Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Kita Jadian Ya!


__ADS_3

Ranjang kamar Aisyah di rumah ini tidak begitu besar, sekalinya salah satu dari mereka berbalik , maka pandangan mereka akan bertemu dan bisa dirasakan deburan napas keduanya.


Mode marah, Aisyah masih memakai hijabnya, enggan melepas sekalipun di kamar ini dia tengah bersama sang suami, katakan wanita selalu seperti itu kalau hatinya tidak nyaman dan marah, dia akan menunjukkan ketidak sukaannya itu.


Baskara pandangi saja, dia tidak dominan dan mengomentari Aisyah, dia biarkan Aisyah menegakkan aksi demonya itu.


Kalau marah, semakin cantik saja dia. Eheheheh.


Sampai alarm Aisyah berbunyi, Baskara masih terjaga, dia pandangi saja apa yang Aisyah lakukan, mulai dari bangun sampai selesai menunaikan sholat malamnya, lalu beringsut kembali duduk di tepi ranjang untuk membaca ayat-ayat suci nan indah.


Sesekali Aisyah menoleh, dia perhatikan ke mana pandangan Baskara, bila mengarah padanya, maka secepat kilat dia akan berpaling.


Adzan shubuh berkumandang, Baskara bergegas bangun dan membersihkan diri, dengan baju seadanya dia ke luar, kamar mandi di rumah ini sangat berbeda jauh dari yang di rumah sana, sekalinya berputar, bisa jatuh dia ke toilet, terlebih lagi ada di luar kamar.


"Belum sholat, A-isyah?" tanyanya datar.


Aisyah bergeleng, tanpa berucap apapun dia serahkan satu pasang baju milik bapaknya dulu, setidaknya itu bisa digunakan dan layak untuk beribadah.


"Terima kasih," ujar Baskara sembari menerima. "Oh, iya. Mau sholat sendiri atau bersama-sama?"


Pipi Aisyah merona, Baskara tahu itu artinya Aisyah sengaja menunggu dirinya selepas mandi untuk sholat bersama. Tampak dua sajadah sudah Aisyah gelar, bidadarinya itu malu-malu mau rupanya.


Baskara mengambil posisinya, dia lakukan seperti yang istrinya mau, sampai salam lalu dia menoleh ke belakang dan tangan kanannya mendapatkan kecupan dari Aisyah, urutan itu tak Aisyah lewatkan sedikit pun.


Begitu Aisyah melipat mukenah dan dia gulung bersama sajadahnya, Baskara mendekat, dia pandangi sampai Aisyah membalas pandangannya.


"Ke mari, A-isyah!" pintanya.


"Ke mana?" balas Aisyah bingung, dia sudah ada di depan suaminya, mau ke mana lagi.


"Sini!" Baskara bentangkan kedua tangannya. "Aku mau memelukmu," ujarnya tak peduli jantung orang lain.


Yang namanya hati tidak akan pernah berdusta, sekalipun wajahnya sebal pada Baskara yang pergi tanpa pamit, bahkan belum menjelaskan kepergiannya itu kenapa juga kembali mendadak ini kenapa, Aisyah maju, dia sandarkan wajahnya ke dada bidang itu, lalu tangan Baskara merengkuh punggungnya.


"Terima kasih sudah marah padaku, A-isyah." dia berbisik.


"Kenapa berterima kasih?"


Baskara tersenyum, masih memeluknya.


"Kalau tidak marah, itu artinya kamu tidak suka aku datang ke sini. Kalau marah, artinya kamu suka, bukannya wanita itu suka terbalik-balik?"


Aisyah simpan senyumnya, tanpa sadar kedua tangannya terangkat, dia letakkan di punggung bawah suaminya, seolah keduanya tengah saling mengikat.

__ADS_1


Kehangatan pagi yang mungkin tak akan bisa mereka lupakan, walau isi hati belum terungkap satu sama lain, tapi keyakinan begitu melekat pada keduanya.


"Dari mana?" Baskara terkejut Aisyah tak ada saat dia di kamar mandi, perutnya sakit mendadak.


"Beli sayur sama ikan di depan, Ais mau masak seadanya ya."


"Oh, oke." masih canggung saja.


Dapur kecil dan sederhana, bahkan beberapa pancinya sudah hitam, itu semua disimpan karena mama Fya ingin Aisyah masih menyimpan kenangan kedua orang tua yang telah tiada, mama Fya berjuang keras mendapatkan kenangan itu semua.


Suara kerajinan tangan Aisyah terdengar sampai teras depan, mengingat rumah ini tak terlalu besar, anak tetangga menangis saja terdengar kencang di sini, semua serba berbeda.


"Kakak, kenapa di sini?" tidak suka kalau mendadak Baskara berdiri di belakangnya. "Duduk saja di sana, aku selesaikan ini!"


Baskara tunjuk hijab itu, dia mau Aisyah membukanya, di rumah ini hanya bik Desi, penjaga hanya sesekali, tidak tidur di sini, tidak ada tamu juga.


Aisyah menoleh ke pintu, jendela pun tertutup rapat seolah cahaya mentari tak diizinkan masuk.


"Dari semalam aku mau melihatnya," ujar Baskara.


Aisyah gulung rambutnya, tapi Baskara cegah tangan itu.


"Biarkan, A-isyah. Biarkan terburai begini, wajahmu terlihat kecil dan cantik!"


Baskara tersenyum, dia dekatkan wajahnya, sejajar dengan pipi Aisyah, lalu dia menoleh sedikit hingga dia bisa mencium pipi kanan Aisyah yang memerah.


"Kakak!" dia berpaling malu, menutupi wajahnya. "Jangan begitu, jantung Ais mau lompat!"


"Ahahahahahah, mana ada begitu, sini yang kiri belum, tidak adil namanya!" memaksa.


Aisyah bergeleng, dia tutupi wajahnya, malu sampai ubun-ubun.


***


Krompyang!


Shafiyah bersumpah akan memukul dan menutup kepala kakaknya itu dengan panci teflon miliknya, kabar yang dia dengar dari bik Desi memang membahagiakan, tapi tetap saja belum puas.


"Kakak mencium pipi dan menggoda kak Ais, tapi kakak belum bilang suka ke kak Ais, Ibu!" dia geram. "Mudah saja seorang pria mencium wanita yang bersamanya, bukan begitu?"


Ibu mengangguk, "Tapi, kan tahu kalau selama ini kakakmu tidak pernah punya pasangan, jadi cuman Aisyah yang dia cium, Sofi." ibu membela.


Tetap tidak bisa, Shafiyah merasa itu masih belum bisa dibenarkan. Wanita itu butuh kepastian, sore ini kalau kakaknya kembali, dia sudah siap menutup wajah Baskara dengan teflon miliknya, biar saja.

__ADS_1


Apa susahnya berkata, Aisyah aku mencintaimu?!


Kalau saja dia punya nyawa tambahan, dia akan merasuki raga kakaknya itu dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan, kalau perlu langsung membuat keponakan untuknya.


Dan benar saja, sore ini pasangan itu kembali ke rumah, Shafiyah dan ibu menunggu, jangan lupakan teflon yang ada di belakang punggung Shafiyah itu.


"Ibu, maafkan aku, ak-"


"Sudah, tidak apa. Yang penting Ais sehat dan selamat, bisa kembali ke sini tidak kurang apapun," ujar ibu sambil memeluk.


Shafiyah menghadang kakak lelakinya itu, kedua alis dan mata sudah siap beradu dengan kakaknya.


"Bilang sekarang kalau cinta ke kak Ais, ajak dia jadian, atau aku pukul kepala Kakak!" dia mengancam, tubuh kecilnya membuat Baskara gemas.


"Jadian? Memangnya anak muda yang mau pacaran di bawah jembatan apa, hah?"


"Ya itu proses, biar Kakak tidak menggantung perasaan kak Ais!"


"Memangnya, A-isyah suka padaku?"


"Astaga, Kakak bilang sekarang, ajak dia jadian, biarkan dia menjawab, baru Kakak tahu perasaan kak Ais, sana!" Shafiyah dorong-dorong Baskara, keduanya sibuk berbisik.


Ibu berdiri tepat di samping Aisyah, sementara di depan mereka ada Shafiyah dan Baskara.


Ingat, masih ada teflon di tangan Shafiyah!


"A-isyah."


"Iya, Kak?" bingung, ini ada apa, kenapa semua tegang.


Baskara menoleh pada Shafiyah, mata adiknya itu sudah melotot maksimal.


"A-isyah."


"Iya?"


"Aku mencintaimu, hari ini kita jadian ya!"


Plak, krompyang!!


Panci teflon itu bersarang tepat di kepala Baskara.


"Sofi, ya ampun!" ibu kelabakan.

__ADS_1


__ADS_2