Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Langsung atau Main


__ADS_3

"Arsy, ayo ke kamar!" bisik Saka, tapi istrinya itu tidak bergeming, sibuk sendiri dengan Rasyah yang sedari tadi dia cubit-cubit, bayi gembul itu lebih menarik dari suaminya. "Arsy, dengar aku tidak?"


"Abang duluan saja ke sana, Arsy masih mau main sama Rasyah!"


Heuh, istri tidak peka, suaminya mau main masak-masakan di dalam kamar, malah ditolak.


Saka berdecih, dia masukkan kedua tangannya ke saku celana, bergeleng dan berjalan meninggalkan Arsy, dia menjadi suami merana di malam pertamanya.


Memangnya mau apa di kamar?


Sekali lagi Saka menoleh ke arah istrinya duduk, lagi-lagi dia tak dibalas dan masih sibuk dengan sang keponakan, sedangkan dia sudah mau mengajak Arsy mandi bersama.


Gadis itu tidak tahu rasanya menahan rasa cinta sekian lama dan baru ingin dia ungkapkan malam ini, ingin hanya berdua dan saling memeluk, bulannya keburu pergi dan mereka tidak bisa menikmati rembulan bersama nanti.


"Halo, Kak Bas. Tolong ambil Rasyah dari istrimu, kau sedang apa?"


Baskara terbahak-bahak di sana, "Aku, aku di kamar bersama A-isyahku dong, memangnya merana sepertimu!" ledek Baskara, padahal dia sedang ada di kamar ibu bersama Aisyah, sibuk membahas makanan yang akan mereka bagi keesokan harinya.


"Ayolah, aku kan mau bermain dengan Arsy, Kak!" merengek, tidak malu sama sekali dengan kakaknya, toh Baskara juga berpengalaman. "Ambil anakmu ya, aku mau istriku sekarang!"


"Iya, iya, aku ambil Rasyah setelah satu jam lagi!"


"Kakak!" Saka melesakkan kepalanya ke balik bantal, biar saja, dia mau istrinya sekarang.


Baskara minta Aisyah mengambil bayi gembul itu, entah kenapa memang pengantin pria kali ini jauh lebih merana dibandingkan dirinya, waktu itu dia saja langsung satu kamar dengan Aisyah meskipun tak saling bersentuhan, tapi Saka sudah dirundung ingin, sedang istrinya sibuk dengan Rasyah, si bayi gembul bermata tajam itu.


"Sayaaaaang, Tante Arsy harus mandi dulu itu, kamu sama Bunda ya, Yandamu nyari itu di kamar, mau tidur sama Rasyah!" Aisyah gendong anaknya dari pangkuan Arsy. "Tante Acy, Tante temani om Caka yang baik ya, eheheheh. Aku sama Bundaku dulu, katanya Yanda kangen!"


Arsy terkekeh, dia baru ingat kalau dia dan Saka itu sudah menikah, harusnya malam ini dia menari di kamar suaminya itu, memanjakan pandangan suaminya dengan tubuh molek yang dia punya.


Eh, pikirannya ini, sudah mendasar sekali dalam hubungan.


Malu-malu Arsy berjalan ke kamar suaminya itu, membuka knop pintu perlahan hingga tak menimbulkan bunyi sama sekali, dilihatnya sang suami tengah tengkurap dan kepalanya tak terlihat, Saka melesak begitu saja, hanya kedua kaki yang bisa Arsy gelitik.


"Abaaaaaang, nungguin aku ya?"


"Huh!" Saka hanya menarik kepalanya sedikit, lalu kembali melesak lagi.


"Ih, jangan jual mahal gitu ke Arsy, kan malam ini Arsy mau nari tuh di depan Abang!"


Saka sontak duduk, dia lirik istrinya itu, mencoba mencerna apa yang istrinya katakan, sepertinya Arsy lebih ganas dari Shafiyah yang meluluhkan Nakula

__ADS_1


Dari atas sampai bawah, memang menarik sih, Saka tahu istrinya itu menjaga diri dengan baik, matanya sangat dimanjakan begitu Arsy tersenyum padanya


Cup,


Arsy tersenyum lagi, dia lipat bibirnya yang baru saja Saka kecup singkat itu, membalas tatapan tajam dan dalam, tapi mendamba milik suaminya.


"Abaaaang, kurang kalau cium gitu, mau yang lebih kalau nyium!"


Kan, sesuai pemikiran Saka, istrinya ini jauh lebih ganas dari Shafiyah.


Saka ajak Arsy berdiri dalam pelukannya di dekat jendela besar, Arsy bersandar di dada bidangnya, kedua tangan lembut itu melapisi tangan Saka yang melingkar di perutnya, membiarkan Saka mencuri kecupan di pipi yang tampaknya tak sabar sama sekali.


"I Love you, Arsy." bisiknya.


Arsy mendongak, mendapatkan tatapan malu dan penuh kesungguhan dari sang suami.


"Sejak kapan Abang suka sama Arsy?"


"Sejak dulu, Abang perhatiin kamu yang paling aneh di organisasi."


Arsy miringkan kepalanya, wajah pria itu tenggelam di leher dan bahunya.


"Arsy kok tidak tahu kalau Abang suka, pinter banget simpan rahasia, tahu gitu, Arsy ngekor Abang ke mana saja!"


"Duh, jangan digigit!" Arsy tepuk ringan pipi Saka. "Ahahahaha, sakit, Bang. Boleh lah buat yang merah-merah itu, tapi jangan digigit, nanti Arsy jadi drakula, Abang mau?"


Saka kembali menjatuhkan wajahnya ke ceruk leher Arsy, menguyel gemas di sana sampai empunya terkekeh, tapinl justru memberikan sisi leher satunya.


Mau lagi!


Tak bisa Saka tolak, dia ulangi sampai istrinya merasa puas.


"Mau yang lain tidak?" tawar Saka.


Arsy mengangguk, tapi dia tahan kedua tangan suaminya itu.


"Bang, mandi dulu ... biar enakan, harum, ini bau seharian ada acara, ya...."


"Mandi bareng ya?"


"Ahahahahahha, iya, Arsy sabunin nanti semua punya Abang!"

__ADS_1


Astaga, Saka senang kalau istrinya aktif begini, tidak malu bila bersamanya, mereka bergandengan ke kamar mandi dan saling membantu melepas baju sampai tak bersisa.


Gemericik air dan sambutan tangan besar Saka di kulit Arsy, bergantian mereka meratakan sabun itu, tapi jelas Saka yang berlama-lama, membuat Arsy menjerit karena rabaan tangan yang sengaja dilembut dan dilamakan itu.


"Eugh-" Arsy gigit bibir bawahnya, tangan Saka berhenti tepat didua buah segarnya itu, memberikan pijatan yang tidak bisa diungkapkan rasanya bagaimana. "Ab-baaaang!"


"Hem, sabunnya masih banyak di sini, Syyy!" sengaja dia lamakan, melemaskan tangan sekalian.


Arsy putar tubuhnya hingga dada mereka saling menempel, dia mendongak menatap wajah tampan basah di bawah cucuran air itu.


Dia bergeleng, tidak mau Saka sentuh lagi di bawah air ini, dia melompat hingga kedua kakinya melingkar di pinggang Saka.


"Yang lain ayo, Abaaang!"


"Yang lain apa?"


"Arsy mau di sana, di kasur saja, mau itu!"


"Itu apa?"


"Aaaaah, jangan pura-pura tidak tahu, adiknya sudah bangun itu, Arsy mau itu!" kepanasan dengan tangan Saka yang terus menyetrumnya. "Ayo, Abang!"


Saka tersenyum miring, dia sambar anduk besar itu, setidaknya mereka tidak terlalu polos. Dia gendong Arsy menuju peraduan tanpa melepas pagutan di bibir lembab dan pucat itu.


Bruk!


"Langsung atau main dulu?" tawar Saka, kata yang dia pelajari dari paman Yoga-nya.


Arsy bergeleng, "Langsung saja, jangan dimainin terus, Arsy sudah gila ini!"


"Ahahahahah, kamu ini ... jangan teriak loh ya!"


"Iy-" Arsy terdiam, bibirnya bergetar. "Sak-sakit, sakit, sakit, Abaaang ... sak-sakit," keluhnya.


Saka angkat wajahnya, "Abang sudah pelan ini, jangan teriak loh!"


"Auh, auh, auh, auh ... masih bel-belum, Bang?"


"Belum, kurang sedikit lagi!" Saka terus mendorong ke dalam.


"Panjang ya, Bang?"

__ADS_1


Heh!


__ADS_2