
Oseng-oseng di malam hari, aromanya sampai ke pemilik hidung mancung dan rahang tegas itu, perlahan Baskara menggeliat, menepuk sisi sampingnya.
Kosong!
"Nda," panggilnya, berharap malam ini mereka bisa tidur nyenyak. "Nda ...."
Tidak ada, kosong di sampingnya, tak ada bau manusia. Baskara lantas merangkak turun, dia pakai sandal bulu tipis rumahannya itu, pilihan Aisyah. Dia ikuti aroma sedap yang sedari tadi menarik perhatiannya, indra penciuman yang tak pernah bohong.
Oseng, sreng!
Astaga, Baskara berlari ke dapur, siapa lagi yang ada di sana kalau bukan ibu hamil muda satu itu.
Baiklah kalau kebiasaan Aisyah beribadah malam dia akui itu dan sudah hafal, tapi yang masak malam ini yang belum dia catat, seperti baru-baru ini saja Aisyah masak di malam hari, mana masih memakai atasan mukenah putih.
Tok, tok, tok ....
Baskara ketuk pintu dapur yang selalu terbuka itu, membuat yang di dalam sana menoleh dan tersenyum, ada yang menarik saat mereka mendekat, Baskara terus melihat bibir bekas bumbu merah itu.
"Mmmm, Yanda!" memukul dada suaminya. "Pedas ini!"
"Haaaaaashhhh, aku kira masakan apa, ini sambal apa, Nda?" lidahnya penuh dengan api, dia ambil air dingin dan meneguknya tanpa jeda. "Kamu buat apa?"
"Aku cuman buat sambal cumi, Yanda. Enak ini, dedeknya mau makan cumi oseng pedas malam-malam."
"Nanti, sakit perutnya, Nda!"
"Tapi, dedeknya mau, Yanda!" tidak mau kalah, ini anaknya Baskara juga, jadi dia tidak mau dilawan. "Aku mau makan sekarang, Yanda mau tidur atau mau temani aku?"
Tak ada pilihan yang tepat, tapi kalau Aisyah sendiri, tentu Baskara tak akan bisa tidur nyenyak, dia tunggu dan temani saja, ingin tahu seberapa suka istrinya dengan makanan pedas seperti itu, dia saja mau memanggil pemadam kebakaran.
Hmmm, kunyah dan kunyah, jari-jari tangan sampai merah semua.
Baskara hanya bisa menelan ludah, dia ambil sedikit saja sudah mau berteriak sampai satu komplek dengar.
"Enak sekali ya, Dek ... enak kan buatan Bunda ini, hem?" Aisyah bergumam sendiri, mengusap perutnya yang membuncit kecil.
"Sudah, jangan banyak-banyak, Nda!"
"Dedeknya yang mau banyak, bukan aku, Yanda. Sssttt, jangan berisik ya!"
Huh, Baskara usap dadanya, menghela sabar di sana, kalau bukan Aisyah, tentu sudah dia balik meja ini.
Melihat Aisyah lahap seperti itu dia jadi merasa aneh, dia yang tidak kuat pedas atau Aisyah sedang tidak sadar saja. Sebelum terlambat dan terlampau banyak, Baskara berikan minum, memaksa ibu hamil itu kembali ke kamar setelah mencuci tangan, tak peduli bibirnya maju berapa senti.
Brak!
Baskara sengaja membanting pintu kamarnya, hanya gertakan untuk sang istri, bukan marah yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Yanda mau apa? Mau protes ke aku sama anaknya, iya?"
"Kalau Yanda mau marah, Ais malas dengarnya, tidak mau dengar, Yanda sudah membuat aku gagal makan banyak!"
"Aku tidak mau berbicara dengan Yanda, aku marah, aku tidak mau diapa-apakan!"
Sudah, biarkan saja. Itu cara Baskara melawan istrinya bila mood hamilnya tak stabil, diam dan memilih masuk ke selimut, menggapai tubuh ibu hamil itu perlahan sambil mengusap perut yang tak bisa Aisyah bantah.
Ini anak Baskara juga, kalau dia melarang disentuh, nanti anaknya akan rindu, kalau rindu pastilah dia jadi tak bisa marah pada suaminya.
"Loh, Dek ... kok ininya sudah besar saja ya, padahal lahirnya masih lama, kok sudah siap kasih susu sih?" tangannya merayap ke dekat kancing, lewat dalam.
Aisyah tahan tangan itu, dia mode marah pada suaminya, tapi kalau disentuh begini ya bisa jadi dia terlena.
"Yanda jadi suka dan ingin mencoba loh!"
"Tidak boleh." Aisyah tahan kuat tangan itu.
Sekuat apapun, jelas dia kalah dengan tenaga Baskara hingga kancing itu terbuka dan Aisyah biarkan wajah Baskara tenggelam di sana, mempermainkan apa saja yang Baskara suka.
"Hei, dilarang begitu biar kamu sama dedek tidak sakit, kalau diare, mau sama dedek diinfus, hem?" Baskara tatap dalam mata jernih dan indah istrinya.
"Tidak mau."
"Kalau tidak mau, nurut, makan kamu banyak dan itu cabe semua, nanti sakit, Nda. Bukan kamu saja, tapi dedeknya juga, kasihan dia. Ngerti ya?"
"Iya, besok buat yang tidak terlalu pedas, bumbu pedasnya disingkirin dulu," ujar Baskara berusaha merayu terus.
Akhirnya, ibu hamil ini setuju.
"Yanda tidurnya hadap sini saja!"
"Iya, sini aku peluk, biar pedasnya hilang, sakit perutnya pindah ke aku saja. Emuah, sayang!" dia dekap erat sampai ubun-ubun itu bisa dia cium terus dan Aisyah terkekeh di pelukannya. "Dedeknya sehat-sehat ya, sakitnya pindah ke Yanda saja!"
Aisyah mengangguk, sebagai gantinya, dia usap-usap punggung Baskara.
"Terima masih, Yanda."
"Iya, sayang." huh, sabar.
***
Tap, tap, tap ...
"Kenapa Bik?"
"Itu, Tuan. Non Ais muntah di belakang!"
__ADS_1
Astaga, Baskara berlari sambil mengancingkan kemeja kerjanya, baru saja bertemu tadi usai mandi, masih biasa saja, sekarang sudah muntah-muntah.
Bukan di belakang saja, melainkan di kolam renang.
"Nda, sini!" Baskara gendong, Aisyah tampak lemas dan lemah. "Mang, kuras saja sudah kolamnya, panggil yang biasanya bersihkan!"
"Iya, Tuan."
Mudah baginya masalah bersih-bersih, yang mencemaskan ya yang digendongannya ini, masih lemas dan sulit membuka mata.
Kalau dia tegur, pasti dikira memarahi dan benci, maka Baskara putuskan diam sampai mereka di kamar dan dia ganti baju istrinya itu, dari atas sampai bawah dia lepas.
Aisyah hanya bisa bergumam lirih dan mengeluhkan sakitnya, setelah itu terlelap tanpa suara, tak melepaskan tangan Baskara yang ada dalam genggaman, dia mau ditemani.
"Dek, kamu jalan dulu, kak Ais sakit!"
"Ya, nanti aku kabari ayah, duluan saja!"
Baskara lempar ponselnya, Saka harus menangani tugas lapangan sendirian pagi ini sepertinya, mengingat Aisyah lemah dan tidak bisa Baskara tinggalkan.
Dia berbaring sambil setengah memeluk, kolam renang jadi kolam nasi, beruntung tak jatuh ke kolam tadi, bisa lebih panik dan akan Baskara tiadakam kolam renang kecil itu.
"Tuan, ini minuman hangatnya." Bik Nur berdiri di depan pintu kamar, takut masuk asal-asalan, khawatir matanya ternoda.
"Masuk saja, Bik!"
Duh, harus menguatkan mental, bagaimana yang di dalam kalau pelukan, tapi ini tugasnya juga.
"Permisi, Tuan. Ini diletakkan di mana?"
"Dekat sini saja, nakas sini belakang saya!"
Astaga, kan benar sedang berpelukan, mana kemeja Baskara belum tertutup penuh, wajah Aisyah bersembunyi di sana, pasti harum.
Hush,
Jiwa janda lagi-lagi memberontak.
Tenang, Nur... biasa kalau masih muda ya begitu, kalau sudah tua ya ditendang bau kecut!
***
Sekilas,
Bik Nur: Bucil, aku ya kasih jodoh!
Bucil: Hush, aku udah taken kontrak sama ayah Aksa, maidnya harus janda, udah bibik2! (Hitung uang sambil jilat2)
__ADS_1