Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Kumpul Keluarga


__ADS_3

Nakula cukup tahu diri siapa dia dan jadi apa dia sekarang, itu kelemahan para suami yang menikah tanpa ada pacaran, bisa dia anggap begitu, membara begitu melihat istrinya.


Apalagi model istri yang oh no seperti Shafiyah.


"Ayank, kamu yakin mau cuti cuman dua hari saja?" mereka sedang dalam perjalanan pulang, pasti ayahnya sudah menunggu, beberapa kali ada panggilan dari ayah di ponsel keduanya.


Nakula mengangguk, dia mengemudi sendiri, supir hanya mengantar mobil itu kemudian kembali, tahu nona mudanya mau berduaan bersama sang suami saja.


"Tidak kurang apa cuman dua hari di rumah sama aku?"


"Tiap hari kan kita ketemu, Shaf."


"Tapi, kan butuh honeymoon!"


"Ya, nanti kita atur buat honeymoon ya, mau ke mana?"


"Yeah, kamu paling bisa buat aku sebel dan tersanjung, kamu sibuk ya? Nanti, aku pikir dulu, tapi itu berlaku kalau aku belum hamil, Ayank!?"


"Kamu mau hamil cepat?" Nakula usak rambut coklat itu, lebih seperti adik semi istri mereka, istri kecilnya memang menakjubkan. "Hei, sudah siap hamil?"


"Iya, aku mau kasih ayah cucu segera, sebelum kak Saka dan kak Bas nambah anak lagi, harus ada anak aku!"


"Ahahahahah, duh, jadi semangat ini kerjanya, pulang ada kamu yang siap diajak main, ahahaahahahah!"


"Ayaaaaank, kamu diam-diam menghanyutkan ya, awas selingkuh!"


Nakula menoleh singkat, kata itu adalah hal yang sangat dia tentang, dia tak mau ada selingkuh meskipun hanya sekadar kata-kata saja, terbesit pun tidak, dia mau seutuhnya bersama Shafiyah.


Namun, wanita akan selalu posesif seperti itu dalam hal hubungan, mereka cenderung sensitif pada pasangan yang sibuk bekerja, takut kalau suaminya lebih puas di luar rumah, lalu kalau pulang sudah enggan dengan istri mereka.


"Ayaank, aku tidak mau kehilangan kamu!"


"Siapa yang mau ninggalin kamu, hem? Ngasih kamu ke orang lain saja aku tidak mau!" mata Nakula menajam, dia bersungguh-sungguh di sini. "Doain aku ya, lancar kerjanya!"


"Hem, aku doakan setiap waktu, Ayaaank!"


Entah dari mana dia mendapatkan ide memanggil Nakula begitu, daripada kakak Ula yang membuat semua orang menertawakan Nakula dan menjadi pusat perhatian, dia lebih baik menggantinya dan muncullah ide itu.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Nakula mendapatkan sambutan yang agung dari kedua mertuanya, kedua orang tuanya juga ada di sana bersama Nabila, mereka merindu walau hanya sebentar berpisah.


Setelah ini, Nakula akan menetap di kota ini, sedangkan kedua orang tua dan adiknya harus ada di kota sebelah, mau tidak mau Nabila harus mandiri terpisah dari kakaknya.


"Hei, kan cuman sini sama sini, aku bisa ke sana setiap minggu sama Shafiyah, jangan sedih!"


"Mas gitu, namanya aku kan selalu sama kamu. Kalau Mas pulang kan aku selalu prioritas, sekarang mana bisa aku minta Mas jalan-jalan?"


"Makanya, rayu kakak iparmu jalan-jalan!"


"Ahahahah, kalau itu jangan dirayu, dia pasti mau. Kak Sofiiiiiii!" sudah tak ada sedihnya, berganti dengan semangat membara urusan jalan-jalan, terlebih lagi yang diajak jalan-jalan itu sangat ringan, mau ke mana saja langsung tancap gas. "Pokoknya kalau ke sana harus mau jalan-jalan!"


Shafiyah mengangguk, dia bahkan menjawab dengan ringannya, semudah itu memang kalau harus mengajak Shafiyah, tidak ada beban sama sekali.


Ruang tamu rumah utama sontak ramai, berkumpul menjadi satu anak dan kedua keluarga yang telah bersatu ini, perut membuncit Aisyah menjadi ladang doa, mereka berharap dari Nakula dan Shafiyah juga mendapatkan momongan cepat.


"Ayah, masih pusing kepalanya?"


"Tidak, begitu kamu datang sudah hilang semua, Ayah sampai terbawa mimpi. Kamu tidur nyaman kan di sana?"


What!


Mata ayah melebar sempurna, menoleh pada Nakula yang sedang tertawa bersama Baskara.


Slink, mau bangkit menyambar Nakula, tapi duduk lagi begitu ingat apa yang ibu katakan, menikah ya pasti tidak gadis lagi.


"Sofi nanti kasih cucu yang banyak buat Ayah, janji sehat ya, jangan sakit-sakit!"


Ayah mengangguk, tidak tega dengan tubuh kecil anaknya, sama seperti dulu waktu ibu endak hamil takut perutnya tidak muat, tapi sekarang sudah hasil dua anaknya.


"Jangan sakit ya, Ayah. Kalau Ayah sakit, nanti Sofi ke kamar Ayah, terus kak Ula sama siapa buat cucunya, hem, kan butuh Sofi di sini, Ayah!"


"Ahahahahah, jangan-jangan kamu ya yang godain Nakula, ngaku!"


"Sstttt, aku kan anak Ayah yang berkuasa, jadi aku tidak akan kalah!"


Astaga, ayah jadi membayangkan bagaimana semalam Nakula dikerjai anaknya ini, dia balas bisikan itu ke ibu, keduanya tertawa dan merasa bangga karena anak gadis mereka bisa mengalahkan lelaki.

__ADS_1


Nakula merapat pada istrinya, memang Shafiyah tak menceritakan sisi di mana dia kesakitan, tapi tetap saja dia malu di sini.


"Ayank, ayah itu kalau tidak diberitahu, dia pasti sakit, dikira aku tidak baik-baik saja, kalau begini, ayah jadi yakin aku baik-baik saja!"


"Shaf, kamu ini. Boleh tidak aku cubit?"


"Hmmm, nanti kalau sudah di kamar, Ayank. Aku kasih semua buat kamu cubit!"


Ekhem,


Saka berdeham di belakang keduanya, di sini dia yang belum menikah, berbeda dari Nabila yang sibuk bersama Aisyah dan Baskara, dia menjadi penonton di sini, mendengarkan dan melihat kemesraan adiknya.


Wajah Nakula memerah, malu ada Saka yang sontak menjadi tumpuhan istrinya.


"Katanya sudah enak sama Nakula, sekarang kenapa minta pangku Kakak?"


"Eh, Kakak tetap punyaku, mau sudah menikah atau belum, aku berhak sama Kakak selamanya begini, Ayankku tidak cemburu, sama kak Bas juga, mana dia?"


Saka tunjuk, Baskara tentu sibuk duduk di dekat istrinya, kepiawaian Aisyah menjawab semua yang Nabila tanyakan membuat gadis itu betah, dan suaminya yang cemburu, mau usap perut jadi tidak bisa.


Sebagai adik yang baik, Shafiyah temani kakak yang masih sendiri ini, dia peluk-peluk sampai sedihnya hilang, sebelum para pria masuk ke ruang kerja karena ayah ingin mengatakan sesuatu perihal pembagian tugas, bukan hanya Baskara dan Saka, melainkan ada Nakula yang akan kerja sama di sini.


"Sof, A-isyah mana?"


"Tidur di kamarnya, sudah Sofi anter tadi, ngantuk bawaan bayi, Kak!"


"Hmm, dia mudah mengantuk akhir-akhir ini, terima kasih ya, suamimu masih disidang ayah, ahahahahah!"


"Eh, disidang kenapa, Sofi mau tahu!"


"Urusan lelaki, jangan ikut campur!" Baskara dorong adiknya masuk ke kamar, dia kunci dari luar, lalu membawa kunci itu ke ruang kerja, menyerahkan pada Nakula.


Sidang mertua pada menantunya,


"Sudah siap menjadi suami dan ayah?"


Deg!

__ADS_1


__ADS_2