
Apa yang sebenarnya pengantin baru ini cari, masing-masing dari mereka tak ada yang bisa membagi kira-kira apa yang ada di benak mereka.
Shafiyah ada di sudut kanan, sedangkan Nakula ada di sudut kiri, pagi buta harus disibukkan dengan pikiran mereka sendiri.
"Shaf, kenapa cemberut?" Nakula memutuskan mendekat, dia sendiri bingung pada dirinya, kenapa seolah enggan mendekat tadi setelah mereka sholat. "Kamu kenapa?"
"Ayank yang kenapa?"
"Aku, ada apa denganku?" Dia merasa tidak beres memang, tapi bukan berarti itu karena kesalahan yang Shafiyah lakukan, kesalahan itu jelas dari dirinya sendiri yang tak bisa mudah mencerna masalah. "Aku tidak apa-apa, Shaf. Aku justru kepikiran sama kamu, mendadak diam dan menjauh, aku salah apa?"
Shafiyah berbalik utuh, dia sendiri merasakan hal yang sama dengan Nakula, merasa ada yang salah, tapi entah apa.
Dia lingkarkan kedua tangannya ke leher Nakula, lalu menempelkan kening mereka, berkedip pelan sampai pandangan mereka bertemu, di sini barisan pertanyaan itu mulai terjawab.
Dia mau, dia mau semalam melakukan itu.
Deg,
"Shaf, jadi kamu nungguin aku?" Nakula raba dadanya, syok mendadak. "Tapi, waktu aku datang, kamu sudah tidur, Shaf. Aku kira kamu lelah, jadi aku putuskan tidur juga, walaupun susah."
"Susah kenapa?"
"Mungkin sama, aku juga mau, tapi harus aku tahan karena kamu tidur, Shaf. Mana tega aku bangunin kamu, sudah pulas sekali. Apa itu yang menjadikan kita gelisah sekarang?"
Shafiyah bergedik, tapi sepertinya iya, lebih mengarah ke sana, ada yang belum mereka dapatkan sebelum terlelap, jadinya memuncak dan penat sampai pagi.
Keduanya tertawa dan saling memeluk, Nakula yang pemalu hanya bisa dipancing oleh keberanian istrinya, sementara Shafiyah merasa tidak enak mengingat suaminya diam saja, alhasil tak ada yang bersuara.
"Emuah, emuah, emuah ... aku mau libur, mau sekarang?"
Tanpa penolakan, Shafiyah bergerak aktif mengiringi ajakan suaminya itu, membuat darah Nakula mendidih dan berubah garang.
Tidak akan ada yang mengganggu keduanya meskipun tak ada yang turun untuk sarapan, orang tua sudah paham, terlebih lagi Baskara dan Aisyah masih ada di sini hingga banyak obrolan yang tak terlewatkan.
Ibu hanya sesekali melirik ke kamar anaknya itu, kalau biasanya pagi selalu berkutat manja pada ayahnya, sekarang ada suami yang menjadi pelampiasan.
__ADS_1
Tak apa, biar cepat memberikan dia cucu, sebentar lagi juga Saka menikah, panen mereka tahun-tahun ini.
"Bu, Aisyah suruh habiskan itu!"
"Iya, nanti kalau dia mau lagi, pasti dia ambil Dia di sini sampe Bas pulang kerja kok!"
"Oh, pantesan kamu senang, ada temannya." ayah cubit pinggang itu, membuat ibu melotot karena ada anak dan menantu mereka yang tengah makan.
Baskara menerima suapan istrinya sambil mendengarkan ocehan Saka akan trik pekerjaan di luar sana, belum lagi Saka akan sibuk terbang ke sana ke mari, hal itu membuatnya terkadang kuwalahan.
"Aku bantu, tapi pasti aku limpahkan ke yang lain juga, kan aku ada anak bayi, masa iya anakku ditinggal kerja jauh!"
"Ya ampun, Kak. Setelah aku menikah kan bisa bebas lagi, ini cuman karena urus surat saja, aku butuh Kakak!"
"Ahahahah, bagaimana ya, hmm mau tidak ya?" Baskara sengaja mengulur waktu, dia mau melihat kesungguhan adiknya itu.
Setelah melahirkan nanti, Aisyah ditinggal kerja pun tak masalah, hanya Baskara lebih ingin menggoda adiknya saja sekarang.
Saka terus merengek bak anak kecil pada kakak tuanya itu, membuat ibu hamil tertawa dan kedua orang tuanya geleng kepala, bisa-bisanya ahli tembak begitu merengek pada kakaknya sendiri, meminta bantuan karena endak menikah.
Tanpa malu lagi, Saka memeluk Baskara yang sontak melongo, hilang wibawanya karena ulah Saka di depan Aisyah, mana ada juru tembak saling berpelukan, sesama pria lagi.
Baskara dorong-dorong menjauh, dia sedang makan dan malu ditertawakan istrinya itu.
"Kenapa, Yah?" Baskara bergegas menghampiri kursi ayahnya, pria itu tampak memejamkan mata dan mendesis sakit. "Ada yang sakit?"
Ayah bergeleng, mengusir nyeri yang ada.
"Mana Ibumu?" balasnya tanpa menjawab pertanyaan Baskara.
Ibu segera mendekat, dia simpan wadah sayur itu lebih dulu, berdiri dan memijat pelan kepala suaminya
"Masih sakit? Mau ke dokter lagi, Yah?"
"Tidak, Sofi mana, Bu? Mau sama anaknya."
__ADS_1
Tadi, ibu dan sekarang ganti Shafiyah. Ibu tahan Baskara yang endak berteriak memanggil adiknya itu.
"Ayah kan tahu dia lagi sibuk bikin cucu!"
Ah, iya.
"Pasti ini karena merasakan ada yang sakit di dia, Bu!"
"Hih, apa sih kok disambungin gitu, nanti mantunya disidang lagi, jangan gitu. Masih sakit?"
Ayah bergeleng, justru memeluk pinggang ibu dan membuat wanita itu geli sendiri, sudah tua masih saja manja minta ampun.
Sebenarnya, Baskara yang paling berdenyut ketika ayahnya mengeluhkan sakit, walau ada ibu Jingga di sini, tetap saja orang tua kandungnya hanya tersisa ayah, untuk itu, setiap ayah mengeluh lelah dan sakit, dia yang paling pertama merasa tidak rela, meminta Tuhan memindahkan sakit ayahnya kepada dia saja, sekalipun itu berat.
"Aku bantu Ayah ke kamar saja, ya Bu?"
"Biar di sini saja, Ayahmu tidak apa-apa, dia hanya rindu pada adikmu itu, biasa apapun ada Sofi, jadi kalau tidak ada rasanya ada yang kurang, akhirnya begini, entah gigi atau apanya yang sakit, berpindah-pindah." jelas ibu.
Baskara pastikan ulang, ayahnya itu mengaku baik, tapi entah kenapa perasaannya selalu tidak enak, dia sangat sensitif pada hal yang menyangkut kehilangan dan pergi.
Seolah tak mau kehilangan moment bersama ayahnya itu, Baskara memutuskan berangkat siang, dia mau ayahnya diperiksa lebih dulu dan memastikan apa yang dia derita.
Rindu,
Kata itu yang ibu katakan, saat ayah tidur setelah meneguk obat resep biasanya.
"Rindu pada siapa?"
"Mamamu, ibunya, ayahnya, terutama mamamu."
"Tapi, Bu ... ada Ibu di sini, kenapa ayah merindukan mama?"
"Bas, jangan lupakan bahwa dia wanita pertama dalam hidup ayahmu!" ibu tersenyum. "Adapun Ibu juga selalu merindukannya, karena dia menjadi perantara Ibu mendapatkan kamu, Nak. Ayahmu menahan itu lama, dari kamu kecil, lima tahun dia pendam sedihnya, sebelum akhirnya kami saling menerima, sekarang meluap semua itu, orang tua akan selalu ingat yang telah lalu," jelasnya.
Baskara menunduk, "Apa Ibu tidak cemburu?"
__ADS_1
"Cemburu hal yang wajar, tapi itu kenyataan, tidak bisa dibantah, jadi tidak ada masalah. Kamu pasti tahu sesayang apa dia ke Ibu, bucinnya ayahmu ke Ibu, dari kecil, kamu sudah jadi saksinya. Ayahmu baik-baik saja, percayalah!"