Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Kejar Target


__ADS_3

"Bang, telpon dari siapa?"


Saka balikkan ponselnya, nama ibu ada di sana, dia lupa belum memberi kabar lagi setelah pulang karena sibuk menggoda Arsy, wanita itu menunggu seperti biasanya.


"Ada kabar baik lagi?"


"Anaknya Sofi kabarnya cewek, pasti gemesin kayak dia, pengen cubit sama gendong tuh bocah!"


'Waaaah, seneng pasti si Ula, anaknya cewek bakal gemesin. Abang mau cewek atau cowok?"


"Mmm, Abang nggak nentuin sih, mau cewek atau cowok ya nggak apa, penting lahir dari kamu!" jawaban Saka membuat Arsy terkekeh, sudah serius bertanya justru dijawab dengan candaan, belum lagi mencubit pinggang ramping Arsy itu. "Katanya harus ada jeda, ibu bilang gitu, misal kemarin udah, hari ini enggak, besok lagi, gitu."


Arsy manggut-manggut, dia siapkan menu makanan favorit suaminya lebih dulu, pria itu seperti biasa akan libur setelah dinas satu minggu, menemani Arsy di rumah dengan banyak ocehannya.


Tangan Saka masih bersarang di pinggang Arsy, mencubit kecil sambil menggelitik.


"Heh, kan tadi bilangnya harus ada jeda, ini Abang jangan cubitin Arsy, kalau Arsy pengen, bisa batal programnya, Bang!" Arsy tepis tangan Saka, kalau sedang kaku bisa sampai mengalahkan adonan cor, kalau lunak begini, kalah presto. "Abangg, kan udah-"


Saka putar tubuh itu, lantas dia raup bibir Arsy yang memang manis dan candu baginya, sedikit dia dorong sampai punggung Arsy menempel pada meja dapur.


Maid di belakang sana sontak berlari ke luar, menutup pintu penghubung sebelum kedua majikannya berhenti karena terganggu.


Duuuhh, anak muda kalau lagi kangen, nyosor aja!


Arsy ikuti permainan lidah suaminya, dia sedikit banyak sudah bisa mengimbangi meskipun saat sesak, dia harus memukul dada bidang suaminya itu.


Bersama Saka rasanya nano-nano, bisa sebal dan menganggap Saka tak normal, tapi begitu dia diperlakukan agresif, bisa ampun-ampun.


"Mau dilanjut nggak?" tanya Saka sambil menempelkan kening mereka berebut oksigen yang menipis. "Abang gendong ke kamar ya?"


Arsy mengangguk lemah, dia tak akan bisa menolak kalau suaminya sudah meminta, terlebih lagi dia suka bagaimana cara Saka memintanya, seperti menunggu izin jajan permen saja dari sang ibu.


Keduanya kembali merengkuh nikmat dan surga dunia bersama, entah keberapa kalinya hingga terkulai lemas dan Arsy menggigil dingin, begitu pun Saka masih saja mencolek dengan godaan.


Mendengar adiknya sudah tahu akan punya anak perempuan, hatinya menggelitik, dia mau juga punya anak segera, bulan ini akan dia kurangi jadwal perginya, dia akan pulang dan menanam benih, bahkan saran dari ibunya akan dia lakukan.


Olahraga teratur, makan sehat, buah yang cukup, daging sebagai pendukung, lalu vitamin dan susu.

__ADS_1


Saka peluk Arsy dari belakang, dia hanya memakai kolor, tanpa baju atasan.


"Bang, makan dulu, lapar!"


"Iya, ini mau ajakin kamu makan, ayo!"


Arsy memicing, di rumah ini kan ada maidnya, bisa pingsan melihat tubuh proporsional Saka nanti. Arsy ambil sembarang baju dan dia berikan, sedikit memaksa suaminya yang ingin pamer itu, dia menegaskan kalau cemburu dengan semua itu.


Saka hanya tergelak sambil geleng kepala, setiap ada waktu akan dia peluk tubuh ramping itu, entah bagaimana jadinya kalau Arsy hamil nanti, apa bisa ramai atau mungkin menjadi pendiam yang membuat dunianya sepi.


"Makan yang banyak, Sy!"


"Iya, ini mau makan, Abang mau tambah lauknya?" Arsy sudah membawa sendok besar. "Mau yang mana? Arsy udah cobain resep yang ibu kasih, terus tanya bibik, kayaknya enak dan pas sama lidahnya Abang!"


"Emang lidah aku seleranya gimana?" berkedip genit menggoda Arsy.


Plak!


"Abang, ih, udah tahu ... capek kakinya gemeteran, Baaaang!"


Untung pusakanya tak berubah menjadi kucing meong.


"Abang bakal ambil kerjaan di kantor aja, bulan ini?"


Saka mengangguk, dia mau fokus membuat istrinya hamil, kalau bisa satu minggu sudah hamil.


Sedangkan, Arsy hanya mengiyakan saja, toh dia tak akan bisa hamil tanpa pasokan benih dari sang suami, asal dia bisa tiduran saja setelahnya, kalau tidak, dia patah tulang banyak.


"Kecambah yang banyak, kata ibu gitu, tapi aku bisa muntah kalau kebanyakan!" Saka sudah mau menyerah.


"Secukupnya, Bang. Kan kita bukan herbivora!"


"Hah?" Saka melongo, lalu berikutnya dia tertawa keras, ada-ada saja. "Kamu emang ada-ada aja!"


Saka menyipitkan matanya, kembali melakukan kesibukan yang menjadi rutinitas sebagai ibu rumah tangga.


Tak semudah yang dia bayangkan, berumah tangga banyak sekali pergojalakan batin yang harus dia rasakan, bersama sang suami yang kaku dan harus disentil lebih dulu, beruntungnya dia punya kekuatan super hingga bisa membuat Saka melunak dalam waktu yang panjang, mau mendengarkan ceritanya dan memberi solusi, kalau tidak, dijamin dia akan mati berdiri begitu saja masuk ke rumah ini.

__ADS_1


Perlu Arsy tekankan pada dirinya bahwa tak semua orang sama, melihat kakak ipar dan adik iparnya bisa sesantai itu, lain dengan dia yang harus mengejar, tapi sekalinya dia membuat Saka melunak, habis sudah Saka ditangannya.


"Sy, agenda hari ini di rumah aja atau kamu mau jalan?"


"Abang mau ajak aku?"


"Kalau kamu mau jalan ya, Abang ajakin, kan Abang ikut kamu aja maunya ke mana, ke luar atau di rumah?"


Arsy menimang sebentar, seminggu bukan waktu yang lama hingga dia butuh banyak. pasokan dapur atau perlengkapan pribadi dirinya, semua masih banyak.


"Bang, di rumah aja deh."


"Beneran? Kamu nggak bosen?"


"Abang bosen?"


Saka bergeleng, banyak yang dia bisa kerjakan bila di rumah, termasuk memerika emailnya, tahu sendiri dia sibuk meskipun libur.


Namun, rasa sayangnya pada Arsy juga besar, jangan sampai istrinya itu merasa kekurangan kasih sayang darinya yang bisa memberi segalanya.


"Arsy mau di rumah aja, biar benihnya Abang tadi merasuk!"


"Aamiin, temenin Abang kerja aja di sana!" Saka tunjuk ruang kerja di lantai dua, tidak mungkin kalau di kamar terus, mari mencari spot yang bagus. "Kerja, Sayang."


"Kerja apa kerja?" Arsy manyun-manyun, tahu ide liar suaminya, sekali lirik ke bawah, sudah ada kode yang Arsy tangkap.


"Kerja, Abang ada email banyak ini."


"Beneran cuman mau Arsy temenin kerja, nggak yang lain? Misal Arsy yang dikerjain Abang gitu, Abang kerja di sini!" Arsy menunjuk dadanya.


Glek,


Saka menyeringai tipis, dia lantas menarik tangan Arsy agar tubuh itu menempel padanya.


"Bisa nggak, nggak usah pake mancing Abang nembak, hem?" tanya Saka berbisik.


Opppss!!

__ADS_1


__ADS_2