran itu saat-saat untuk berkenalan, mengenal lebih dalam, nanti biar tidak menyesal waktu menikah?"
Nakula tersenyum, "Aku juga tidak menyalahkan hal itu, Paman. Tapi, karena aku menyukainya, aku tidak mau merusaknya."
Aisyah ingin bersorak mendengarkan jawaban Nakula, dia tahu ayah mertuanya itu tengah menjebak saja karena sejatinya ayah tak mau sampai ada lelaki yang menggantungkan perasaan Shafiyah, bisa terjadi banyak hal bagi mereka yang berpacaran, kerugian tetap ada di pihak wanita.
Tak akan mendekat kalau belum meminta pada orang tua dan ada janji menikah, lebih baik menjauh sampai waktu mempertemukan mereka kembali, Saka pun melakukan hal itu, sampai masanya tiba, dia akan datang menemui Arsy dan satu katanya waktu bertemu yakni, menikah.
"Sofi, lihat Ayah!" titahnya.
Shafiyah angkat wajahnya, menoleh penuh pada ayah, pipi bulat itu memerah, dia seakan mau kabur atau sembunyi disalah satu jas ketiga pria gagah miliknya itu.
__ADS_1
"Ya, Ayah?"
"Dengarkan Ayah baik-baik!" pintanya. "Kamu terima Nakula sekarang, pengurusan menikah tidak akan menunggu kamu lulus kuliah, demi menjaga kehormatanmu. Atau kamu tolak dia saat ini dan hanya berpegang pada takdir kalau memang bisa bertemu lagi, maka kamu bebas menjalani apa yang kamu mau, tapi tidak menjalin hubungan dengannya, pilih yang mana?"
Melepas atau melangkah maju, itu yang harus Shafiyah pilih. Tapi, sebelum menjawab, Shafiyah berpindah tempat duduk ke samping ayahnya, diantara ayah dan Baskara, memakai ruang sempit itu.
"Ayah, apa Ayah rela aku menikah? Apa Ayah bisa tidur malam tanpa aku? Apa Ayah benar-benar menunjuk dia pantas menjadi lelaki di sampingku setelah kalian bertiga?" suaranya pelan, dia ingin menangis, tidak tega meninggalkan ayah.
Ayah tersenyum, dia kecup kening berponi itu.
"Menikahlah, karena memang sudah tugasku sebagai orang tua. Ada Ibumu di rumah, dan rumah ini selalu terbuka untuk kalian, kalau Nakula kerja, kamu bisa di sini, bukankah Ayahmu akan di rumah terus setelah ini, hem? Dua orang ini yang akan sibuk!" ayah tepuk bahu kokoh kedua putranya. "Jadi, waktumu masih banyak disisi Ayah. Menikahlah dengan dia kalau kamu mau, jangan terpaksa, Ayah sudah melihat gelagat Nakula lama dan dia layak!"
Haru, hiks.
Baskara sontak menoleh pada Aisyah, ibu hamil itu menangis sendiri, perasaannya sangat lembut dan semakin lembut saat hamil, jadi heboh sendiri meskipun yang lain belum ada yang menangis.
Bukan Shafiyah yang menitihkan air mata, melainkan Aisyah, seperti Aisyah saja yang dilamar.
"Nda, hei!"
"Terima apa, yang dipinang kan bukan kamu?"
"Eh, iya." Aisyah malu, bersembunyi di balik punggung Baskara, tepat di samping ibunya, wanita itu hampir menyemburkan tawa karena Aisyah.
Baskara rengkuh bahu ibunya, membuat dua wanita itu ada di pelukannya, mencium satu per satu sampai ibu bungkam bibir itu dengan kedua tangannya sebal.
"Kalau begini, aku tidak ada yang memeluk!" gerutu Saka.
Shafiyah lepaskan pelukan ayah, dia berpindah ke sisi Saka, masih di samping ayahnya.
"Sini, aku yang di tengah, Ayah dan Kak Saka bisa peluk aku!"
"Ahahahahah, Ayah sudah, giliran aku!" Saka mendominasi, tidak mau kalah dari ayah. "Ak, nanti jangan protes kalau Sofi bertemu aku dan Kak Bas begini, sudah kebiasaan kami sejak kecil!"
Nakula mengangguk, dia justru suka dengan kedekatan mereka, nantinya akan diajarkan lada generasi berikutnya bagaimana menjalin hubungan saudara yang baik dan awet.
__ADS_1
"Aku ya mau nikah!" Nabila ikut bersuara.
"Mau sama siapa?" sahut beberapa orang. "Pian?"
"What?!" Nabila terbelalak, dia bisa menjadi bibik di sini, gila apa dia. "Tidak, nakal begitu!"
"Ahahahaha ...." semua tertawa.
***
"Yanda, jangan bilang kalau kamu mau ulang kita lamaran!"
"Hem, memangnya kenapa? Kan, memang kita tidak ada proses itu, Nda. Aku mau tegas bicara soal tanggung jawab padamu, lantang dan-"
"Yandaaaaaaa, kan ayahnya Ais sudah meninggal, berbicara lantang ke siapa?" dia tepuk keningnya. "Mau pertemuan di mana?"
Eh, iya.
Aisyah geleng-geleng kepala, dia ingin sih mengulang masa yang terlewat, tapi kehamilannya lebih utama sekarang, lelah nanti mengurus acara seperti itu.
"Nda, Nakula ganteng?"
"Hmm, lelaki pasti ganteng-" dia jeda sebentar. "Tapi, aku cuman tahu Yanda yang ganteng, ehehehe."
***
Bucil : seneng, Bas?
Bas : Ya memang aku yang tampan untuk A-isyah.
Bucil: ihhh, itu kan di depanmu, di belakangmu coba! (Hentak kaki, berbalik, jalan ninggalin Bas sambil kibas-kibas rambut, habis keramas)
Bas: Bucil habis anu?
Hush!
__ADS_1