Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Siap-Siap


__ADS_3

Seorang pemuda yang usianya diperkirakan tak jauh beda dari Baskara tampak sedikit membungkukkan tubuhnya dan tersenyum begitu Baskara berjalan mendekat, dari penampilannya jelas bisa dinilai sampai sejauh apa tingkat pendidikan yang dia capai.


"Mas," sapa Nabila berseru, dia melambaikan tangan, lalu berlari.


Pemuda itu masih dengan posisinya, dia hanya meminta Nabila menjaga sikap di depan Baskara mengingat karena satu kebijakan yang Baskara buat dulu, perusahaan ayah mereka bisa bertahan sampai detik ini.


Nabila mencebik, pasalnya Baskara begitu mengesalkan.


"Pimpinan muda," sapa Nakula.


"Hentikan memanggil aku seperti itu, panggil nama saja!"


Nakula tersenyum, dia ulurkan tangannya mewakili sang ayah yang baru saja ada panggilan mendadak akan proyek bersama ini.


"Selamat atas penikahannya, maaf waktu itu kami sekeluarga tidak bisa datang," ujar Nakula.


"Tidak masalah, aku tahu kalian sibuk untuk mengurus semua ini, lain kali ikutlah ke sana, A-isyah pasti senang bertemu denganmu," balas Baskara.


Aisyah, siapa itu? Nabila.


Nakula mengangguk, "Dengan senang hati, rencananya setelah menyelesaikan tugas di sini, kami sekeluarga akan ke rumah lama, jadi mungkin kami bisa bertemu dengan paman Aksa juga, ibu apa kabar?"


"Ahahahahah, dia masih menjadi wanita tercintamu ya, ibuku baik-baik saja, dia pasti senang bertemu denganmu dan adikmu ini!" jomlo, wek.


Nabila melotot pada Baskara, dia lantas menepuk lengan Nakula.


"Kenapa Mas tidak bertanya kabar pujaan rahasia hatimu itu, Shafiy-"


"Hush, jaga mulutmu!" Nakula bekap mulut adiknya. Dia kembali mengambil sikap bijak di depan Baskara. "Kalau begitu, mari kita periksa sudut sana, mereka sudah menunggu kita, Bas!"


Baskara manggut-manggut, dia tidak terprovokasi dengan apa yang Nabila katakan, jelas nama Shafiyah hampir tersebut di sana, hanya saja dengan cepat Nakula alihkan pada hal lainnya.


Sesekali Nabila endak menempel dan mencuri perhatian Baskara, dia hampir gila sendiri mencari perhatian pria berwajah tegas dan datar itu, Baskara sama sekali tak menghiraukannya.


"Mas kan sudah bilang, jangan bahas nama Shafiyah!"


"Tapi, kan kamu lagi memendam rasa sama dia, Mas. Jalur cepat dekat sama dia cuman dari si Babas!"


"Billaaaa, kita harus sadar diri kita itu siapa, kita bisa begini sama ayah itu ya karena keluarganya Baskara, kalau mikir Shafiyah, terlalu tinggi, aku dikira tidak tahu malu nanti!" Nakula menegur habis-habisan adiknya itu.

__ADS_1


Biar saja aku simpan kekaguman ini pada Shafiyah, dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik! Nakula.


Pekerjaan mereka berjalan kembali, Nakula berdiri di samping Baskara, mendengarkan dan bergegas melakukan apa saja yang Baskara perintahkan.


Sejak perusahaan ayahnya bangkit kembali, sepenuhnya dia mengabdi di sini, berusaha dan belajar dengan keras demi bisa mengimbangi perkembangan ilmu yang ada, menegakkan kedua kakinya demi pundi masa depan.


"Yakin mau mengajak Nakula bertemu Aisyah, Bas?" Yoga nikmati es campurnya.


"Kenapa memangnya, dia bukan pria nakal sepertimu!"


"Heh, pria itu wajib nakal, supaya tahu mana yang baik dan tidak!" Yoga membela diri. "Apa tidak cemburu?" kedua alisnya naik-turun.


Baskara melirik tajam, "A-isyah sudah mengatakannya, dia mencintai aku, hanya aku!" wek, lidahnya terjulur.


Yang mendengar mau muntah, wajah Yoga rasanya retak, hancur, tak mau menempel pada tempatnya lagi.


"Paman, aku rindu padanya."


"Mati saja," sahut Yoga.


"Apa?!" satu tangan di tengkuk Yoga.


Plak!


***


"Ais harus pakai baju yang mana ya? Kakak suka yang mana? Semuanya gelap, Kakak tidak pernah komen sih, tapi yang mana ya yang dia suka?"


Aisyah duduk di depan lemarinya, hari ini dia sudah kembali ke rumah Baskara, kemungkinan nanti malam atau besok pagi suaminya akan kembali, itu artinya dia harus siap-siap lebih dulu.


Makanan untuk Baskara, semua bahannya sudah siap di dapur, tinggal satu ini yang kemarin dia ingin tanyakan pada ibu mertuanya, tapi dia malu.


"Tidak mungkin menunggu kakak di kamar memakai baju pendek, Ais juga tidak terbiasa memakai baju pendek di depannya, nanti juga menunggu kakak di depan, mana ya, yang mana?" dia frustrasi.


Ini kali pertama dalam hidupnya akan menyambut seorang pria belahan jiwa pulang dari bertugas, setidaknya dia menjadi sosok yang enak dipandang, membuat lelah suaminya hilang seluruhnya, bukan membuat suaminya semakin suntuk.


Apa nanti kakak langsung meminta itu? Kakak tidak lelah apa?


Aisyah berlari naik ke ranjang, dia menggigil membayangkan malam pengantin yang terlewat itu di mana dia akan menyerahkan dirinya utuh pada sang suami, dia dekap tubuhnya sendiri semakin rapat, demam dan dingin bercampur menjadi satu.

__ADS_1


Bulu kuduknya meremang membayangkan kulit dalamnya bersentuhan dengan kulit Baskara, dia rapatkan kedua kakinya, selama ini tak pernah ada yang melihat dirinya tanpa balutan kain, tapi nanti bila suaminya pulang, dia harus mau melepas semua ini, tubuhnya adalah milik suaminya.


"Ais takut jadinya, nanti kakak buka ini dan ini?" dia menunduk. "Aaaaaerggghhhhhh!" berteriak di balik selimut.


Walau kamar itu ada pendingin ruangannya, Aisyah rasa demamnya terlalu tinggi sampai dia tak bisa merasakan hal itu, keringatnya besar-besar dan deras, tak kuasa membayangkan nanti dia berbuat apa saat suaminya tiba dan meminta hak itu, haruskan dia diam atau mengimbangi suaminya.


Tapi, mengimbangi bagaimana? Ais tidak tahu?


Hampir saja Aisyah lempar ponsel di dekatnya itu, berdering sangat kencang dan ada nama suaminya di sana.


Ini waktunya, dia tidak punya benteng untuk bersembunyi lagi.


Terima atau tidak, diterima atau tidak ya?


Aisyah rasa dirinya belum siap, dia jauhkan ponsel itu, tidak mau menerimanya sampai tiga kali sang suami menghubungi dan mengirimkan pesan.


"A-isyah ada di rumah Ibu?" Baskara hubungi ibunya sambil mengemudi.


"Tidak, dia sudah kembali, memangnya ada apa?"


"Oh, dia pasti di dapur, aku telfon tidak bisa. Aku perjalanan pulang, Bu."


"Ah, iya. Kamu hati-hati ya, jangan ngebut!"


"Iya, aku sayang padamu."


"Ahahahahah, mau pingsan kalau begini, sudah hati-hati ya ...."


Ibu simpan ponselnya di nakas, lalu dia ambil lagi, berniat menghubungi Aisyah, siapa tahu kalau dia yang menelpon akan diterima.


"Dia tegang sepertinya Bas mau pulang, memangnya masak apa sampai tidak menerima telfon dia ya, sebentar-" ibu hubungi menantunya. "Iya, tidak diterima, coba bik Nur saja!"


Tuuuttt ....


"Bik, Aisyah di dapur sama kamu?"


"Non dari datang tadi langsung ke kamar, Nya."


"Oh, ya ampun anak muda lagi siap-siap, ahahahah, yasudah salam buat dia ya, Bik. Bilang semangat gitu!"

__ADS_1


Bik Nur mengangguk sambil garuk-garuk, semangat apa?


__ADS_2