Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Kabar Bahagia dan Duka


__ADS_3

"Tidak, Ais tidak menertawakan itu, buktinya Ais tidak tertawa, iya kan?" Aisyah hanya tersenyum mendengar pengakuan suaminya.


Baskara rasa itu melukai harga dirinya di sini, tapi tidak mungkin dia diam saja, Aisyah juga tak akan paham.


"A-isyah, kalau kamu keberatan dan tidak suka, katakan saja. Maaf, aku memang akui bodoh dalam hal seperti ini, teman di sekolah dulu, lebih tepatnya di tempat seperti barak itu aku tidak pernah melihat romantisme orang memadu kasih itu bagaimana, jadi ... bisa kamu mengerti, A-isyah?" malu dia mengaku, tapi biar saja.


Lagi, Aisyah tersenyum, tidak ada manusia yang sempurna, Aisyah sendiri juga tidak tahu hal seperti itu, sedari tadi dia tersenyum bukan karena dia paham, melainkan mengakui sama tidak tahunya dengan apa yang Baskara akui.


Bahkan, tadi dia mau berteriak ketika Baskara mencium sisi lehernya, dia tahan pada rematan rok yang sampai sekarang menyisakan bekas kusut, itu bukti kalau Aisyah juga tengah belajar dan adaptasi akan hak-hak suaminya.


"Maaf," ujar Baskara.


"Kakak tidak perlu minta maaf, apa perlu mencobanya lagi?"


"Hem?" penawaran yang mengejutkan.


Aisyah tertawa kecil, dia gulung rambutnya hingga bagian leher itu terbuka, kulit putih yang dikatakan transparan oleh suaminya itu terpampang jelas, bisa Aisyah lihat bagaimana mata Baskara mengerjap ketika dia singkap rambut panjangnya.


"Kakak bebas melakukan apapun di sini, selama bukan menembakkan peluru ya, ehehehehe. Satu lagi, Ais tidak marah atau terpaksa menerimanya, dan-"


"Kenapa kamu tidak marah atau terpaksa?" potong Baskara, dia ingin mendengar alasan itu, alasan yang dia takutkan selama ini, memaksa Aisyah menerimanya. "Jawab aku, A-isyah!"


Aisyah tersenyum, dia dekatkan wajahnya hingga bagian pipi tepat di depan bibir dan hidung Baskara, spontan begitu dekat, Baskara kecup pipi itu.


"Karena aku mencintai Kakak," akunya.


Aisyah dekatkan lagi wajahnya, kali ini bukan pipinya, melainkan keningnya, lalu Baskara kecup lagi.


"Karena yang aku doakan setiap malam itu nama Kakak," akunya lagi.


Aisyah dekatkan lagi ketiga kalinya, yang ini dia rasa jauh lebih berani, sebab dia benar-benar menghadapkan wajahnya pada Baskara, entah sisi mana yang akan Baskara sentuh.


Keduanya masih sama-sama diam, sampai Aisyah berkata.

__ADS_1


"Satu orang yang aku cintai jauh sebelum aku menikah, itu Kakak."


Baskara tersenyum tipis, dia takup wajah Aisyah dan dia hapus jarak diantara mereka, bibir merah dan kecil itu miliknya, dia buat pemiliknya kehabisan napas berulang kali, tidak dia hentikan sampai dia merasakan puas menghukum bibir yang sedari tadi lancang berbicara soal isi hati itu.


Perlahan Aisyah berpindah ke pangkuan Baskara, melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu, berusaha mengimbangi decapan suaminya yang semakin dalam.


***


Satu troli besar rasanya tidak cukup, resiko kalau sudah jatuh hati dan memberikan hati pada istri.


Aisyah berjalan lebih dulu sambil memilih apa yang endak dia beli untuk mengisi kotak dapurnya, sedangkan Baskara, pria yang tadi mencium bibirnya rakus itu, menjadi pengikut setia, hanya bertugas mengangguk akan apa yang Aisyah kehendaki membelinya.


Satu lagi,


"Kakak, boleh minta kartunya?"


"Sebentar," balas Baskara, dia ambilkan kartu atm khusus belanjanya. "Ini, Aisyah. Pinnya tanggal pernikahan kita," imbuhnya.


Aisyah tersenyum lebar menerimanya, begitulah perempuan, belanja lancar, semua akan lancar, termasuk urusan hati dan hak suami, dijamin aman.


"Mau beli apa lagi, A-isyah?"


"Tidak ada, sudah semua, nanti di rumah mau Ais bagi buat mama dan ibu, jadi kalau ke sana ada buah tangannya, Kak."


Baskara manggut-manggut, rumit memang dunia para wanita, tapi dia ikuti saja, toh tadi dia dibolehkan mencium sampai kebas.


Dan,


Aisyah mencintai aku, bukan pria lain, tapi aku yang dicintai Aisyah, hanya aku!


Dada bidang itu membusung penuh kesombongan, semua yang ada di mobilnya ini tak ada yang bisa mengalahkan porsi pengakuan cinta Aisyah kepadanya, tidak ada, Baskara usap pipi merah Aisyah, dia tersenyum tipis saat Aisyah menoleh padanya.


"Supir yang benar, Kak!"

__ADS_1


"Ah, iya."


Lupa, dia harus ingat kalau wanita bisa menjadi garang setelah dicintai, lihat saja bagaimana ibunya membuat yang mulia ayah tunduk, Baskara harus siap mental untuk itu.


***


Tidak ada hentinya doa itu mereka panjatkan, kejadian sore ini seperti mimpi buruk yang tak sekalipun ingin dialami oleh wanita hamil seperti Gina.


Gina menjadi korban tabrak lari sepulangnya dari swalayan sebrang komplek, dia terjatuh dan tubuhnya ambruk hingga perutnya menghantam jalanan.


Dokter masih berusaha menyelamatkan dua nyawa di dalam sana, walau diawal dokter sudah mengatakan bahwa kemungkinan besar, anak yang Gina kandung tidak akan selamat, tingkat keselamatannya sangat kecil.


"Sen, sudah ngobrol sama dokternya?" mama Ira ikut ke rumah sakit.


Sena mengangguk, dia terduduk lemas di samping mama Ira, kedua tangan menutup wajah yang lesu dan bingung itu, keputusan besar harus dia ambil antara Gina dan anak mereka.


Namun, peluang anaknya sangatlah kecil mengingat usia kandungan juga masih muda.


"Kita berdoa saja, yakin kalau anak dan istri kamu bakal selamat, tidak kurang apapun, ini musibah, kita tidak tahu datangnya kapan dan harus kita terima!" mama Ira tenangkan Sena.


Pria itu masih tampak frustrasi, dia memang sempat tak menerima anak itu, tapi di malam-malam setelah menikah saat dia melihat perut buncit itu, lalu dia sentuh, dia seolah ingin nyawa kecil itu bersamanya, kini dia merasa bersalah telah terlambat mencintai anaknya sendiri.


Brak!


Dua orang dokter dan beberapa tim medis ke luar dari ruang tindakan, salah satu dari mereka meminta Sena ikut sebentar, ada hal spesifik yang harus mereka jelaskan.


Mama Cita dan mama Ira saling mendekap, melihat dari wajah Sena dan suara desahannya sudah membuat harapan mereka pupus akan hadirnya cucu pertama dalam kehidupan mereka, bahkan Sena terlihat menahan tangisnya, dan salah seorang dokter itu menepuk bahu kiri Sena.


Langkah gontai dan wajah yang basah, mama Ira sambut dan peluk putranya itu.


"Semua pasti baik-baik saja, Sen."


Sena bergeleng dalam pelukan mama Ira, dia pun berkata, "Anak aku, anak aku, Ma ... dia tidak selamat."

__ADS_1


Suara tangis mama Cita dan mama Ira pecah di sini, yang semula ingin menguatkan Sena, justru mereka ikut hancur dibuatnya, bayangan cucu pertama dari Sena dan Gina lenyap sudah, tak bisa mereka rengkuh kembali, sirna dalam sekejap, bahkan belum sempat mereka sentuh dan rasakan.


__ADS_2