Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Bertemu Sena


__ADS_3

Senyum Sena melebar kala matanya menangkap sosok yang tengah berdiri di samping belakang Baskara itu.


"Aisyah," sapanya lirih, dia tersenyum penuh cinta.


"Aisyah." lagi.


Baskara berhenti, dia menoleh ke kiri, gadis yang telah sah menjadi istrinya itu justru melangkah mundur satu kali, tidak berjalan sejajar dengan dirinya, pandangan Aisyah tertuju pada tanah yang dia pijak, kedua tangannya ada di saku jaket yang Baskara pinjamkan kepadanya


Angkat wajahmu, A-isyah. Jangan memberi hormat pada pria sialan ini!


Baskara tunggu sampai Aisyah melirik kecil kepadanya, tidak ada yang tampak dari Aisyah, kecuali wajahnya, itu pun tertunduk.


"Bicaralah dengannya, aku akan menunggumu di sini!" ujar Baskara.


Tidak, aku mau Kakak menemani aku!


"Pergi, A-isyah!" titahnya.


Aisyah mengambil langkah kecilnya, sedikit menoleh pada Baskara, begitu berharap pria itu akan menghentikannya dan mengajak dia berjalan bersama.


Sungguh, hal ini bertentangan dengan hatinya, bertemu pria asing tanpa ada suami tentu bukan hal yang baik menurut Aisyah sendiri, terlebih lagi dia tahu Sena menyukainya dan sempat ingin menikah dengannya, bahkan dia pernah membuka hati pada Sena meskipun Aisyah akui gagal.


Luapkan rindumu, A-isyah. Aku tahu perasaan di hatimu untuknya masih besar, luapkanlah hari ini karena mungkin aku tidak akan memberimu kesempatan bertemu dengannya lagi!


Baskara berbalik, dia berjalan kembali menuju mobilnya, duduk bersandar dan memandang Aisyah yang tengah berdiri tepat di depan Sena.


Lalu, dia pejamkan matanya, ini terlalu sakit untuk dia lihat dan dengarkan, dia tak akan kuat berada di dekat Aisyah sekalipun dia ingin, dia tidak bisa melihat mata Aisyah yang indah itu memandang Sena, tidak bisa mendengarkan suara lembut Aisyah berbicara dengan Sena, dia tidak sanggup untuk itu.


"Kenapa tadi dia meminjam jaketku?" gumamnya heran.


***


Obrolan Sena dan Aisyah,


Sena berusaha mencuri pandang pada gadis di depannya ini, tapi sejak tadi dia rasanya cemburu pada tanah yang mereka pijak, rasanya mata Aisyah jauh lebih suka memandang tanah dibandingkan dirinya.


"Aisyah," panggilnya


Kakak, aku lebih suka kalau kamu yang memanggil namaku, Kak!


Aisyah angkat wajahnya, hanya sedikit, yang dia maksud tadi adalah Baskara, entah kenapa dia lebih suka sejak dulu bagaimana cara Baskara memanggil namanya, berbeda dari semua orang yang dia kenal, kecuali almarhum ayahnya.

__ADS_1


Hanya Baskara yang memanggil sama persis dengan cinta pertama dalam hidup Aisyah itu, seorang laki-laki yang berjuang dalam kondisi apapun untuknya.


"Aisyah, aku masih mencintai kamu, aku mohon maafkan aku, kita bisa memulai semua ini kembali, kan? Aku dan Gina telah sepakat membesarkan anak itu bersama-sama, sekalipun tanpa menikah, kita bisa merawat anak itu, Ais. Kamu akan menjadi ibu terbaik untuk anak itu dan-" dada Sena rasanya sesak, dia berlutut. "Ais, maafkan aku, kembalilah!"


Aisyah seketika mundur dan itu mengejutkan Baskara, tanpa melihat dia bisa terhenyak akan gesekan sepatu Aisyah di tanah itu, sontak matanya terbuka dan memastikan itu semua.


"Aku tidak sengaja, aku bodoh melakukannya, Ais. Aku akan bertanggung jawab, kita bisa memulai semuanya dari awal, aku yakin kamu juga mencintai aku, kan?" pandangan Sena penuh harap


Aisyah masih dia sampai Sena selesai mengatakan semua yang dia ingin sampaikan pada Aisyah, sampai semua air mata Sena tumpah di sana, Aisyah terdiam menunggu semuanya tuntas.


"Ais-"


"Kak Sena," ujarnya memulai.


"Iya?"


"Menikahlah dengannya, Tuhan tidak mungkin membuat jalan yang salah, begitu juga yang terjadi padaku, aku berdoa Kakak selalu bahagia, awal yang buruk belum tentu berakhir buruk, berbahagialah karena tidak semua pasangan dikaruniai anak dalam pernikahan mereka, karena kamu telah Dia beri hadiah indah itu, terimalah, rawat dia dengan baik. Semoga jalan kalian terang sampai nanti," ujar Aisyah penuh hormat.


"Ais, tapi perasaanmu ke aku?"


Aisyah gerakkan kedua tangannya yang bersembunyi di saku jaket Baskara, dia pun berkata, "Seperti jaket ini, aku pun menjadi miliknya utuh dalam kondisi apapun."


***


Apa hatimu sakit, A-isyah? Maafkan aku, seandainya aku tidak menikahimu, mungkin kamu bisa bersamanya, tapi A-isyah ... bagaimana bisa aku yang sudah ceroboh mengizinkanmu menikah dengan bedebah itu? Maafkan aku, aku mohon.


Kemudi itu kembali diremat hebat, keningnya terlipat dalam hampir-hampir alisnya tertaut, memerah di sana, Baskara tengah menyalahkan dirinya sendiri


Namun, tanpa ada yang meminta dan obrolan apapun, Aisyah mengulurkan tangannya, menyentuh dan membiarkan tangan itu memegang tangan Baskara sama seperti tadi ketika Baskara kesal.


"Sedari tadi aku diam, kenapa Kakak marah?" Aisyah menoleh penuh, dia remat tangan kiri Baskara, sedikit membuat tangan itu kendur. "Apa yang membuat Kakak marah lagi?"


Baskara hanya melirik sekilas, tapi membiarkan tangan itu disentuh Aisyah.


"Jangan marah, langit sudah mendung, Sofi bilang kalau Kakak marah bisa hujan badai. Tunggu kita sampai rumah ya, aku mohon."


Sofi mengatakan hal itu, yang benar saja. Memang kalau aku marah sampai begitu apa?


Sampai depan rumah, belum ada air hujan yang turun, jalanan masih kering, hanya terdengar beberapa kali gemuruh dan sambaran petir.


Aisyah beranjak turun, dia lepas jaket itu ketika mereka sudah menginjak lantai ruang tamu, dia lipat rapi dan endak membawanya ke belakang untuk antrian cuci.

__ADS_1


"Kenapa meminjam jaketku? Bukankah bajumu itu bagus, untuk apa ditutupi?" Baskara bertanya sebelum membuka pintu kamarnya.


Aisyah berbalik, kamarnya ada di sebrang kamar Baskara, untuk sementara memang di rumah pribadi Baskara ini kamar mereka terpisah.


Aisyah tersenyum kemudian menunduk seperti biasa, dia jawab, "Aku salah memilih baju, lengannya sudah pendek, jadi tanganku terlihat. Aku tidak mau dia melihatnya."


Lengan pendek? Itu panjang sekali, aku tidak buta, A-isyah.


"Baiklah." satu tangan memutar handle pintu.


"Aku ingin hanya Kakak yang melihatnya," ujar Aisyah.


Jeglek!


Aisyah langsung masuk ke kamar lebih dulu, sedang Baskara masih mematung di depan pintu kamar miliknya.


Apa maksudnya? Kenapa hanya aku yang diinginkan, bukannya itu tangan biasa ya?


Di balik pintu lainnya, Aisyah tahan gemuruh di dadanya, kalau dia tidak segera kabur, dia khawatir mulutnya akan berbicara yang tidak-tidak.


"Bagaimana kalau dia marah? Aku harus apa?" Aisyah berlari memeriksa ponselnya, mencari nama Baskara di sana.


Hubby.


Nama Baskara dia tulis seperti itu, toh Baskara tak akan pernah memeriksa ponselnya.


[Kak, maafkan aku, aku mohon maafkan aku, aku pasti salah bicara tadi, maafkan aku.] Aisyah.


Huh!


Baskara pijat pangkal hidungnya, "Aku tahu, kamu hanya mencintai Sena," gumamnya.


Nama di ponsel itu A-isyah dengan simbol hati.


Dia angkat tangan kirinya, bekas tangan Aisyah ada di sana, dua kali Aisyah menyentuh tangannya.


"Kalau begini, bagaimana bisa aku mencari obat marah selain darimu, A-isyah? Katakan!"


***


Punten, Aisyah di kamar lain, Bas ngomong sendiri. ahahahah.

__ADS_1


__ADS_2