Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Hari Bahagia


__ADS_3

Tok, tok, tok...


Shafiyah tahan suaminya, dia tidak mau diganggu, kan sudah menikah, jangan dilarang-larang, begitu pikirnya.


"Kak Ula di sini saja!"


"Tapi, Shaf, kita harus ke sana, buku nikahnya belum ditanda tangani loh!"


Eh, iya. Mau tidak mau mereka harus ke luar dan menurut pada penanggung jawab pernikahan ini.


Tunggu, Shafiyah perbaiki riasan di wajahnya, menambahkan sendiri pewarna bibir yang tadi sudah Nakula habiskan, begitu juga Nakula, dia hapus bekas merah muda di bibirnya sambil menahan malu dan senyum.


Ini Shafiyah yang dia kenal atau bukan, membuatnya melayang sekali sentuh, bahkan dia menjadi tak sabar hari berganti malam.


Jeglek,


Pintu pun terbuka, tiga pria sontak menyeringai seolah paham akan apa yang terjadi barusan, terlihat dari wajah Nakula yang gugup, kalau Shafiyah bisa santai, berbeda dari Nakula.


"Pengantinnya tidak sabaran rupanya, ahahahah, anak muda jaman sekarang baru akad sudah langsung buat anak!" Yoga tanpa ragu berkata demikian, sementara yang lainnya, termasuk Saka hanya bisa bergeleng sambil mendengus.


Tingkah dan ucapan mereka semakin membuat Nakula ingin tenggelam saja, tadi kalau dia tolak jelas akan mengecewakan istrinya, ditawari istri kan tidak boleh menolak.


Mereka semua turun, daftar acara sudah menunggu, bahkan ibu hamil di sana sudah habis banyak, membuat suaminya kelabakan meminta ini dan itu, belum lagi ibunya yang menambahkan ide untuk menu lain, Baskara dibuat meledak dan harus mendinginkan kepala bersama ayahnya.


"Sabar, namanya orang hamil, kamu dulu waktu di kandungan mamamu juga begitu!"


"Ayah berkata jujur, kan?"


"Iyalah, aku yang bersama mamamu itu 24 jam, kau anak pertamaku, jadi sebisa mungkin aku bersama mamamu sepanjang waktu."


"Itu bukan karena Ayah minta jatah kan?"


Plak!


Dibela justru membalas yang sebaliknya, ayah jadi gemas kalau begini, kedutan sudah kalau Baskara mulai membalasnya, karena itu benar.


Bas!


Ah, dia harus meninggalkan ayahnya lagi, sementara ayah memberinya semangat agar tak kalah dengan rasa malas melayani ibu hamil, harus semangat demi anak pertama mereka.


Sambil mendengus dan menjejakkan kedua kakinya, Baskara menuju Aisyah yang sudah cengar-cengir.


"Ya, Nda?"


"Sini saja, Ais kangen sama Yanda!"


"Kangen apa, daritadi sama kamu, ambilin makanan buat kamu, hayo!"


"Ahahahahaahah, sayang sekali sama Yanda!" Aisyah pun berbisik, "Ais bersyukur nikah sama Yanda, walaupun waktu nikah itu momentnya penuh sedih dan takut, tapi Ais senang bisa sama Yanda."

__ADS_1


Baskara lebarkan senyumnya, dia berjongkok di depan Aisyah, meletakkan tangan istrinya itu ke atas bahunya, lalu dia cium dan mendongak hingga bisa melihat mata berbinar sang istri.


"Aku sayang sama kamu, Nda."


"Aku ya sayang sama kamu, eheeheheheh, Yanda cuman buat aku saja kan ya?"


"Buat kamu sama anak-anak kita, Nda. Nanti, foto di pelaminan yuk, biar kita ada foto senyumnya, ahahahaha!"


Aisyah tak menolak, dia ingin mempunyai satu foto di mana dirinya dan sang suami berdiri di pelaminan selayaknya mereka yang menikah, lalu tersenyum seolah mereka itu mempelai yang sedang berbahagia.


Perut yang membuncit itu menjadi bukti cinta keduanya, dengan senang hati Aisyah penuhi ajakan suaminya, mereka kompak berdiri begitu kedua mempelai tiba di pelaminan.


Ibu dan ayah juga kedua orang tua Nakula menyambut keduanya, senyum lebar mereka semua antarkan untuk mempelai yang berbahagia.


Wajah malu-malu dan senang keduanya menjadi hiasan indah di hari ini, Nakula gandeng Shafiyah dengan sangat hati-hati, sesekali dia menoleh guna memastikan Shafiyah baik-baik saja, tak ada yang mengganggu jalannya.


"Ayah kuat tidak?" tanya Shafiyah yang ragu mau duduk di pangkuan ayahnya bersama Nakula.


"Ayahmu ini jago segalanya dan yang terkuat!"


Satu foto diambil saat keduanya duduk di pangkuan ayah, lalu dengan wajah senangnya, ayah gendong Shafiyah sambil berkeliling ke tamu di depan mereka, membiarkan anaknya mendapatkan banyak doa dan berkah dari mereka yang datang di acara awal ini.


"Ayah, ahahahahahh, aku takut jatuh!"


"Ayah tidak akan membiarkan itu terjadi, Sofi!"


"Hush!" ibu malu sendiri.


"Ahahaha, nanti malam bisa Ayah gendong sendiri, gendongan yang lain-"


"Ayah!" ibu bekap mulut suaminya, ini di depan umum, anak dan suaminya kompak memang. "Ayo, duduk!"


"Iya, sayang."


Blush,


Ekhem, semua berdeham, menyadarkan kalau banyak tamu jomlo di sini, meringis harus melihat dan mendengar yang romantis-romantis.


"Selamat ulang tahun, Jingga. I love you," bisik ayah pada wanita tercinta yang dua tahun lebih tua darinya itu. "I love you, janda perawanku!"


"Hush, iya-iya, duda anak satuku, love tou too!"


***


Pulang atau menginap di kamar hotel?


Nakula duduk manis di tepi ranjang, dia ikut saja mau di hotel ini atau di rumah Shafiyah, yang penting dia bersama istrinya, tidak dari satu tempat ke tempat lain dan tidak bersama-sama.


"Kak Ula, kita di sini atau di rumah ayah?" duduk di samping suaminya, jantung Nakula mau lepas melihat Shafiyah lama-lama. "Aku kan istrimu, jadi aku patuh sama apa yang kamu pilih, ke mana dan di mana?"

__ADS_1


"Shaf," panggilnya.


"Iya?"


Glek,


Nakula usap dadanya dulu, menenangkan yang di dalam, bersorak terus tidak mau kalah, lalu dia kembali menguatkan diri menatap sang istri.


"Shafy," panggilnya lagi.


"Iya, Kaaaaak?" bergeser duduk, lengannya menempel pada lengan Nakula, pria itu terlonjak. "Ih, aku tahu apa yang bikin Kak Ula bingung, jangan-jangan kamu mau sekarang ya, hem?"


"Ma-mau apa?"


"Ahahahah, Kak Ula pura-pura deh, kamu mau bedah rumah kan sama Sofi sekarang, malam pertama sekarang kan, iya kan?" kibas-kibas rambut sampai menampar halus wajah Nakula. "Kak Ula mau bedah rumah sekarang, hem? Sofi siap lahir batin kok meskipun masih muda, mau?"


Tidak, bukan itu.


Nakula kikuk, didekati dia semakin gugup, bingung mau berkata dan bertindak apa. Shafiyah yang aktif menurutnya, tidak akan dia sia-siakan, ingin dia maju.


Maju kepalamu!


Kakinya saja gemetaran, melihat Shafiyah berkedip, semua organ dalamnya mau lepas, bagian bawah sudah menggeliat endak minta lepas.


"Shaf, anu-"


"Anu apa, hem, apa?" dia colek-colek lengan dan pipi Nakula, sontak memerah. "Anu apaaaaaaaa, hei?!"


Ya Allah, tolong aku!


Hup,


Nakula hampir menjerit, Shafiyah berpindah ke pangkuannya, hampir memijak senjata pamungkas yang memberontak mau ke luar.


"Kak Ula kok berkeringat sih, gugup ya sama Sofi?" lenggak-lenggok di pangkuan.


Uuhhhh, tahan ularrrr!


***


note:


Yang nunggu Ajeng, maafkan belum up hari ini sama kemarin ya, Bucil ribet urusin apem mendunia, demam apem. Besok In sya Allah Bucil up.


Yang di pizo lagi kenceng, soalnya udah ada tabungan bab, tinggl klik2 aja jadinya.


Ajeng dan Arya "Bojomu semangatku" alhamdulillah kemarin kontrak tercinta turun, jadi bisa daily bulan depan, dukung terus Ajengnesia!


Lophe.

__ADS_1


__ADS_2