Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Tanpa Sadar


__ADS_3

"Anakku belum kembali, Jingga!" ayah mondar-mandir, tidak bisa tidur, mau melihat anak gadisnya pulang. "Bagaimana kalau terjadi sesuatu di sana?"


Ibu jengah, puluhan kali ayah mengatakan hal itu, bahkan kedua anak lelakinya harus begadang sampai anak gadisnya kembali.


"Jingga, anakku-"


"Sayang, suamiku, ayahnya anak-anak, dengarkan aku!" ibu ajak duduk, bisa pusing sendiri dia. "Anakmu itu sudah menikah, dia di hotel bersama suaminya, Nakula. Bukan keluyuran tidak jelas, dia bersama dan di tempat yang jelas, mau sampai kapan panik begini?"


"Nanti terjadi sesuatu padanya, Jingga!"


"Ya memang terjadi sesuatu, mereka baru menikah dan malam ini malam pertama mereka, apa kau lupa dulu di malam pertama kita yang tertunda itu melakukan apa, hem?" mau ibu gigit pria satu ini. "Sayang, kau sudah pernah menikah dua kali, apa itu tidak cukup untuk mengerti, suruh anak lelaki kita tidur, Aisyah pasti menunggu!"


"Aku tidak bisa, Bas harus menghukum Nakula kalau anakku kenapa-napa!"


"Ya ampun, sayang, Ayah!" ibu tepuk keningnya berulang kali, dia harus mencari jawaban yang tepat atau setidaknya alasan yang kuat. "Sayangku, Ayah dari anak-anakku, apa dulu setelah menikah itu ayahku datang padamu dan berkata AKSARA, KAU APAKAN ANAKKU SETELAH MENIKAH, HAH? Apa begitu?" suara melengkingnya terdengar lagi.


Ayah bergeleng, bahkan bersama mama kandung Baskara yang tak lain istri pertamanya saja, tidak ada yang protes, mereka mendukung penuh, pada istri keduanya ini pun sama, walau harus menunggu lima tahun, tidak ada yang protes padanya.


Kikuk, diam tanpa kata, kalah beradu argumen karena yang dikatakan istrinya semua benar, dia tak mendapatkan porsi yang tepat.


Perlahan ayah mendekat, ibu menunjuk pintu, meminta suaminya segera memberi perintah pada Baskara dan Saka agar mereka kembali ke kamar.


Mungkin Saka masih bebas, tapi Baskara ada istri yang sedang hamil menunggu di kamar, tentu Aisyah tak bisa tidur memikirkan nasib suaminya.


"Ayah yakin tidak apa-apa?" tanya Baskara memastikan.


Ibu muncul dari belakang punggung ayah, dia mengangguk dan berkata, "Kembalilah, dulu waktu Bas nikah sama Ais kan tidak ada yang protes malam pertama, jadi Ayahmu tidak boleh protes pada Sofi dan Nakula."


Glek,


Kalau sudah ibunya yang menjawab, itu artinya ayah dipastikan kalah, pria itu menurut berjalan di samping ibu sambil merengkuh bahu kecil berbalut baju hijau muda jtu.


Baskara mau tertawa, tapi ayahnya kalau dengar, bisa habis dia, sedang Aisyah sudah menunggunya di kamar, bahkan mau menjemput dan memohon pada ayah.


"Yanda mau marah sama Ais?"


"Tidak, Nda. Kan yang jadi alasan kamu benar, ayah saja yang berlebihan karena selama ini tahu sendiri, lebih suka tidur bersama Sofi dibandingkan hanya berdua dengan ibu, wajar ada yang hilang menurutnya."


Dan benar, di kamar utama itu seorang pria tengah berusaha mati-matian untuk tidur, dia dekap guling kesayangan anak gadisnya.


Berulang kali dia menoleh pada pintu, berharap matanya akan bertemu sang gadis tercinta, tapi harapan itu pupus sampai pagi.


Tuk, tuk, tuk ....


"Ayah, Ayah, eheheheh."


"Sof-Sofi?"


Shafiyah mengangguk, lantas ayah bangun dan memeluk, ini masih pagi buta dan anaknya baru kembali.

__ADS_1


"Kamu sudah makan? Suamimu mana?"


"Belum, aku mau makan bersama Ayah, bangun!"


"Iya, Sof-Sofi!" diakhir kata dia berteriak.


Hanya bayangan, bukan anaknya yang asli.


****


Huuummm,


Tanpa sadar akan gerakannya, membuat balutan selimut itu turun dan menampilkan tubuh polosnya, Nakula kembali memejamkan mata, entah kenapa semua yang ada pada istrinya itu adalah godaan baginya, jantung sontak berdebar dan yang di bawah sana harus dia tutupi sebelum Shafiyah melihatnya.


Pedang tumpul katanya sang istri, tumpul tapi bisa menancap.


Entah apalah itu, yang jelas Shafiyah menamainya dengan banyak nama, berganti fia sebutkan sepanjang malam sampai keduanya terpejam.


"Duuuh, melorot kan jadi kelihatan ini nya!" ujarnya sambil menoleh ke belakang, memastikan sang suami masih terlelap.


Toel, toel, toel ....


"Ayaaaaaank, bangun sudah bunyi alarmnya, tidak mau mandi?" sengaja tidak menaikkan selimutnya, justru menempel pada Nakula, membuat dada mereka saling bertemu.


Huh, istrinya ini oh no oh no memang.


Nakula mengerjap, dia sejenak menguap sambil mengangguk, matanya sengaja dia sipitkan, tidak mau terpancing atau pagi ini mereka akan terlambat melakukan apa saja.


"Hem?" jangan bilang mandi bareng, dia jadi yang takut. "Kenapa, Shaf?"


"Kamu mau mandi sendiri, tidak mengajakku?"


Lihat, membiarkan tubuhnya terbuka di depan suaminya, tidak tahu suaminya mati-matian menahan diri demi kelancaran kewajiban hari ini, mereka pun harus kembali ke rumah Shafiyah.


Tapi, penolakan Nakula tak berarti apapun, Di mengaku kalah pada istrinya itu, hanya mandi bersama, dia akan ajak dan penuhi permintaan samar istrinya.


Gemericik air yang mengguyur tubuh kecil berisi itu terdengar begitu manja di telinga Nakula, dia berhenti berulang kali mengusapkan sabun di tubuhnya, membelakangi sang istri agar tidak terlihat pedang yang tengah siap menyerang itu.


Ini masih pagi dan wajar baginya melapor bangun, Nakula alihkan pikirannya ke hal lain.


Hup,


"Shaf-"


"Aku gosok sini tubuhnya, Ayank!"


Astaga, terlihat sudah kalau dia mau perang.


Shafiyah menganga, antara takjub dan takut, tapi kedua tangannya turun ke sana, menyentuh benda yang sudah membuatnya menjadi mantan perawan, seketika wajah Nakula memerah.

__ADS_1


Tahan, tahan, tahan Nakula.


Dentuman hebat terus saja mengoyak pertahanannya, tangan itu tak mau jauh, terus menyentuhnya dan bahkan memberikan pijatan.


"Dia empuk ya, pantas bisa masuk."


"Shaf, mandi ayo!"


"He, hem ... aku mau ini!" menoel pedang mainannya.


Oh, tidak.


Nakula berjengit hampir berteriak karena tangan istrinya itu, tanpa menunggu lama dan waktu terus berjalan, dia geser tubuh itu, dia sandarkan dan angkat kedua kakinya.


Sudah, acara mandi bersama yang Shafiyah inginkan terpenuhi juga.


"Aku pakai rok atau celana?"


Nakula menoleh, dari sekian baju yang Shafiyah bawah, entah kenapa dia lebih tertarik pada baju panjang yang setidaknya menutup tubuh itu, walau istrinya itu masih belum siap membungkus kepalanya seperti Aisyah.


"Yang ini, tapi Ayank ... aku kelihatan pendek kalau pakai ini, hem?"


"Tidak apa, yang pentingkan bagaimana mataku menilai, bukan mereka, mau ya ...."


Shafiyah mengangguk, dia kenakan apa yang suaminya pilihkan, bercermin sebentar sebelum akhirnya mereka sarapan bersama, hanya di kamar karena mereka akan ke luar setelah semua sudah Nakula kemasi.


"Enak?"


"Hem, lumayan."


"Nanti, di rumah aku masakin buat kamu, sementara diisi ini dulu ya," balas Shafiyah.


"Iya, jangan banyak pekerjaan, nanti capek."


"Heeeemm, kalau capek, aku masih bisa kok olahraga malam sama Ayank, eheheheheh."


Heuh, what?!


Uhuk, uhuk, uhuk ... Nakula.


***


Ayah "aku sedih, Bucil."


Bucil "aku ya sedih, pagi2 udah sedih."


Ayah "Lah, kenapa? waktunya bayar utang?"


Bucil "Duh, pikiranmu kok utang aja, aku ini lagi mikir pagi2 nopel di siInn si Dudamudaku, dissaproved, sedih, mau nangis!"

__ADS_1


Ayah - ambil galon-galon air, buat wadah air mata.


__ADS_2