Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Serba Malu


__ADS_3

Plak, plak, plak!


"Tumben malam ini banyak nyamuk ya, Nur!" tangannya sampai merah-merah. "Mana lotionmu, Nur, minta!"


Bik Nur gigit dulu bekas bekas di tangannya, nyamuk besar-besar menyerang mereka seolah haus akan darah.


"Sekarang malam apa sih, Nur, kok sampai banyak nyamuk? Apa lagi musim pindahan, terus mereka pindah rumah?"


"Mana ada begitu, kamu ini, Mang!" Bik Nur ikut memakai lotion anti nyamuk, bahkan ruas jari sampai dia oleskan. "Nyamuk jaman sekarang sukanya gigit yang sempit-sempit, ketiak digigit, apa tidak asam?"


Plak, plak, plak!


Dua orang di rumah belakang sibuk dengan nyamuk yang bak pindah rumah itu, banyak dan berbondong-bondong menyerbu keduanya, padahal sudah memakai lotion, tapi masih saja diserang dan itu membuat mereka sulit tidur.


"Mau ke mana, Mang?"


"Lihat rumah depan, siapa tahu tuan tidak bisa tidur kena nyamuk, Nur."


"Heh, jangan!" bik Nur lantas berbisik meskipun di sini hanya ada mereka. "Tuan kan baru pulang, tidak lihat apa tadi non Ais dandan cantik, jangan ganggu!"


"Aku tidak melihatnya, kalau melihat non Ais kan dilarang sama tuan, Nur." dia bergaya mengeluarkan tembak. "Heh, Mang ... sudah siap mati?"


"Ahahahahahaha ...."


Di rumah utama, lebih tepatnya kamar utama, dua orang yang lagi dimabuk cinta itu masih sibuk dengan selimut mereka, saling berebut untuk membuka satu sisi dan sisi lainnya.


Baskara berguling ke samping, tangannya meraba mencari satu selimut kecil untuk dia bawa ke kamar mandi, tubuhnya basah kuyup seperti baru hujan-hujan saja.


"Kakak, jangan mandi!" bibirnya mengerucut.


"Hah, kenapa?" masih mengatur napasnya. "Nanti lengket semua badannya, A-isyah, keringat semua ini!"


"Tidak, jangan!" dia tahan, ditarik tangannya supaya masuk dalam satu selimut lagi. "Mandinya nanti saja," ujar Aisyah memimpin.


Baskara mengangguk, dia ikut masuk ke selimut itu, bibirnya bahkan mendarat lagi ke bahu Aisyah, dia mainkan sampai Aisyah geli sendiri.


Kalau Kakak mandi, nanti minta lagi, kan kakinya Ais sakit. huhuhuhu ....


Namun, kebiasaan Baskara tidur dalam kondisi tubuh bersih tidak membuatnya betah berada di dalam satu selimut bersama Aisyah, dia bergeser sedikit demi sedikit, melirik Aisyah, lalu mengambil jarak saat istrinya itu tidak sadar.


Aisyah tengah menikmati kedutan di tubuh bagian bawahnya, mau bergerak rasanya seperti terkena tembakan saja, kalau dia diam, nyerinya semakin menjalar juga, kaku semua.

__ADS_1


"Kakak mau ke mana?" bertanya lirih.


"Mandi, aku tidak bisa tidur tanpa mandi, A-isyah."


"Jangan mandi!" masih tidak memberikan izin.


"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mandi?"


Aisyah tutup wajahnya, menarik selimut sampai ubun-ubun.


"Nanti, selesai mandi pasti kedinginan, kalau dingin pasti Kakak minta lagi, kan sudah dua ini, Ais mau bernapas," jawab Aisyah menggerutu di balik selimut.


Hah?


Wajah Baskara syok, dia dilarang mandi karena alasan konyol itu, konyol tapi dia benarkan.


Tadi, usai ronde pertama selesai, dia tidak bisa tidur bila tubuhnya basah dengan keringat, lalu dia mandi, setelah mandi bertambah dingin, akhirnya masuk ke selimut Aisyah dan menempel seperti benalu, dia terpancing lagi dan memulai membuat api unggun kedua kalinya.


"A-isyah, hei!" Baskara tarik-tarik selimut yang menutupi wajah Aisyah, dia mau menertawai diri sendiri, ganas sekali dia. "A-isyah, ahahaahahah, iya aku tidak akan minta lagi, buka dulu wajahnya!" mengaku juga.


Masih baru pertama, dia sudah melepas peluru dua kali, Aisyah mode ngambek.


"Hei, buka selimutnya!" Baskara paksa, begitu dibuka, dia ciumi wajah Aisyah. "Ahahahaahahah, sungguh ini mandi selesai langsung tidur, A-isyah!"


Baskara mengangguk sambil tertawa, jatuh sebentar menyembunyikan wajahnya ke dada Aisyah, malu mengudara, dia punya cadangan tenaga yang ekstra rupanya, bisa jadi tebakan Aisyah benar, segila itu dia rupanya.


***


Bruk!!


"A-isyah!" berlari cepat.


Aisyah jatuh telungkup, tidak mau bangun sekalipun Baskara tarik dan bantu berdiri, bahunya terguncang menyembunyikan tawa.


Dia malu, ada bik Nur dan mamang, sedang dia berjalan merambat berpegangan pada sisi tembok, lalu terjatuh karena kakinya masih terasa tidak nyaman.


"Hei, bangun kok!" Baskara paksa, ia takup wajah Aisyah yang memerah.


"Ais malu, ada bibik!" bisiknya sambil menahan tawa, sembunyi di dada Baskara, tidak mau bergerak. "Gendong!"


"Ahaahahaahahah ..." Baskara cium singkat pipinya. "Digendong makin bikin bibik dan mamang curiga, jalan saja, aku pegangi, A-isyah!"

__ADS_1


"Jangan, Ais dikira nenek-nenek nanti, Kak!"


Malu, sumpah dia malu untuk sekadar berdiri dan berjalan di depan kedua orang maid di rumahnya itu, apalagi tadi baru beberapa langkah sudah jatuh, pasti bik Nur dipenuhi tanda tanya.


Sebagai bentuk tanggung jawabnya, Baskara angkat dan gendong Aisyah yang masih sembunyi di dadanya itu, dia kembalikan ke kamar sambil bersenandung.


Bik Nur sontak memutar bola matanya, memperhatikan tembok rumah, memastikan tak ada yang retak karena majikannya mendadak bersenandung dan menggendong sang istri.


"Tuan, apa perlu saya bawakan sarapannya non Ais ke kamar atas?" Bik Nur menyerbu Baskara yang kembali turun.


"Biar aku saja, Bik. Dia lagi manja, biasa rindu suaminya tidak pulang tiga hari, eheheheheh."


Plak!


Bik Nur tampar wajahnya sendiri pelan, aku tidak sedang bermimpi kan ini?


Dengan kedua tangannya sendiri, Baskara ambilkan menu sarapan dalam satu nampan penuh beserta minuman segar di pagi hari kesukaan Aisyah, lalu dia berjalan ke kamar, tak lupa bersenandung dan banyak-banyak menebar senyuman, bahkan tembok dia ajak berbicara dan bernyanyi seolah tengah duet saja.


Apa di luar hujan deras atau mungkin mau ada angin beliung di kota ini, kenapa Tuan berubah selayaknya manusia normal?


Bik Nur jinjing roknya, berlari ke depan mencari teman sejawat yang bisa dia ajak berdebat soal perubahan Baskara, mamang harus ikut memikirkan perubahan ini sebelum rumah rata dengan tanah.


Satu senyuman Baskara, bisa membuat tembok rumah ini retak.


"Kakak, ini banyak sekali, Ais tidak pernah makan sebanyak ini loh," Aisyah mau mati melihat piring-piring penuh di depannya.


"Kamu kan sedang lemah, letih, lesu, jadi harus banyak makan supaya bertenaga." penuh percaya diri mau menyuapi Aisyah. "Makan, A-isyah. Mulai hari ini kamu harus mengurus satu raja hutan, jadi makan yang banyak!"


Hup, Aisyah lahap.


"Jongon bonyok-bonyok!" jangan banyak-banyak maksudnya, mulut Aisyah penuh.


Baskara manggut-manggut, dia iriskan daging lagi, lalu dia tumpangkan ke nasi.


"Kunyah halus, lalu telan. Ayo, buka mulutnya lagi, A-isyah!"


Aisyah bergeleng, dia mau demo.


Tidak mau!


"Kakak, aku sudah kenyang!"

__ADS_1


"Bagaimana bisa hanya empat suap itu kenyang, A-isyah?" heran. "Makan lagi, kan hari ini aku cuti, ehehehehe," ujarnya tersenyum licik.


Aaaauunnggg!!


__ADS_2