Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Hiburan


__ADS_3

"Terus, apa hubungannya sama kamu, kenapa ikut komentar?!" Pian berkacak pinggang.


Disaat semua orang sibuk meredam gosip miring akan keluarga Baskara, satu orang yang tidak tahu diri ini justru bertolak belakang, bukannya mau mendukung, Sena menolak melakukan peredaman kabar itu, dia memberikan persepsinya sendiri akan dampak yang Baskara lakukan selama ini dengan karma yang diterimanya.


"Masih hidup saja orang seperti dia, bagaimana bisa dia melakukan hal itu, dia sampai sukses seperti ini karena ramahnya hati keluarga kita, dia masih bekerja di sini, bahkan bisa mengambil dana bantuan usaha juga, apa otaknya miring?" Pian berapi-api.


Yoga naikkan satu kakinya, "Percuma berbicara dengan keong racun begitu, masuk telinga kiri keluar telinga kanan, jadi sia-sia, biar saja, dia tak tahu malu, memangnya apa yang dilakukan Bas selama ini, hah? Apa dia membunuh orang yang tidak bersalah, toh kalau dia baru menembak orang juga bertanggung jawab ke rumah sakit dan jaminan keluarga, yang dihukum juga yang bersalah, bekerja tidak jujur, kalau Bas mau ... sekarang Sena ditendang dari sini juga bisa, sayangnya dia menjaga dan melihat istrinya Reno!"


Panjang lebar sudah Yoga menjelaskan masalah ini, dia juga merasa kesal, hanya saja tak bisa memutuskan seenak kepala, harus ada yang membuat mereka berbeda dari orang-orang itu.


Masalah ini sampai ke telinga ayah dan Baskara, tak ada kata selain maaf yang bisa Baskara katakan pada sang ayah, mungkin karena ini usaha mereka jadi mendapatkan nama buruk, belum lagi susah redamnya.


"Heh, salahmu di mana?" tanya ayah.


"Ya, Ayah?"


"Salahmu di mana?" ulang ayah. "Kalau kamu merasa salah, jadi selama ini kamu kerja terpaksa, iya?"


"Tidak."


"Kalau begitu ya tidak perlu minta maaf, kamu dilahirkan untuk itu, kamu yang punya kelebihan di sana, selama ini ibarat kamu yang memberantas hama di bisnis, coba kalau tidak, kamu akan merusak titihan pondasi bisnis di keluarga ini, sebisa mungkin kita menjalankan bisnis tanpa kecurangan," jelas ayah.


Baskara mengangguk, usaha keluarga mereka berpegang teguh pada aturan lama dan tak pernah berubah, justru diperketat agar ke depannya tak ada penyimpangan bila sudah jatuh ke tangan anak turun.


Aisyah membawa dua lemon hangat untuk dua pria di ruang tengah itu, kebetulan dia ikut ke unit besar di mana ayah tinggal dan bisa bertemu ibu untuk melegakan hatinya.


"Silakan, Ayah."


"Hem, terima kasih. Oiya, Is ... jangan sampai Bas jadi lemah cuman karena cinta sama kamu!" ujar ayah.


"Ya, Ayah?"


"Dia lemah, pukul dia kalau dia lemah!"

__ADS_1


"Ayah, jangan begitu!" balas Aisyah bersuara lembut, dia lihat suaminya, Baskara tersenyum tipis di sana.


Kelemahan yang tak semestinya menurut ayah, sekalipun usaha itu nantinya ada kemunduran sedikit, tak ada masalah selama bagian dari keluarga itu tak ada yang terluka, tetap pada prinsip mereka, bisnis bisa terus diperbaiki dan dijalankan, berbeda dengan keruntuhan anggota keluarga.


Usai bertemu ayah dan ibu, Baskara temui Shafiyah, baru saja dia belajar online dengan wajah gemasnya itu, banyak teman yang menerima omelannya, katakan saja memang di pintar, mau tidak mau temannya harus mendengarkan, kalau tidak, jelas dia akan marah-marah.


"Kakak, dengarkan aku!" dia mau menjelaskan. "Mereka itu mengeluh ke pak dosen, padahal minggu ini tidak ada tugas, yang benar saja, aku marah!"


"Iya, tapi kan kasihan kalau mereka dimarahin."


"Kalau mereka mau pintar, ya harus banyak tugas, kalau tidak begitu, kita ini penyakit lupanya lebih besar dari ingat!"


Sudah, ibu saja memilih ke luar kamar kalau putrinya mengeraskan suara, sama seperti ayahnya, membuat orang pusing kalau sudah marah-marah.


"Kakaaaaaak!" tidak mau dirayu Baskara.


"Kan, gitu katanya sayang, giliran kakaknya di sini, dicuekin!"


Baskara lingkari bahu Shafiyah dengan tangan kirinya, membuat pipi mereka bertemu dan dengan begini Baskara merasa tenang, kalau dia merindukan rumah, tinggal memeluk adiknya saja, rumah itu adalah Shafiyah, hidup karena Shafiyah.


"Kak Ais tidak boleh cemburu ya kalau Kak Bas meluk aku, semua tidak boleh cemburu, khusus aku!"


Aisyah tertawa, dia ikut naik dan duduk di kasur Shafiyah.


"Aku cemburu, Sofi. Kamu dapat cintanya Kak Bas dari ujung kaki sampai rambut, dari kamu kecil, kalau aku, baru ini saja ... bagaimana kalau aku cemburu?"


"Eh, tidak boleh, karena aku adiknya, aku akan selamanya sama dia, mau sampe aku keriput, ya aku adiknya, kalau aku ada apa-apa, aku larinya ke Kakak ku ini, jadi tidak boleh cemburu, jangan ya, nanti ke mana aku kalau ada apa-apa, Kak Ais?!" dia cemberut, menyandarkan sepenuhnya pada Baskara yang masih bergelayut di belakang. "Kakak tidak boleh cemburu cuman sama aku, tidak boleh!"


Ya ampun, Aisyah tidak bisa menahan tawanya, belum lagi melihat Baskara yang ikut menirukan bibir Shafiyah yang manyun-manyun, menambah rasa lucu diantara mereka.


Aisyah biarkan suaminya melepas rindu pada Shafiyah, lagipula siapa yang tak rindu pada boneka hidup satu itu, dia pelipur lara di rumah ini.


"Ayah, aku mau mandi, Kak Bas memelukku lama, baunya menempel ke aku, nanti Ayah pasti protes, jadi aku mandi saja, ganti baju!"

__ADS_1


"Hem." ayah izinkan, dia bergeleng begitu anaknya masuk kamar mandi. "Jangan meluk lama-lama, Bas, mandi-mandi terus bisa masuk angin dia!"


"Ah, iya, Ayah. Maaf."


***


Berkemas, mereka akan segera kembali ke tanah air, bukan hanya berdua, tapi bersama satu keluarga.


Ada ayah, ibu, Saka dan Shafiyah, lalu ditambah mereka berdua. Hanya saja, Saka tak akan lama di tanah air, dia harus segera kembali ke sini lagi.


"Kak ... sudah lapar belum?" Aisyah ikat rambutnya.


"Lapar, A-isyah." lapar karena melihat leher Aisyah.


"Mau Ais buatin apa, ada makanan instan saja ini sebelum pulang?"


"Yang merah, A-isyah."


"Merah apa?"


Eh, Baskara tersadar, dia lantas berdiri dan ikut ke dapur.


"Duh!" Aisyah gosok lehernya. "Kakak!"


"Ini yang merah, eheheeheheh."


"Ahahahaahahah, bisa-bisanya ya, Kakak ini!" mau marah, tapi enak-enak geli kan ya begitu, malah minta lagi. "Yang kiri belum, kasih!"


Baskara lebarkan matanya, siapa yang menolak kalau begini, tadi dia dihibur Shafiyah, sekarang istrinya ikut genit juga, hilang sudah pusing masalah pekerjaan.


"Yang depan, apa tidak, A-isyah?"


Hem?

__ADS_1


__ADS_2