
Sudah lewat tengah malam, ponsel di tangannya tidak bergetar sama sekali, bahkan dia dan Shafiyah sampai terlelap menunggu panggilan masuk atas nama Baskara itu.
"Kakak pasti sibuk sekali, apa dia belum pulang jam segini?" Aisyah ikat tinggi rambutnya, dia merangkak turun pelan agar tak membuat Shafiyah bangun. "Ssstttt, ssstttt ..." merangkak turun lagi.
"Hihihihi, Kakaaaak!" bergumam, tidur lagi memeluk guling yang Aisyah pasang.
Aisyah tertawa tanpa suara, adik iparnya itu memang lucu natural, kalau ada boneka yang dia katakan hidup, maka akan dia sebut Shafiyah, wajahnya menggemaskan dan ditambah lagi perawakannya yang kecil, hanya ada satu sisi ayah di wajahnya, pada alis saja, selebihnya milik ibu.
Kembali dia patuti layar pipih dengan wallpaper jari manis suaminya itu, ada cincin pernikahan yang sempat Baskara kenakan dan Aisyah mengambil gambarnya, susah payah dia meminta gambar itu dari suaminya.
Tidak ada foto, A-isyah. Aku tidak suka difoto!
"Ahahahahah, apa kang jepret di pernikahan itu masih aman dan panjang umur?" Aisyah tutup wajahnya, menyembunyikan tawa di sana.
Jangan mengambil gambarku, kalau mau tangan kalian selamat!
Astaga, baru satu malam saja dia sudah rindu dan tak bisa membuat pikirannya berhenti memikirkan semua tentang Baskara. Rasa-rasanya memang hati itu sudah dipenuhi cinta, bahkan raganya seakan bukan miliknya sendiri.
Sementara di kamar utama,
"Sena ke sini?" Ayah memiringkan tubuhnya, keningnya terlipat dalam. "Untuk apa? Fya bertemu dengan dia?"
"Iya, aku rasa karena sempat bertemu Sena tadi, jadi kakak tidak menginap di sini, padahal dia mau menginap awalnya, dia pasti takut kalau terlepas membahas Sena lagi, sayang."
"Bas tahu hal ini?"
"Tidak, apa dilarang?"
"Katakan saja, dia berhak tahu istrinya bertemu siapa saja. Lagipula, dia tidak akan bisa pulang seenaknya dari sana, itu daerah sepi dan masih banyak hal baru yang harus dia pelajari, setidaknya dia tahu soal Aisyah selama dia tidak ada," jelas ayah.
Ibu mengangguk, "Besok aku coba tanya Aisyah, biasanya kan dia bisa membalas pesan mal-"
"Tidak bisa, Jingga. Dimasa awal pekerjaan seperti ini, Bas malah keliling, dia tidak akan membalas kabar Aisyah, jadi suruh Aisyah sama sepertimu dulu, mengirim pesan laporan sebanyak-banyaknya, tidak perlu menunggu dibalas atau tidak!"
"Ah, iya. Baiklah, besok aku kasih tahu, lupa sudah lama tidak laporan ya ... masa muda sudah lewat, ahahahaahahah." menjulurkan lidah pada ayah. "Sayang, jangan bangunkan Sofi ya, dia sama Ais!"
Ayah tidak jadi menghubungi anaknya, menyimpan kembali ponselnya, dia sulit tidur kalau belum mendengarkan rengekan anak gadisnya itu, tidak tahunya menempel pada Aisyah.
__ADS_1
"Dia punya mainan baru sekarang, begitu, awas!" gerutu ayah cemburu.
***
Ditemukan dua orang yang tak menjalankan tugas dengan benar, Baskara bawa ke ruangannya, tugas awal sebelum proyek berjalan memang yang terberat, memastikan pekerja dan jajaran menjalankan tugas sesuai dengan amanah yang mereka emban pasti banyak menemukan celah tikus seperti ini, tanggung jawabnya tak main-main.
"Berapa yang kau ambil?" tanya Baskara.
"Pim-"
"Jawab saja, jangan kebanyakan minta maaf!" Baskara sangat geram kalau ada yang curang, mengingat perusahaan menjamin banyak akan hak pekerja di sini, bahkan kesehatan satu keluarga tanpa batas anak, belum lagi tunjangan lainnya, sudah seperti itu masih saja yang berbuat curang. "Katakan sebelum aku tidak bisa memberimu kesempatan di sini! Apa tidak memikirkan anakmu yang mau sekolah tahun ini sampai kau nekat, hah?"
"Maafkan aku, melihat semua barang itu aku tergoda, Pimpinan muda!" akunya sesal.
Yoga berikan datanya, kopi hitam dua cangkir sudah habis, tapi matanya masih saja mengantuk.
Baskara baca sekilas, lalu dia lempar ke mejanya sampai bolpoin berjajar di sana jatuh semua.
"Kalau ada satu orang lagi sepertimu, kau tahu berapa orang yang akan kau rugikan, bukan. Sekarang putuskan, kau mau bekerja amanah di sini atau mencari amanah di tempat lain, aku akan melepaskanmu dan memberikan semua hakmu!"
"Bek-bekerja di sini, Pimpinan muda, beri aku kesempatan!"
Tengah malam harus berkutat dengan lembar-lembar perjanjian, mata tajam itu masih betah rupanya, tak peduli yang di sekitarnya sudah mau jatuh kehilangan nyawa.
Sedikit sekali dia melirik ponsel di saku itu, sekalipun dia letakkan di meja, pesan atas nama Aisyah sama sekali tak dia buka. Baskara hanya menoleh pada jam besar di sudut ruangan itu, dia tersenyum samar.
A-isyah pasti sudah bangun sekarang.
"Bas, apa aku boleh tidur satu jam saja, hah? Para tersangka itu bahkan sudah tak bernyawa di depan, mengulang janji setia pada perusahaan sampai pingsan," ujarnya seraya bertanya.
Baskara mengangguk, dia masih melanjutkan pekerjaan itu, tak membuat matanya terpejam sekali pun, kalau bisa ini segera selesai dan dia bisa pulang menemui Aisyah secepatnya.
Iya, aku menunggu Kakak di kamar ini, duduk di sini, kedua tanganku aku lebarkan dan Kakak bebas memelukku dari arah mana saja!
"Huh!" Baskara tersenyum samar lagi. "A-isyah," sebutnya lirih.
Kroookkk, krrookkkkk kroookk, fiuh, fiuh, fiuh....
__ADS_1
Suara dengkuran Yoga sudah menggema, ruangan yang tadinya sunyi penuh ketenangan berganti seperti ruang karaoke saja, sesekali Baskara lirik dan ingin dia lempar buku tebal.
***
"Apa masih ingat siapa aku?"
Seorang gadis berrambut panjang bergelombang tengah berdiri di depan Baskara, tangan yang sedari tadi menggantung tak kunjung Baskara sambut.
"Siapa?" balasan menyebalkan seolah hanya ingat wajah Aisyah.
"Ya ampun, Kak Bas!" geram. "Nabila, adiknya mas Nakula, lupa?"
Ah, Baskara manggut-manggut, tapi belum mengulurkan tangannya, itu tetangga samping rumah utama yang sudah pindah.
"Aku dengar kalau perusahaan paman Aksa ada proyek di sini, kebetulan ayahku tim dari kantor yang kerja sama dengan kalian, jadi aku setiap hari bebas berkunjung ke sini sambil membawakan makanan buat ayah. Oh iya, kak Saka dan bibi bagaimana kabarnya?"
"Baik," jawab Baskara singkat, matanya sudah sibuk membaca laporan.
"Terus, Shafiyah?"
"Baik."
"Apa paman Aksa ada di sini? Aku ingin bertemu dengan dia, Kak."
"Tidak." berdiri endak pergi.
"Kakak mau ke mana?"
"Kerja, apa lagi?" semakin menyebalkan saja wajahnya.
Nabila melangkah mendekat, "Aku juga mau ke sana, itu tempat ayah, ayo aku kenalkan ke ayah, Kak!"
Baskara menepis tangan di lengannya itu, lengan milik Aisyah, besok waktu pulang akan menjadi pegangan Aisyah, jangan sampai bau wanita lain.
"Ya ampun, Kakak ini kaku sekali, kaku nanti jadi tidak laku dapat jodoh loh!"
"Aku sudah menikah, tidak perlu jodoh lagi." memicing sebelum pergi. "Dasar jomlo!" gerutunya.
__ADS_1
Heh, apa!!
"Dia sudah menikah?" gumam Nabila tidak percaya.