
Ibu terkikik, belum dia menoleh ke dalam di mana menantu lelakinya berada, mereka suka sekali dengan rendang pedas buatan ibu, bahkan Nakula sudah berencana berebut dengan Saka, kalau dia menang itu artinya dia dapat jatah lebih, tahu kalau yang dibuatkan untuk Saka ditambahi lagi oleh ibu.
Arsy berganti memeluk ibu dengan sangat rapat, beruntung perutnya masih belum membesar hingga dia masih bisa memeluk selayaknya, tapi ibu sudah merasakan hal luar biasa, air matanya turun ketika mengelus perut itu, ada dua cucunya yang tumbuh di sana.
Dengan air mata yang bercucuran, wanita itu melangitkan doa, adapun senyumannya karena dulu ingin sekali anak kembar, akhirnya dapat Saka dan Shafiyah, kalau mau tambah lagi, ayah menolaknya.
Laki-laki begitu, ibu mengedihkan bahunya, soal ayah memang tak ada habisnya kalau dibahas dan diingat, bahkan kehadiran ayah menghapus semua kenangan buruk ibu di pernikahan pertamanya yang penuh luka.
"Bu, Abang itu datang langsung makan!" Arsy mengaduh karena barangnya belum Saka bantu tata.
Saka melambaikan tangannya pada Arsy yang duduk di dekat ibu, merasa bersalah, tapi rendang ini tak bisa dia tahan lagi, air liurnya sudah mau menetes sejak mereka terbang dari landasan.
"Biar aja, kamu tunggu di sini, nanti habis makan dia bakal kerja bagai kuda," ujar ibu.
"Kerja bagai kuda apa, Bu?"
"Nata barang kamu, Sayangku... Bentar lagi Aisyah datang, tadi ke luar sebentar sama Rasyah, tunggu Sofi bantuin Nakula dulu, para suami itu manja kalau sama istrinya," jawab ibu.
"Iya, Abang kalau di rumah sana juga gitu, maunya manja sama aku, mandi aja tuh minta pintunya dibuka, padahal ya nggak berubah ukurannya, ya kan Bu?"
Eh, ibu langsung terbahak-bahak mendengar aduhan menantunya itu, bisa-bisanya membahas masalah kehangatan di depan mereka, tapi lucu juga dan ingin ibu ulangi lagi, siapa tahu ibu jadi tahu bagaimana kelakuan Saka selama jauh darinya, apalagi menjadi kepala rumah tangga.
Tak lama Aisyah pun tiba bersama Rasyah, menantu pertama keluarga ini beserta cucu pertama itu mengalihkan semua pandangan yang ada, perut yang tampak membuncit karena hamil dan bekas kehamilan pertama, ditambah ada anak tampan di gandengannya, langkah riang ditambah ocehannya yang tanpa henti.
__ADS_1
"Rasyah, lihat siapa yang datang!" ibu menyambut lebih dulu pada cucunya.
Aisyah sontak membungkuk hingga tatapannya bertemu dengan wajah tampan itu.
"Sayang, ada Om Saka sama Te Arsy itu, yang tadi pagi Bunda omongin, ayo sapa!"
Rasyah menoleh ke arah yang bundanya tunjuk, dua orang dengan wajah cantik dan tampan, belum lagi perut buncit sama seperti ibunya. Melihat Saka kebingungan karena dia masih kecil dan jarang bertemu Saka, tentulah memancing tawa.
Dengan kedua tangannya yang besar, Baskara gendong anaknya itu, mendekatkan pada Saka dan Arsy, ketiganya bertatapan cukup lama, satu kata yang membuat semua orang terkejut, suara kecil Rasyah bahkan membuat Aisyah melongo sambil memegangi perutnya.
"Yanda!" sapanya sambil menunjuk Saka.
Ahahahaha, Baskara usel gemas wajah tampan anaknya itu, bisa-bisanya memanggil Saka dengan sebutan khusus untuknya.
"Yanda, anaknya masih kecil, hayo!" Aisyah memperingati suaminya, suka sekali cemburu pada hal seperti ini.
Baskara terkekeh, dia jelaskan sekali lagi pada Rasyah, memulai perkenalan sampai keduanya dekat, tidak bisa dipungkiri walaupun dia mempunyai sisi Baskara lebih banyak, Rasyah kurang tertarik bermain dengan Arsy.
"Dia lihat bundanya, makanya punya sikap begitu ke wanita, Arsy."
Arsy manggut-manggut, dia usap kepala Rasyah yang ada di pangkuan suaminya. "Rasyah, mau kuliah di Mesir nggak?" pandangan Arsy menuju Aisyah yang dia nilai sempurna sebagai wanita. "Nanti, Rasyah jadi pendakwah aja,-" nggak jadi mafia, imbuh Arsy sambil terkikik, ingat dia memikirkan kakek Hans di masa hidup dari cerita Saka.
Sementara Aisyah sebagai bundanya hanya bisa mengamini, siapa yang tak mau anaknya menuntut ilmu agama di sana, menjadi pemuda sewangi surga, Aisyah bahkan memimpikannya lama, tapi bila memang tak seperti mimpinya, setidaknya Rasyah tumbuh menjadi laki-laki yang tahu akan batasan dan berakhlak baik.
__ADS_1
Pandangan Aisyah tak urung pada sang suami, mereka memang sepakat untuk itu, kalau bisa semua anaknya, Baskara izinkan meniru Aisyah, guru pertama sekaligus terbaik dalam kehidupan anak-anaknya itu.
"Yanda, jangan bilang mau anak kembar, ini belum ke luar!" Aisyah waspada, melihat perut Arsy bisa iri suami satu ini. "Yanda, hemm, kan!"
Baskara jatuhkan keningnya ke bahu Aisyah, mau merengek seperti anak kecil, istilahnya mau nambah anak lagi kalau itu sudah lahir, tanpa jeda mungkin.
Aisyah tarik saja suaminya menjauh, menelisik tawa ibu yang sangat mencurigakan, tahu anak pertamanya memaksa Aisyah hamil lagi dan lagi.
Astaga, padahal dulu ayahnya susah mau diajak punya anak, maunya buat saja, ini Bas... ya ampun! ibu.
***
Kamar lama sejak dia masih suka beradu dengan ayah dan kakak lelakinya, perlahan Saka mulai memasuki kamar itu, semua barangnya masih rapi di tempat yang sama, pasti wanita di sampingnya ini yang menata semuanya.
Saka melengkungkan tangan kanannya ke bahu sang ibu, menarik hingga dia bisa menjatuhkan kepalanya di sana, bermanja pada wanita yang rela mati bila dia dalam bahaya dan menangis bila ayah memukulnya disatu ketika.
"Aku ingat Ibu meminta ayah mengampuni aku karena kesalahan fatal yang aku buat sebelum pergi ke asrama, saat itu Ibu menangis dengan posisi kaki berlutut, di depan ayah, meminta ayah tak menghukumku yang sudah setengah sadar, kalau aku boleh tahu, kenapa ayah tak mendengarkan Ibu saat itu?"
Ibu tersenyum. "Yang Ibu lakukan itu salah, setelah selesai ayahmu memberitahu Ibu bila dia sedang mendidikmu, kalaupun Ibu tidak setuju, seharusnya Ibu menunggu selesai dan berbicara pada ayah setelahnya, dengan begitu tak akan menurunkan nilai ayahmu di depan anaknya, tapi mana mungkin Ibu tega menunggu sampai usai, lebih baik Ibu sembur pakai garam ayahmu itu!"
"Ahahahaahah, Ibu tahu pukulannya sakit sekali, tapi jujur... karena ayah membuat aku merasakan sakit itu, aku jadi takut menyakiti orang, sebab aku tahu rasanya," ujar Saka.
"Jadi, kau mau mengakui kalau ayahmu punya strategi yang bagus?" balas ibu yang mendapatkan anggukan Saka. "Dia selalu memikirkan semua hal dengan perhitungan yang tepat, satu keputusannya, bisa dia pikirkan beberapa malam, besok kita ke makamnya, Saka... jangan lupa bawa laporan kerja! Ahahahaha," imbuhnya sambil tergelak.
__ADS_1
Saka bergeleng, senang bisa berkumpul lagi dengan ibunya.