
Lama tak berjumpa, mereka seolah tenang dengan kehidupan mereka sendiri, siapa yang menyangka kalau di tempat ini mereka akan dipertemukan.
Baik Arsy maupun Saka terdiam, jarak terbentang jelas diantara keduanya, tapi jantung mereka berdebar seirama.
Ingin mendekat, tapi takut terlewat, sedang mereka sama-sama berjanji akan sanggup menahan diri hingga waktu yang ditentukan.
Arsy mulai menghentakkan kakinya, tujuannya lewat di lorong ini bukan untuk bertemu Saka, melainkan dia memang ada urusan.
"Arsy," sapanya setelah beberapa menit diam.
Arsy berhenti, bahu mereka berada di garis yang sama, menoleh perlahan, menampilkan wajah manis penuh kerinduan yang terpendam.
"Ya, Bang?"
Senyum samar terbit di wajah Saka, dia berusaha tak goyah saat Arsy memanggilnya seperti itu, dia rindu dipanggil berbeda dan itu suaranya Arsy.
Saka ke luarkan satu kotak dari kantong yang dia bawa, dia berikan ke tangan Arsy, gadis itu tak menolak.
"Apa ini?" Arsy angkat dan intip dari bawah. Gaya khas yang tak pernah Arsy tinggalkan, masih sama seperti sebelum mereka berpisah waktu itu. "Tidak bisa diintip isinya apa, hayo apa?!"
Kan, kalau seperti ini, bagaimana bisa Saka berjalan cepat di depan Arsy, bukan dia yang mau, terbesit pun tidak, ini hanya sebuah kebetulan dari anggapan mereka dan yang memang sudah ditetapkan untuk mereka.
"Apa sih ini?" sudah tiga kali bertanya.
Saka menoleh ke sekitar, tak ada pekerja yang lewat di sini, dia raih berkas yang Arsy bawa di tangan satunya, membuat gadis itu semakin berdiri dekat di depannya.
Kedipan mata Arsy dan bola matanya yang tampak panik, memancing senyum Saka semakin lebar.
"Bisa lebih sabar lagi, Arsy?"
"Sab-sabar untuk apa?" tanya Arsy gagap.
"Menikah denganku," jawabnya sambil tersenyum. "Waktu itu aku bilang menunggu anak kak Bas lahir, tapi ternyata adikku harus menikah lebih dulu, apa bisa menunggu?"
Arsy mengangguk, bahkan tanpa menunggu beberapa detik dari ucapan Saka, dia langsung mengangguk dengan kepercayaan yang tinggi pada Saka.
Arsy angkat kotak yang Saka berikan, "Apa ini? Abang kasih ke aku apa? Suap ya?"
__ADS_1
"Ahahahahahah, Sofi yang kasih ke kamu, mau aku titipkan staff lain, tapi kita harus bertemu saat ini, jadi aku berikan saja. Mana tahu aku isinya apa, Arsy."
"Oh, aku kira dari Abang, sudah besar kepala. Eheheheh, Abang jangan selingkuh!" dia pukul dada Saka.
"Duh, sakit loh!"
"Ih, orang yang mukul itu tangannya kecil, mana ada sakit?!" mencebik sebal. Tapi, secepat kilat dia tersenyum, dia buka dan berbinar melihat isinya, bukan dari Shafiyah, melaikan dari pria di depannya ini, memakai nama adiknya agar tidak gugup. "Terima kasih, Abang. See you!"
Saka mengangguk, memang dia membeli, tapi untuk pemilihan dia serahkan pada ibu dan adiknya.
Gantungan kunci lemari dengan nama mereka berdua, setidaknya bisa menjadi teman Arsy saat tidur di rumah sewa, menandai kalau gadis itu sudah ada yang meminta.
"See you, Arsy. I miss you so much," ujar Saka lirih, dia kembali melangkah sesuai tujuan utama.
Sementara Arsy terus melebarkan senyumnya, dia akan menjadi semakin kuat dan kuat menjaga diri hingga waktunya tiba, membuat dia bersama dengan pria yang telah tertuliskan nama di hatinya.
"Kapan abang itu gantengnya berkurang sih, eheheheh, uluuu, abang akyuuuu!"
***
Salah satu teman mengatakan kalau Arsy sempat didekati pekerja pria di kantor ini, bahkan pernah dipaksa pulang bersama, tampak tangan Saka sempat terkepal karena geram.
"Arsy mau?"
"Tidak, dia menolaknya."
"Dia bilang kalau sudah dilamar pria?"
"Tidak juga, tapi dia bilang yang lebih menakjubkan!"
"Apa?" Saka penasaran.
"Dia bilang kalau pria-nya pandai memainkan tembak, ahahahaha. Jawaban itu berhasil membuat pemuda tadi syok dan menertawakan Arsy, dikiranya Arsy sedang halu, membayangkan hal bodoh, Saka." mereka tertawa bersama. "Anehnya lagi, dia dibilang halu dan berbicara omong kosong, intinya dia diledek, kau tahu apa yang terjadi?"
"Katakan!"
"Dia ayunkan tasnya, berjalan melewati pemuda itu tanpa pembalasan sama sekali, kecuali berjalan tegap seperti model. Aku jadi berpikir, apa yang ada di kepala Arsy, dia itu sedang diledek, tapi sebaliknya seolah Arsy menyombongkan diri, ahahahaha ... dia seperti lagi dipuji, bukan diperolok, aku bersumpah itu!" Dia kembali duduk. "Apa kau melarangnya mengakuimu?"
__ADS_1
"Tidak, maksudku aku tidak pernah membahas itu, dia memang punya jawaban sendiri, tidak suka kalau orang ingin tahu soal dirinya. Awasi dia terus, jangan sampai dia tahu kalau aku mengetahui semua tentang dia!"
Staff lama yang menjadi mata-mata Saka itu mengangguk, dia cukup dekat dengan Saka hingga tampak akrab.
Rindu, memang itu berat, terlebih lagi tengah merindu dan tahu yang dirindukan ada di sekitarnya, tapi tak bisa bertemu lebih lama, tidak bisa melakukan apa yang mereka mau, menekan ego sedalam mungkin di lautan lumpur.
"Arsy!" Lea berlarian dan ambruk di meja Arsy.
"Apa?" hampir saja kopinya tumpah.
Lea menunjuk arah luar, nafasnya kejar-kejaran sendiri, keringat mulai bercucuran seperti baru lomba lari saja.
"Pimpinan muda dua, ada di sini, kamu sudah menemuinya? Kamu tidak mau memastikan hubungan kalian berakhir di mana?"
Arsy bergeleng, wajahnya bahkan cenderung santai.
"Sampai kapan mau jadi perawan, Arsy?"
"Apa maksudnya sih?"
"Kamu tidak mau melepas rindu bersamanya, bertemu dan saling memeluk, lalu menginap?"
Astaga, Arsy memikirkan sewa rumah saja pusing, sedang temannya meminta dia berpikir menggapai indahnya dunia abu-abu itu, kebiasaan yang tak sedikit anak muda melakukan itu, seolah-olah mereka sudah menikah saja, menginap bersama.
"Gajimu kan besar dan kamu tidak punya tanggungan!"
"Lea, tanggunganku banyak, dari ujung rambut sampai kaki, uang gaji bisa terpotong habis. Jangankan berpikir menginap, mengajak dia makan saja lututku bergetar, hari ini bisa makan penuh rindu dan rasa yang enak, besok aku bisa jadi pengemis harian," jelasnya. "Tidak, aku tidak mau, uangku sayang sekali untuk membayar bangunan orang, mana cuman jual keringat di sana, lebih baik aku beli lotion!"
Jual keringat?
Lea mencerna baik-baik, dia bisa dibilang pengalaman, tapi istilah jual keringat baru kali ini dia dengar.
"Kalau dia selingkuh?" Lea pernah trauma akan hal itu.
"Mudah sekali, tinggal aku putuskan, tapi sebelum itu, aku bawa senjata, aku potong lontong kupat yang nakal itu, biar tahu rasa, ahahahahah!" Arsy terbahak-bahak membayangkan lontong kupat, bersama Lea, otaknya terkontaminasi hal dewasa.
"Lontong kupat, seperti apa bentuknya?" mencoba menentukan ukuran lontong kupat yang Arsy maksud.
__ADS_1