Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Bangga


__ADS_3

Kamar lama itu kini bisa Saka nikmati bersama Arsy, mereka berdua saling memandang cukup lama merasakan kehadiran masing-masing beserta calon anak kembar mereka.


Arsy pijat pelipi suaminya dengan kedua tangan yang lembut dan sesekali ia memberikan kecupan ringan di bibir pria itu, ya dia adalah pria yang sangat bertanggung jawab meskipun kekurangan Saka tak pernah tergantikan, sesekali Saka memang tampak acuh bila ia sudah bekerja.


"Bang, aku pengen banget malam ini makan kue lemonnya ibu, kira-kira ibu lagi buat nggak ya?"


Saka mendengar itu, baru saja dia sebentar memejamkan mata, istrinya sudah meminta ini dan itu, tidak hanya satu kue lemon memang, tapi belum tentu ibunya membuat menu itu hari ini, yang dia tahu sejak dia datang ibunya hanya membuat rendang, belum sampai hati untuk membuka semua isi kulkas yang ibunya katakan itu jatah untuknya.


Saka tersenyum tipis, kemudian ia bertanya, "apa tidak bisa kalau menunggu besok pagi?Aku takut ibu tidak membuat menu itu hari ini, kalau tidak membuat bisakah menunggu sampai besok siang karena prosesnya pasti sangat lama."


Yang ingin kue Lemon itu malam ini, bukan dia, tapi dia beralasan bahwa itu adalah keinginan dari anak mereka, ya aksinya ngidam memang sangat ekstrim, menginginkan makanan yang dirasa aneh setiap kali malam tiba, mau tidak mau Saka melangkahkan kakinya turun, dia harus memeriksa isian kulkas yang telah ibunya siapkan sebelumnya,


Ia datang ke dapur yang tadinya ia pikir gelap, nyatanya masih terang benderang, sesosok wanita bertubuh kecil tengah berlintas di sana Saka dengan cepat menangkap kedua pundak wanita itu, memutar dan memastikan siapa gerangan.


"Sofi, untuk apa kamu di sini malam-malam?"


"Aku ingin memakan kue lemon buatan ibu, Kak. Kebetulan ibu membuat tiga porsi untukku, untuk kak Ais dan untuk kak Arsy."


"Oh ya? Jadi ibu membuatkannya untuk kami?"


"Kenapa? Kak Arsy lagi ngidam ya?"


Saka mengangguk, itu alasan yang sangat benar dan tujuannya datang ke dapur ini, dia tersenyum lega karena tahu kue lemon keinginan istrinya ada di sana. Sofi dengan cekatan membantu Saka mengambil kue itu, dia pamerkan sejenak, lalu dia sama kan dengan miliknya, ibu mereka memang sangat adil.


"Terima kasih banyak, aku bawa ini ke kamar dulu, istriku dan kedua anakku menunggunya, kamu juga harus segera tidur kasihan kalau anakmu diajak begadang terus."


Sofi lagi-lagi tertawa, dia sama sekali tidak mengajak anaknya untuk begadang, tapi setiap malam anak di kandungannya sana memberontak menginginkan makanan yang aneh-aneh dan untungnya ada di rumah.


Saka memijat pelipisnya pelan. "Aku beruntung ada di rumah ini dan sudah kembali, tidak bisa aku bayangkan bila Arsy memintanya saat kami ada di sana, tidak ada yang bisa membuat kue lemon itu. Kalaupun Arsy bisa, membutuhkan waktu yang lama dan dia harus menggerakkan tubuhnya, sedangkan kau tahu ibu hamil itu sangat malas."


"Aku tahu Kak, aku sendiri mengalaminya terkadang kak Ula harus menahan kesalnya karena permintaan aneh-aneh dariku!"


Saka tergelak, ternyata apa yang ia rasakan sama juga dirasakan oleh adik ipar lelakinya itu, mereka kemudian berpisah kembali ke kamar masing-masing sembari menikmati kue lemon disisa perjalanan yang ada, setidaknya mereka ingin merasakan sendiri, sekalipun di dalam kamarnya Shafiyah yakin kalau Nakula tidak menginginkan kue itu, mereka tidak mengalami kehamilan simpatik, di mana satu sama lain selain merasakan berbeda dengan kakak ipar mereka.


Begitu sampai di kamarnya Saka melihat bagaimana ibu hamil itu mulai memejamkan mata, dia buru-buru pesisiran yang menunjukkan kue lemon yang baru saja dia temukan bersama Sofi di dapur, berharap hal ini bukan jebakan batman di mana Arsy akan menolak semua yang telah ia usahakan. Walaupun dia hanya berjalan turun anak tangga untuk mengambil kue Lemon itu, itu adalah bentuk perjuangan menurut Saka, di tengah malam di mana ia seharusnya tidur tenang dan menuruti ibu hamil.


"Katanya mau makan, ayo kita makan bersama!"


Arsy menggeliat kecil ia tampak malas menatap kue Lemon itu, matanya menyipit dan bibirnya berjejak. "Aku sudah tidak menginginkannya lagi!"

__ADS_1


"Apa?" Saka terbelalak, dia bahkan merasakan kue Lemon itu sangat lumer di mulutnya, rasa lemon yang khas dan bisa membuat siapa saja ingin memakannya terus. "Bagaimana bisa tidak menginginkannya, bukankah tadi kamu minta aku untuk mencari dan kalaupun tidak ada kamu sedih dan memintaku untuk membuatnya, ini kue ini buatan ibu dan rasanya pasti sangat enak!"


"Aku tahu kalau itu sangat enak, tapi saat ini aku sudah tidak menginginkannya lagi!"


"Bagaimana bisa begitu?"


"Aku sendiri tidak tahu karena kita sepertinya sudah tidak menginginkannya lagi. Mari kita tidur!"


Saka menatap nanar kue Lemon itu, susah payah ia ambil. Bahkan ia sempat membanggakan diri di depan adiknya, tapi yang namanya ibu hamil selalu tidak bisa ditebak apa maunya, dia harus merelakan mengembalikan kue lemon itu kembali ke dapur, menyimpan di kulkas yang sudah ada pembatas namanya, besok pagi atau lusa, jelas istrinya menginginkan lagi, Saka tarik selimut itu hingga ke batas dagu Arsy, ia kecup kening dan bibir ibu hamil itu singkat, dengkuran halus mulai terdengar, tampaknya Arst sudah terbang ke alam mimpi.


Hari ini banyak sekali yang ibu hamil itu lakukan, menyambut beberapa kerabat dan juga mendapatkan perhatian darinya, jujur Saka bernostalgia dengan kehadirannya di rumah ini dan mementingkan ibunya bukan dengan alasan ia melupakan Arsy, tapi ia ingin berprioritaskan ibunya yang sangat merindukan dirinya datang ke rumah ini, setelah menghitung beberapa domba dalam pikirannya Saka memutuskan untuk terlelap, ya dia berusaha susah payah untuk terlelap karena dalam hatinya masih menyesali kue lemon yang ia ambil namun begitu saja, Saka harus terima bila ini memang diinginkan istri dan anaknya. Ingatkan dia harusnya tampak berusaha sabar dan belajar dari kakak juga adik iparnya yang sudah melalui beberapa tahap kehamilan, rintihan Arsy di malam hari membuatnya terpaksa membuka mata sekali lagi.


"Ada apa?" tanyanya, Arsy menoleh ia membawa wajah muramnya, bahkan ada jejak air mata di sudut mata wanita hamil itu. "Ada apa, apa yang terjadi?" Saka memeriksa sekeliling, mereka tak ada hal yang mencurigakan dan patut ia takutkan karena mereka dalam posisi yang sangat aman, bahkan mereka ada di rumah dengan penjagaan yang ketat.


"Aku mimpi buruk, mimpi yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya."


"Apa?"


"Itu aku hamil, anak tiga, Bang!"


Menurut pemeriksaan dokter hanya ada dua anak yang ada di rahim, bagaimana bisa istrinya bermimpi ada tiga, apa itu pertanda bahwa anaknya yang bertambah lagi atau mungkin setelah melahirkan anak kembar ini Arsy akan dengan cepat hamil anak keduanya yang bisa dihitung anak ketiga, Saka akan menimbang pemikirannya, dia kemudian memutuskan untuk mengajak Arsi terlelap kembali. Bisa jadi itu mimpi baik maupun mimpi buruk, ia tidak tahu sama sekali, tapi bila memang anaknya bertambah dan diberikan dalam waktu cepat ia akan tentu bertanggung jawab dengan penuh, ia sangat menyayangi Arsy dan juga anak-anaknya.


Ketiga ibu hamil itu berbincang sangat rapat berbeda dengan ketiga pria dan satu orang wanita utama di rumah itu, mereka lebih asik menimbang makanan dan menikmati untuk mengisi perut.


"Jadi kamu juga memimpikan yang sama, Kak Aisyah?"


"Benar aku memimpikan hal yang sama dengan kalian, aku bahkan terkejut bukan main, saat aku bangun. Bagaimana bisa aku hamil dengan posisi anak itu bertambah, sama sekali tidak bisa masuk akal."


"Tapi, bukan Kakak Ais saat ini hamil anak kedua dan hanya dipastikan satu?"


"Itu sangat benar, bahkan kehamilanku bukan kehamilan yang masih muda, dokter menyatakan memang hanya ada satu dan tidak mungkin bertambah.Bagaimana bisa ibu hamil menghasilkan sel telur kembali di saat prosesnya?"


"Apalagi aku, anakku sudah kembar, memang ayahnya sering sekali menjenguk, tapi bagaimana bisa anak itu bertambah dalam waktu yang singkat?"


"Apalagi aku yang mau melahirkan?" Sofi lantas berdiri. "Bagaimana kalau setelah melahirkan beberapa bulan aku melahirkan lagi, itu sama sekali tidak bisa diterima nalar!"


Mereka mengeluh setuju, walau itu dikatakan sebagai mimpi yang buruk atau yang aneh, tapi entah kenapa melekat dengan pikiran mereka yang tengah hamil bersama.


Baskara melangkah mendekati Aisyah, membawa Rasya dalam gendongannya. "Bunda anaknya ini yang ingin minum susu sekarang!"

__ADS_1


"Susu, bisakah kau bantu membuatkannya? Aku sudah menyiapkannya di meja kamar."


"Aku sangat amat bisa, tapi anak ini ingin bersamamu!"


"Sayang, kenapa ingin bersama Bunda? Kenapa dengan susu buatan Yanda, hem?" bocah itu benar-benar menolak, dia ingin ikut dengan ibunya, entah kenapa setiap Aisyah dikabarkan hamil Rasyah semakin posesif pada ibunya, seperti seorang anak yang tahu akan ada pesaing dalam kehidupannya di usianya yang masih terhitung kecil dia harus menerima kenyataan bahwa ibunya hamil lagi.


Aisyah sadar bahwa anaknya masih belum bisa menerima semua itu, terlebih lagi ketika menanti anak itu tumbuh bersamaan dengan jarak yang sangat kecil, tentu saja mereka akan saling berebut dan intensitas kepala pusingnya akan semakin meningkat, ia tersenyum geli membayangkan bila nanti suaminya menginginkan anak kembali, hal itu ditangkap oleh kedua adik iparnya.


"Apa yang Kak Ais pikirkan? Jangan bilang Kak Ais ingin menuruti ucapan Kak Baskara untuk meminta anak ketiga dalam waktu yang singkat!"


Aisyah mengedihkan kedua bahunya. "Lalu bisa apa bila ia menginginkannya, aku hanya seorang wanita yang tidur, kemudian ia memintaku untuk hamil kembali atau Tuhan mengiyakan dan aku hamil, bagaimana aku menolaknya?"


"Apakah sudah berpikir untuk minum pil KB?"


"Aku sudah pernah meminumnya, bahkan kehamilan ini pun aku meminum secara rutin, tapi tidak tahu kenapa aku masih bisa."


"Benar-benar kak Baskara lumayan juga!" ucapan Sofi membuat kedua kakak iparnya tergelak kencang, belum lagi ketika ibu hamil besar itu menyudutkan suaminya yang tidak memiliki keinginan kuat untuk menambah anak kembali.


"Bukan dia tidak ingin menambah anak kembali, Sofi. Tapi, Nakula memikirkan bagaimana beratnya engkau menjadi seorang ibu, kau tahu bagaimana aku dalam kondisi seperti ini aku harus mengejar Rasyah ke sana sini dengan nafas yang tersengal, dia sangat memperhatikanmu."


"Apa berarti kakakku kejam?"


Aisyah tidak berani berkomentar tapi ia mungkin memberikan isyarat itu benar bahwa suaminya memang tidak mengerti sama sekali, yang ia pikirkan hanya memiliki anak yang sangat lucu dan dia akan bertanggung jawab.


Saka memutuskan untuk mendekati Arsy setelah beberapa kali ia sempat mendengar bahan pembicaraan ketiga wanita hamil itu, ia lantas menggenggam tangan Arsy dan mengusap punggung tangan dan buku jari ibu hamil itu dengan lambung tatapan Saka begitu dalam, membuat Ary kelabakan.


"Bang, setelah dua anak ini lahir Bisakah menunggu sebentar?"


"Takut aku minta anak seperti kak Bas?" Arsy mengangguk, itu memang ia takutkan dari Saka. "Tenang saja, aku cukup tahu diri untuk merawat dua anak tidaklah muda, apalagi nanti aku harus pergi ke luar negeri dan keluar kota sesering mungkin, sedangkan kau sendirian di sini, aku tidak ingin menyusahkanmu dan tanggung jawab soal anak, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Aku tidak bisa menyamakan diriku dengan kak Bas, sekarang begitupun kau dengan Kak Aisyah."


Arsy mengangguk paham, ia setuju dan sepakat dengan suaminya. Dia sedikit tenang karena dengan ini bisa mendeklarasikan dirinya merasa aman dari guncangan senjata bila suaminya minta anak kembali, kalau perlu ia rekam ucapan Saka hari ini, walaupun pria itu tidak akan mengingkari janjinya, tapi harusnya sebagai wanita yang harus tetap berjaga-jaga.


"Kamu tidak mau makan lagi? Ibu menanyakan kue lemon yang kau inginkan semalam, aku bercerita padanya."


"Aku suka sekali kue lemon, Bang, tapi bukan berarti aku ingin memakannya, segera nanti bila aku ini aku akan mengambilnya sendiri, buatan ibu yang sangat baik dan enak tidak mungkin ada yang mengalahkannya atau menolak makanan itu!"


Ibu yang mendengar itu lantas tersenyum, ia pun pernah merasakan kehamilan seperti ini, menginginkan apapun dan menolaknya seketika membuat suaminya berkepala pening, tak lama setelah mereka bersiap mereka menyusuri jalanan untuk berziarah ke makam ayah, sepanjang perjalanan ibu terlihat diam seperti biasanya, di mana gumpalan rindu saat ini tinggi dan bila nanti di depan makam akan luruh menjadi air hujan.


Saka genggam tangan ibunya, ia berkata, "Tenang ada aku, Kak Bas, Sofi sudah di samping ibu, ada juga calon cucu yang banyak untuk ayah, aku yakin Ayah pasti bangga!"

__ADS_1


Ibu pun tersenyum. "Iya." jawabnya singkat.


__ADS_2