Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Ajarin Sofi Pakai Ini!


__ADS_3

"Saka, Nakula mana?" Baskara memburu adiknya bersama sang anak yang ada di gendongan.


Saka menunjuk teras luar, "Kenapa, Kak?"


"Sofi mual muntah itu, dia lemas, lebih baik dibawa ke kamar saja," jawabnya.


Tak menunggu Baskara memanggil Nakula, sebagai kakak yang sudah menjadi tugasnya menjaga sang adik, melihat Baskara yang tak mungkin mengurus Shafiyah karena menggendong Rasyah, Saka sendiri yang berlari ke ruang tengah itu, adiknya menunggu dengan wajah pucat.


Kedua tangannya melingkar di leher Saka, berpindah ke gendongan dan Saka antar ke kamar, sementara Baskara tetap memberitahu Nakula agar menyusul ke kamar Shafiyah, mungkin ada yang Shafiyah butuhkan.


"Kantongnya biar Kakak buang, kamu butuh apa lagi, Dek?" Saka terlihat panik. "Manisannya mana?"


"Di tas itu, Kak. Tadi, aku lupa bawa turun, jadinya mual!"


"Yaudah, ini dimakan ya manisannya, ini minyak kayu putihnya, istirahat di sini, hapenya jangan jauh-jauh, langsung telpon salah satu diantara kita kalau kamu butuh apa-apa!"


"Iya, Kak. Kak Ula mana?"


Tap, tap, tap ...


Nakula memburu masuk ke kamar, dia berterima kasih pada kakak iparnya yang cekatan pada sang istri, Saka tinggalkan keduanya karena banyak yang harus dia persiapkan sampai larut nanti.


Kedua tangan Nakula memijat tangan dan kaki istrinya, dia bahkan masih duduk di samping ranjang, merasa bersama pada istrinya, dia tidak ada di tempat saat istrinya butuh.


"Shaf, maafin aku!"


"Ayank tidak salah kok, ini aku yang lupa bawa manisan tadi yang dibelikan kak Saka, jadinya mual, dedeknya Ayank berontak, ahahahaha ... sudah tidak mual lagi, tenang saja!" jelas Shafiyah, dia minta suaminya itu berpindah ke sisinya, dia peluk dan cium aromanya, sedikit melegakan rasa mual yang kembali hadir. "Ayank di sini dulu sampai aku tidur ya," ujarnya.

__ADS_1


"Iya, aku di sini. Kamu istirahat, aku temenin sama dedeknya, biar tenang ada ayahnya ikutan jagain, emuah!" Nakula cium kening berponi itu.


Nakula tahu kesedihan yang masih ada di hati sang istri, kesepian akan kepergian ayah, pria yang semua waktunya hanya untuk dia, pikirannya tercurahkan semua dan kekhawatirannya hanya milik Shafiyah, menjadi kaki yang berdiri sendiri tentu tak mudah.


Kalau saja ayahnya masih ada, begitu suaminya sibuk, dia bisa meringkuk di pelukan ayahnya seperti biasa. Dan kini kehadiran Nakula menjadi poin pertama, kedua kakak lelaki dan ibunya paham bagaimana kondisi Shafiyah saat ini, mereka tak terlalu memaksa Nakula ikut bergabung, setidaknya sampai kandungan itu kuat dan Shafiyah kembali tegar menerima semuanya.


Sofi, kalau kamu sakit, Ayah juga sakit!


Sofi, orang yang menyakitimu, mengganggumu adalah musuh Ayah. Serahkan dan bawa dia ke sini, Ayah patahkan tulangnya, Ayah robek mulutnya, Ayah cincang dagingnya. Akan Ayah rendahkan dia serendah-rendahnya!


Jantung Ayah ada di kamu, mahkota Ayah ada di kamu, kehormatan Ayah ada di anak gadisnya, di kamu. Bagaimana Ayah bisa tidur kalau tidak memelukmu, kan kamu jantungnya Ayah?!


Nakula rapatkan dekapannya, dia tahu istri kecilnya itu tengah menangis tanpa suara, hal berat yang harus dia alami saat baru mengandung adalah kehilangan sosok pelindung dalam hidupnya yang selalu berkata semua akan baik-baik saja.


"Ayank, aku mau ketemu kak Ais!" pintanya dengan wajah basah.


"Tunggu ya, Sayang!" Nakula hapus air mata itu dulu, sejak kemarin dia tahu kebimbangan di hati istrinya itu.


"Ya, Sofi. Kakak bisa bantu apa?" tanya Aisyah, dia takup wajah mungil bak boneka hidup adik iparnya itu. "Kamu minta apapun, Kakak bantu, Sof. Bilang ayo!"


Shafiyah ulurkan tangannya menyentuh hijab yang Aisyah pakai, kedua bahunya bergetar, tangisnya semakin pecah dan bisa Nakula rasakan pedihnya.


"Sofi mau pakai ini, ayah suka Sofi pakai ini, ajarin Sofi pakai ini, Kak!"


Aisyah menoleh pada Nakula, pria itu yang tak lain suami Shafiyah pun mengangguk, dia izinkan dan senang bila istrinya berpenampilan sesuai fitrahnya sebagai wanita muslim.


Dengan senang hati, Aisyah iyakan dan peluk adik iparnya itu, dia punya banyak baju seukuran dengan Shafiyah, beberapa sudah dia berikan pada ibu juga yang mulai menutup diri, cahaya dalam hati seseorang tak tahu kapan akan berkilaunya, tapi sekali berkilau tak akan ada yang mampu menolak.

__ADS_1


"Di kamar kalau cuman Ak, kak Bas dan kak Saka, tidak apa, karena mereka mahramnya Sofi, tapi sepupu yang lain tidak boleh melihat selain ini dan ini!" Aisyah menunjuk telapak tangan dan wajah yang penuh malu itu. "Orang yang haram Sofi nikahi, itu mahramnya Sofi. Nakula pasti tahu, kamu bisa tanya ke Kakak atau ke suamimu, ya Dek?"


Shafiyah mengangguk, baju pendeknya dia tanggalkan, walau tubuhnya terlihat kecil, tapi dia itu mahkotanya ayah.


Ayah, Sofi berubah, Sofi tidak mau mendorong ayah ke tempat buruk itu, Sofi mau jadi yang menahan ayah, semoga Allah mengampuni semua salah Sofi ....


Nakula rengkuh tubuh kecil itu, dia tidak mau memakai cara kasar pada istrinya, tapi setiap malam dan sujudnya dia mintakan bagian lembutnya hati itu dari Sang Maha Lembut, tidak ada yang tergerak selain DIA yang menggerakkan.


"Kak Ais ke kak Bas dulu ya, pasti tangannya sakit semua gendong Rasyah, eeheheheheh ... Ak, kamu di sini dulu tidak apa, sepupu yang lain banyak yang bisa bantu!"


"Iya, Kak Ais. Terima kasih!"


Aisyah tersenyum, dia kembali berkutat dengan kesibukannya, ibu satu anak itu sibuk di sini, menantu pertama yang harus siap siaga setiap kali ibunya memanggil.


Nakula takup wajah gemas di depannya ini, kecupan banyak di wajah Shafiyah, kalau bisa menangis, dia pasti sudah mengucurkan air mata, tapi dia tidak mau istrinya menjadi lemah, maka senyum yang dia tawarkan.


Di depan sana, Saka dan Baskara berlarian menuju kamar Shafiyah, tak peduli ada Nakula yang mau cium-cium atau apa, mereka mau melihat perubahan adiknya, mau dia cium tangan dan keningnya.


Brak!


SOFI!


Nakula sontak mundur, dia mau mencium perut istrinya, dua orang bertubuh besar itu sudah merebut istrinya, bergantian memeluk dan menjunjung ibu hamil yang kini memakai baju panjang seperti Aisyah.


"Kak Bas, Kak Saka kalau nyium pipi sampai basah!" keluhnya pada kakak pertama.


"Saka!" ujar Baskara menarik telinga Saka. "Sini, Kakak belum puas meluknya, bumil kecilku sayang!" berganti Baskara bawa masuk Shafiyah dalam dekapan. "Tidak ada yang paling senang saat ini selain aku!" bisiknya.

__ADS_1


Saka lirik Nakula, "Apa, apa, ini adikku, adik kami, wek!"


Kan, mau nikah besok juga masih menyebalkan seperti ini.


__ADS_2