Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Cup, Di Ubun-ubun


__ADS_3

Pekerjaan yang menumpuk dan banyak tempat yang harus Baskara kunjungi hari ini membuatnya sejenak melupakan apa yang terjadi antara dirinya dan Aisyah, kemarahannya pagi tadi untuk sejenak dia kesampingkan.


Raga dan pikirannya dituangkan utuh pada pekerjaan itu, sekalipun bertemu dengan Sena dan mendapatkan pancingan dari Sena, tak ada reaksi spesial yang Baskara tunjukkan.


"Kasihan sekali Aisyah menikah dengan pria yang tidak mencintainya sama sekali," gumam Sena.


Pian yang bisa mendengar hal itu sontak menoleh, mengerutkan keningnya sambil kunyah-kunyah.


Sena melirik, "Temanmu yang aku maksud, calon mantan istriku sangat baik, tapi sayang sekali dia menikah dengan pria yang tidak akan pernah bisa jatuh cinta, Bas punya hati buat bekerja dan mengawasi orang saja, iya kan?"


"Jangan sok tahu, Sen!" Pian lahap lagi tahu baso di depannya. "Sekarang kan waktunya kerja, kamu kan tidak tahu kalau dia di rumah bersama Aisyah bagaimana, eheheheh, orang yang cenderung misterius begitu, kalau di rumah sama istrinya bisa gila-gilaan!"


Tatapan mata Sena sontak berkata tidak suka, kalaupun ada yang gila dengan Aisyah itu hanya dirinya, dia tak bisa membayangkan tubuh Aisyah dirasakan Baskara, tubuh yang selalu dia tepis bayangannya karena selalu tertutup itu membuat Sena berpikiran yang tidak-tidak, dia tidak mau Baskara sampai menikmatinya.


Itu tidak mungkin, dia yakin Aisyah masih menjaga diri dan tidak memberikan hak Baskara sebagai suami, Aisyah mencintainya, dia yakin sebab Aisyah menerima pinangannya, yang tidak pernah Aisyah lakukan pada pria manapun juga.


"Sudahlah, lagipula ada istrimu di sini, kenapa juga masih memikirkan wanita yang sudah menjadi istri orang lain, kalaupun dia sama Bas sudah berhubungan, bukannya itu baik, kan mereka sudah sah, ya kan?!" Pian mengambil jalan tengah. "Mau ikut ke kamarnya Nando?"


"Ada apa di sana?"


"Lah, masih tanya, ahahahahahah ... intinya Bas tidak akan tahu, kalau tahu bisa habis kita!"


"Memangnya ada apa?"


Pian lantas mengelus pahanya, berkedip genit seakan tengah menggambarkan sosok wanita, belum lagi lidahnya yang terjulur ke luar membasahi bibir.


Plak!


Satu tangan Baskara sudah melempar gulungan berkas tepat ke bagian belakang Pian, mau berteriak membalas, begitu tahu Baskara, maka hancur sudah rencananya bersama Nando.


Pian angkat kedua tangannya tinggi, dia bersumpah sampai sepuluh jari.


"Tidak ada yang terjadi, kami tidak melakukan apapun, percayalah!" Pian katakan sekali lagi.


"Suruh Nando ke sini kalau-"


"Bas, sumpah demi semua jariku, aku tadi hanya menggoda Sena, tidak ada alasan lain, sumpah!"


Baskara berdecak, "Kalau begitu, kalian berdua tidur di kantor ini!" titahnya sepihak.


"Heh, Bas, jangan dong!"


Sia-sia, Baskara tak mendengarnya, begitu dia melewati Sena, hanya anggukan saja yang dia berikan untuk sebuah sapaan, sedangkan Sena memicing kepadanya.

__ADS_1


Masih bagus aku tidak mencekik Gina karena ucapannya ke A-isyah atau aku datang ke tempat kalian dan aku buat malu, lakukan sesukamu, bersyukurlah kalau A-isyah masih melindungimu dari aku!


Baskara menahan geramnya di dalam hati, gemuruh di dadanya tak tertahankan, karena masalah itu, terciptalah jarak diantara dia dan Aisyah sekali lagi, padahal semalam dia ingat bagaimana wajah rembulan itu dia lihat tepat di belakangnya.


Dia menjadi imam untuk Aisyah di malam itu, setiap doanya diaminkan Aisyah, kurangnya dilengkapi dan mereka membaca ayat-ayat indah itu bersama sampai pagi.


Tapi, setelahnya rusak sudah, suara tingginya menyerang Aisyah kembali.


***


Makanan? Apa A-isyah yang memasak tengah malam?


Pukul dua belas malam dia sampai di apartemen ini, kedatangannya masih disambut Aisyah meskipun mata indah itu tak berani menatapnya seolah menyimpan rasa bersalah.


"A-isyah," panggilnya.


Aisyah baru saja endak bersiap pergi tidur, dia kembali berjalan ke dapur, sudah menjadi kebiasaannya setelah menikah dengan Baskara, dia akan menjauh dulu sampai suasana nyaman dan enak bagi mereka.


"Sudah mengantuk?" dia mencari bahan untuk bersama Aisyah.


"Belum terlalu, Kak."


Baskara berikan jasnya, "Siapkan baju gantiku, tunggu aku mandi dan temani aku makan!" pintanya.


Terkejut, tapi Aisyah simpan di hatinya, dia mengangguk dan penuhi semua yang Baskara minta, sambil menahan kantuknya dan kerap memercikkan air ke wajah, lebih tepatnya mata, menjadi bagian dari upaya Aisyah menemani suaminya malam ini.


Tuhan tidak akan marah kalau aku terlewat satu malam ini, tapi DIA akan marah kalau aku melewatkan suamiku, ayo kuat mataku!


Suara langkah Baskara membuatnya duduk tegak, dia sudah bersiap di meja makan, Baskara duduk tepat di sampingnya, berbeda dari malam-malam lalu, biasanya mereka berhadapan.


Dia layani, mengambilkan nasi dan lauk, air minum juga dia tuangkan saat Baskara perlu.


"A-isyah."


"Iya," sahutnya sambil membereskan piring kotor.


Baskara berdiri mendekat, dia berada tepat di belakang Aisyah, menunduk karena Aisyah lebih pendek darinya.


Cup,


Kakak!


Aisyah tersentak, dia berbalik mendapati wajah Baskara yang sama terkejutnya, tapi tampak Baskara masih ingin mengatakan sesuatu di sini padanya.

__ADS_1


"Kakak," sebutnya lirih.


Baskara mengangguk, "Maaf yang tadi pagi," akunya, dia usap lembut bekas kecupannya di puncak kepala Aisyah. "Maaf juga yang ini, aku tidak tahu caranya, bagaimana aku meminta maaf atas suara tinggiku tadi pagi ... Emosi biasanya memuncak di ubun-ubun, jadi aku-" malu. "-aku cium saja ubun-ubunmu!"


Puuuurrfffffttt!


Aisyah yakin semut dan nyamuk di unit ini tertawa melihat wajah dan mendengar apa yang Baskara katakan, klarifikasinya sangat menggemaskan. Bisa-bisa malam ini ada sekelompok semut yang gagal membangun sarang mereka di bawah tanah, sedang tanahnya bergetar tertawa.


"Kamu marah?" tanyanya mengusap lagi kepala Aisyah, lebih tepatnya ubun-ubun tadi.


Aisyah bergeleng, wajahnya memerah malu, tapi dia beranikan membalas pandangan Baskara.


"Katakan saja kalau marah!"


"Tidak, sama sekali tidak marah, Kak."


"Kalau begitu, kenapa wajahmu merah, hah?" masih saling pandang.


Aisyah raba pipinya, "Ini karena aku malu, aku malu setiap kali melihat-"


Cit, cit!


"TIKUSSS!"


"TIKUS, KAAAAAAAAKKKK!" Aisyah berteriak dan menjerit histeris, sampai-sampai dia melompat dan bergelantung pada Baskara seperti bayi. "TIKUS, TIKUSSS!"


"Biar!" sahut Baskara santai, dia tahan bobot ringan Aisyah. "Aku lempar ya?"


"Jangaaaaaaannn!"


"Ahahahahahahahh, satu, dua, ti-"


"KAKAAAAKK!"


Entah bisa dikatakan pelukan mereka yang pertama kali atau tidak, yang jelas kedua tangan Aisyah melingkar di atas bahu Baskara dan wajahnya bersembunyi di perpotongan leher, begitu dekat sampai dirasa pipi mereka bertemu.


"Turun, A-isyah, berat!" titahnya bersuara pelan.


"Kamar, antar ke kamar ya, antar ke sana ya, yang tidak ada tikusnya!" memohon, masih tidak sadar ada di gendongan siapa. "Jangan di sini, Kak, boleh ya?"


As you wish, A-isyah.


***

__ADS_1


Tahan, belum apa2 kok. eheheh.


__ADS_2