Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Krisis Batin


__ADS_3

"Bisa nggak kamu diem, mancing Abang terus buat nembak, hem ... kamu suka?"


Arsy mengangguk kelimpungan menangani serangan suaminya, seharusnya dia berpikir dan menghitung dulu bagaimana mengimbangi hasrat suaminya, kalau sudah begini dijamin dia akan kalah satu hentakan.


Berulang kali rasa hangat itu menyapanya, Arsy hanya memejamkan mata saat semburan hangat itu dia terima, merangkum tubuh tegap sang suami yang melemah setelah pelepasan.


"Arsy masakin sesuatu habis ini, tapi mau tiduran bentar boleh?" Saka pun mengangguk. "Biar tanamannya Abang diem dulu di dalem, ehehehehe."


Tak menunggu lama, keduanya terlelap karena kehabisan energi, Arsy begitu lihai menggoda Saka yang jelas tak bisa menolaknya.


Bunyi perut Saka membangunkan Arsy yang sudah terlelap lebih dari dua jam, wanita itu bangun dan segera turun dari ranjang, bisa-bisanya dalam kondisi lapar masih terlelap, suaminya itu memang aneh bin ajaib.


Duh, pinggangnya sakit sekarang, dibolak-balik model apa saja oleh sang suami, orang diam selalu begitu, sekalinya action bisa kuwalahan yang memancing di awal.


Sreng, sreng, sreeng....


Aroma masakan menyeruak hingga ke kamar yang sengaja Arsy buka, membangunkan pria tampan dengan tubuh polos yang masih bergelung di balik selimut, Saka berulang kali mengerjap, menyesuaikan indranya, pandangannya tertuju pada sisi ranjang kosong dan pintu yang terbuka lebar.


"Arsy, di mana?" gumamnya.


Baju dan boxer tipis itu dia ambil cepar, memakai sambil berjalan dan hampir saja menabrak pintu, untung tidak ada maid yang di rumah utama hingga wajah kenyang bercinta itu tak dilihat orang lain selain Arsy.


"Sayang, Arsy ... Arsy!"


Arsy terkekeh, sudah bangun ternyata yang dia tunggu-tunggu, dia berlari ke depan sebentar, melambaikan tangan pada pria yang baru menggapai anak tangga pertama.


Benar-benar tampan, apalagi setelah mereka kenyang bercinta demi membuat anak, wajah Saka seperti orang kecanduan bercinta saja, kalau dibawa ke luar maka bisa membuat banyak perempuan membuka kaki mereka lebar-lebar.


Hup! Puk!


Saka peluk tubuh itu dari belakang dan mencium pipi Arsy dua kali, menimbulkan bunyi karena dia sempat mengecupnya dalam.


"Masak apa?"


"Lapis daging, Abang suka kan ini. Aku buatin banyak, kebetulan kemarin aku udah lunakin dagingnya."


"Lunak kayak adiknya Abang, di buat meong sama kamu, libur sehari pengen nambah jadinya, ahahahahah...."


Arsy sikut perut suaminya, di sini benar hanya ada mereka tanpa peran keluarga, suka duka harus dilewati bersama, kuncinya saling terbuka sekalipun itu menyakitkan.


Katakan nanti ada yang marah, palingan Saka ke ruang kerja dan Arsy menunggu di dekat akuarium kecil di ruang tamu, lalu mereka kalau sudah puas akan ke kamar untuk memadu kasih, itu rute dalam rumah tangga, bersama dan bergelung adalah solusinya sebelum mereka bisa berbicara baik-baik, membutuhkan pendinginnya lebih dulu dan saling menyenangkan.


"Bang, Arsy sebenernya pengen ke dokter gitu, tapi dalam hati Arsy minta sabar juga, gimana ya, rasanya nggak bisa dijelasin," ungkapnya.


Saka mengangguk, dia pernah mendengar wanita yang sudah menikah akan mengalami stres diawal pernikahan bila dia belum menemukan tanda hamil, apalagi suaminya cuek dan sibuk seperti Saka, rasanya ingin menarik ke rumah sakit agar telinganya dikorok sampai bersih, setidaknya Saka peka.


"Abang keberatan nggak sih konsul gitu?"


"Nggak, Abang dukung keputusan itu, cuman ... yang Abang tahu setelah satu tahun pernikahan biasanya mereka dikatakan ada kendala, kalau belum satu tahun bisa dicoba sendiri, Sayang. But, Abang nggak larang kamu buat niat ke sana, kapanpun Abang bisa, kan bulan ini Abang nggak akan dinas, hem." Saka melihat senyum terbit di wajah istrinya, itu pertanda bagus.


Arsy kembali melanjutkan makannya hingga habis, malam memang menyapa keduanya, tapi Saka tak mau waktu habis begitu saja, dia harus membuat istrinya senang selain hanya kejar tayang di ranjang.


Jalanan malam di sini memang tak sebagus di tanah air, tapi setidaknya angin bisa membuat pikiran mereka melunak dan mau mengerti satu sama lain.


"Abang sayang sama aku?"


"Hem, jangan ditanya kalau itu."


"Eheheheh, aku hampir mati karena sayang Abang, rindu tiap hari sampe ngintipin foto Abang berulang kali, ehehehe."


Saka usak rambut istrinya, bisa-bisanya merayu di jalan, kalau Saka tak tahan, mana bisa seenaknya melakukan itu dan membuat mobil mereka bergoyang, dia harus masih waras di sini.


"Bang," panggilnya lagi, Saka menoleh, satu tangannya menggenggam tangan Arsy. "Abang kalau kerja kangen sama aku banget nggak sih?"


Saka mengangguk, dia sedang fokus mengemudi, kalau ketemu makanan 24 jam, dia akan mampir.


"Sama, aku kangen banget sama Abang!"


"Ahahahahahaha, gemes!" Saka cubit pipi Arsy.


"Abang nggak ada niat selingkuh, kan?"

__ADS_1


Pertanyaan yang sedikit intim, selalu akan ditemukan ketakutan itu pada pasangan yang kerap berjauhan, Saka menoleh sejenak dan bergeleng, dari matanya sudah bisa ditegaskan kalau Saka tak ada niat selingkuh, baginya Arsy sudah cukup dan cintanya tumpah ruah.


Arsy bergerak mendekat, dia bersandar di lengan kekar Saka, pria ini pasti rajin olahraga tanpa Arsy tahu.


"Abang mau ajak aku ke mana?"


"Ada makanan 24jam di sana, mau?" Saka menunjuk menu instan. "Kalau mau, kita turun dan makan di sana, anggap aja malam ini khilaf makan banyak, Sayang."


"Dengan senang hati, Bang. Tapi, banyak ceweknya di sana, nanti suka sama Abang semua, gimana?"


Saka kecup bibir bawel satu ini. "Abang cintanya sama kamu, Sy. Ayo, turun!"


"Hem." Arsy lipat bibirnya, bertanya soal cinta pasangan memang cara terbaik mengukur kesetiaan.


Bagi Arsy ini wajar karena wanita yang baru menikah dan belum ada tanda kehamilan, pasti cemas akan suaminya, takut ini dan itu, makanya dia terus mengulang dan semoga Saka tidak bosan.


Jangankan yang baru, yang lama dan sudah punya anak saja takut suami mereka melirik wanita lain.


Arsy menggandeng tangan Saka posesif, bisa Saka rasakan ada rematan di sana, bukannya marah, dia malah kegirangan Arsy menunjukkan rasa di sini, kalau bisa malah seterusnya Arsy begitu padanya, merasa dicintai dan cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


"Bang," panggilnya lagi.


"Ya, Sayang?"


Arsy tersipu, suka membuat pengunjung lain iri, dia terus menempel pada Saka.


"Love you, Bang."


"Love you too, Sayang."


Astaga, mau terjungkal dia mendapatkan pandangan dan jawaban selembut kapas, kalau boleh pingsan dipastikan dia jadi juara pingsan nomor satu.


"Aku mau makan disuapin Abang!"


Saka mengerutkan keningnya, dia pun membalas tak kalah licik.


"Habis itu suapin Abang pake ini ya," balas Saka melirik bibir Arsy, turun ke dada.


Oppps, Arsy senggol lengan Saka, berhasil membuat suaminya terpancing itu niat awalnya, ahahahah.


***


Cinta yang ada di dalam hati bukannya berubah bosan, Saka justru senang merasa istrinya membutuhkan belaiannya setiap saat.


Seperti hari ini, di minggu kedua setelah dia pulang dinas, entah Arsy sedang masa subur atau tidak, dia terus menempel dan tak mau jauh dari Saka, maunya dicium dan dimanja.


"Abang meeting sebentar, kamu tiduran di sini dulu nggak apa, kan?"


Arsy mengangguk, dia akan mengumpulkan tenaga untuk menemani suaminya lagi nanti, belum hitungan menit, Arsy kembali terlelap, Saka mengecup puncak kepala istrinya lembut.


Dia pun meninggalkan Arsy sebentar, pekerjaan menunggunya selain harus memproduksi anak, walau dia tak dinas, jangan harap Saka tak sibuk, bahkan malam lalu dia bercinta dengan Arsy di ruang kerja rumah, dengan kedua tangan yang bergantian memegangi Arsy lalu berpindah ke laptop, sungguh dia tak menyangka kalau menikah akan seindah ini.


"Ya, Kak?" Saka hentikan presentasi sejenak.


"Apa!" mata Saka mau copot sama seperti jantungnya, tapi dia setelah itu tertawa. "Kayaknya aku butuh kerja keras lagi ini, btw selamat sih, salam buat kak Ais, oke!"


Saka bergeleng, kabar baik dari kakak pertamanya yang akan menjadi ayah lagi, sudah dia duga kalau pria satu itu tak akan mau menunda dan mengalah, cita-citanya mengisi rumah ramai dengan anaknya adalah hal utama.


Setelah ini, akan ada saatnya Saka yang mengumumkan hal baik dan bahagia, dia sabar menanti, tapi perasaan wanita terkadang bisa lebih mengerikan dari dirinya, menguatkan Arsy adalah hal utama.


Kayaknya nggak perlu kasih tahu Arsy deh, nanti dia down.


Tapi, kalau di grub di sebar, yang ada istrinya itu akan terpengaruh juga, Saka menghela nafas sejenak, kehamilan tak bisa dipaksa atau ditolak, dia akan berusaha keras untuk itu, yang penting Arsy siap dan mau sabar.


Setelah dia selesaikan meetingnya, Saka kembali memeriksa isi chat grup, benar saja di sana sudah disebarkan, Arsy bahkan sudah membacanya, istrinya itu sudah bangun rupanya.


"Pak, masih ada yang harus Anda periksa, ini!"


Saka mendesah kecil, niat hati mau menemui istrinya yang mungkin sudah kalut dan dia berjanji sebentar, nyatanya dia harus menunda, pekerjaan ini tak bisa dia hentikan begitu saja, beruntung saja Arsy ada di sini hingga nanti bisa bersamanya lebih lama.


Di ruangan Saka,

__ADS_1


Seperti yang Saka prediksi akan kondisi istrinya, Arsy terlihat mengotak-atik ponselnya, memutar dan membaca ulang kabar bahagia di sana, dia tak menjadi tukang iri, tapi perasaan itu menyusup dengan sendirinya seperti itu hal. lumrah yang terjadi pada wanita, termasuk dia, maka itu kepalanya pusing.


Stop, Arsy... kamu di sini buat dukung suamimu, jangan sampe buat dia moodnya buruk cuman karena kamu nggak tenang dan iri nggak jelas.


Arsy atur nafas tenangnya, dia melihat ruang chat itu lagi, ada pesan masuk dari Saka.


Abang gitu banget perhatiannya, aku nggak boleh rusak moodnya, semangat buat olah raga malam.


Lemari Saka dia buka lebar di ruangan bak hotel itu, mengurutkan baju dari yang manis sampai paling manis, dia senyum sendiri, merasa jadi ratu di sini, apalagi suaminya memberi kendali penuh.


"Sayang, kamu lagi apa?"


Arsy tersentak, dia jatuhkan benda segitiga di tangannya, gemas sama motifnya sampai dia tempelkan ke pipi.


"Abang suka motif bintang ya?" cengar-cengir. "Bintang laut lagi, Arsy nggak pernah nemu yang begini di rumah, Abang sembunyiin dari aku?"


Blush, malu luar biasa, tapi Saka yang memang betah dengan wajah datarnya itu mendekat, merebut benda segitiga itu dan melipatnya, dia masukkan ke saku.


"Kita bawa pulang bintang lautnya, biar nggak tersesat!"


"Ahahahahahah, mau dong Arsy diajak main sama bintang lautnya, Bang!" Arsy mendekat, dia mainkan jemarinya di dada Saka yang masih berbalut jas dan kemeja warna merah jambu. "Eheheheh, Abang kalau lihat Arsy kenapa gitu sih?"


Saka tahu gadis ini tengah menutupi perasaan kacau yang ada di hatinya, soal anak yang belum dirasakannya, memang sabar itu berat, terlebih lagi banyak kabar dari kanan dan kiri.


Pinggang keduanya sudah saling menempel rapat, Arsy mengalungkan kedua tangannya ke leher Saka, ciuman lembut itu saling bersambut, Saka ingin istrinya tenang.


Mental wanita selalu diuji dalam hal seperti ini, sebagai lelaki dia harus menguatkannya dan menunjukkan sayang yang lebih demi kenyamanan.


"Mau makan dulu atau main dulu?" Saka melepas pagutannya.


"Maunya Abang?"


Tanpa menjawab Saka angkat tubuh kecil itu ke peraduan, melepas cepat semua aksesoris yang melekat pada tubuhnya, mengukung Arsy sampai percaya diri dalam diri Arsy kembali lagi.


I Love you, kata kunci terkuat untuk sebuah hubungan yang mulai dihantam tidak percaya atau krisis batin.


Walau Saka tahu belum sejauh itu, dia berjaga-jaga saja akan kondisi Arsy.


"Bangun!"


Arsy terbelalak saat dia dibalik dan Saka mendekapnya dari belakang, bisa dia rasakan seberapa dalam permainan ini berlangsung, ingin dia berteriak kegirangan, apalagi kata cinta tak luput dari bibir Saka sekali saja.


Ya, dia tak pantas meragukan kesetiaan pria satu ini.


"Bang, aku pake baju ini aja nggak apa?"


"Hem, nggak apa, tapi setelah ini langsung pulang, aku nggak mau kamu jalan-jalan pake itu!"


Arsy mengangguk, dia pun bergegas mengganti pakaiannya yang sudah terlampau kusut dan basah, tidak di rumah atau di kantor, dia dan Saka seakan haus akan kebersamaan.


Selepas mengganti baju dan sudah tampak segar, Saka menggandeng istrinya ke luar kembali pulang, genggaman dan pandangan Saka sangat menghanyutkan Arsy, dia percaya diri sekarang.


Tapi, entah apa yang membuat dia down kembali, rasanya ada yang tak beres dengan dirinya, ingin marah, senang, sedih dalam satu waktu, dia seperti mampu membuat Saka frustrasi akan moodnya itu.


"Sayang, mau ke mana?"


"Aku cuman mau ke teras aja, mau duduk-duduk, Bang."


Tidak, bukan itu yang Saka tanyakan, Arsy menunjukkan mata sembabnya, jangan sampai Arsy pergi dan melakukan hal buruk pada dirinya sendiri.


Saka halangi langkah istrinya, kalau bisa dia ikut ke depan duduk bersama, tapi Arsy menolaknya.


"Kamu kenapa sih?" Saka menekan kedua lengan Arsy, dia pun menunduk menggapai pandangan Arsy yang terus menghindarinya.


Apa krisis batin dan percaya diri hadir kembali? Tak mungkinkan mereka bercinta setiap jam untuk membaik.


"Sayang, kenapa? Kamu nggak mood kenapa?"


"Arsy nggak tahu, pengen sebel sama nangis sekaligus!"


"Syy...." tak menyangka Arsy menjawab dengan meninggikan suaranya.

__ADS_1


***


Okay, ini 2000 kata all, ahahahh, 2bab jadi 1, selamat membaca!


__ADS_2