
"Lagi bahas apa sih?"
Namanya ibu hamil, rasa ingin tahunya sangat tinggi dan melebihi kadar biasanya. Aisyah memang sudah berjanji untuk diam di kamar karena Baskara tentu melarang dia ke luar dengan mengeluh panas tanpa memakai hijabnya, walau itu jarang terjadi, suaminya itu selalu mengingatkan dan sebisa mungkin melarang.
Aisyah menempelkan telinganya, berharap bisa mendengar apa yang Baskara katakan pada Nakula, ini tengah malam, jangan bilang suaminya itu sedang mengajak Nakula kerja sama yang tak kasat mata.
"Apa yang kau katakan?" Nakula cukup terkejut dengan penawaran Baskara.
Penawaran, bukan kabar gembira, langsung ditawarkan oleh Baskara.
"Ak, aku tahu kau pasti punya kriteria gadis idaman, itu pasti jauh dari adikku yang masih suka manja seperti yang kau tahu, aku tidak akan memaksanya, aku hanya menyampaikan apa yang benar. Dia diam-diam terbiasa dan suka padamu, saat kau bilang ada gadis idaman yang akan kau lamar bila sudah siap, dia murung dan rumah menjadi suram karena itu." Baskara hela nafas sejenak. "Maaf, aku tidak berniat memaksa seseorang bersama Sofi, semua bisa kau putuskan, apapun itu aku rasa tentulah baik," imbuhnya.
Nakula tersenyum, di bawah meja, jemarinya sudah saling meremat, ini hari yang dia tunggu.
Siapa dia yang berani-beraninya datang ke rumah tuan Aksara untuk menyatakan sebuah rasa suci pada anak termanis di sana, bahkan belum melangkah saja, pasti terancam.
Dia menunggu saat yang tepat di mana dengan terbukanya hati Shafiyah, maka akan mudah dia masuk ke rumah itu sebagai pria sejati, Nakula sangat tahu akan banyak lapis aturan saat dia masuk tanpa harapan.
Kali ini jelas, undangan dia terima, Nakula sontak mengusap dadanya. Sekian lama dia menunggu saat ini, akhirnya Tuhan menjadikan dia tamu lewat cara yang tak disangka-sangka.
"Aku tidak akan menghubunginya, Bas."
"Kenapa?"
"Datang ke sana, aku butuh bantuanmu, jadi bisakah kau menjadi penyambung lidah kami?" balas Nakula.
Baskara mengangguk cepat, dia juga lebih suka seperti ini daripada Nakula yang terlibat sendiri, bisa jadi mereka menjalin ikatan sebelum pernikahan, Baskara dan Nakula sama-sama tidak mau.
Biarlah hubungan yang sudah Tuhan buka ikat pintunya, mereka jaga dengan baik, sesuai dengan aturan yang ada.
"Oh, hihhhihi, aku tahu!" Aisyah kepalkan kedua tangannya, dia angkat tinggi dan sontak berteriak girang tanpa sadar. "YEAH!"
Sret, brak!
Nakula sontak berdiri, mendorong kursi kayu itu, ekspresi siaganya melebihi Baskara kali ini, seperti tengah menjalankan misi saja.
Berbeda dari Baskara, dia geleng-geleng, paham siapa yang ada di depan sana, dia tahan langkah Nakul yang sudah siap senjata di tangan kirinya.
"Apa?"
"Sstt, diam saja!"
"Kenapa kita diam, Bas? Itu pencuri-"
__ADS_1
"Huuuhhhh, ubah mimik wajahmu itu, dia bisa lari kalau melihatnya!"
"Siapa?" Nakula penasaran sampai ubun-ubun.
Baskara lantas menjawb, "A-isyah." tanpa suara, dia berjalan ke dekat pintu, memutar handle pintu itu perlahan sampai dia berhasil membuka lebar.
Zonk, tidak ada orang.
"Baaaassss-"
"Ssstttt ...."
Hantu, itu yang ada di pikiran Nakula, rumah ini terlalu besar untuk tiga orang, tentu diisi dengan hal lain.
"Lihat, aku tidak salah, gelangnya jatuh. Kau tahu ini hasil karya siapa, kan?" Baskara ambil dan berikan pada Nakula.
"Kak-"
Baskara mengangguk, siapa lagi yang suka gelang kalau bukan Aisyah. Nakula meringis karenanya, rematan Baskara di lengan karena tak bisa membalas Aisyah harus Nakula rasakan, tapi itu rematan cinta.
Dan yang semakin membuat Nakula ingin tertawa adalah disaat Baskara bergumam kalau dia heran dengan perubahan Aisyah sejak hamil anak pertama mereka, tingkat ingin tahunya sangat tinggi, berbeda dari Aisyah yang lebih banyak diam dan melakukan hal kecil.
Setelah Nakula kembali pulang, Baskara melangkah menuju kamarnya, lampu itu baru saja padam, dia menyeringai tipis, dikira keturunan mafia Tuan Hendrawan ini akan kalah dengan taktik Aisyah.
"A-isyah," panggilnya.
Baskara duduk di tepian ranjang, dia raih dan tekan sedikit, memberi pijatan pada kaki kecil ibu hamil itu.
"A-isyah, apa ada tikus di rumah ini?"
Tikus?
Aisyah lantas menurunkan selimutnya, menunjukkan kalau dia masih terjaga dan belum terlelap sedetik pun.
"Apa, Yanda?"
"Ini gelang yang tikus bawa ke depan ruang kerjaku, tikusnya bisa teriak loh tadi, Nda. Kamu tidak merasa ada yang lepas dari gelangmu, biar aku pukul tikus yang ambilin gelang sayangku ini, hem?"
Mati, Aisyah cengar-cengir, itu bukan tikus, tapi dia sendiri yang terlalu senang sampai tidak tahu kalau gelangnya lepas, ada beberapa yang melonggar memang kalau malam agar tidak membekas saat tidur.
"Yanda, mm, tikus tidak akan berani masuk ke kamar kita, iya kan?" Baskara manggut-manggut, tapi ada gelang ini. "Yanda, itu aku yang ke sana, aku penasaran, Yanda!" akunya sambil menutup wajah, takut suaminya marah.
Baskara angkat satu tangannya, bayang itu berhasil membuat Aisyah ketakutan, bagaimana kalau Baskara memukulnya seperti yang dikatakan tadi, memukul tikus nakal itu.
__ADS_1
Pluk!
Tangan besar itu mendarat lembut di bahu Aisyah, mengusap dan dia tekan sedikit sampai empunya mengangkat kepala dan pandangan mereka bertemu.
Baskara cium pipi Aisyah yang menghangat, dia berbisik, "Aku tidak ingat waktu kecil apa iseng seperti ini, anakku jadi iseng, apa karena ibunya memang suka iseng dulu, hem?"
"Tidak tahu, Yanda."
"Ahahahahahahah, sudah, ayo tidur. Sebagai gantinya kamu mendengar pembicaraan para pria tadi, sekarang kamu harus menidurkan singa satu ini, buat aku tidur!"
"Hanya itu?"
"Hem, berjuanglah membuatku tidur!" Baskara jatuhkan tubuhnya, berbaring di tempat biasa, lalu dia bentangkan satu tangannya agar Aisyah menjadikan bantal. "Tidurkan aku, A-isyah!"
Tidak menunggu lama, Aisyah meringkuk mendekat seperti bayi, dia tempatkan keningnya di bibir Baskara agar aroma rambut wangi itu bisa suaminya cium sampai habis.
Tak hanya itu, tangannya merayap ke perut dan berhenti di bawah pusar, memastikan yang anak singa bangun atau tidak, kalau itu bangun, susah pasti Aisyah menidurkan singa besarnya.
"Ndaaaa, kamu kok makin pinter?"
"Iya, kan dikasih uang banyak buat beli makan sehat bergizi sama Yanda, ehehehehe." tersenyum seperti iklan pasta gigi.
"Jangan lama-lama di sana, jadi sulit tidur nanti!" bisiknya sudah panas dingin, jangan sampai anak singanya bangun.
Aisyah jauhkan tangannya, tidak tahu spontan saja begitu, dia sendiri ya ngeri sekarang.
"Yanda, peluk aku saja ya, aku hadap sana!"
Baskara menurut, dia peluk Aisyah yang membelakanginya.
"Yanda."
"Hem?"
"Mmmm, apa itu yang kedutan di pinggul Ais?" gemetar takut.
***
Gubrak, Bucil jatuh, ngintip dua sejoli.
Omamama: apa yang kedutan?
Bucil: Anu-
__ADS_1
Omamama: bawah atau atas
Bucil: bawah, ahahahahahah.... (Nggak, aku nggak tahu sumpah, aku masih dibawah umur)