
Loh, anaknya tidak ada, Baskara buka selimut istrinya itu, hanya ada guling, di box pun tidak ada.
Baskara goyangkan bahu Aisyah, menusuk kecil pipi istrinya itu, membuat empunya menggeliat kecil.
"Susu, Yanda?"
"Siapa yang mau minum susu, dedeknya mana?"
Eh, anaknya di kamar ibu, Aisyah lupa kalau harus menunggu, pasti ibu kerepotan di sana menjaga anaknya, belum lagi menghangatkan susu bekunya itu, Aisyah perlahan turun dan endak ke kamar ibu.
Tapi, Baskara menahannya, dia takup dan cium dulu pipi istrinya itu, memandang cukup lama sampai keduanya kembali duduk ke tepi ranjang, Aisyah sempat menahan wajah suaminya, walau akhirnya kalah dan membiarkan waktu luang ini menjadi kesempatan suaminya berbahagia.
Gemericik air mulai terdengar, Aisyah basuh tangannya, melirik sedikit pada sang suami yang baru saja melilitkan handuk di pinggangnya, bayi besar baru saja dia puaskan.
"Emuah!"
"Hem, baru tiga hari Yanda sudah goyah, belum 40 hari!"
"Ahahahah, kangen sama kamu, Nda. Dia kangen sama bundanya, minta dimanja, ngantuk kalau sudah begini, dedek mana, Nda?!"
"Iya, Ais ambil di kamar ibu ya, atau Yanda ke sana?"
Baskara yang akan ke sana, daripada istrinya itu ke luar memakai jaket dan hijab lagi, kasihan, akhirnya dia yang ke luar, di lantai satu masih banyak sepupu dan kerabat yang melanjutkan persiapan, adapun Nakula dan Shafiyah, masih di sana sambil memakan kue buatan keduanya secara mendadak.
Tok, tok, tok ....
"Bu, dedeknya mana?"
"Tuh, dipelukin ayahmu, tidur dua-duanya, mau diambil?"
"Iya, aku ya mau peluk, Bu!" merengek seperti anak kecil, tidak mau jauh dari anaknya kalau malam, atau dia akan memeluk Aisyah dan meminta lebih seperti tadi, dengan segala cara yang bisa membuat mereka sama-sama senang.
Ibu lepaskan dekapan ayah, membuat pria itu terbangun dan melotot pada Baskara seolah Baskara bukan ayah dari Rasyah, melainkan sosok lain yang patut dia tegur karena endak mengambil boneka lucunya.
"Aku ambil ya, Yah?" meminta izin dengan hati-hati. "Dia mau nen sama A-isyah," imbuhnya.
"Dia yang mau nen atau kamu yang mau nen?"
"Eh, dia, Yah. Aku kan puasa."
__ADS_1
Ayah mendengus tidak percaya, ayah tarik rambut basah anaknya itu, mana ada puasa kalau malam sampai basah semua, setelah Baskara mengaku barulah ayah berikan cucunya pada sang putra.
Pelan-pelan Baskara bawa anaknya kembali ke kamar utama, dia kecupi dan sengaja dia tutupi, kalau sampai ada yang melihat, bisa gagal dia tidur lebih awal sebelum esok hari ada acara besar di rumah ini.
"Anaknya Bunda sudah datang ini, mana nennya, Nda!"
"Hmmm, si ganteng, sayaaaaang, haus ya ... enak tidur sama kakek nenek di sana, iya enak?" Aisyah baringkan di tengah-tengah, menjadi penengah bagi keduanya. "Haus, sayang, mau nen Bunda ya, sini-sini, bismillah dulu!"
Baskara ikuti gerak bibir istrinya menuntun bocah kecil diantara mereka itu, begitu indah melihat anaknya meraup ASI dari Aisyah begitu kuat, bahkan tadi ibunya bilang kalau baru saja minum 150ml, masih saja menambah pada Aisyah, anak lelaki yang sangat kuat.
Aisyah usap wajah suaminya, pria itu tidak tahu rasanya seperti ini karena memang sejak kecil sudah ditinggal ibu kandung dan harus minum dari botol.
"Tapi, Yanda sudah tahu kan, sudah sering main!"
"Ahahahaha, kan tidak ada air susunya, Nda," balasnya.
"Heh, yang ini ya punya anaknya, jangan ikutan, nanti jadi anaknya Ais loh!"
"Eh, ya jangan, tidak bisa buat anak lagi kalau gitu, mau lagi yang cantik, Nda. Pasti kalau cewek mirip aku!"
Waduh, Aisyah bayangkan saja cantiknya bagaimana, bisa-bisa setiap ke luar rumah diminta memakai atribut lengkap hingga tak ada yang bisa dilihat dengan mudah, yandanya saja posesif pada bundanya, belum pada anaknya nanti kalau perempuan.
"Nda, sudah, kamu ya istirahat, jangan sibuk terus, Nda!"
"Iya, Yanda bentar lagi, ini banjir susunya buat dedek, anaknya bobok, jadi terus ke luar, di tidak minum."
"Dikasih apa tadi sama ibu sampai deras gitu, hem?"
"Kena tangannya Yanda mungkin, ahahahahah."
Baskara tatap kedua tangannya, lalu dia tertawa juga, pijatannya ampuh ternyata sampai dini hari istrinya itu kuwalahan menampung ASI yang ke luar, bahkan sampai matanya tak kuasa menahan kantuk.
Dia tepuk dadanya yang membusung, sukses menjadi ayah dan suami yang bermanfaat.
"Kamu rebahan sama dedek, Yanda mau sholat dulu, selama kamu libur, Yanda sendiri!"
"Semoga istiqomah, Yanda!"
"Aamiin, terima kasih, Sayang."
__ADS_1
Aisyah kembali berbaring ke samping anaknya, memejamkan mata sambil menunggu bocah itu mencari asupan, sayup-sayup dia dengar suara tangisan, nyatanya bukan sang anak, melainkan suaminya tengah berdoa.
Senyumnya melebar, dia tidak bisa memaksa suaminya untuk terus bermalam seperti itu, tapi disetiap kesempatan yang ada, Baskara akan melakukannya dan setelah ini akan dia rutinkan agar anaknya tahu lantas menurun.
"Sayang sama Yanda, iya, mau temenin Yanda berdoa, besok aku juga rajin ibadah, Nda ... gitu ya, hem? Aamiin, Rasyah pasti lebih baik dari Bunda dan Yandanya, ya sayang!" dia berikan asupannya lagi.
Besok acara lamaran dan pertemuan keluarga besar Saka juga Arsy, babak baru anggota keluarga ini akan segera dimulai, lahirnya Rasyah pun menjadi titik balik di mana akan ada tangisan bayi di hari esok yang memancing urutan kehamilan berikutnya.
"Nda, bangunin ya nanti kalau sudah dengar adzan shubuh!"
"Iya, tidur dulu biar enakan nanti sholatnya, anaknya juga molor ini."
"Kamu?"
Aisyah tunjukkan alarm langganannya, barulah Baskara tidur sambil memeluk kaki kecil putranya itu.
Di kamar lainnya, tak ada yang kenal lelah, wajah imut dan gemas Rasyah membuat keduanya begitu bersemangat menghadirkan bayi diantara mereka.
Nakula tak melepaskan istrinya sama sekali, dia ingin membalas istrinya yang terus saja menggoda itu, satu jam berhenti, sudah cukup untuk memulai lagi.
"Ayaaank, sudah nafasnya habis!"
"Hem, kenapa bisa habis, kan belum lagi satu kali, ahahaha."
"Jangan aneh-aneh, nanti kamu lemas karena kehabisan stok bibit unggul!"
"Apa, mana ada?" Nakula tarik selimutnya. "Kamu sih buat panas, jauhan goda terus, buka ini itu, sekarang aku buka beneran, biar!"
"Ahahahahah, balas dendam, Ayank?"
Nakula mengangguk, dia dekap tubuh kecil itu, biarlah keringat mereka menjadi satu, efek anak kecil, semua ingin punya anak kecil.
**** season 3 otw
Marhaban Yaa Ramadhan semua oma-oma.....
Semoga mulai minggu besok, puasa kita dilancarkan dan penuh barokah, sehat, selamat, kuat, semakin istiqomah....
Bucil udah beli mie goreng aneka rasa, stok sahur minimalis, kalian juga ya, yuk!
__ADS_1