Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Panggilan Baru


__ADS_3

Hampir-hampir tanah retak karena isak tangis lirih Baskara, entah kenapa ucapan ayahnya membuat hatinya tergerak piluh, akhirnya dia akan menjadi seorang ayah, setelah banyak problema yang menghadangnya dan dia harus tampak tegar.


"Sssst, jangan nangis gitu, ada Sofi yang sayang Kakak, sudah ya, cup!"


Aisyah melipat bibirnya menahan tawa, ini bukan Baskara yang dia kenal, mana seperti anak kecil di pelukan Shafiyah, ibu saja tidak habis pikir dengan anak susu botolnya itu, dulu masih kecil sukanya minta susu botol, ganti pampers sambil menangis, sekarang mau jadi ayah ya masih menangis, walau yang dipeluk itu miniatur kecil ibunya.


"Ayah, sudah jangan bicara yang aneh-aneh, nanti air mata Kak Bas habis dan desa ini banjir karenanya!" dia minta ayahnya diam. "Sudah, Kakak berhenti, jangan sedih lagi, apa tidak kasihan kalau desa ini banjir karena air matamu, hem? Pikirkan rakyat kecil dan ladang mereka, hayo!"


Puurrffftt,


Tidak salah ayah dan ibu mengajak boneka hidup satu ini, yang lain sedih, dia sendiri keliling menenangkan. Jentikan jemari ayah membuatnya berpindah tempat duduk, bayi besarnya juga mau ditenangkan, siapa lagi kalau ayah, dia cemburu melihat Shafiyah lebih dekat dan lebih lama bersama Baskara.


Bingkisan mulai dibagikan, begitu juga makanan piringan yang sejenak bisa mereka nikmati di rumah yang akan kembali disewakan oleh kakek Baskara ini, kenangan di rumah ini tak akan terlupakan, terlebih lagi bagi pasangan Baskara dan Aisyah, mereka kembali dari sini membawa kabar bahagia di mana satu benih telah tertanam dan tumbuh di rahim Aisyah.


"Kakak makan juga ini lontongnya, ibu khas buat daritadi!"


"Iya, Nda. Kamu duduk di sini saja!" menahan istrinya yang mau ikut ke dapur. "Jangan capek-capek, nantikan perjalanan jauh!"


Diam menurut, padahal dia tidak banyak membantu sedari tadi, cuman duduk sambil melipat kardus untuk bingkisan, semua sudah ada yang mengurusnya sendiri, termasuk ibu yang super sibuk.


Beberapa camilan mereka lahap bersama, Baskara sesekali menjawab pertanyaan orang-orang akan impian ayahnya yang mau join usaha, dia akan penuhi selama bisa ke sini sebentar-sebentar, mengingat Aisyah hamil hingga dia tidak bisa jauh dulu terlalu lama.


Rasa takut akan kehilangan kala itu belum sepenuhnya pergi sekalipun bibirnya terus tersenyum, dia mau fokus pada Aisyah.


"Nda, lontongnya mau lagi, enak banget ini!"


"Iya, aku ambilkan ya, tunggu sini!" Aisyah berdiri perlahan, dia usap perutnya, lalu bergegas mengambil satu porsi lagi untuk suaminya. "Sabar ya!" ujarnya pada Baskara yang sudah tidak sabar mau makan lagi.


Pria itu tersenyum, tak lama video call berlangsung dari Saka, ada banyak teman yang terhubung di sana, mereka mengucapkan selamat, termasuk Dara yang sudah semakin dekat hari kelahiran, semua menyapa.


Pandangan berhenti pada Nakula yang bergabung di sana, dia melambaikan tangan dan mengucap selamat pada Baskara, sontak Baskara alihkan pada Shafiyah, ada senyum canggung di sana, terlebih lagi Shafiyah berdandan seperti Aisyah.


"Sapa Nakula, katanya mau bicara!"


"Tidak, aku tidak bilang begitu, Kak!"


"Eheheheh, Saka bilang sama Nakula, adikmu ingin bertemu, tanya cantik tidak?!"

__ADS_1


Saka patuhi perintah Baskara, dia tanyakan sampai Nakula malu sendiri di sana, sejak mengabdi ikut Saka, pemuda itu semakin mudah melihat Shafiyah, tapi tetap pada rasa malunya.


"Dia bilang dari dulu cantik, sampai ketemu lagi katanya!" ujar Saka menyampaikan.


Ayah ikut bergabung, "Nakula kapan kembali?" dia rengkuh Shafiyah hingga duduk ke pangkuannya, tapi gadis itu bersembunyi di dada ayahnya, tidak mau menunjukkan wajah manis itu. "Apa, masih lama? Terus, siapa yang handle anakku satu ini, heh Nakula!"


Nakula tersentak kaget, dia muncul sedikit sambil mengangguk, "Saya akan segera kembali, Paman!"


"Bagus, anakku kasihan kalau tidak ada yang antar ke sekolah, cepat selesaikan dan kembali!"


Shafiyah semakin dirundung malu, dia jadi bulan-bulanan di sini, digoda semua orang akan kebersamaannya bersama Nakula, sedang Nakula tipenya pemalu, berbicara sangat formal di sini.


"Ayah, hentikan!" dia berpindah pada Aisyah, karena hanya kakak iparnya ini yang diam tak ikut menggodanya. "Kak Ais, mereka nakal!"


"Masa nakal sih? Biar Kakak cubit nanti," balas Aisyah sambil memeluk adik ipar gemasnya ini.


***


Formasi kembali ke ibu kota, mobil besar dan ternyaman yang ayah sewa untuk kepulangan menantunya, tak tanggung-tanggung dibuat sedemikian nyaman hingga Aisyah tak mengeluhkan apapun.


Bahkan, membuat mereka terkejut, pasalnya mobil yang datang bukan yang kemarin, melainkan design baru di mana kamar mandi kecil ada di sana, Aisyah tak perlu menahan buang air kecil selama diperjalanan.


Bangku depan supir bersama Pian, bangku tengah ada Baskara dan Aisyah, sedang di belakang ada tiga orang yang ramai sepanjang perjalanan.


"Mau ke mana, Nda?"


"Ke toilet, kebelet!"


"Pegangan, mau aku anterin?"


"Hmmm, boleh deh, nanti takutnya goyang-goyang."


Baskara mengangguk, dia bergegas melepas sabuk pengamannya, meletakkan bungkusan camilan dan berjalan ke belakang, design tempat duduk yang sangat istimewa, walau mereka lewat, tak membuat penghuni bangku belakang terganggu, seperti model ular saja, meliuk-liuk.


Entah kapan dan bagaimana ayah memesannya, pria itu luar biasa.


"Sakit?" Baskara panik mendengar desisan Aisyah.

__ADS_1


"Tidak, aku tadi bangun tidak lihat, kebentur tempat handuk, eheheheh."


Ibu lantas menoleh, "Bas, ajak Aisyah berbaring di bangku empuk panjang situ saja, biar kakinya tidak bengkak!"


Baskara mengangguk, ada sejenis kasur mini yang muat satu orang di bagian belakang, setidaknya Aisyah bisa meluruskan kaki sempurna di sini, sejajar dengan punggungnya.


"Kakak di sini saja, aku takut goyang-goyang," ujar Aisyah sambil menarik baju suaminya.


"Iya, aku di sini, tidak ke mana-mana, Nda."


"Eheheehehhe, manja sama Yanda ya, Nak ya?" Aisyah berbincang sambil mengusap perutnya.


Siapa, Yanda?


Aisyah tinju kecil perut suaminya itu, Yanda itu sebutan untuk Baskara.


Bunda dan Yanda, maksudnya begitu.


"Buluku meremang kamu panggil gitu, tapi aku suka, Nda. Panggil aku begitu, jangan Kakak lagi!"


"Ahahahahah, tapi aku suka kalau manggil Kakak itu!"


"Yanda saja, yang tadi, coba, Nda!" merengek, tidak mau kalah dengan anaknya, mau dipanggil spesial juga. "Nda, ayo cepat panggil begitu!"


Aisyah merona astaga, di depan ada banyak orang, sedang suaminya manja begini, kenapa juga tadi dia mulai menggoda, jadi keterusan.


"Nda!"


"Iya, aku panggil gitu, tunggu!"


"Sekarang kok!" kan, semakin tidak sabaran.


Aisyah tahan tawanya, ingin dia cubit ginjal suaminya ini.


"Nda!"


"Iya, Yanda apa?"

__ADS_1


Ya Rabb......


Kepala Baskara berdenyut, dia tak kuasa mendengarnya, "Mau lagi, Nda, lagi!"


__ADS_2