
"Ya, Bas?" Nando membuka matanya lebar. "Cari roti manis, apaan?"
Baskara sodorkan ponselnya, ada gambar contoh roti manis bak rembulan itu, padahal Aisyah sendiri rembulan di mata Baskara.
"Coba di jalanan pulang, kayaknya ada, eheheheh."
"Dasar, tidak berguna!" balas Baskara tanpa ampun, memicing tajam Nando.
Nando membungkuk seraya memberi hormat, biar saja dia dikatakan tidak berguna, toh selama ini roti baginya manis semua kalau diberi susu, tinggal beli roti di mini market dan dia beri kental manis, jadilah manis.
Tubuhnya menegak seiring laju mobil Baskara, dia usap dadanya lega, tinggal diri sendiri yang melaju mencari hangatnya malam.
"Di mana?" dia tutup telinganya, Pian sudah di tempat biasa. "Oke, aku ke sana, Bro. Ajak Sena?" diam lagi. "Hih, biar dia sama istrinya saja, daripada kita digantung Bas, ya kan!"
Sementara itu, di perjalanan Baskara tak henti-hentinya melihat ke sekeliling, mencari pedagang jalanan yang sekiranya menjual roti manis yang sama dengan contoh Sena tadi.
Batinnya terkoyak begitu kata tidak tahu apa yang Aisyah suka, diucapkan Sena padanya. Statusnya sebagai suami dipertanyakan di sini.
Cih, aku tahu apa yang A-isyah suka.
Baskara putar kemudinya, dia temukan pedagang dengan nama roti manis itu, senyumnya melebar seketika, dia akan datang ke rumah membawa roti kesukaan istrinya.
"Satu aja, Tuan?"
"Iya, biasanya kaum hawa suka rasa apa?" balas Baskara sambil menerka-nerka.
"Biasanya tiramisu, Tuan. Itu jadi favorit di sini!"
"Bungkus yang itu, tambahkan yang greentea juga ya!" Baskara berikan uangnya. "Kembaliannya buat Bapak saja!"
"Wah, terima kasih banyak, Tuan. Semoga rejekinya lancar dan pasti ini buat nyonya-nya ya, eheheheh, langgeng ya, Tuan."
Baskara tertawa dan mengaminkan doa itu, hatinya menghangat begitu roti manis untuk Aisyah ada di tangannya.
Jam delapan malam, biasanya Aisyah akan tidur jam sembilan, masih ada waktu bila dia mau mengajak Aisyah makan bersama.
Sungguh, sekali dia berbicara bersama Aisyah, dia candu di sini, itulah kenapa dia menjauh diawal pernikahan, Aisyah seperti magnet alami untuknya.
Jeglek,
Aisyah tersenyum, dia benar-benar membuka pintu itu hanya untuk Baskara, bahkan masih memakai hijabnya.
__ADS_1
"Ini untukku?" menerima satu kantong roti. "Wah, apa ini?" dia duduk dan membukanya.
Senyum Aisyah semakin melebar, dia mau bertepuk tangan dan berlari ke Baskara yang masih mengganti baju itu, dia tunggu di depan pintu kamar, suara gemericik air menjadi senandung di telinganya, dia tunggu sampai Baskara ke luar kamar dan menampilkan wajah segarnya.
"Ada apa, A-isyah?" bertanya penuh wibawa, takut ketahuan perhatian pada Aisyah.
Aisyah raih tangan kanan Baskara, dia kecup lagi punggung tangan itu, bahkan sampai dia lupa belum melepas hijabnya, dia terlalu senang.
A-isyah suka roti manis itu? Apa yang tiramisu seperti yang Sena bawakan?
Aum!
Aisyah tampak begitu menikmati, sesekali dia menengadahkan kedua tangan seraya berdoa akan keberkahan rejeki Baskara, hal yang membuat Baskara tersanjung diam-diam.
"Enak?"
"Iya, aku suka yang ini, tapi lebih suka yang ini!" menunjuk greentea lebih favorit baginya.
Kamu suka itu, A-isyah? Kita sama ternyata.
Baskara ambil yang greentea dan tiramisu, dia lahap bersamaan, lalu dia ambil lagi sambil menikmati senyum Aisyah, tak terasa sampai keduanya menghabiskan dua kotak roti manis dua rasa itu.
"Ambil minum, Kak." Aisyah berdiri, tapi tangannya tertahan. "Iya?"
"Gelasku besar, A-isyah. Mau minum dari sini juga?" tawarnya.
Aisyah sontak merona, dia pernah membaca kisah romantis antar suami dan istri, diantaranya makan dan minum dari wadah yang sama.
Setiap tegukan Aisyah menjadi kelegaan tersendiri pada Baskara, leher itu seperti bening dan transparan hingga dia bisa melihat air yang mengalir disetiap tegukan Aisyah.
"Nanti, tengah malam bangun lagi, A-isyah?"
"Iya," jawab Aisyah sambil menata guling pembatas.
"Bangunkan aku juga!"
"Hem?" Aisyah pastikan dia tak salah dengar. "Kakak mau kerja dari jam satu pagi?"
Baskara tutup wajahnya dengan selimut, dia pun menjawab, "Kerja setelah sholat denganmu."
Kakak!
__ADS_1
***
Mendengar rekaman dari petugas apartemen itu, kedua tangannya terkepal, berani-beraninya Gina berkata begitu pada Aisyah-nya, bahkan saat dicerca, Aisyah tak menjawab, lebih banyak diam dan meminta maaf.
Dia melangkah lebar mencari Aisyah, masih dengan wajah manisnya semalam, Aisyah mengalahkan cerahnya mentari pagi ini.
"Apa Gina berkata kasar kemarin padamu?" langsung ke intinya. "Ikut aku ke sana, A-isyah. Kalau perlu kamu bisa mencekiknya!"
Aisyah simpan sebentar lipatan roknya, akan dia kenakan nanti sore.
"Kakak meminta mereka merekamnya?" pertanyaan yang sudah jelas jawabannya, Aisyah tersenyum. "Tidak apa, Kak. Dia sedang hamil, ibu hamil itu moodnya suka berubah dan dia pasti jauh lebih cemburu pada suaminya, biarkan saja!" ujarnya lembut.
Tidak, Baskara bukan manusia selembut itu, benar akan benar dan salah akan salah, itu menurutnya, apa yang dikatakan Gina terlewat batas menurutnya.
"Jangan, Kak. Semua wanita hamil akan mengalami hal yang sama, emosi mereka tak akan terkendali!" Aisyah tahu kalau sekali Baskara pergi ke tempat Gina, yang ada Baskara akan pulang dengan pakaian kusut, berkelahi maksudnya. "Aku tidak apa-apa, ibu hamil tidak akan bisa ditebak," imbuhnya.
"Apa semua wanita hamil akan kurang ajar begitu?"
Aisyah mengangguk, "Semua, kata ibu juga begitu, semua akan membuat ulah, aku nanti juga akan begitu kalau hamil anak Ka-" Aisyah tahan ucapannya, terbawa suasana sampai mereka sama-sama kehilangan kontrol pagi ini.
Anak Kakak?
Baskara palingkan wajahnya, lalu dia berpamitan pergi bekerja. Sekali lagi sebelum pintu itu tertutup, Aisyah minta Baskara mau mengerti, tidak membahasnya pada Sena dan Gina bila bertemu.
"Jangan melindungi mereka, A-isyah!" Baskara ingatkan itu.
Brak!
Baskara pukul kemudinya, dia pasti sudah gila sejak semalam, kalau tidak ada panggilan dari Nando tadi, dia pasti menunjukkan semua rasa di hatinya pada Aisyah, menampakkan cemburu dan pedulinya yang nanti sangat mengikat Aisyah.
Bodoh!
"Huh, hampir saja aku menyakiti A-isyah." Baskara raup wajahnya, menyesal dia berlaku pagi ini. "Bagaimana bisa aku menyuruhmu tidak melindungi Sena, padahal kamu masih menyisakan rasa untuknya, A-isyah. Bodoh sekali aku!" bergumam sambil mengemudi.
Sementara, Aisyah masih terdiam di depan kamarnya, mengutuk mulutnya yang terlalu banyak bicara hingga kehangatan diantara dia dan Baskara hancur kembali.
"Aku kirim pesan saja ke kakak!" cetusnya.
Berulang kali dia mengetik dan merangkai kalimat, tapi berulang kali juga dia hapus, tangannya gemetar, dia takut salah ucap dan berkata lagi.
"Apa yang harus aku katakan? Kakak pasti salah paham," ujarnya penuh tanya, belum ada satu pesan yang dia kirimkan.
__ADS_1