Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Isi Apa?


__ADS_3

Ais Hamil? Tunggu, BuCil hitung dulu berapa kali Bas minta jatah ya, tahan!


***


"Sejak kapan Kakak sulit tidur malam?" Aisyah beringsut duduk.


Mata tajam itu terbuka kembali, usai mendapatkan apa yang dia mau, matanya terasa lengket, air dingin pun tak membuatnya betah menahan kantuk.


"Kenapa, A-isyah?" tidak mendengar dengan jelas.


"Ais tanya, sejak kapan Kakak sulit tidur malam?"


"Sejak ada kamu, tidur satu kasur sama kamu."


"Kok bisa begitu?"


Mau tertawa, takut berdosa pada istri, tapi ya memang itu kenyataannya lagi.


"Dulu tidak ada yang bergerak di sampingku, kalaupun aku tidur dengan Sofi, yang ada badanku sakit semua dilindas olehnya, kalau bersamamu,-" diam menahan malu. "-kalau bersamamu, A-isyah, tidak bisa aku diam melihatmu bergerak di balik selimut, ingin ikut bergerak juga." ahahahahah, tawanya meledak.


Aisyah tarik selimut yang hampir ditendang lagi itu, sesuai janji waktu itu kalau tidak ada yang double bak mie instan di malam hari, Aisyah mau suaminya cukup tenaga untuk bekerja di kemudian hari.


Lelah? Aisyah yang merasakan itu, sedangkan bila dia tanya pada suaminya, jawabannya berbeda, Baskara tak merasakan lelah selepas mereka menyatu, hanya mengantuk.


Klotak, klotak ....


Bik Nur tajamkan mata dan telinganya, ini sudah berganti hari, mendadak ada suara di dapur, sedangkan jalanan ke sana masih gelap.


"Non," panggilnya.


"Non Ais," lagi, tak ada jawaban, dia merinding.


"Non, Non lagi apa?" eh, iya kalau nona, kalau simbah, mati aku.


"Noonnn," sekali lagi sampai di depan dapur.


Benar, itu nonanya.


Bik Nur perhatikan apa yang Aisyah buat di dapur sepi seorang diri ini, belum lagi masih memakai mukenah putihnya, lengkap menjadi ajang penampakan.


"Non, buat apa itu?"


"Eheheheh, Bibik sudah bangun, maaf ya ganggu ... Ais lapar, keinget ada bahan salad, cuman malas kupas buah, jadinya cuman ini saja," jawabnya sambil menunjukkan.

__ADS_1


Saos salad buah dari mayonise dan kental manis, lalu isiannya hanya potongan agar-agar dan nata decoco, menu sederhana dan cepat ala Aisyah.


Satu suapan Aisyah berikan pada bik Nur, wanita itu mau bersorak sekaligus memuji Aisyah, dia kita tak akan seenak ini, ternyata enak sekali saos salad dicampur yang kenyal-kenyal.


"Ini satu mangkok buat bibik, aku ke atas dulu ya, tidak boleh lama-lama sama tuannya Bibik!"


"Duh, Non ini!" gemas dia.


Aisyah melangkah cepat ke atas, dia jinjing bawahannya, tuan muda Baskara itu sudah menunggu sambil menahan kantuk, terpaksa menahan kantuk demi menunggu istrinya membuat camilan, dia sendiri tak berselera sebenarnya, mau tidur selepas melepas peluru pada Aisyah tadi.


Jeglek,


"A-isyah, kok lama. Kamu sama siapa di bawah?" membuka cctv di ponselnya.


Aisyah mendekat, "Masa iya Kakak lupa sana maid sendiri, kan itu bibik!"


Hup, Aisyah suapkan salad sederhana itu.


"Bibik?" ulang Baskara sambil kunyah-kunyah.


"Iya, Kak. Jangan bikin takut hayo!"


"Lah, aku kan ya tidak bisa melihat jelas di sini, makanya aku tanya, lagi!" meminta disuapi lagi, dia ketagihan. "Buah di kulkas habis?"


Baskara cubit pinggang ramping itu, dia minta dan minta lagi, rasanya begitu enak di lidah, memintanya lagi dan lagi tanpa henti sampai yang tersisa di dekat bibir Aisyah pun dia habiskan, membuat yang dicium harus memberikan sajian ekstra.


***


Kabar mengejutkan sebelum Baskara pergi dinas bersama Aisyah kali ini datang dari Reno, perpisahan yang membuat mereka semua hampir pecah kepala dan sibuk itu dinyatakan gagal.


Bukan gagal menikah, melainkan gagal berpisah!


"Gina hamil lagi?" tanya Baskara, dia menjauhi Aisyah ketika menjawab panggilan ini. "Yang benar?"


"Ahahahah, belum, Bas. Kan, baru kemarin prosesnya, masa iya langsung hamil!"


"Ya, kalau begitu pastikan mereka tetap pada satu pilihan, jangan sampai setelah ini masih saja rumit, minta pisah dan kembali sesuka hati, ini bukan negara kakeknya!" kesal dia dengan Sena dan Gina.


Mereka sok jual mahal dan berkata tegas tak cinta, tapi begitu dekat ranjang, cinta bisa sampai ribuan kali lipat.


Berbicara soal kehamilan, Baskara lirik perut Aisyah, tubuh itu entah kuat atau tidak kalau mengandung anaknya, ada seberkas trauma pada dirinya yang dirasa butuh dukungan bila kambuh.


Kehilangan ibu kandung, memang itu takdir, tapi itu juga akan berat untuknya. Kalau ayahnya bisa menikah lagi dengan ibu Jingga, dia belum tentu, dia bisa kuat dulu, tapi anaknya nanti bila tanpa Aisyah, akan jadi apa.

__ADS_1


Tatapan sendunya ditangkap Aisyah, gadis itu mendekat, dia kejutkan suaminya yang tengah melamun.


"Hayo, kenapa?!" Aisyah bergelayutan, mereka akan berangkat sebentar lagi, masih menunggu jemputan. "Kakak mikirin aku atau siapa?"


"Memangnya ada yang berhak aku pikirkan selain kamu?" satu sentilan di hidung.


Aisyah tergelak, "Kalau ada, aku yang akan usir dia, hush-hush!"


"Tidak ada, A-isyah!" Baskara pandangi wajah lembut itu, bagaimana bisa dia menggantinya bila nasib buruk itu menimpa anaknya juga nanti, tidak ada yang mampu dan layak bersamanya kecuali Aisyah. "Tidak ada yang menggeser posisimu, tahu itu!"


Aisyah mengangguk, dia beringsut lepas untuk mengatur tatanan di bagasi mobil sang suami, sesekali dia berbalik untuk memastikan Baskara tak melamun, dia berani mengancam sekarang ini.


Mama, lihatlah ... aku belum sekuat itu, membayangkan masa kelahiran nantinya pada A-isyah membuatku takut, aku takut aku dan anakku nanti kehilangan dia, sedang aku tak menemukan gadis sebaik dan layak seperti dia.


Baskara pandang langit sekilas, mama adalah sebutan untuk ibu kandungnya, membedakan antara ibu kandung dan sambung.


"Kita ke rumah ibu dulu?"


"Hem."


"Dan, aku tidak lupa membawa paketan bunga juga dua botol air untuk ke makam," ungkap Aisyah.


Baskara usak kepala Aisyah, dia tarik sedikit agar bisa mengecupnya, yang di depan jadi supir hanya bisa menelan saliva saja, mengutuk diri sendiri yang melihat spion tengah, seharusnya dia fokus pada spion di kanan dan kirinya saja.


"Kenapa, A-isyah?"


"Ais mau makan kuenya, boleh tidak?" dia pegang perutnya.


Baskara ambilkan, kebetulan di sampingnya, tas Aisyah khusus makanan berada.


"Mau yang mana?" tanyanya. "Tadikan sudah makan, kenapa lapar lagi?"


"Tidak tahu, Ais suka makan saja, malah nyamil terus kalau tidak tidur." Aisyah cemberut takut gemuk. "Apa karena Ais-"


Deg,


Baskara rasa ada yang endak menikam jantungnya, dia ikut takut tidak jelas.


"Apa?"


"Karena Ais dilarang Kakak puasa kayak dulu sebelum menikah ya, jadi tidak aturan cacing di perutnya?!"


Mamang ikut menjawab, "Lagi isi apa, Non?"

__ADS_1


"Isi apa?" keduanya membalas kompak.


__ADS_2