Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Olahraga Tangan


__ADS_3

Menunggu lama, dia tidak pernah merasa menunggu lama, kecuali suaminya izin ke ruang kerja, sedangkan tadi Baskara hanya berkata ke dapur, itu artinya sekadar makan kue atau membuat minuman hangat.


Mmm ...


Aisyah menahan rasa mualnya, perlahan dia duduk dan menggapai wadah yang ada di nakas, menunduk dan memuntahkan isi perutnya.


Huek, huek, huek!


Mendengar itu, kesadaran Baskara kembali, dia lantas berlari ke kamar, persetan dengan keinginannya yang ingin dipuaskan, kondisi Aisyah lebih utama di sini.


Brak!


"A-isyah!" teriaknya. Buru-buru mengambil minyak, menyelipkan ke jarinya, lalu ikut menahan wadah muntahan. "Masih mau muntah lagi?"


Aisyah bergeleng lemah, dia sampai menangis mengeluarkan muntahannya, tidak sengaja menangis maksudnya.


Huek,


Sekali lagi sampai rasa pahit menjalar di tenggorokan dan mulut, barulah dia meminta air madu dan memeluk suaminya, mencari kekuatan di sana.


Beruntung, masih untung Baskara menahan diri tadi, kalau tidak, dia pasti sudah lemas karena sebuah pelepasan pribadi.


"Maaf, maaf, Nda." berganti panggilan khas barunya, nama Aisyah hanya akan ke luar dan dia panggil diwaktu tertentu, seperti tadi saat panik. "Sudah enak belum?"


"Apanya yang enak?"


Loh, mata Baskara membulat, kata enak itu merujuk pada kemesraan mereka biasanya, sudah enak atau belum, kalau belum, maka akan mencoba gaya yang lainnya.


Hush!


Baskara takup wajah Aisyah, dia kecupi sampai senyum itu dia dapatkan, lalu dia peluk lagi sebelum akhirnya mereka kembali berbaring dan membiarkan Aisyah memeluk tubuh besar itu.


Dingin berubah menjadi hangat, tapi yang keras tak bisa berubah menjadi lunak sebelum dilunakkan, Baskara mati-matian menahan diri lagi, berupaya agar dia terlelap dan adiknya juga berhenti membuat sesak.


"Kok Kakak demam?"


"Tidak, siapa yang demam? Aku tidak sakit, Nda."


"Tapi, ini demam, buktinya aku peluk semakin panas rasanya, tapi Kakak tidak berkeringat, demam kenapa?"


Baskara celingukan, dia memeriksa suhu tubuhnya sendiri, menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, duduk hingga membuat mata Aisyah menyusuri tubuh suaminya itu dan dia paham apa penyebabnya.


Sesuatu yang tengah sesak di dekat paha, Aisyah tersenyum, entah jiwa isengnya muncul ketika hamil atau memang dia aslinya iseng, tangannya merambat sampai menyentuh celana pendek suaminya.


"Nda!" pekik Baskara seraya menjauhkan kakinya. "Mau apa?"


Aisyah berkedip, senyumnya evil sekali.

__ADS_1


"Nda, hei-"


"Kenapa sama adiknya Kakak?" menggerakkan tangannya lagi, nakal Aisyah malam ini, iseng sekali menggoda suaminya. "Ininya kenapa?" berhasil dia senggol sedikit.


Baskara lantas menjauh, "Jangan macam-macam, A-isyah!" ini dia serius.


"Kenapa? Kakak mau nembak aku, kalau aku macam-macam, hem?"


Ya ampun, kenapa istrinya malam ini?


"A-isyah, stop, diam di sana, jangan banyak gerak, kamu lagi hamil!" seru Baskara, dia yang panik mau bergerak juga.


Hush!


Bisikan jahat terus saja membuat Baskara jatuh terjerembah, dia terus mengendalikan dirinya dengan baik, berusaha menggapai titik sadarnya.


Aisyah semakin iseng saja, dia memang masih duduk di tempat yang sama, tapi tangannya mengambil guling besar dan panjang, dia dorong hingga mengenai inti tubuh suaminya, membuat Baskara terpukul mundur dan ingin melompat.


Gatal semua, dari kepala sampai kaki, Baskara kelabakan, naik ranjang salah, tidak naik, nanti istrinya kira dia menjauhi ibu hamil, salah lagi menjadi suami.


"A-isyah, bagaimana kalau kamu tidur hadap sana dan aku hadap sini, punggung kita bertemu, hem?"


"Tidak, aku mau hadap ke Kakak, terus tanganku memeluk Kakak."


"Ahahahah, itu kurang bagus, A-isyah. Kamu kan bosan hadap ke sini, jadi hadap sana saja, ayo!"


Aisyah menolak, dia tetap mau menggoda pria keras kepala satu itu, mana tega sebagai istri yang tahu apa mau suaminya, lalu pura-pura tidak tahu, sekalipun bukan yang biasanya dan Aisyah sendiri tak berpengalaman, tapi dia pernah membawa buku yang mengatur semua itu.


"A-isyah, tolong, jangan mengusiknya!"


"Aku daritadi tidak mengusiknya, dia sudah mekar sendiri."


Apa? Mekar? Memangnya ini bunga, bukan senjata laras panjang lagi?


Tangan Aisyah endak merambat, seketika dihalangi, Baskara bergeleng, dia tidak mau membuat istrinya tersiksa malam ini, dia juga tidak mau karena dia, Aisyah akan lelah, baik dari segi manapun.


"A-isyah ... Nda, jangan!"


"Jangan!"


"Iya!"


"Jangan, Ndaaaa!"


"Iya!"


"Jangan, Nda!"

__ADS_1


....


"Teruskan, Nda!"


Cih, Aisyah jambak rambut suaminya, tidak konsisten sama sekali, pria itu terkekeh, mengambil konsentrasi lagi sambil membuka kancing di sampingnya.


First time, baiklah, tak masalah, Aisyah rasa ini memang dibutuhkan para pria, dia adalah istrinya, jadi tidak masalah selagi pria ini bersamanya.


"Celananya disiram dulu, Kak, baru direndam sabun!" seru Aisyah mengingatkan, dia jadikan satu tisu kotor yang berserakan di kasur itu.


"Airnya kurang kencang, nanti masih kotor, yang bersih, Kak!"


Seperti ini kalau tugas rumah dipegang laki-laki, menyapu saja sapunya seperti punya sayap, melayang dan mengambang tak menyentuh lantai.


Baskara kembali lagi ke kamar setelah merendam celana kotor bekas tumpahan lahar panas miliknya itu, mengambil yang baru untuk dia kenakan berbaring di samping Aisyah.


"Sudah bisa tidur?" tanya Aisyah yang tadinya sudah memejamkan mata.


Baskara meringis, dia cium bibir merah segar itu sambil mengerlingkan mata, istrinya sudah dewasa.


"Tapi, tidak sehari dua kali ya, kalau begitu. Beda sama yang asli!" Aisyah tarik selimutnya sampai menutup wajah.


Apa!


Mata tajam itu melebar, tak lama dia tertawa, tahu yang Aisyah maksud, kalau biasanya bisa meminta dua kali, yang seperti ini hanya sekali diwaktu ingin, susah sekali mencernanya.


Baskara mengangguk, dia usap perut Aisyah yang mulai terlelap, lelah juga olahraga tangan seperti ini, dia pun malu, tapi suaminya butuh, entahlah itu sudah selesai tadi.


"Terima kasih, sayang." kan, ganti lagi manggilnya.


"Hem, sudah ayo tidur!" Aisyah hentikan usapan itu, dia tidak bisa tidur kalau ada yang bergerak terus.


***


Pagi ini, ada wajah segar dan murah senyum.


Matanya melirik ke arah kamar mandi, ada sabun, ciuh, dia tak akan meniru teman-temannya, istrinya itu pengertian.


"Kenapa sih? Kakak lihatin apa?"


"Tidak, kamu kenapa tidak menunggu di kamar saja? Jangan banyak bergerak, Nda!"


"Cuman ke sini, rumah ini kan tidak sebesar rumah di sana, hanya beberapa langkah saja. Dedeknya kuat kok, tidak ada sakit sama sekali, ya sayang?" Aisyah ajak bicara meskipun masih sangat kecil.


Baskara mengerjap, dia lantas berjongkok, menggesekkan ujung hidungnya pada perut itu.


Tap, tap, tap ...

__ADS_1


Rima berpaling, dia tidak mau meleleh melihat kebahagiaan kedua calon orang tua itu, mana Baskara seperti anak kecil lagi.


pengen pites!


__ADS_2