
Yang ditunggu-tunggu telah tiba, hari ini di malam yang hangat dan sebentar lagi akan bertambah hangat karena pelengkapnya hadir, ibu menunggu tak sabar di teras rumahnya.
Wanita paruh baya yang tetap cantik diusianya yang tak lagi muda itu, berpenampilan khas selayaknya ibu-ibu yang ingin tampil baik di depan anak mereka, tak ada gundah atau gurat sedih, sepenuhnya senyum itu lebar.
"Aku mencintaimu, anak ini adalah ikatan cinta kita, buah cinta dan hati kita, aku bahagia mendapatkanmu menjadi istriku, Jingga..." suara ayah berdentum lagi di telinga ibu, senyum manisnya melebar, dia telan salivanya berulang kali, rindu terus menimpa siksaan pada batinnya. "Jangan banyak bergerak dan mau, kalau mau apa-apa biar aku saja. Dia anak laki-laki, dia akan menjadi sosok yang kuat dan sayang padamu!"
"Bagaimana dengan Baskara kita?"
"Dia tali cinta kita, tanpa adanya dia, mungkin kita tak akan pernah bersatu, terima kasih sudah menjadi ibu sambung terbaik baginya, menyayangi dia meskipun aku kejam padamu, aku mencintaimu." kilatan mata ayah kembali tergambar di bola mata ibu. "Jangan tinggalkan aku, saat ini saja sulit bagiku membayangkan bila kau pergi, mati pun biar aku saja dulu, Jingga...."
"Kenapa aku tidak boleh duluan?"
Ibu menunduk, dia menautkan jemari yang terasa hangat meskipun angin malam menderanya berulang kali di teras rumah.
__ADS_1
"Aku tidak tahu hidup seperti apa dan bagaimana bila kau tinggal, tapi aku yakin, bila aku yang pergi, anak-anakku akan menjadikanmu kuat, aku tidak bisa begitu. Suami selalu bergantung pada istrinya!"
"Jadi, apa kau mau mengatakan kalau para suami di luar sana salah pendapat karena mereka menganggap istri mereka lemah?"
Ayah mengangguk yakin dan dalam, pandangannya selalu tegas nan lembut pada ibu, kecupan di kening itu kembali terasa nyaman dan nyata.
"Bukan pria yang menguatkan wanita, tapi sebaliknya, kekuatan itu dari jiwa dan rasa, bukan akal. Laki-laki lebih tak pernah pakai perasaan kalau berpikir, paham?"
Baik Baskara, Saka maupun Shafiyah, ketiga anak itu tak luput dari gestur dan sorot mata ayah mereka, walau Shafiyah menggemaskan, tapi sisi tegas ayah ada di dalam jiwa ibu hamil besar itu.
"Bu, Saka dan Arsy sudah tiba ... angkat wajah Ibu!"
Ibu menyeka air matanya yang nakal turun, hanya mengingat suaminya saja mampu meluluh lantakkan ketegarannya, senyum ibu melebar, bibirnya bergetar, anaknya sudah berdiri di depan mata, bahkan berlutut di depannya.
__ADS_1
"Apa ini, kenapa menungguku dengan air mata?" kelakar Saka yang langsung mendapatkan jitakan dari Baskara, berbicara keras pada ibu mereka. "Duuh, Buuu... lihat anakmu yang satu ini, aku salah terus, dia selalu memukulku!"
Apa!
Baskara endak menarik lengan Saka, bisa-bisanya akting begitu di depan ibu mereka, mengaduh kesalahan dengan wajah sendu, menolak dihukum.
"Bas, jangan begitu, ayo minta maaf!" titah ibu sambil menahan senyum pada Baskara.
Baskara mendelik ke arah Saka, beberapa detik kemudian mereka sama-sama tertawa dan Saka berada di pelukan ibunya.
"Mana rendangku, Buuuu?"
"Abaaaang, kok gitu, ya tanya kabar Ibu, kok malah tanya rendang!" Arsy protes.
__ADS_1