
A-isyah, dimana dia?
Dia ingat di sampingnya ada Aisyah tadi, beberapa jam lalu sebelum akhirnya dia terlelap dan diantara mereka ada guling sebagai pembatas. Tangannya terus meraba-raba, tapi sisi sampingnya kosong tak berpenghuni.
Jangan-jangan, dia tidur di luar, anak ini!
"A-IS-" sudah mau berteriak marah pada Aisyah.
Namun, bayang kecil yang sedang duduk di sudut kamar itu membuat bibirnya terkatup, Baskara lantas merangkak turun, dia pandangi dengan penuh kecemasan, bahu Aisyah seakan terguncang kecil, kedua tangannya menutup wajah.
Hal yang sama seperti yang Baskara lihat setelah mereka menikah, malam itu Aisyah menangis entah karena apa, suaranya yang lirih tak bisa dia dengarkan sama sekali. Dalam pikiran Baskara hanya ada satu kemungkinan besar di mana Aisyah menyembunyikan air matanya sakit soal Sena kala itu.
Apa malam ini, dia masih mengenang Sena?
Baskara tepuk bahu kiri Aisyah, "A-isyah."
"Kakak!" Aisyah terkejut, dia buka kedua tangannya, segera menghapus wajahnya yang basah itu. "Kakak terganggu ya?"
"Tidak," jawab Baskara ikut duduk. "Itu, apa yang kamu katakan sampai menangis?" dia penasaran, ataukah dia yang salah di kamar ini.
Aisyah tersenyum, sambil melepas mukenahnya dia menjawab, "Aku sedang meminta ampun dan bersyukur, itu saja, otomatis selalu menangis, apa terdengar sampai sana?"
Sekali lagi Baskara bergeleng, dia minta Aisyah segera kembali istirahat, ini masih bisa dihitung malam hari.
"Kakak mau ke mana?" tidak jadi berbaring.
"Memeriksa email, kenapa?"
Ah, iya, Aisyah lupa kalau dia sedang ada di kota lain mengantar suaminya bekerja, besok pagi pasti sudah mulai padat.
"Nanti, tolong bangunkan aku jam empat ya!" pintanya lembut.
Baskara mengangguk, dia tutup pintu kamar itu rapat. Ini sudah jam dua pagi, tapi tadi dia minta Aisyah tidur karena masih malam, anggap saja dia ke luar sekalian membuang malu.
Dan apa semalam itu? Dia berhasil tidur satu kasur dengan Aisyah, walau tidak terjadi apapun di sana, tapi dia begitu dekat dengan Aisyah.
Baskara simpan senyumnya begitu email dia buka dan banyak pekerjaan yang harus dia tuntaskan setelah ini.
***
Sajian sarapan berhasil Aisyah siapkan, menu sederhana yang dia yakini bisa membuat lidah suaminya tergugah, bisa tahan lapar sampai siang, begitu yang dia pikirkan.
"Ke mana hijabmu, A-isyah?" suaranya meninggi.
__ADS_1
Aisyah yang saat ini sedang memotong tomat untuk camilannya sontak angkat tangan dan menjatuhkan pisau buah kecil itu.
"Aaaauuhh!"
"Heh!" Baskara sontak berlari, pisau itu jatuh mengenai kaki kanan Aisyah, walau kecil, jelas sama sakitnya. "Sini!" dia bantu jalan dan dudukkan ke kursi kecil mini pantry itu.
"Fffuuhhhh, fhuuhhhhhh!" Aisyah tiup-tiup.
"Tunggu sini, aku ambil kotak obatnya!" titah Baskara.
Aisyah mengangguk, dia gerak-gerakkan kaki kanannya, merasai sakit yang menjalar seperti dirobek saja.
Dengan cepat Baskara bersihkan dan beri obat, sesekali dia mengomel pada Aisyah agar tidak ceroboh, tapi sejenak dia sadar dia lah yang membuat Aisyah terkejut.
"Kakak mau aku pakai lagi?" tanya Aisyah bingung.
"Tidak-tidak, tadi bercanda, A-isyah, kamu malah kaget begitu."
'Ya, spontan, aku kira mendadak Kakak sama siapa gitu di rumah ini, takut ketahuan," jawab Aisyah.
Kedua alis Baskara tertaut, "Ketahuan siapa? Sena?"
Bukan, tapi cewek Kakak atau yang Kakak bawa mungkin.
Aisyah menangis karena tak jadi menikah dengan Sena, lalu di sini bisa saja Sena bekerja dengan Baskara, Sena itu bekerja di kantor yang Baskara pimpin bersama Saka, semua kemungkinan menjadi satu, berputar di benak Baskara.
Sementara Aisyah sama sekali tak memikirkan Sena, bersama Baskara adalah hal yang dia syukuri sampai menangis.
Tembok kamar ini menjadi saksi, sajadah itu pun juga di mana banyak Aisyah menyebut nama Baskara dalam doanya, tapi mereka semua bisu, seandainya saja bisa berbicara, kamar ini mungkin hancur karena debaran mereka.
"Jangan membuka pintu selain kalau aku yang datang, siapapun itu, lihat dari sini, A-isyah!"
Aisyah mengangguk.
"Pakai hijabmu, jangan sampai saat mengintip, rambutmu ikut mengintip juga!" ada aturan posesif di sini tanpa dia sadar.
Aisyah mengangguk, dia ambil hijab instannya.
"Masak dan makan apa yang ada di sini, ingat A-isyah kalau aku tidak pernah memesan makanan atau barang selama di sini, kalau mau harus menunggu aku pulang!"
Aisyah mengangguk sekali lagi.
"Aku pergi."
__ADS_1
"Kakak, tunggu!" baru dia bersuara dan mencegah.
Baskara berbalik, dia perbaiki posisi tasnya, kedua alisnya tertaut seolah bertanya ada apa.
"Hati-hati ya, Kak." Aisyah raih tangan kanan Baskara, dia kecup kecil punggung tangan itu dengan posisi tubuh yang sedikit dia bungkukkan. "Kak, hati-hati ya?" ulangnya sambil tersenyum.
A-isyah mencium tanganku, tanpa ada yang memintanya? Benarkah, tapi ada apa dengan dia?
Baskara masih mematung tangan Aisyah bahkan sudah ditarik-tarik, yang menarik malu, yang menggenggam masih linglung.
"Kak?" Aisyah keraskan sedikit suaranya.
Heh, Bas!
"Iy-iya, A-" dia lepas tangan yang sudah ditarik-tarik itu. "Aku pergi sekarang, diam di rumah!" ujarnya lengkap.
Aisyah mengangguk, lucu sekali wajah tegas itu mendadak linglung. Aisyah tutup rapat pintu kamarnya, dia kunci seperti yang Baskara katakan, tawanya meledak menyusul saat dia yakin Baskara sudah menjauh.
Kakak bisa linglung begitu, hem? Aku jadi semakin sayang.
***
"Aku tidak percaya ini, kenapa harus kita yang dikirim ke sini, hah? Misi apa bulan ini?" Nando sudah terjungkal-jungkal.
Semalam Pian mengajaknya ke luar, tidak tahunya bangun-bangun sudah di lokasi proyek kota lain, mereka yang akan mendampingj Baskara selama bertugas di sini, menjadi tangan kanan yang katanya Andreas, mereka ini dua dari tiga pengikut setia Baskara
"Sena ikut di sini, sudah dengar kabarnya kan?" Pian semakin mengejutkan.
"Sumpah?" mau terjungkal lagi. "Untuk apa dia di sini? Sama istri barunya?"
Pian berdecak, "Mana aku tahu, kalaupun dibawa tidak masalah, siapa tahu butuh tempat parkir!"
"Ahahahhaahahahah, eh!"
"Eh!" Pian juga ikut kaget.
Ada Aisyah yang ikut Baskara ke lokasi ini, kalau dua orang yang batal menikah ini bertemu, bisa gempa bumi di sekitar mereka.
Suara mobil Baskara membuat Nando melompat memeluk Pian, ini bukan pekerjaan sembarangan, bisa jadi mereka disuruh berjaga di depan pintu unit apartemen Baskara hanya untuk siaga agar Sena dan Gina tak menyerbu Aisyah.
"Setelah menikah dengan Gina, apa masih mencari A-isyah?" bisik Nando cemas.
"Sssttt!" Pian bekap saja.
__ADS_1