Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Kalau Kamu Mau


__ADS_3

"Jangan takut, mereka tidak akan melakukan hal yang sembarangan!" Baskara berdiri tepat di samping Aisyah.


Hari ini akan dia temani Aisyah melakukan serangkaian pemeriksaan, semua demi kesehatan Aisyah, dia tidak mau ketika nanti dia harus bertugas ke luar kota dan Aisyah tak bisa ikut dengannya karena terlalu bahaya, di rumahnya terjadi sesuatu.


Kalau itu sampai terjadi, sekalipun bibirnya belum mengatakan cinta pada Aisyah, dia bisa memijak pedal gas siapa saja dan membabi buta kembali ke rumah.


Aisyah tampak takut meskipun Andreas dan timnya menampilkan senyum mereka, yang terjadi sebenarnya tim Andreas yang takut, belum-belum Baskara sudah memasang wajah serius seolah mengancam mereka semua, bisa ke luar hidup saja itu sudah keberuntungan.


"Tenang saja, timku itu anak didik yang sudah terlatih dan otak mereka diatas rata-rata, Bas. Mereka tidak akan menyakiti Aisyah, secuil pun tidak!" Andreas berkata yakin. "Ngomong-ngomong, di mana tiga pengikut sejatimu itu, Pian mana dia?"


"Mana aku tahu, memang aku ibunya apa?!"


"Eheheheh, dia kan pengikut setiamu, Bas. Ahahahah, bercandalah, jangan marah terus, nanti cepat tua!"


Andreas cepat mengucir mulutnya sebelum mata Baskara benar-benar membunuhnya lewat tatapan saja, mata itu bisa melompat ke luar dan mencekiknya dalam satu ketukan.


Kaki mereka bergerak bersamaan saat pekikan Aisyah terdengar, Andreas tahan tangan Baskara.


Sumpah, dia seperti sudah jatuh cinta pada istrinya saja, jangan-jangan yang Wira katakan itu benar, dia sudah cinta pada Aisyah tralala itu!


Baskara mengoyak tangannya, hampir saja membuat Andreas terjungkal, demi anak dan istri dia bertahan di sini, kalau tidak, entah dia mau bekerja di mana, ini rumah sakit pilihan.


"Kenapa di dalam? Kenapa A-isyah bersuara begitu, dia diapakan?" sudah mau masuk memeriksa sendiri


Andreas berdiri tepat di depan pintu, kedua tangannya melebar, menghalangi laju Baskara.


"Tenang, tenang, Bas. Itu hanya pemeriksaan, mungkin kakinya tertekan alat rontgen sedikit, tapi dia akan baik-"


"Ditekan alat rontgen?" satu tangannya di sekitar leher Andreas. "Kaki A-isyah itu sakit, alat itu besi berat, kakinya bisa patah, bodoh!"


Andreas sampai merosot karena takut, beruntung pintu itu terbuka dan Aisyah berjalan ke luar, sedikit miring agar tak mengenai Andreas, dia langsung berdiri di samping Baskara.


Mata Baskara sontak menghujaninya dengan kalimat tanya, perlahan Aisyah beranikan menatap mata itu sedikit lebih lama, setidaknya dari pandangan mata itu dia tahu apa yang ingin Baskara katakan meskipun dia harus berusaha keras.


"Katakan kalau sakit, jangan berbohong!" Baskara tidak mau diajak duduk.

__ADS_1


"Tidak ada yang sakit, tadi hanya aku yang tidak sengaja berputar dan menabrak meja, ehehehe, jadinya aku mengeluh, kakinya baik-baik saja, Kak." Aisyah gerak-gerakkan kakinya.


Setelah Baskara pastikan, baru dia bisa menyimpan cemasnya, kalau terlalu dia umbar, itu akan membuat Aisyah curiga pada hatinya, dia takut Aisyah tertekan menerima dan nanti merasa hutang budi untuk mencintainya kembali.


Baskara mulai menjaga jarak kembali, tapi fisiknya yang keukeh itu kalah dengan hatinya, dia bergeser kembali ke samping Aisyah, membuat dan mematikan orang yang lewat di depan mereka, tidak ada yang bisa atau boleh mencuri pandang pada Aisyah, itu istrinya.


"Kakak mau minuman dingin itu?" tawarnya sambil menunjuk mesin minuman otomatis.


"Kamu mau apa, biar aku saja yang ke sana, mau apa?"


"Yang blue, eheheheh."


"Jangan minum soda, A-isyah!"


Aisyah memberengut, dia menunduk sambil memilin jemarinya, itu berarti Aisyah sangat ingin dan lama tidak menikmati minuman soda, tahu sendiri di rumah Baskara hanya menu sehat.


"Huh, tunggu sini!"


Aisyah lantas mengangguk dan tersenyum, dia yakin Baskara akan kembali dengan minuman yang dia inginkan.


"Ini!" benar, Baskara berikan yang Aisyah mau. "Tapi, setelah minum itu, tambah air putih, harus habis!"


Hah, iya.


Wajah terkejut Aisyah membuat Baskara tertawa tanpa suara, dia bergeleng dan meraba tengkuknya, kalau orang takut padanya, dia jauh lebih takut pada Aisyah, marahnya Aisyah itu hal yang dia takutkan.


Tapi, Aisyah-nya tidak pernah marah, sekalipun marah, suara Aisyah masih ramah di telinga.


***


"Sudahlah, Bu. Kita semua tahu kalau mereka berdua itu masih belajar berjalan bersama, aku rasa tidak masalah kalau membiarkan mereka begitu dulu, iya kan, Yah?" Saka baru datang sudah mendukung ayahnya.


Ayah mengangguk, memaksa Baskara itu sama saja mau memindahkan gunung berapi, susah dan banyak resikonya, ayah kenal siapa anaknya itu, lembutnya pada ibu, tidak bisa disamakan dengan kondisi di luar sana.


"Baiklah, Ibu tidak akan melakukan apapun, tidak akan ikut campur!" putus ibu marah, melengos pada ayah dan Saka, pendukungnya Shafiyah masih belajar. "Tapi-"

__ADS_1


Apalagi?


Ayah meminta Saka saja yang mendengarkan ibunya itu, wanita satu ini tak akan tinggal diam meskipun tahu itu sia-sia.


"Ibu mau kakak mengajak kak Aisyah ke luar kota?" Saka menganga. "Ibu tahu'kan apa yang kakak lakukan di sana, dia lebih parah dari mata-mata pemerintah, apa mau kak Ais jantungan melihat pekerjaan kakak?"


"Heh, dia itu kalau ada masalah saja begitu, kalau tidak kan ya tetap bekerja di kantor normal, meeting dan semuanya, jangan menilai kakakmu cuman berkelahi saja, dia menjaga keluarga besar ini, Saka!"


"Aku tahu, Bu. Aku pun di luar sana juga begitu, tapi apa Ibu yakin, fungsinya apa kalau kak Ais di sana?" Saka menoleh pada ayahnya.


"Yang jelas bukan fungsi yang seperti Ayahmu pikirkan, itu tidak benar. Aisyah bisa mengendalikan Bas, membantu Bas meskipun hanya lewat bayangannya saja," jawab ibu.


Ibu melihat bagaimana Baskara memperhatikan Aisyah, dan ketika Baskara panik, suara dan senyuman Aisyah membuat Baskara luluh, dia menjadi tenang dan bisa berfikir dengan jernih. Ibu melihat semua itu, disaat semua orang tak menyadarinya, dia sadar.


Ayah tidak mau berdebat, lagipula ini demi keutuhan rumah tangga putranya, Baskara bukan pria sembarangan, begitu juga Aisyah


***


"Mamang pindah ke rumah utama ya, jadi ganti mamang yang baru?" Aisyah bertanya sambil memegangi tangga, lampu kamarnya ada yang perlu diganti.


"Hem." Baskara perlahan turun, melipat tangga itu. "Selama di sini, apa pernah mati atau rusak?"


"Tidak pernah, Kak."


"Bagus!" Baskara bawa tangga itu ke luar kamar Aisyah. "Oiya, A-isyah."


"Iya?"


Dia ragu, tapi harus mengatakan hal ini.


"Lusa ada tugas ke luar kota, kalau tidak keberatan, kamu mau ikut?" pesan dari ibu, tidak bisa dia tolak. "Kalau kamu mau saja!"


"Mmm, berapa pasang baju yang harus aku bawa?" balas Aisyah sambil senyum, dia mau artinya.


Ibu, lihat, aku sudah menurutimu!

__ADS_1


__ADS_2