Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Menahan Diri


__ADS_3

Tidak berniat menyebarkan berita bahagia ini, tapi yang namanya tinggal di desa, tentu saja merahasiakan kabar bahagia sangatlah sulit, terlebih lagi Aisyah dan Baskara sangat aktif selama tinggal di sini.


Banyak warga yang datang ke rumah mereka, mulai dari siang sampai malam hari, bergantian dan baru berhenti ketika Aisyah terlelap tanpa sadar.


Sedangkan, Baskara baru memulai video call bersama keluarga di ibu kota.


"Ayah sama Ibu mau jemput ke sini?" Baskara tidak percaya.


"Iya, Ibumu bilang kalau Bas nyupir sendiri nanti bingung, tidak konsen, jadinya kita sewakan mobil buat jemput kalian, nanti biar supir yang urus mobil kamu di sana, kakekmu sudah ke rumah?"


"Sudah tadi, Yah. Rima yang masih ada di sini, dia di kamar sama A-isyah, biar saja A-isyah ada temannya." Baskara tunjuk kamar yang terbuka sebagian itu.


Ayah tersenyum, dia ingin melihat wajah menantunya yang akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan, sudah lama dan sudah banyak yang Aisyah lewati, begitu tajam mengusik pertahanan mentalnya, terlebih lagi bila berhadapan dengan orang yang terlibat di masa lalunya.


Karunia ini tak akan ayah biarkan lewat, dia sudah mengurus persiapan untuk syukuran bila menantunya sudah kembali, semua dia akan jaminkan aman.


"Nak," sapa ayah.


Rima ikut menyapa di sana, memanggil ayah dengan nama karena mereka satu generasi.


"Yah, Ais-"


"Sudah, jangan nangis. Kalau kamu nangis, yang ada suamimu itu Ayah hukum, tahu tidak?"


"Iya, maaf. Kapan Ayah ke sini?"


"Nanti, kalau kalian mau pulang, kami jemput, Sofi sudah tidak sabar ini, nangis minta kalian cepat kembali, anaknya sudah tidur." ayah usap-usap pipi boneka hidup yang tidak bisa jauh darinya itu.


Aisyah intip wajah Shafiyah, kalau dia punya anak perempuan, dia mau wajahnya seperti Shafiyah, manis, cantik dan lucu gemas ada di sana semua, terlebih lagi tingkahnya yang aktif dan cerdas.


"Ya sudah, kamu sama Rima di rumah kalau Bas kerja, jaga diri dan jangan banyak gerak yang berat, nanti suamimu yang Ayah hukum!"


Ancaman yang penuh akan kesungguhan, Aisyah tertawa sambil memeluk Rima, bibinya yang masih sangat muda itu.


Tawaran menginap Baskara katakan pada Rima, tapi karena rumah ini dekat dengan rumah Rima, dia putuskan esok hari akan berkunjung ke sini sampai Baskara pulang, begitu juga ibunya akan ikut menjaga Aisyah, walau bagaimana pun juga anaknya Baskara adalah cucu mereka juga.

__ADS_1


Aisyah perbaiki posisi tidurnya, meletakkan bantal di dekat pinggang, sejajar terus membuatnya letih, ingin ada perubahan, tapi tak diizinkan banyak gerak.


Mata mengintai suaminya tak bisa dia kecoh sama sekali, setiap pergerakannya akan mendapatkan peringatan dari Baskara.


"Uh," pekik Aisyah, dia memiringkan tubuhnya ke kiri.


Uh?


******* itu membuat Baskara merinding, menahan diri ternyata berat juga, terlebih lagi istri sedang hamil muda, jam puasanya ditambah setelah ini.


"Mmmmm, bosan hadap sini." lagi.


"Uuhhhhhhh, dinginnya." lagi.


Baskara berdiri, dia alihkan pandangannya, berniat memakai earphone, tapi dia lepas lagi, takut tidak bisa mendengar permintaan istrinya.


Gerakan Aisyah di kasur itu seperti cacing yang menggeliat kepanasan, padahal dingin. Nah, dingin ingin dia panaskan.


BASKARA!


"Kak!" Aisyah terkejut, Baskara sudah berbaring di sampingnya, menendang selimut dan membuat Aisyah hanya berlapis daster panjang saja.


Eh, eh, eh!


Kelabakan yang memakai daster, lehernya diserang tanpa henti, naik ke telinga, pindah ke pipi, lalu berhenti di bibir cukup lama sampai Aisyah mual.


Pada akhirnya, Baskara lari mengambil baskom.


"Perutnya aku kasih minyak, Nda!"


"Tidak, aku saja. Nanti, Kakak colek-colek!'


Mata Baskara melebar, tahu saja kalau dia suka colak-colek perut ke atas dan ke bawah, berjanji tidak akan melakukannya sangat diragukan Aisyah.


"Sini aku usap saja, pasti lebih enak kalau aku yang usap, Nda!" masih menawarkan diri, tidak tahu kalau air liurnya mau menetes melihat kulit perut Aisyah. "Nda, biar aku saja!"

__ADS_1


Aisyah berikan, tapi dengan satu syarat, tidak ada colak-colek, dia ya takut terpancing nanti.


Tangan hangat Baskara mengusap, mengoles minyak hangat ke perut dan sepanjang pinggang, begitu nyaman Aisyah rasakan, dia jadi berbalik agar suaminya meneruskan sampai mengoles ke sisi punggung, naik ke dada dan leher. Baskara turuti, dia pun lega sekaligus melatih pertahanan dirinya agar tak mudah tergoda oleh Aisyah, menyentuh seperti ini membangkitkan hasratnya juga, jadi dia harus latihan.


"Enaknya, Kaaaaak, dipijitin kamu, Ya Rabb!" Aisyah rasa mualnya hilang karena sentuhan sang suami.


"Enak juga kalau kamu itu-" Baskara hentikan ucapannya, kalau berlanjut bisa jadi membuat anak mereka. "-Nda, aku ke dapur sebentar, kamu ditinggal tidak apa-apa, kan?" dia harus pergi, menjauh sejauh mungkin kalau bisa, bersembunyi sampai yang di bawah sana tenang, kalau perlu dia mandi air dingin malam ini.


Tapi, aku mau memeluk A-isyah, kakiku tidak mau pergi dari sini!


Paksa, Baskara paksa kakinya melangkah setelah Aisyah mengangguk, ini godaan terberat. Bukannya ke dapur, Baskara berdiri di depan kamar mandi, mencoba mencerna apa maunya sendiri, dia bilang ke dapur, tapi berhentinya di kamar mandi, melihat sabun jadi ingat ocehan ketiga temannya itu, belum lagi pamannya.


Apa aku sudah gila? Aku pasti gila kalau sampai meniru mereka!


Maju atau tidak, mundur tapi mau, listriknya tegang, mau disalurkan, keringatnya sudah mengalir deras, bukan menetes lagi.


Tidak, aku kembali saja ke kamar, tapi nanti kalau aku menyerang A-isyah bagaimana?


Bingung, memutar tubuhnya yang berat ke tujuan utama, dapur dengan semua bahan yang bisa dia olah menjadi apa saja, termasuk mengguyur tubuhnya dengan air kran di sana.


Panas!


"Ah, aku buat lemon saja, sepertinya malam-malam buat lemon itu enak, iya, lakukan, Bas!" menyemangati dirinya sendiri, bibir berbeda dengan hatinya, bilang lemon, yang dipotong itu semangka, membuat es semangka viral.


Merah, semangka merah merekah, dia semakin teringat akan bibir Aisyah.


Hentikan!


Duduk di pojokan dapur, melipat kedua kakinya, tersiksa sendiri, dia tidak pernah se-gila ini, padahal Aisyah kerap berpuasa, dia biasa saja, kali ini herannya dia tersiksa.


Ini bukan setengah hari, tapi setiap hari, aarrrgghhhhhh!


"A-isyah, aku mau A-isyah!" berdiri, lalu duduk lagi, mengunci kedua kakinya. "Tidak, Bas, jangan sakiti istri dan calon anakmu, tidak, tahan, satu bulan itu sebentar!"


Sebentar kepalamu!

__ADS_1


__ADS_2