Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Di Balik Selimut


__ADS_3

"A-isyah," sebut Baskara lirih, dia parkir mobilnya lebih dulu.


Seorang gadis dengan baju warna kunyit motif bunga itu tengah berdiri di depan teras rumah, tersenyum dan melambaikan tangan.


Baskara raup wajahnya, tiga hari tak bertemu Aisyah, dia yakin sekali gadis itu semakin cantik saja, dilihat dari bagaimana Aisyah tersenyum kepadanya tadi dan lambaian tangannya, begitu tulus.


Brak!


Anggap saja sedang tidak terjadi apa-apa, Baskara menutup pintu mobil itu dengan gaya biasanya, setengah dia banting untuk menutupi debaran di dalam dada.


A-isyah atau aku panggil sayang?


Namun, begitu dekat justru mulutnya terkunci, hanya senyum-senyum di depan Aisyah sampai tangannya mendapatkan kecupan.


"Di luar dingin, Kakak tidak mau masuk?"


"Ah, ya, A-isyah." dia baru sadar, melamun rupanya tadi. "Bajumu bagus, A-isyah."


Aisyah bergeleng sambil menyembunyikan senyumnya, tidak menoleh kembali pada sang suami, berjalan lebih dulu endak menyiapkan sesuatu.


Ya, sesuatu harus dia siapkan, mulai dari air hangat untuk suaminya.


Pletak, pletak ....


Suara kancing jaket yang sengaja Baskara keraskan saat dia lepas, sesekali dia melirik Aisyah yang sibuk sendiri, lebih tepatnya menyibukkan diri, sudah mengambil anduk, masih kembali lagi memilih anduk, lalu berlanjut pada hal lainnya, dia ulangi lagi.


Grep,


Aisyah terdiam, berdiri membeku, dua tangan besar itu melingkar di perutnya, ada dagu yang menancap di bahu kanannya.


Matanya terpejam tepat saat Baskara sibakkan rambut panjang yang baru saja Aisyah burai, lalu kulitnya bertemu dengan bibir lembab tebal Baskara.


Apa langsung sekarang? Kakak tidak mau mandi dulu? Atau sudah mandi di pom bensin mungkin? Apa iya?


"Ka-kaak," dia berbalik, membuat Baskara mengangkat wajahnya. "Ehehehehe, mandi dulu gih!"


Jedag, jedug, jedag, jedug!


Bukannya bergerak mandi, Baskara justru melingkari pinggang Aisyah lagi, kali ini mereka berhadapan, dia dekatkan wajahnya hingga tak ada jarak.


Cleguk!?


"Kamu cegukan, A-isyah?" dia mau tertawa, menertawakan lebih tepatnya.


Aisyah tutup mulutnya, bergeleng mengelak, tapi dia cegukan tak mau berhenti.


"Min-minum, Ais mau minum!"


"Nanti minumnya, aku belum menciummu."


Mata Aisyah melebar, "A-ais, ceg-ceg-cegukan, Kak!"

__ADS_1


"Biar saja, salah sendiri cegukan, sini cium dulu!" memaksa, dia goda.


Hampir saja bibir itu Baskara tempelkan, cegukan Aisyah semakin kencang, tidak bisa dia tahan lagi, Baskara tersungkur ke atas ranjang sambil tertawa kencang.


Baru endak dia cium sebagai permulaan, Aisyah sudah cegukan hebat, terbayangkan sudah kalau malam pengantin itu dia habiskan dengan sesi memberi minum akibat cegukan.


"Jangan banyak minum, kembung nanti!" Baskara rebut gelas air putih itu.


"Tap-tapi, bel-belum sel-sele-selesai!" Aisyah tepuk-tepuk dadanya.


Baskara simpan gelas itu jauh, lalu dia sudutkan Aisyah, dia kunci pandangan Aisyah dengan matanya, mengejar setiap kali bola mata itu menghindarinya.


Suara cegukan itu begitu mengganggu, bibir Aisyah semakin menggoda disaat basah, belum lagi berulang kali Aisyah gigit untuk menahan cegukannya, Baskara cium bibir itu.


"Kaaak ...." meraup udara dan cegukan lagi.


"Biar!" dia cium lagi.


Beberapa menit kemudian,


"Min-minum!" belum hilang sekalipun dicium.


"Lagi, sini!" cium lagi.


Baskara buat bibir itu kebas karenanya, dia ***** dan kuasai habis seperti saat dia berada di lahan proyek saja, semua atas titahnya.


"Cegu-"


***


Aisyah rasa perutnya mau meledak, dia banyak minum dan udara sejak baskara cium tadi, selepas suaminya mandi, masih saja ditertawakan dan kembungnya tidak hilang-hilang, padahal sudah lima kali dia ke kamar mandi luar.


"Lihatlah!" Baskara buka bajunya.


Aisyah sontak menutup mata, "Kenapa dibuka?"


"Supaya kamu tahu, ada bekas apa saja di badanku yang atas ini, lihatlah A-isyah!" Baskara ambil tangan itu, dia letakkan di salah satu bekas lukanya.


Aisyah raba perlahan, bekas-bekas itu ada yang tidak berasa lagi, ada juga yang menonjol bisa dia rasakan utuh.


"Ini kenapa? Apa yang Kakak lakukan?"


"Yang kamu pegang ini luka pertama kali aku bertugas, semacam menjadi mata-mata, waktu itu aku adu pukul dengan penjaganya, dia bawa pisau, robek dan aku jahit sendiri."


"Heh, jangan sembarangan!" Aisyah mendekat, dia lihat dan pastikan bekas luka itu, dia raba dan rasakan. "Jangan begini lagi ya, Ais bisa obatin. Kalau ini?" di daerah dada ada lagi.


"Bekas tembak, ini waktu uji coba, tidak sengaja, aku sempat kritis dan dinyatakan mat-"


Aisyah bekap bibir itu dengan tangan kanannya, dia bergeleng lemah, lalu dia peluk suaminya.


"Setelah ini, jangan diobati sendiri ya, Ais bisa dan pernah belajar, ya Kak!"

__ADS_1


"Hem." Baskara balas dekapannya. "A-isyah, bisa jadi api unggunku tidak?"


"Eh, Kakak kedinginan?"


Baskara mengangguk, dia pandangi wajah seindah rembulan itu, dia cium kening Aisyah, membuat gadis itu mengerti akan apa yang dimaksud api unggun tadi.


Aisyah tersenyum, mau dia masih jauh lebih muda dari Baskara atau apa, ini hak suaminya dan dia harus tahu.


"Jangan dilepas di sini, A-isyah!"


"Ais tetap pakai baju panjang?"


"Tidak, nanti aku yang melepasnya-" dia berbisik. "-dibalik selimut saja, aku cemburu nyamuk melihat tubuhmu, A-isyah."


Oh, astaga.


Aisyah mengangguk, dia berbaring seperti yang suaminya inginkan, menahan tubuhnya yang gemetar seiring gerakan Baskara yang merangkak setengah menindihnya, Baskara lebar dan panjangkan selimut besar itu hingga hanya tampak kepala keduanya.


"Kakak bisa melepasnya?"


"Bisa, mau dicoba sekarang?" melipat bibirnya menahan tawa.


Aisyah mengangguk, "Kasih tahu kalau sudah lepas ya!"


"Aku kasih tahu lewat ciuman, aku cium kulitmu setiap kali sisi bajumu terlepas, A-isyah."


Dan Baskara lakukan hal itu, setiap kali tandanya diberikan, kedua tangan Aisyah meremat sisi sprei hingga kusut, dia tahan sesak di dadanya sampai tubuhnya dirasa menggigil saat semua tiada dan kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Baskara.


"Dingin, A-isyah?" bisiknya bertanya, dia ciumi telinga dan leher Aisyah.


Aisyah mengangguk, kedua tangannya merambat naik ke punggung polos Baskara, tidak ada yang menutupi tubuhnya selain sang suami dan selimut lebar itu.


Masih Baskara tarik hingga kepala mereka berdua ada di balik selimut, dia pandangi wajah Aisyah yang penuh tanya.


"Aku tutup karena aku cemburu malam tahu wajahmu nanti dan angin mendengar rintihanmu, A-isyah. Bisa aku lakukan sekarang?"


"Iy-iya." Aisyah mengangguk kaku, keringatnya sudah bermunculan. "Emm-"


Baskara sejajarkan lagi wajahnya, "Jangan bersuara, A-isyah. Jangan bersuara sampai selesai, aku cemburu!"


Eh, iya. Ingat, kecuali saat Kakak wajahnya sejajar begini, bersuara tepat di telinganya.


"Iya."


Baskara turun lagi, dia lakukan dengan penuh kelembutan, sampai bagian inti di mana dia yakin Aisyah akan merintih, Baskara dekatkan wajahnya.


"Cium aku dan gigit bibirku kalau sakit!" titahnya.


***


BuCil bantu siapin handuk ya, tunggu!

__ADS_1


__ADS_2