Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Lelah Menuruti Wanita


__ADS_3

Rambut coklat dibuat basah setiap pagi, ralat, bukan dibuat, tapi memang dibuat oleh pemiliknya begitu, dia yang menggoda suaminya untuk terus melakulan program. membuat bayi.


Nakula bahkan mengeluh pusing setiap pagi karena harus banyak cuci rambut, lalu di malam harinya dia jarang tidur, bagaimana tidak, guncangan istrinya begitu menggoda dan membuat dia betah begadang.


"Sof, suamimu sakit?" tanya ayah sambil melirik menantunya.


"Tidak, dia hanya pusing biasa mandi air dingin, Ayah. Ayah sendiri masih sakit, tidak? Kalau sakit, nanti sama Sofi, kan Kak Ula kerja, aku di rumah sendiri sama Ayah dan Ibu," jelas Shafiyah.


Ayah terkekeh, mau dia julurkan lidahnya pada Nakula, hanya saja terlampau kasihan, anaknya itu benar-benar keturunannya di mana sangat berkuasa dan punya tekad yang tinggi.


Pagi ini, selain melayani suaminya, dia juga melayani sang ayah, dua hari Nakula cuti dan semua waktu itu dia habiskan bersama suami saja, sedangkan ayahnya hanya bersama ibu dan menahan rindu pada boneka hidupnya itu.


"Ayank mau nambah?"


"Sudah, cukup. Kamu jangan lupa sarapan juga, jangan minum susu saja!"


"Iya, ini makan barengan sama kamu dan Ayah, Ibu mana kak Ais?"


Ibu menoleh ke atas kamar Baskara, belum ke luar sih dari tadi, biasanya Baskara dan Aisyah akan lebih dulu, tapi kali ini tak ada pesanan khusus dalam masakan maid dari Aisyah.


Tak lama, suara pintu itu terdengar, Baskara masih memakai kaos tidurnya, belum berganti ataupun mandi.


"Bas, katanya kerja!" seru ayah.


Baskara gosok-gosok kedua matanya, masih memerah karena tidak bisa tidur selepas berperang dengan Aisyah, dia justru dibuat tidak bisa tidur karena banyak yang Aisyah mau, ini juga salahnya karena mengganggu tidur Aisyah dua kali, lalu berikutnya dia yang dibuat tidak tidur.


Dia berjalan turun dengan langkah malasnya, duduk lemas di dekat ibunya dan meletakkan kepala ke bahu kecil nan nyaman itu. Ibu usap kepala dan pipi anaknya itu, sudah paham kalau anaknya begini, artinya mau pergi ke kantor siang, entah lelah karena apa, malu kalau dijelaskan di meja makan.


"Heh, kerja jam berapa?" ayah yang tidak tenang di sini, tidak suka kalau istrinya dikuasai sang anak, selalu cemburu, kan Baskara sudah menikah, mana Saka sudah pamit pagi ini lebih dulu, dia harus segera terbang, buru-buru ibu membuatkan bekal tadi. "Heh, Bas!"


Baskara sontak mengangkat wajahnya, menoleh pada ayah dengan menunjukkan mata merahnya itu, sebentar lagi, itu yang dia minta pada ayahnya, kesempatan untuk tidur lagi.


"Aisyah masih tidur?"

__ADS_1


Baskara mengangguk, dia kembali bersandar pada ibunya, meminta suapan dari ibunya yang semakin membuat ayah cemburu.


Dan terjadilah peperangan dingin di meja makan itu, ayah cemburu kalau Shafiyah melayani Nakula terus, ayah pun cemburu pada ibu yang menuruti kemauan Baskara untuk makan bersama.


Giliran semua sudah habis, ayah belum sendiri, dia sengaja memancing dua wanita ini, siapa yang akan melayaninya.


"Yah, jangan ngambek gitu!"


"Biar, kalian tidak peduli padaku!" ujar ayah.


"Mana mungkin aku tidak peduli pada Ayah, aku peduli ya, sini sama aku ini makannya, aku suapin Ayah ya, Ayank kamu ambil minuman sendiri!" melirik suaminya agar bergerak cepat, terlihat mandiri di depan mertua.


Nakula segera bertindak, menunjukkan kalau tidak butuh sang istri untuk sekadar mengambil minum, baru ayah mau menerima suapan dari Shafiyah.


"Hem, gini kan Ayah pinter, jangan buat aku sedih kalau Ayah tidak mau makan, aku bisa sedih sampai sakit loh!"


Ibu ikut mendekat, meminta Baskara paham akan marahnya ayah, nanti kalau pria itu sakit lagi, kan Baskara sendiri yang mudah tersentuh, nangis-nangis nanti malam sama ibu, takut ayahnya kenapa-napa.


Selesai Shafiyah bantu makan, ibu yang melayani minumnya sampai ayah merasa puas dan dialah rajanya di sini, hanya ayah.


"Iya, Bas. Tapi, sumpah aku ngantuk, ahaha, capek banget. Boleh tidak kalau di sana aku tidur siang nanti?"


"Boleh, aku ya bakal tidur, ngantuk gara-gara ibu hamil!"


Nakula terkekeh, mereka beradu tos berdua, nanti karena masih baru pertama masuk, jadi mereka punya kesempatan bekerja santai sedikit.


"Nanti, ketemu di ruangan istirahat ya, jangan lupa absen!" Baskara dapatkan teman sehati.


Jeglek,


Baskara sapu seisi kamar, ibu hamil itu sudah tidak ada di ranjangnya, suara gemericik air yang mengundang rasa penasaran Baskara, ibu hamil itu tidak menutup pintu kamar mandi dengan benar.


"Nda, nanti ada tikus masuk loh!"

__ADS_1


Aisyah matikan kran airnya, "Tikusnya ya Yanda, siapa lagi!"


"Ahahahahah, buruan selesaiin, Nda. Kamu belum makan loh, ibu sama ayah khawatir!"


"Iya, sudah sana, Yanda jangan ngintip terus!" Aisyah percikkan air ke arah suaminya, baru Baskara mau menyingkir, menutup pintu itu dengan benar.


Huh, tubuh istrinya semakin berisi dan menggoda memang saat hamil, sungguh menggemaskan.


Sabar menunggu ibu hamil itu mandi, dia berbaring sambil memejamkan mata, tak terasa begitu nyaman dan dia terlelap, dengkurannya sampai ke telinga Aisyah.


"Yanda, hei ... kasihan tidak bisa tidur semalam sampai pagi, sekarang ngantuk dia, terus kerjanya bagaimana, Yanda, hei!" dia tusuk-tusuk pipi Baskara, yang ditusuk hanya bergumam.


Di kamar sebelah, juga terjadi yang sama, Shafiyah temukan suaminya tertidur, tidur sambil duduk di samping lemari, mau mengambil jas, yang ada ketiduran.


"Ya ampun, suaminya Sofi ini ketiduran di sini, padahal tadi bilangnya mau ke kantor, malah tiduran di sini, dasar kok!"


Susah payah Shafiyah tarik menuju tepi ranjang, tubuhnya yang kecil sangat tak berimbang di sini, nafasnya dibuat memburu oleh suaminya, berat dan berat.


"Ayank, kamu doyan makan apa sih sampai berat begini, makan daging unta ya?" omelnya, tapi terus berusaha menarik. "Untung Sofi tidak jadi peyek waktu kamu tindih, ya ampun ini berat loh, dia tulangnya gabungan sama semen kali ya, Ayaaaankk, berat!"


Tidur, baik Baskara maupun Nakula tak ada yang mau membuka mata, sudah dibangunkan berulang kali rasanya mereka enggan bangun, mata itu lengket satu sama lainnya, dibuka sedikit sudah merah dan perih.


Aisyah tampak ke luar kamar, dia usap perutnya sembari menyapa ayah dan ibu, keringat di keningnya menjadi tanda tanya, begitu juga Shafiyah yang ikut berjalan di belakang Aisyah, dua gadis yang sudah jadi istri ini seperti baru melakukan hal berat saja.


"Ayah, apa semua lelaki itu berat?"


"Apa maksudmu?" ayah menoleh pada putrinya.


"Ayah, kak Bas tidak bisa kerja hari ini, dia tidur!" ujar Aisyah.


"Hah?" Ayah semakin bingung.


"Kak Bas tidur, kenapa bisa sama dengan suamiku, mereka habis kelelahan apa sih?" Shafiyah berkacak pinggang, lupa sendiri apa salahnya, Aisyah pun begitu.

__ADS_1


"Ayah tidak tahu maksud kalian!" putus ayah frustrasi.


__ADS_2