
Dokter, tolong aku!
Siapapun yang datang mendampingi dokter ke rumah ini, pastilah dijamin ketakutan. Biasanya dokter akan bertindak sendiri, suster tak akan ada yang boleh bertindak, hanya melakukan apa yang dokter perintahkan, itu pun tak melewati batas izinnya.
Kali ini, melihat Aisyah yang akan diperiksa, jangankan dokter mau mendekat, melihat kaki Aisyah saja dada Baskara sudah naik-turun dibuatnya, mau dia hajar saja di luar kamar.
"Bas, ini cuman pemeriksaan, aku memeriksa Aisyah saja, masa iya disuruh tutup mata, memangnya aku ini punya indra kesebelasan apa?" dokter Andreas bernego, dia sudah menjadi langganan Baskara dan Saka sejak mereka bertugas. "Aku sudah menikah, Bas. Jadi-"
"Presiden yang sudah menikah dan memimpin negeri ini juga tidak akan aku bolehkan melihat kaki A-isyah!" potong Baskara.
"Huh, baiklah, biar suster saja yang mencatat semuanya, akan aku putuskan penanganannya besok!" putus Andreas menyerah.
Dia baca hasil gambaran suster yang ikut bersamanya, kalau saja bukan Baskara yang memanggilnya, malam ini dia sudah tidur nyaman di rumah bersama istri dan anak, berhubungan Baskara, kemudinya langsung berputar, jangan sampai ruangannya berubah menjadi kapal pecah kalau dia tak menurut.
Kening Andreas berkerut berulang kali, ada hal yang menurutnya harus ditanyakan lebih lanjut atau mungkin dilakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit, bekas luka dan seperti jahitan itu memang sudah lama, tidak bisa dia pastikan kenapa.
"Tanya ke A-isyah?" ulang Baskara.
"Iya, bertanya ke Aisyah, kenapa sampai dia punya bekas luka begitu, aku rasa sempat serius dulunya. Apa dia punya ketidakseimbangan saat berjalan?"
"Ketidakseimbangan?" tunggu, Baskara menarik memorinya. "Tidak, dia berjalan normal saja, dia hanya mudah terjatuh."
"Bisa jadi, ada efek dari salah satu lukanya di masa lalu yang membuat dia mudah jatuh, entah yang mana, kau bisa membawanya ke lab atau rumah sakit kami, eheheheh, tapi tanyakan dulu ke Aisyah sebabnya, oke Bas!"
Lembar rujukan Andreas berikan pada Baskara, dia lipat dan selipkan di buku agenda kerja yang selalu dia bawa setiap pagi.
Baskara kembali masuk ke kamar Aisyah, gadis itu tampak sedikit takut, duduk di tepi ranjang dengan kedua tangannya yang saling memilin.
"A-isyah, bisa kita bicara sesuatu hal yang berhubungan dengan masa lalumu? Maksudku di masa kecil," tanyanya sopan.
Aisyah angkat wajahnya, "Apa dokter bilang aku sakit serius?"
"Tidak, dia bilang memar itu hanya sementara, besok bisa diperiksa ke rumah sakit untuk foto rontgen dan lainnya. Tapi, jawab aku dulu, kenapa bis ada bekas luka seperti ini dan sejak kapan?"
Wajah tegas dan hangat akan perhatian itu membuat Aisyah malu, dia sampai tidak kuat memandang wajah Baskara, seperti ada cahaya yang begitu membuatnya silau.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau cerita, tidak masalah, aku-"
"Dulu, pernah ikut ayah kerja di ladang orang," ujar Aisyah mulai menjelaskan. "Tanahnya berlumpur dan aku tidak sengaja terperosok, Kak. Salah satu kakiku masuk ke lubang lumpur itu, tidak tahu kalau di tempat begitu akan ada ular dan semacamnya, kakiku terluka, kami hanya berobat seadanya, jadi begini, di sana tidak ada rumah sakit besar, ngeri ya melihatnya?"
"Waktu kecil begini?"
"Hem." Aisyah mengangguk. "Aku sering merasakan sakit di tulang ini dulu, tapi karena keseringan merasa sakit, saat rasa itu hilang, seperti terus merasakan saja, dan aku jatuh-jatuh, Kakak marah kan saat aku jatuh, eheheheh."
Baskara tersenyum, dia yang selalu marah dan terkadang mengatakan Aisyah buta karena terlalu seringnya jatuh. Selepas itu, Baskara pamit kembali ke kamarnya, menunggu sampai kamar Aisyah padam, baru dia beranjak tidur.
Dia raba dadanya, ada senyum yang membekas karena Aisyah, samar-samar Baskara ingat wajah Aisyah di hotel itu, Aisyah benar-benar menangis melihat kondisinya yang aneh.
Malam ini dan esok, anggap saja balasan untuk air matamu, A-isyah. Melihatmu begitu, justru tidak menurunkan perasaanku, dari dulu hingga sekarang, aku serakah pada satu hal, yaitu mencintaimu.
***
Pagi sekali Baskara sudah tidak ada di rumah, bahkan Aisyah tak menemukan bekas cangkir lemon hangat yang biasanya Baskara nikmati di teras belakang.
Bik Nur tidak tahu ke mana Baskara pergi, dia kembali bertanya pada penjaga di depan, mereka juga tidak tahu. Aisyah kembali ke kamarnya, endak menghubungi Baskara, entah kenapa semalam dia ingin sekali setiap hari dia tahu ke mana perginya Baskara, tidak melulu pulang dan dia lihat bajunya kusut, terkadang wajahnya yang terluka.
Aisyah cari ponselnya, satu pesan dia terima.
[Jam 10 tunggu aku di teras depan, kita ke rumah sakit.] Hubby.
Segera dia balas, menanyakan Baskara ada di mana, tapi sampai satu jam berlalu tak ada jawaban sama sekali, ingin dia hubungi sekali lagi, baru menggerakkan jemari, rasa takutnya bermunculan.
Pukul 10 pagi, Aisyah harus bersiap, dia tak memikirkan siapa yang akan ke rumah sakit dan apa yang terjadi di sana, yang terpenting dia datang menemui suaminya.
Aku tidak suka dandanan para gadis!
Aisyah lantas membiarkan wajahnya se-natural itu, mengambil baju yang memang khasnya, bukan pilihan mama Fya atau mertuanya, gaya Aisyah yang suka warna gelap dan modelnya sederhana, membuat orang tidak tahu Aisyah gemuk atau tidak.
Aisyah sejenak berputar di depan cermin besarnya, kemudian dia tertawa kecil dan malu sampai menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, duduk sampai tawanya reda.
"Sesenang itu aku mendapatkan pesan dari kakak, hem?" dia tertawa lagi. "Mata kakak itu, aku suka mata kakak, tulus sekali!"
__ADS_1
Suara klakson mobil mengejutkannya, Aisyah melangkah turun, penampilannya tak pernah berubah, kecuali kalau dia di dalam kamar seorang diri, tapi yang membuatnya berbeda adalah senyuman yang lebih lebar dari biasanya.
Aisyah berikan itu malu-malu pada Baskara, tepat Baskara menurunkan kaca jendelanya, dan meminta dia masuk.
"Kakak," panggilnya.
"Hem?" sahut Baskara, dia putar kemudi setelah memasang kembali kacamata coklatnya.
"Boleh aku tahu, tadi pagi Kakak ke mana?"
"Kerja." menjawab singkat.
"Kerja di kantor?"
"Ya."
"Apa kantor sudah buka sebelum jam enam pagi?"
"Hem."
Aaahh, menjawab singkat saja penuh pesona!
"Kakak," panggilnya lagi.
"Apa?" menaikkan kacamatanya, melirik Aisyah sekejap.
Ya Rabb, aku mau pingsan!
"Terima kasih sudah perhatian ke Ais," ujarnya cepat, memalingkan wajah yang merona.
Ekhem,
Baskara tegapkan punggungnya, memperbaiki posisi duduk dan fokus mengemudinya, goyah dia mendengar ucapan terima kasih dari Aisyah.
Dia tersenyum tipis, melipat bibirnya menahan senyumnya yang bisa saja melebar. Baskara menoleh sedikit, di sebelahnya juga Aisyah sedang berusaha menutupi rasa malunya, berulang kali mengibas wajah yang dipastikan merona.
__ADS_1