
"Sudah, Nda ... Biar aku saja yang membereskannya, kamu istirahat, nanti jam delapan kita ke klinik dekat sini ya," ujar Baskara sambil berjongkok di depan Aisyah.
Aisyah pandang teduh wajah itu, banyak kecemasan tertumpuk di sana, padahal dia hanya mencuci piring, itu pun tidak banyak.
"Duduk di sini, suamimu bisa cuci piring, dia bukan hanya handal memberantas orang-orang yang curang, dengarkan itu!"
"Iya, maaf." Aisyah usap pipi Baskara sebelum pria itu berdiri melanjutkan apa yang tadi dia lakukan.
Berpegang pada pengalaman Aisyah sakit kala itu, Baskara tak mau menjadi orang yang terlambat tahu akan kondisi istrinya, walau hanya sekadar sakit panas.
Sedang Aisyah merasa ada yang berbeda dari sakitnya, memang tubuhnya sedikit lebih gemuk akhir-akhir ini, dia jadi banyak tidur, lebih sering lelah, sebelum akhirnya jam dua pagi ditemukan muntah, lalu mendadak sehat seperti ini.
Mungkinkah dia tengah mengandung?
Aisyah gelengkan kepalanya, dia tidak boleh membayangkan yang berlebihan, berpasrah akan jauh lebih baik untuknya yang tengah menanti-nanti, jangan sampai harapannya membuat dia sakit sendiri.
Namun, kecemasannya dialihkan pada hal yang positif, entah nanti ada kabar kehamilan atau tidak, dia tidak boleh egois, dia harus menjaga langkahnya mulai sekarang.
"Ada yang sakit, Nda?"
Aisyah tersenyum, dia seperti sedang berbicara dengan anaknya saja, anak yang bermata garang, tapi hatinya baik.
"Tidak ada, cuman kaki rasanya lemas sekali."
"Aku gendong ke kamar mau?"
"Di sini saja, sebentar lagi kan berangkat ke klinik, Kak. Nanti, Kakak yang nyupir sendiri atau minta tolong paman?" paman sebelah maksudnya.
"Aku sendiri, Nda."
"Hati-hati ya, pelan saja."
Baskara tangkap wajah ragu bercampur percaya di sana, dia mengangguk mengiyakan permintaan Aisyah.
Apa A-isyah merasakan dan berpikiran yang sama denganku? Kalau iya, apa benar A-isyah tengah mengandung anakku?
Rupanya Baskara juga memikirkan hal itu, sakitnya Aisyah mengingatkannya pada terakhir kali dia menemani Aisyah di rumah sakit, saat anak mereka pergi dan belum sempat tumbuh baik di kandungan itu.
"Kamu mau makan apa? Harus makan pokoknya!"
"Roti yang Kakak buat kemarin itu enak, mau yang selai kacang saja."
"Tunggu ya!"
"Eh, Kakak kerja jam berapa?"
__ADS_1
"Hari ini aku bisa datang siang, pagi belum ada kegiatan, Nda."
Dua ladang telah usai dikerjakan, biasanya orang-orang di sini meminta waktu istirahat sejenak untuk berganti ke ladang berikutnya. Kesempatan yang sangat tepat hingga Baskara bisa membawa Aisyah ke klinik.
Tepat jam delapan pagi, Baskara bawa Aisyah ke klinik terdekat, paling dekat saja masih sepi sekali jam segini, itu juga Baskara tempuh setengah jam lamanya, dia mengemudi sangat pelan, berhati-hati karena Aisyah mengeluh mual melihat jalanan.
"Istri saya sakit apa, Dokter?"
Dokter itu tersenyum, "Sakit biasa saja, tapi saya sarankan ke rumah sakit besar ujung desa ini, pemeriksaannya jauh lebih lengkap."
"Sakit biasa itu biasa apa?" mau Baskara pukul saja mejanya, ahahahah.
"Ya biasa, Pak. Anaknya sudah berapa sih kok belum paham, atau baru mau punya anak?"
Deg,
Baskara menoleh pada Aisyah, begitu juga Aisyah, tanda tanya besar ada di atas kepala keduanya, berkedip pelan dan cepat, menelan saliva yang dirasa cukup sulit sampai Baskara melotot.
"Ini rujukan ke dokter kandungan rumah sakit sana ya, bilang saja dari Dokter Erin!"
Gemetaran Baskara terima, dia masih tidak percaya kalau akan mendapatkan rujukan ke dokter kandungan.
Mau berdiri, tapi dia kembali duduk di depan dokter itu.
"Apa ada penyakit di kandungannya?"
Hamil?
Aisyah tak bersuara, tapi kedipan matanya membawa tetesan air mata.
Dia akan menjaga anak ini, bila benar ada yang sedang tumbuh dalam perutnya, akan dia jaga, sampai melangkahkan kaki pun akan dia atur.
"Nanti, kalau rumah sakitnya luas, mau ya duduk di kursi roda, Nda?"
"Iya, aku ikuti Kakak saja." Aisyah gandeng sampai depan mobil.
"Aku sayang sama kamu!" Baskara cium keningnya sebelum mereka berangkat ke rumah sakit yang katanya ada di ujung desa ini.
Baskara hubungi dan bagikan kabar ini pada kakeknya yang kebetulan dekat, dia juga mengirim pesan pada Rima yang sering menemui Aisyah.
Bila benar Aisyah hamil, maka seminggu ke depan, Baskara butuh saudaranya untuk mengawasi Aisyah di rumah selama dia bekerja.
***
Menunggu hasil satu jam dari pemeriksaan lengkap, seharusnya tepat satu jam, tapi karena petugasnya baru datang, akhirnya mau tidak mau menunggu satu jam lagi.
__ADS_1
Tak ada penolakan dari Aisyah ketika Baskara meminta dirinya berbaring di ranjang pasien, menunggu di IGD sampai hasil ke luar, semua akan dia lakukan demi kebaikan kemungkinan calon anak yang sedang tumbuh itu.
"Pak Baskara," panggil perawat.
Baskara sontak berdiri, langkahnya melebar, dia tidak sabar.
"Saya, saya Baskara. Bagaimana hasil istri saya?"
Perawat itu mempersilakan masuk, dokter akan menjelaskan.
Pertama yang Baskara terima adalah ucapan selamat, kemudia dia duduk dalam kecemasan, selamat apa yang dia terima.
"A-isyah hamil?" matanya melebar sempurna.
Dokter itu mengangguk, dia tunjukkan hasil pemeriksaan yang ada, lalu persiapan untuk USG setelah ini.
Jantungnya berdebar kencang, kedua kakinya gemetar, dia harus menjaga Aisyah setelah ini, ada calon anak mereka yang sangat mereka tunggu tengah tumbuh di sana.
"Nda, A-isyah, Nda ...."
Aisyah buka matanya perlahan, apa yang terjadi sampai suaminya memanggil lengkap seperti itu, Aisyah angkat sedikit kepalanya, tak lama tampak Baskara berdiri utuh dan mendekat, lalu menciumi wajah dan perutnya.
"Kak, apa? Ada apa?" bingung yang diciumi.
Sambil menahan gemetarannya, Baskara remat lembut tangan Aisyah.
"Dokter bilang kamu hamil, nanti kita USG nunggu buat lihat dia pastinya di perut kamu, Nda!"
Benarkah?
Aisyah tutup mulutnya dengan satu tangan, menganga tidak percaya, kabar baik ini dia dengarkan setelah sepanjang jalan banyak suara-suara sumbang dan makian.
"Aku mau menarik tangan petugasnya saja, dia harus cepat memeriksa kamu, kenapa di sini lama sekali?"
"Sabar, Kaaaak ... duduk dulu sini, pegangi aku!"
"Kamu mau apa kok dipegangi?"
"Ahahahah, biar aku tidak banyak gerak, aku mau lompat-lompat ini loh!" canda Aisyah.
Baskara sontak mendekat, dia dekap Aisyah yang tengah duduk.
"Jangan aneh-aneh, Nda!"
"Kamu harus nurut sama aku, kalau tidak nurut, aku cium di depan dokter!"
__ADS_1
Aisyah tertawa,
"Loh, diam kok, Nda!" tidak mau perut istrinya bergejolak.