
Saka amati dari kejauhan, rasanya kedua kaki itu sudah mau lepas saja, tak ada lelahnya Arsy berkeliling dari satu toko ke toko lainnya, padahal bagasi mobil Saka sudah hampir penuh.
Dari semua jenis olahan makanan sampai pada perlengkapan rumah tangga yang lainnya, ini kesalahan Saka di mana dia waktu itu tak meminta bantuan adik atau sepupu yang lain dalam memilih furniture apa sana untuk rumah barunya, kalau saja begitu, tentu wanita cantik dan lincah itu tak perlu kerja dua kali.
"Masih kurang apa, Sayang?"
Arsy berjengit mendadak ada yang meraih pinggangnya, dia pun terkekeh begitu satu kecupan mendarat di ujung hidungnya, sang suami sudah lelah, herannya dia masih tetap. segar seperti Saka bila menyelesaikan misi olahraga ranjangnya.
"Baaang, aku daritadi itu nyari lemari, nggak ada di sini? Bukan yang kayu, tapi plastik, biasanya di supermarket juga ada loh, ini nggak ada."
"Bukan di sini, beda sama di rumah sana, Sayang. Buruan kalau gitu, Abang anter ke tempatnya, ayo!"
Arsy mengangguk, tahu begitu dia tak memutari semua lantai sampai pegal, lupa kalau dia sedang ada di negara orang, bukan di tanah air sendiri, langkahnya melebar mengikuti sang suami yang sedari tadi menjadi pusat perhatian karena ketampanannya.
Memang benar, Arsy harus menjaga ketat suaminya, kalau tidak maka mata-mata itu tak segan membuat tubuh suaminya terekspos nyata tak ada celah, lalu mereka membayangkan merintih di bawahnya.
Oh, no!
"Kenapa?"
"Nggak mau, Abang jadi perhatian mereka!"
"Ahahahahah, kamu ini masih aja, nggak ada juga yang Abang lihat, Sayang. Mata Abang cuman penuh sama kamu!"
"Nggak percaya, wek!"
Saka berdecak, tapi gemas pada istrinya itu, ingin rasanya kalau bisa, fantasi liarnya diwujudkan, ingin sekali bercinta dengan Arsy di mobil.
Astaga, sadar Saka!
Kalau sampai kakaknya tahu ulahnya yang seperti itu, bisa digantung hidup-hidup, walau pria berhak meminta di mana saja, setidaknya berikan tempat yang ternyaman.
Nanti, akan Saka pikiran mengubah ranjangnya menjadi bentuk mobil, setidaknya dia bisa menggambarkan tengah berada di dalam mobil bersama Arsy.
"Baaaang, ngelamunin apa?"
__ADS_1
"Kamu."
Pipi Arsy merona, suaminya itu seperti tak ada jawaban lain saja, atau mungkin termasuk suami yang takut istri sampai semua serba Arsy, dia usap pipi yang masih ada bulu halusnya itu, geli dan membuatnya terpancing, segera Arsy jauhkan tangannya sebelum dia menggoda sang suami lebih.
Saka menoleh sedikit, dia suka Arsy usap begitu, bisa saja dia bertanya, tapi Saka bukan tipe yang seperti itu, kalau Arsy tak mengatakan, dia juga lebih memilih diam, menganggap Arsy baik-baik saja.
Dia nggak tahu apa kalau Arsy kesetrum, pengen hiak-hiak, abaaang gemesin!
Saka menoleh sekali lagi, seperti ada yang memanggilnya di alam bawah sadar, tapi tak mendapati ekspresi apapun dari sang istri.
Dia kenapa juga, pengen bawa pulang aja kalau diem gitu, dibuat jerit-jeritan di kamar, eheheheh.
Tepat mobil itu berhenti di lampu merah, Saka ulurkan tangannya menggapai tangan lembut Arsy, dia angkat dan kecup singkat, darah Arsy sontak berdesir, dia ingin tenggelam rasanya.
"Baaaang, aku bisa jantungan tahu nggak!"
"Masa gitu, kan cuman dicium tangannya, langsung sakit jantung?"
"Iya, habis yang nyium ganteng. Arsy nggak suka deh, kok Abang makin ganteng habis nikah, hem?" ada rasa tak rela bila suaminya semakin berjaya setelah menikah.
"Gimana nggak makin ganteng, kan ada obatnya dari kamu, suntuk ada kamu yang segerin, jadinya berkilau-kilau," jelas Saka.
"Dulu, suntuk ya diam aja, sekarang suntuk bisa godain kamu, ada yang dikerjain, jadinya lepas semua otot yang capek, berkat kamu!" Saka tambahkan. "Kamu ya makin cantik kok, cuman kan kamu nggak bisa lihat sendiri, aku yang nilai, cuman aku!"
Mulai merinding Arsy kalau Saka berkata dengan penekanan, sudah tahu dia tingkat posesif suaminya itu, tak akan ada ruang untuk yang lainnya, hanya mata dan semua indra Saka yang bisa menilai Arsy.
Hawa di mobil menjadi semakin panas, Arsy berulang kali memalingkan wajah, tapi yang ada Saka semakin mengintimidasinya, membuat dia seolah tak ada ruang lagi untuk bergerak, terlebih lagi saat lampu merah, Saka mengecup pipinya singkat, sudah mau lepas baju saja dia di mobil ini.
Istri kok gemesin gini, untung udah nikah, mau nyulik terserah kapan, Syy ... obat beneran kamu, Abang nggak kuat.
Saka usap dadanya begitu mereka sampai di toko tempat di mana dia akan membeli lemari lagi, godaan terbesar setelah sekian lama.
"Bang, sini!"
"Iya, Sayang."
__ADS_1
***
Noda merah, Arsy meremat perutnya, pagi ini dia datang bulan, itu tandanya pertempuran berakhir dan dia harus program hamil bulan depan, setelah banyak acara pindahan dan semuanya, bulan depan harus fokus.
Saka yang baru saja menikmati sarapannya sontak bingung dengan perubahan raut wajah sang istri, tak ada senyum, Arsy memberengut di depannya, wajah manis itu berubah seram.
"Kenapa, Sayang?"
Arsy berdecak lirih. "Arsy datang bulan, Bang."
"Oohh, yes, bagus itu!"
What!!
Arsy melongo, perutnya sudah sakit, suaminya jutru memberikan jawaban seperti itu, mana wajahnya senang sekali, seperti tak ada beban yang Saka pikirkan, datang bulan seperti hadiah bagi Saka.
"Kok bagus sih? Abang seneng kalau aku libur gini? Kok bisa sih Abang seneng gitu, kan harusnya Abang sedih nggak bisa sentuh Arsy, terus Arsy belum hamil anaknya Abang, Arsy gemes deh!"
Heuh?
Saka menganga bingung, dia pun beranjak berdiri dan mengejar istrinya, ini salah paham, dia pun jelas tak suka istrinya datang bulan, tapi ada hal lain yang membuatnya rela.
"Sayang, Sy, kok emosi. Dengerin Abang dulu dong, heh!" Saka peluk dari belakang, seperti ini kalau dia tak bisa menerjemahkan atau memilih kata yang sesuai dengan hati wanita. "Sayang, hei, nggak boleh emosi gitu!" dia ingatkan lembut. "Ssst, nggak gitu, kamu salah paham. "
Arsy memberontak, dia sudah menangis di sini, moodnya berantakan sejak noda merah itu menetes dari intinya, rasa kram dan semuanya membuat dia semakin menggila di sini.
Namun, Saka dengan semua kekuatannya berhasil membuat wanita itu diam di pelukannya.
"Heh, Abang bilang seneng itu soalnya-" dia takup wajah Arsy. "-Sayang, Abang mendadak ada tugas lagi, kamu di rumah sama maid, makanya kebetulan Abang nggak di rumah, begitu kamu selesai, Abang di rumah, Sayang."
Arsy masih menitihkan air matanya. "Terus kalau ada tugas lagi?"
Okay, Saka harus memilih kata yang tepat, wanita datang bulan seperti ayam baru bertelur saja.
"Abang ajak kamu, kan kita mau tata waktunya buat dedek, iya kan? Jangan marah, Sayang, hei, maaf ... Abang minta maaf," ujar Saka seraya berjanji.
__ADS_1