
Cara membuat istri jatuh cinta pada suaminya!
Kata kunci yang harus mereka selesaikan dan kupas tuntas hari ini, berulang kali merobek kertas dan hampir saja membuat keyboard laptop rusak.
"Makanya kita bawa ke sini karena kami menyerah, kau kan lebih berpengalaman!" Pian sodorkan pada tetua urusan hati itu.
"Apa yang berpengalaman, hah?" satu kaki menendang, ia saja hampir mati terjepit pintu lift kantor ini gara-gara tahu Baskara menyatakan cinta pada Aisyah, satu kantor terguncang, IGD rumah sakit diperkirakan penuh. "Memangnya dia mau yang bagaimana?"
Yoga duduk di atas meja kerjanya, bergaya seperti dewa cinta yang siap menabur benih cinta abadi.
"Dia tidak sedang banyak minum atau memakai barang terlarang'kan sampai menyatakan cinta segala ke istrinya, hah?" mau percaya, susah minta ampun. "Apa itu benar?"
Tiga pemuda di depannya mengangguk yakin, Baskara sendiri yang mengatakan dan sepanjang meeting tadi banyak senyum bertebaran, tidak ada emosi di sana, satu kali pun tidak ada.
"Orang-orang mengira ini meeting sebelum kiam-"
Plak!
Pian pukul kepala Nando, bisa-bisanya membahas hal seperti itu disaat mereka masih sadar melakukan kesalahan dan belum berhenti untuk mengaku salah.
Awalnya hanya tiga pemuda yang bingung, kini jadi empat, Yoga yang katanya dewa cinta tidak bisa memutuskan tindakan apa yang akan dia sarankan pada Baskara.
Mereka urut dari sisi karakter Aisyah, lalu berlari ke sisi karakter Baskara.
"Aisyah itu pemalu, gadis pemalu itu suka kejutan, dikejutkan dengan teh rasa garam saja kalau yang membuat Baskara, akan dia terima demi ridho-Nya!" tangan Yoga terangkat tinggi, seindah itu Aisyah. "Baskara, kita ke sini ... cenderung datar tanpa ekspresi, mimik wajahnya hanya dua, tenang dan garang, dia suka membuat kejutan, tapi mana ada gadis yang mau dikejutkan dengan suara tembakan, dia bodoh apa, hah?"
"Ahahahahahahahh, ahahahahahahha." Pian, Nando dan Wira tertawa bersama.
"Sudah, kalau begitu suruh dia berikan kejutan khasnya saja!" putus Yoga.
"Khas yang bagaimana?"
Yoga minta ketiga pasang telinga itu mendekat, dia bisikkan apa yang dia yakini benar di benaknya, pemikiran ahli cinta tak akan pernah salah.
Mereka peragakan terlebih dahulu, tiga pria menirukan Baskara dan Yoga yang berlaga sebagai Aisyah.
"Yakin mau memberitahu Baskara sekarang?" Wira meragu.
"Sudah, katakan saja!" husss, huss, huss .... Yoga usir tiga pemuda itu dari ruangannya.
__ADS_1
***
Sebelum pulang, Baskara sempatkan menemui Yoga, pria yang sebaya dengannya, tapi sebenarnya dia itu paman bagi Baskara, hanya saja panggilan paman tak cocok untuk gayanya yang begitu dan usianya masih muda.
"Paman," sapanya.
Gubrak!
"Siapa yang kau panggil paman, heh?" tidak terima. "Eh, Bas, duduk!" meralat cepat, takut kalau Baskara marah.
Yoga ajak duduk pimpinan sekaligus keponakannya itu, katakan dia benci dipanggil paman, dia belum se-tua itu meskipun dia lahir dari nenek termudanya Baskara.
"Ah, masalah itu ya ... Ahahahahha, kau tidak perlu mengikutinya, itu kan cuman saran, Bas. Sesuaikan saja dengan karaktermu, Pian dan yang lain belum menemukan yang pas, jadi aku sarankan begitu dan-"
"Aku setuju dan akan mencobanya, tapi aku tidak tahu apa Aisyah akan menyukainya, Paman."
"Ya ampun, jangan memanggil paman lagi, kan aku masih muda!" protes lagi. "Dia pasti suka, lakukan dengan benar, saat dia menghadap ke cermin, mulai peluk dia dari belakang, sampai dia nyaman, baru letakkan dagumu di perpotongan leher dan bahunya, lalu perlahan turunkan bibirmu dan cium berbekas di sana!" memberi contoh sampai manyun-manyun.
"Kalau dia mandi atau apa, dia jadi ingat itu bekas darimu, hanya darimu, Bas. Ke mana-mana dia akan ingat dirimu!" Yoga lebarkan kedua tangannya penuh kekuatan seolah yang dia katakan selalu berhasil.
Dengan wajah senang dan polosnya dalam urusan hati, Baskara kemudikan mobilnya pulang, di rumah nanti hanya ada dia dan Aisyah, kedua orang tua dan adik-adiknya sudah kembali ke rumah utama. Dia jadi tidak sabar endak meluruskan niatnya ini, memeluk Aisyah yang kini ada di dalam genggamannya.
***
Dari siapa? Apa teman kakak ada yang tinggal sejauh ini?
Brum ...
Aisyah menoleh, dia ikat hijab instannya, berlari ke luar sambil menjinjing sedikit rok panjangnya itu, dia pasti mendapatkan omelan kalau terjatuh.
Keduanya melempar senyuman dan salam, hari ini Aisyah merasa benar-benar menjadi istri dari seorang Baskara, mulai menemani sarapan sampai menyambut pulang bekerja.
"Paket? Dari siapa?" kening Baskara terlipat dalam.
"Ais tidak tahu, namanya disamarkan, no name, begitu. Teman baik Kakak mungkin dari luar negeri, coba dibuka saja!"
Nanti, karena Baskara ingin memanfaatkan moment yang ada. Aisyah saat ini tengah berdiri di depan cermin, menggulung rambutnya yang sedari tadi dia burai, kebetulan hanya ada bik Nur.
Begitu berdiri di depan cermin, dekati dan peluk dia pelan dari belakang, buat dia nyaman dengan pelukanmu, setelah itu letakkan dagu dan turunkan bibirmu, cium dan sisakan bekas di sana!
__ADS_1
"Kak-" Aisyah tersentak kaget begitu tangan Baskara memeluknya, lidahnya keluh tak bisa berkata apapun.
Baskara sihir Aisyah lewat pandangannya di cermin itu, sampai dia rasa Aisyah nyaman, baru dia sandarkan dagunya, perlahan dia turunkan bibirnya.
Lalu,
Bagaimana mencium yang membekas? Sudah aku cium dan tidak berbekas, bagaimana?
Dia cium lagi, Aisyah berulang kali terkejut, tapi dia sendiri tak kuasa menolak, dia tahu itu hak suaminya, lagipula ini bukti kemajuan dari hubungannya bersama Baskara.
Tapi, kenapa jadi aneh? Aisyah berputar dan menakup wajah itu.
"Kakak kenapa?" melihat wajah Baskara frustrasi, dia jadi merasa tidak enak. "Ais bau ya?"
"Tidak, bukan itu."
"Terus, apa?" dia periksa ulang, masih wangi, bahkan dia oleskan minyak di sana untuk suaminya kalau mendekat agar nyaman. "Kak, Kakak!" dia goyangkan wajah suaminya, linglung mendadak. "Kakaaak!"
"A-isyah," sebutnya.
"Iya?" Kakak kenapa sih.
"A-isyah, aku tidak bisa melakukannya!" dia cengkram kedua sisi rambutnya, menarik sedikit.
"Melakukan apa?"
"Aku tidak bisa melakukannya, A-isyah, bagaimana?" semakin frustrasi.
"Apa? Ais tidak tahu yang Kakak maksud itu apa, bilang dulu!" Aisyah ikuti ke manapun suaminya pergi, duduk dan berdiri, berpindah ke sana-sini dia ikuti sampai lelah sendiri.
Aku tidak bisa membuat bekas merah itu, bagaimana? Kenapa Pian dan yang lain bisa, mereka kan belum menikah, kenapa bisa dan aku tidak bisa?
"Kakak!" Aisyah paksa melihatnya lagi. "Ada apa?" dia mau menangis karena takut.
"A-isyah, aku belum bisa!" merengkuh Aisyah, masih sama, mengatakan hal itu terus tanpa menjelaskan.
Apa, kenapa, apa yang tidak bisa, Kak?!
Hiks,
__ADS_1