
Lidah bertemu lidah, begini tehnik penyembuhan lidah yang terkena makanan panas ala Baskara.
Entah mengambil kesempatan atau tidak, yang pasti dia melakukan itu dan Aisyah menerimanya, membiarkan lidahnya disesap dan sekalian bibirnya dibuat kebas oleh sang suami, bahkan bisa memukul dada Baskara karena dia kehabisan nafas.
"Sudah, lidahnya bakal gini, tidak bisa sembuh kalau cuman Yanda jilatin!"
"Hahaahahahah, kamu kok baru sadar, dari tadi tidak menolaknya, hem?"
"Bagaimana bisa menolaknya, kan Yanda kalau sudah mendorong begitu lebih kuat-"
"Kamu juga suka aku cium kan?"
Aisyah mencebik, lalu dia mengangguk, memang tidak bisa dia bohongi, bila suaminya mulai mencium dan menyecap lidahnya, tentu dia seperti tengah diajak dua burung untuk berterbangan, bukan burung yang lainnya yang tanpa sayap.
Eheheheh, Plak! Bucil mikirnya over.
"Mau dimakan tidak pastelnya?"
"Mau dong, kan dedek yang minta, bukan Ais. Mau yang banyak, tapi jangan lupa bibik sama mamang dibagi, Yanda!"
"Terus, kalau kamu banyak, lainnya dikasih, Yanda apa?" Baskara manyun-manyun, membuat mata tajamnya ternoda.
"Kan, bisa buat lagi."
Hem, ibu hamil satu ini, tidak tahu kalau suaminya jago merebut keadilan, siap-siap saja dia akan meminta pastel yang lain pada Aisyah sampai istrinya itu terkapar tidak berdaya.
Tapi,
"Yanda, habis semua, sekarang bikin lagi deh buat bibik!"
"Heuh, bikin sekarang, Nda? Ini sudah malam dan bi-"
"Sekarang, aku sama dedek yang temenin!" menarik tangan suaminya.
Tapi, nanti diomelin lagi, grrrrrr!
Tidak, Baskara masih bertahan di kasurnya sampai Aisyah menyerah dan mau mengangguk akan apa yang dia minta.
"Iya, aku janji tidak akan berkomentar sama masakan Yanda, ayo!"
"Masih kurang, aku mau bayaran yang lain juga, dedek ngidam ke aku juga, Nda."
"Memangnya dia bisikin apa ke Yanda?"
Baskara rengkuh tubuh itu, dia buat berbaring dan lantas dia tindih sebagian.
"Dia mau dijenguk Yandanya!"
"Eh-"
__ADS_1
Diam, tidak bisa menolak apa yang Baskara inginkan, bisa saja pastel itu dibuat esok hari dan malam ini, jatah ngidam dedek yang pinta ke ayahnya, seperti yang Baskara inginkan di mana anak itu mau dijenguk olehnya.
Dalam sekejap, baju-baju itu berceceran, mereka meneguk madu dari pastel yang tadi bersama-sama, tiada yang bisa menolak sentuhan yang ada, selalu membuat hanyut dan menagih lagi.
Tinggallah wajan dan nampan kotor di dapur yang menjadi saksi kerja keras Baskara hari ini, bahkan pulang kerja harus berkutat di dapur untuk keinginan sang buah hati.
"Memangnya mau beli apa di online kok sampai bingung?"
"Tidak tahu."
"Lah, ya itu karena kamu belum tahu, jadi bingung. Kalau ibu sama Sofi sudah sering, ayah kan larang mereka ke luar, jadi mau tidak mau belanja lewat online."
"Yanda juga larang Ais ke luar rumah, apa Ais belajar sama ibu saja biar bisa belanja online?"
Eh, eh, eh ... mau jawab tidak, tapi ibunya suka online.
"Boleh kan ya?"
"Emmm, boleh, sayang. Belanja saja, belajar sama ibu, ehehehehehheeh, asal tidak sering ke luar rumah!"
"Kapan memang Ais ke luar rumah tanpa kamu, ih nakal!" Aisyah tarik selimutnya, tidak mau memberi lagi kalau pria itu terpancing lagi, dia harus menghindar sebelum kulit mereka bertemu.
Satu tangan Baskara menahannya, menjangkau gerak Aisyah yang terbatas karena harus menjaga isian perut itu.
"Hei, kan sudah tadi!" Aisyah jauhkan wajah Baskara dari lehernya.
"Mau lagi, wek!"
"Kata siapa, dia berbisik padaku, katanya mau dijenguk, Nda. Lagi Yanda, lagi Yanda, lagi, gitu!" sibuk menciumi bahu Aisyah.
"Eh, sudah. Nanti, anak-anaknya Yanda banyak yang masuk ke perut, memangnya mau reuni?"
"Apa?" Ahahahahahah, Baskara tergelak, jatuh berbaring ke sisi kosong lainnya, ucapan Aisyah berhasil membuatnya tak berhenti tertawa dan hasratnya meredup. "Anak yang mana, Nda?"masih tertawa lagi.
Aisyah tunjuk bagian bawah, lalu mengatakan kalau benih-benih suaminya selalu banyak, yang ada Baskara tertawa lagi, membayangkan ratusan calon anaknya reuni di perut Aisyah.
"Besok dua hari tidak bisa tidur bersama, Nda."
"Kenapa? Mau ke mana?"
"Di kota ini, cuman sibuk, kan akhir bulan. Jaga diri baik-baik ya, suamimu harus fokus di lapangan, jadi singa!"
"Ahahahahah, aung, aung, aung gitu?"
"Kamu ya, sukanya memang godain suami, sini, bangun lagi dia!" Baskara tindih lagi, anggap saja ini gantinya dua hari kedepan atau bisa jadi lebih, mengingat akhir bulan selalu dibuat sibuk sampai awal nanti. "Cantik," bisiknya.
"Hmm, ada maunya." balas Aisyah sebelum bibirnya dibekuk.
***
__ADS_1
Arsy resmi bekerja di kantor besar ini, di mana semua pekerjanya ahli bahasa dan dia ahli senyum, beruntung ada teman yang langsung akrab, setidaknya dia bisa membantu bila bertemu dengan orang asing lainnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan pimpinan muda?"
"Lea, kenapa tanya dia lagi sih? Aku jadi malas makan, dia sudah memasang rantai di kakiku," jawabnya.
"Rantai?" ulang Lea, Arsy mengangguk. "Pimpinan muda posesif maksudmu, bukankah itu seru, Arsy? Tandanya dia benar-benar mencintaimu!"
Arsy putar posisi duduknya, menjatuhkan kepala ke meja Lea, menggosok wajahnya yang berubah kusut karena aturan Saka, terlebih lagi pria itu kemarin tanpa izinnya langsung menghubungi kedua orang tua Arsy, menyatakan kalau Arsy aman di sini bersamanya.
"Aku berharap tidak bertemu dengannya, tapi aku justru bertemu!"
"Itu yang namanya jodoh, Arsy. Apa pimpinan muda berlaku baik atau menyakitimu?"
Arsy terhenyak, dia hanya mengganggu, tidak membiarkan dia bebas, tapi jujur saja itu menjaganya, bukan menyakiti, dan menjaga dikatakan masuk berlaku baik.
Ya, Saka memperlakukan dia sangat baik, bahkan dia merasa menjadi wanita yang utuh dengan semua hak-haknya.
"Makan di tempat yang kau mau?" Lea sentuh dadanya, tidak percaya kalau pria setegas itu bisa melunak pada wanita. "Lalu, kau ajak ke mana?"
"Di tempat makan langgananku, biasa sekali, di sana bangkunya ada yang basah, bang Saka melepaskan jasnya, lalu meminta aku duduk diatas jas itu," ungkap Arsy sambil menutup wajahnya. "Aku memakinya di mobil, menolak pengakuannya, aku jelaskan kalau aku hanya berbohong, dia menganggap itu serius!"
"Memangnya, apa benar kamu tidak ada rasa suka padanya, Arsy?"
Eh,
Lea tersenyum, "Kamu nyaman bersamanya, kan? Aku bisa melihat kekesalanmu padanya sebagai bentuk ingin diperhatikan, semoga aku benar!"
Sore harinya,
Kedua insan yang semaunya sendiri dalam pengakuan itu kembali bertemu, kali ini Arsy diam, diam versi Arsy, bukan diam versi wanita lainnya.
"Cuman mau mengatakan hal itu?"
Arsy menoleh, "Abang kok biasa sekali mendengarnya?"
"Memangnya aku harus apa, loncat tinggi begitu kamu mengaku?" balasan yang membuat Arsy geregetan. "Aku sibuk, permisi!"
"Abang, Abang tunggu!" dia tahan tangan Saka. "Kan, belum dijawab tadi," ujarnya.
"Apa?"
"Kok apa sih ... kan, Arsy bilang suka sama Abang, harusnya dijawab dong!"
Saka menyeringai tipis, "Buktinya, bisa saja kamu asal bicara dan-"
Arsy berdiri, menempel pada Saka.
"Abang boleh nyium Arsy, Abang jadi yang pertama, tapi balas perasaannya Arsy ke Abang!"
__ADS_1
Glek,