Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Ganti Rugi


__ADS_3

"Menyingkir, A-isyah!" titah Baskara dengan wajah memerah.


Brengsek, siapa yang berani menyampur minumanku dengan obat sialan ini, kurang ajar!


Dia ingat menerima minuman rasa-rasa di pernikahan Sena.


Aisyah mundur menjauh, dia duduk terpojok di depan pintu kamar mandi. Berulang kali Baskara memukulkan tangannya ke dinding kamar hotel ini, menarik tirai sampai pengaitnya rusak dan berhamburan, menendang meja kecil dan melempar kursi dengan penuh amarah.


Bahkan, tangan itu sudah berdarah-darah.


Bruk!


Baskara melempar dirinya sendiri ke ranjang, menendang-nendangkan kakinya sampai bantal dan selimut yang sudah Aisyah lipat itu berjatuhan.


"Panas, A-isyah!" keluhnya berteriak.


Aku harus apa?


Aisyah bingung, ketika dia mendekat, dia akan diusir, tapi saat dia menjauh, dia akan dipanggil dengan keluhan seperti ini.


Baru satu jam tenang dengan genggaman di tangannya, mendadak Baskara berubah menjadi seperti orang kerasukan, mengeluh panas dan sakit, tapi tidak jelas sakitnya di mana, sudah Aisyah tanya berulang kali, yang ada dia harus menutup telinga karena Baskara berteriak di depannya.


"Panas, A-isyah, panas!" mengeluh lagi. "Mana selimutnya, pakaikan, A-isyah!"


Aisyah lantas berdiri, melakukan apa yang Baskara inginkan, membuat tubuh besar itu mirip lontong daun, dua lapis selimut terpasang di tubuh Baskara, dia mengeluh panas, tapi meminta dipakaikan selimut sampai dua lapis, keringatnya tak berhenti mengucur sama sekali.


"Kakak, kenapa?" sudah mau menangis. "Aku panggil dokter ya?"


Baskara menggelengkan kepalanya, dia meminta air dingin banyak pada Aisyah.


"Aku tidak mau, ini jahat namanya!" Aisyah menolak.


"Siram ke wajahku, A-isyah, cepat!"


"Tapi-"


"Lakukan!" titah Baskara dengan mata tajam yang memerah.


Aisyah guyurkan air itu, berulang kali dia berlarian dari kamar mandi ke ranjang, sampai-sampai dia dua kali terpeleset dan menangisi kakinya yang sakit, tapi masih lebih parah suaminya, dari rambut sampai bahu basah semua, itu air dingin dan bahkan sangat dingin karena terus Aisyah hidupkan pendinginnya.


"Kakak, sudah ya ... aku tidak tega!" air matanya bercucuran, dia seperti orang gila satu malam di hotel ini.


Baskara hanya mengangguk lemah, air mata Aisyah yang menetes dan ikut jatuh di wajahnya jauh lebih dingin dibandingkan berliter-liter air yang terguyur di kepalanya tadi, ingin dia usap, tapi tubuhnya terbungkus selimut, sekali dia lepas, dia yakin tidak akan terkendali karena obat sialan itu.


Maaf, A-isyah. Hanya dengan ini, aku melindungimu!

__ADS_1


Setelah Baskara tenang, pelan-pelan Aisyah keringkan rambut sampai bahu Baskara yang dia guyur tadi, dua handuk dia kenakan yang ada di kamar mandi.


Sungguh, dia belum berhenti menangis, bahkan ingin memukul tangannya sendiri, bagaimana bisa dia memperlakukan suaminya kejam seperti ini, dia guyur berulang kali tanpa tahu suaminya kenapa.


Wajah Aisyah masih membekas air mata, matahari yang mulai tinggi dan jendela kamar hotel yang tak berpenghalang membuat sinar mentari langsung menampar wajah Baskara.


Mata tajam itu terbuka, baru dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama tangan, seperti baru kecelakaan hebat saja.


Kenapa berantakan begini? Semalam pasti menggila, brengsek, obat sialan!


Mendengar keluhan lirih Baskara, Aisyah segera ke sisi ranjang, takut-takut dia mendekat, naik ke ranjang dan membuka ikatan selimut itu, dia pastikan demam yang ada, tampak sekali dia takut.


Bibirnya yang berkedut bisa Baskara ingat jelas, itu gaya Aisyah kala menahan isak tangis.


Dulu, saat dia baru kembali dari masa pendidikannya di kota asing lain, semua keluarga menyambut dan dia berikan hadiah karena telah menyambutnya, dia sengaja tak memberikan Aisyah apapun.


Aisyah lantas berlari ke taman belakang rumah, duduk di ayunan seorang diri dan menunduk ketika dia datang, setelah sebelumnya tampak bibir Aisyah berkedut dan pipinya mengerut, dia menahan isak tangisnya.


"*Ini untukmu!"


Aisyah mengambilnya cepat, dia buka cepat juga.


"Kamu suka?"


"Buatkan aku satu yang bagus, jangan menangis lagi, nanti cepat tua!"


Aisyah mengangguk, dia memang tidak pernah memandang Baskara berlebih, tapi dia kenal suara Baskara*.


Kini, di dekatnya Baskara lihat lagi kedutan di bibir itu. Begitu lilitan selimutnya terlepas, dia angkat satu tangannya, dia usapkan di pipi Aisyah dengan gerakan pelan.


Hiks,


Aisyah tutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, sungguh dia menangis lagi, kali ini di depan Baskara yang sudah sadar, pengaruh obat sialan itu membuat dirinya tidak terkendali, hampir saja dia melakukan hal yang akan menyakiti Aisyah seumur hidupnya.


"Buatkan aku teh, A-isyah!" pintanya.


"Iya." dia hapus air matanya, bergegas membuatkan apa yang Baskara mau. "Gelas ini bekasku, gelas Kakak sud-sudah pecah."


Apa!


Baskara ingin tertawa rasanya, Aisyah semanis itu kalau sudah takut dan menyesal.


"Tidak apa, berikan padaku, aku haus!"


"Iya," sahut Aisyah, gemetar-gemetar dia buat, lalu dia bantu minum seperti semalam. "Tangannya-"

__ADS_1


"Di mobil ada kotak obat, nanti aku ambil."


"Biar aku saja," cetus Aisyah.


Baskara teguk teh itu dulu sampai tandas, kemudian dia bergeleng, dia sudah lebih baik, hanya tangannya yang perih, kamar hotel ini seperti kapal pecah.


"Aku saja, aku tahu mobilnya Kakak yang mana!"


"Duduk, A-isyah!" titah Baskara melarang. "Mau menunjukkan ke petugas hotel, wajah kusutmu itu, hah?"


Aisyah sontak meraba wajahnya, berlari ke kamar mandi, ingin dia pastikan yang Baskara katakan itu, wajahnya kusut setelah banyak menangis, sementara Baskara ke luar kamar hotel untuk mengurus semuanya sekaligus mengambil kotak obat.


Tadi, sempat dia dengar suaminya tertawa, begitu samar, tapi dia yakin Baskara menertawakan ulahnya, hati Aisyah menghangat seketika, lama dia tak mendengar tawa Baskara yang begitu tulus, dia benar-benar tertawa tadi.


***


"Kaos kaki?" Baskara memijak remnya. "Semalam saat aku demam, yang kamu pakai bukan handuk, tapi kaos kakimu?"


Aisyah mengangguk, dia takut, tapi dia harus mengaku, lagipula saat ini dia tak memakai kaos kaki, yang sebelumnya kotor dan satu pasang lagi basah, kakinya tidak nyaman tanpa itu.


"Huh, sekarang kamu minta berhenti ke mini market ini, mau minta ganti rugi ke aku?" Baskara berdecak tidak percaya. "Minta ganti rugi, A-isyah?"


Iya, Kak!


"Kakiku seperti tidak ada kalau aku tidak memakai kaos kaki, Kak." Aisyah tunjukkan kedua telapak kakinya yang tertutup rok itu


Astaga, ahahahahah.


"Beli sana!"


"Tidak mau."


"Katanya mau minta ganti rugi, ini uangnya, beli sana!"


Aisyah masih menolak, dia bergeleng tidak mau, dia tidak terbiasa di luar rumah tanpa kaos kakinya, tidak nyaman.


"Apa! Ahahahahaha ... jadi, aku juga yang harus mengantri beli?"


"Iya." Aisyah memalingkan wajah, malu dan takut.


Baskara raup wajahnya dan tertawa kencang, mobil pun serasa ikut bergerak.


Jeglek,


"Tunggu sini, jangan ke luar!" titahnya, dia akan mengantri.

__ADS_1


__ADS_2