
Isak tangis mewarnai pemakaman singkat calon bayi Sena dan Gina, walau belum sempurna wujudnya, tetap mereka makamkan dengan layak hingga ada tempat di mana bila mereka rindu akan hadirnya, mereka bisa ke makam kecil ini.
Sejenak Sena baru saja melepas rasa sakitnya akan kehilangan Aisyah, belum sembuh sempurna, kini dia harus kehilangan calon buah hati yang perlahan bertahta di hatinya.
Dia duduk pasrah di samping makam kecil itu, sementara kedua ibunya membawa Gina kembali lebih dulu karena kondisinya masih lemah dan butuh banyak istirahat.
Hancur harapan masa depannya, bahkan bisa dia katakan bahwa hubungannya dengan Gina tak ada dasar lagi, sudah tidak ada hal yang bisa membuat mereka bersama, pernikahan itu saja karena adanya si kecil ini, sekarang sudah tiada.
"Kak, kalau Kakak izinkan, aku akan mendekat ke sana, tapi kalau tidak, aku tidak marah sama sekali," ujar Aisyah pada suaminya.
Baskara memberinya izin yang tentu saja bersama dirinya, bukan Aisyah sendiri mendekat pada Sena yang masih ada di makam itu, lagipula tujuan Aisyah dan dia ke sini untuk turut mendoakan calon bayi Sena yang telah tiada, bukan lainnya.
Aisyah letakkan tangannya di atas tangan Baskara, berjalan dan berada di genggaman sang suami, dia begitu menjaga perasaan pria di sampingnya ini.
Beberapa pasang mata yang sempat mengenali Aisyah, melemparkan pandangan penuh akan penilaian, sebab mereka sudah mengira Sena bisa saja berubah kembali dan meninggalkan Gina yang tak punya dasar untuk bersama lagi.
Namun, senyumnya tak pudar, dia tidak sendiri, ada suaminya yang menegaskan siapa dan untuk apa dia di sini.
Sena seketika berdiri begitu melihat Aisyah datang, gadis itu berdiri tepat di samping belakang Baskara, Aisyah sengaja mundur demi menjaga kehormatan suaminya.
"Kami turut berduka, Sen. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan tabah," ujar Baskara sambil bersalaman.
"Terima kasih, terima kasih sudah datang." mata Sena mencuri pandang Aisyah, dia menunggu gadis itu menyampaikan sesuatu. "Aisyah," panggilnya tak sabar menunggu.
Aisyah mengangguk samar, dia pun berkata, "Kami turut berduka, Kak. Untukmu dan mbak Gina, semoga Allah berikan sabar dan tabah, semoga Allah gantikan pahala yang berlipat dan semoga dia bersama kawanan indah di surga, aamiin." dia memandang sebentar lalu menunduk lagi, bunga di tangannya dia taburkan ke atas gundukan tanah itu, sebelum dia kembali menyimpan tangannya di genggaman Baskara. "Maaf, kami datang terlambat," imbuhnya.
Sena aminkan doa itu, dia akui berat melihat dua hal yang meninggalkannya dalam satu waktu seperti ini, tapi dia sendiri tak berdaya. Dilihatnya Baskara jauh lebih pantas untuk Aisyah, bukan hanya menjaga nama baik, melainkan menjaga kehormatan Aisyah dan menjamin keamanan Aisyah tentunya.
Pandangannya masih menyimpan harapan pada Aisyaah, walau dia tahu di dekat Aisyah ada Baskara, bahkan dia sadar seperti yang dipikirkan tadi soal Baskara, dentuman dalam dirinya belum bisa dikendalikan.
"Kak Sena boleh mengatakan apapun ke Ais, tapi Kak Bas harus ada di sini, kita bertiga, bukan berdua," ujar Aisyah menolak halus ajakan Sena. "Apapun yang Kak Sena ingin sampaikan dan mungkin meminta pendapatku, silakan, keberadaan Kak Bas bukan hal yang berpengaruh," imbuhnya.
Sena menoleh pada Baskara, anggukan dia dapatkan.
"Tidak mungkin aku membahas harapanku bersamamu di depan suamimu, Aisyah." Sena berbalik meninggalkan keduanya tanpa basa-basi lagi.
__ADS_1
Sementara Baskara yang endak mengejarnya, Aisyah cegah.
"Tidak ada yang dirahasiakan antara aku dan kak Sena, jadi aku mau Kakak juga mendengarkan, bila dia menjauh begitu, bisa Kakak simpulkan artinya bagaimana kan?"
Baskara mengangguk, inti masalah itu bukan pada Aisyah, sebab Aisyah telah mengaku mencintainya, hanya dia yang Aisyah cintai. Inti masalahnya ada pada harapan Sena yang masih mencintai dan berharap pada Aisyah, Sena yang belum bisa menerima kenyataan.
"Kakak mau apa?"
"Mendoakan dia-" mengajak Aisyah duduk di dekat makam kecil itu. "Kita datang ke sini untuk mendoakan dia'kan, A-isyah. Sekarang, ayo berdoa!"
"Hem." Aisyah ikut di sampingnya.
***
Lampu kamar yang semula terang, kini berganti redup, belum jam istirahat malam, bahkan Aisyah tahu kalau sejak lama suaminya tak memakai lampu tidur seperti ini, kalaupun dia tahu kamar Baskara gelap, itu memang dimatikan total lampunya.
Ada yang berbeda malam ini, Aisyah periksa ruang kerja suaminya, pria itu masih ada di sana, bahkan masih sibuk berbicara serius dengan wajah yang terlipat tegas.
"Non mau buat apa?" tanya bik Nur.
"Ada, mau dibantu?"
"Tidak, ini sudah jam istirahat pekerja, Bibik istirahat saja, biar aku yang buat, ehehehe."
Bik Nur manggut-manggut, dia tinggalkan bidadari cantik itu di dapur seorang diri, sejak hubungan keduanya membaik, bik Nur jadi lebih sering melihat Aisyah tak memakai hijab di rumah, kecuali kalau ada mamang penjaga dan bersih kebun.
"Ah, iya. Seharusnya di bagian itu ada yang kalian selidiki, tidak mungkin kalau-..." Baskara masih berbicara serius.
Kedatangan Aisyah membawa bakwan goreng ke ruang kerjanya membuat indra penciumannya terganggu, begitu menoleh, dia dapati Aisyah memamerkan satu piring penuh bakwan goreng untuknya, dia pun tersenyum dan bergegas menyelesaikan panggilannya.
Tak lama Aisyah menunggu sampai satu tangan jatuh di atas kepala dan kecupan lembut di pipi kirinya.
"Kenapa repot-repot, ini sudah malam, A-isyah. Seharusnya, kamu tidur," ujarnya sambil menggigit satu bakwan.
"Aku takut tidur sendiri, kamarnya seram sekarang."
__ADS_1
Baskara tertawa kecil, sambil kunyah-kunyah dia menjawab, "Katanya lampu begitu itu romantis, makanya aku beli dan pasang waktu kamu sama bik Nur, mau diganti?"
"Tidak, kalau Kakak suka, biar saja." Aisyah ikut menikmati bakwan buatannya.
"A-isyah," panggilnya.
"Iya?" cengar-cengir sambil kunyah-kunyah.
Baskara menata diri dulu, dia takut salah ucap hingga Aisyah salah paham.
"A-isyah, boleh tidak kalau saat tidur, aku lebih dekat denganmu?"
"Lebih dekat?" ulang Aisyah tidak mengerti.
Ekhem,
"Maksudku, aku dan kamu saat tidur ... saat tidur itu lebih dekat, A-isyah." gugup.
"Bukankah beberapa malam lalu, Kakak tidur memelukku, apa itu kurang dekat?"
Ah, iya. Aku ini bicara apa sih, pikiranku dewasa sekali!
"Ahahahahahha, iya ya, aku sudah memelukmu ya, pekerjaanku banyak jadi mudah lupa, A-isyah, ahahahahahaaa ... ayo, makan lagi!" dia ambil bakwan itu dan dia lahap.
Aisyah mengangguk, dia ambil lagi dan dia lahap sama seperti Baskara sampai habis, mereka pun minum dari satu gelas yang sama, bibir mereka menempel pada sisi yang sama juga.
"A-isyah."
"Iya?" menoleh, kedua alisnya terangkat.
"Mmm, tidak apa-apa."
"Oh, aku cuci ini dulu ya, Kak." Aisyah kembali melangkah.
Baskara usap-usap dadanya, ada hawa panas yang terus saja mendadak membakarnya di malam hari begitu dekat dengan Aisyah.
__ADS_1