
"Bang," panggil Arsy lirih, dia merapat pada suaminya.
Entah pertemuan jenis apa ini sampai dia harus menjadi santapan para lelaki berwajah seram di ruangan Saka.
"Abang nggak salah kan ajakin aku ke sini?"
"Kamu ke ruangan itu dulu, nanti ke luar kalau Abang ketuk, oke!"
Tak menunggu lama, bisa mati berdiri Arsy berada di ruangan yang sama dengan orang-orang menyeramkan itu.
Ya, dia tahu apa pekerjaan suaminya, tapi dia tidak tahu kalau dari mulai kakak ipar sampai adik iparnya akan bertemu dengan makhluk seram, lebih seram dari setan.
"Kalian sudah menemukan semuanya?" Saka memulai pembicaraan. "Jangan hiraukan wanita itu, dia istriku, dia tidak akan merusak pekerjaan kita!"
Semua kompak mengangguk, meeting singkat itu pun di mulai, di dalam ruangan pribadi itu Arsy hanya bisa berulang kali menempelkan telinganya, dia cemas dan takut bila nanti dia ke luar sudah melihat suaminta diterkam tak berdaya atau mungkin sebaliknya di mana Saka yang membuat pertumpahan darah.
Plak!
Harus Arsy ingat bahwa tembakan Saka tak pernah meleset, begitu pun tembakan di rahimnya, selalu hangat dan banyak, membuat dia merasa hamil sebelum waktunya.
*Kok aku jadi mikir yang itu sih, kan bukan tembakan itu!
Arsyy*!!!
Daripada berpikir yang tidak tentu, Arsy menelisik sekali lagi ruang pribadi suaminya itu, siapa tahu dia menemukan harta karun atau hal yang mengejutkan lainnya.
"Eh, ini apa?" Arsy tarik bungkusan usang di bagian bawah kasur empuk itu. "Sepatunya siapa?"
Bukan sepatu pria, yang membuat Arsy tak kuasa bergetar adalah itu sepatu wanita kuno yang sangat menyeramkan, kondisinya masih bagus, hanya bungkusannta usang hingga dalamnya ikut bercampur kotor, dia sentuh pun kulit sepatunya masih layak digunakan.
"Punya siapa?" sekali lagi dia bertanya, Saka terkenal akan kesendiriannya, dia tak pernah mengenalkan pacar atau apa, bahkan Arsy satu-satunya wanita dalam hidup Saka soal hati. "Terus, ini punya siapa, selingannya Abang? Tanpa status?"
Belum apa-apa dia sudah merasa sesak sendiri, bangkit dan membiarkan sepatu itu terus melambai padanya, penasaran tidak karuan, dia ingin tahu tapi jelas tak akan kuat kalau Saka menjawab jujur.
Tubuhnya berjengit begitu mendengar gelak tawa menghujam dari depan sana, Arsy langsung berlari begitu pintunya di ketuk, dia yakin itu suaminya.
"Abang!"
Bruk!
Saka terpukul mundur akan pelukan istrinya, mendadak dengan nafas memburu, ada sesak yang bisa dia rasakan dari sang istri, walau Arsy tak meluruhkan air matanya secara jelas.
"Kenapa, Sayang?"
"Abang baik-baik aja kan?"
__ADS_1
Saka jauhkan tubuhnya, menakup wajah itu. "Baik, emangnya apa yang terjadi sampe Abang kenapa-napa, kan itu semua timnya Abang, Sayang. Sekarang kamu kenapa?"
Tahu bila Arsy memang tak pandai berbohong, dia pun menunjukkan sepatu usang itu pada Saka, dia mau pria itu jujur padanya.
Awalnya wajah Saka mengeras, tampak dari rahangnya yang mendadak menonjol, tapi helaan nafas akhirnya dia dengar.
"Kamu mau tahu ini punya siapa?"
"Iya, Abang punya cewek lain sebelum Arsy yang ke sini?"
Saka bergeleng, dia pun tersenyum, baginya Arsy itu yang pertama.
"Terus, itu punya siapa?"
"Punya aku, waktu itu beli online salah, ahahahah ... ada dua, aku beli buat kak Bas juga, tapi punya kak Bas dikasih ke sepupu, punyaku disimpan, lama banget ini, waktu masih belum resmi kerja, nggak muat kayaknya sekarang, waktu itu pertama kali aku beli online, asal aja nggak pilih, jadinya fantofel cewek, mau?"
Arsy bergeleng, dia mau tak percaya, tapi Saka tunjukkan buktinya, dia pun percaya, pria itu selalu mempunyai bukti untuknya.
"Kapan Abang marah?"
"Tadi."
"Nggak marah, kesel aja, kan beli itu mahal waktu dulu, belum ada tabungan, mana salah, makanya males!"
Arsy merona malu, dia kira suaminya menyimpan wanita, tuduhan yang menyesatkan, kalau sampai Saka punya simpanan, jelas simpanannya sudah mati berdiri bertemu orang seram tadi, sumpah.
"Arsy sayang sama Abang, gemes!" Arsy terkekeh sambil terus merapatkan pelukannya.
Kalau tahu begini enaknya ikut suami kerja, dia akan ikut terus setiap hari daripada bicara bersama tanaman kering di teras rumah.
Pemandangan yang sangat mengagumkan di mana wajah tampan itu kembali berkutat serius di depannya.
Arsy tak mau diam saja, dia pun membawakan makanan dari hasil gerak lincah jemari tangan memesan online, duduk di dekat suaminya, lalu dia suapkan.
"Kamu beli di mana?"
"Nggak tahu, tanya aja tadi sama pekerja di depan."
"Enak tapi, eheheheh, mau lagi!"
Hum!
Arsy suapkan berulang kali sampai porsi khusus suaminya habis, lalu berganti dia sibuk menghabiskan jatahnya, hanya saja Saka tak mau Arsy berada jauh, sambil bekerja, kedua pahanya bisa menopang Arsy, sesekali mengecup pipi istrinya.
Mereka benar-benar berjalan sendiri di sini, susah enak dinikmati bersama tanpa ada keluhan, kedua telinga siap mendengarkan dengan baik dan memberikan solusi.
__ADS_1
"Bang, habis ini selesai kan ya?"
"Hem, bentar lagi, kita bisa jalan-jalan, mau ke mana?"
"Belanja, aku mau isi dapur sama lihat lemari kan katanya, hayo!"
Saka manggut-manggut, sejenak lupa kalau dia butuh lemari, kepalanya penuh dengan pekerjaan.
"Bang-"
"Emuah, apa?" disambar dulu. "Eheheheh, mau ngomong apa?"
Arsy redam rona merah di wajahnya dulu, baru dia menjawab.
"Abang pengen anak cepet nggak?"
"Hmm, pengen, tapi tergantung kamunya, kalau kamu siap, Abang ikut aja."
"Abang nggak maksa harus besok dan besok?"
Saka bergeleng. "Abang pengen, tapi nggak boleh egois dong, kan harus kamu juga. Jangan sampe jadi orang tua, tapi nggak siap. Abang nggak mau kamu stres, emang kamu udah mau?"
"Banget, makanya pengen program kalau ternyata bulan ini bulanan, setelah itu bisa diatur, kan ada panduannya, ya Bang?"
"Oke, Abang setuju."
Arsy bereskan makanannya terlebih dahulu, setelah ini dia harus bersiap memanjakan diri dengan jalan-jalan, kartu atm suami sudah ada di tangan, tinggal berangkat.
Cek dan ricek, semua sudah selesai, pria tampan sudah ada di depan mata, tinggal dia gandeng dan kemudian melenggang seindah mungkin.
"Sayang-"
"Sssst, Abang jangan keluarin suara dulu, nanti yang di lift sana bisa pengen Abang kawinin!"
Kedua alis Saka sontak terangkat, bagaimana suaranya membuat anak orang ingin dia nikahi, eh bukan, kawinin? Jangan-jangan suaranya bisa membuat rahim wanita hangat, bahaya!
"Abang gandengan sama aku, jangan dilepas!"
"Sy, semua tahu kalau kamu istri aku, Sayang."
"Tapi, mereka nggak berhenti ngefans sama Abang, jadi aku mau posesif!"
"Okay, asal kamu suka, eheheheh."
Arsy dekap lengan kanan Saka, melirik tajam pekerja yang berani mencuri pandang pada suaminya.
__ADS_1
Arsy, Arsy, nggak tahu apa dia kalau cuman dia yang aku lihat, dasar!