
"Syy ..." Saka tersentak dengan nada tinggi Arsy, bahkan Arsy menitihkan air mata setelah menjawab Saka. "Astaga, sini!" Saka peluk istrinya.
Benar saja, Arsy langsung menangis di sini, gadis yang Saka kenal periang itu mendadak menjadi gadis sensitif dengan semua gejolak. yang sulit Saka mengerti.
Oke, dia memang tak terlalu paham akan wanita, lebih mudah memahami senjata yang dia punya dan memainkannya dibandingkan memilah ucapan wanita.
Tapi, ini istrinya yang harus dia pahami dan legakan setiap hari, nyatanya belum bisa dan tak mudah hingga batin Arsy kesal.
Sabar, salah satu harus ada yang mengerti dan diam, bila saling menjawab akan timbul masalah baru, Saka mencoba membuat kondisi ini membaik sampai Arsy merasa tenang.
"Duduk sama Abang!" pinta Saka melembutkan suaranya.
Arsy menurut, dia belum mau melepaskan pelukannya, dia malu karena berani membentak Saka yang selama ini selalu baik dan memakai nada rendah padanya.
Untuk sejenak diam memang lebih baik, Saka usap punggung itu, lembut dan mencium sesekali bahu bergetar Arsy, mungkin dengan ini dia bisa membuat Arsy merasa senang dan tenang, merasakan kembali cinta dan kepercayaan yang ada.
"Emuah, Abang nggak tahu kamu kenapa, tapi kalau kamu butuh tempat buat curhat, Abang selalu siap dan ada, Abang bakal dengerin kamu dan kasih solusi sebisa Abang. Ya, Sayang ... percaya sama Abang, kan?"
Arsy mengangguk, entah dia sendiri juga tidak tahu, biasanya dia itu pandai mengontrol diri, tidak tahu kenapa dia sampai kelepasan dan alangkah menyesal juga malunya sampai membentak Saka walau tanpa ada emosi yang tersirat.
Kecupan berulang kali Saka berikan pada istrinya itu, dia percaya dengan pendekatan yang baik, maka baginya mudah membuat Arsy mengerti akan dirinya dan meluapkan semua.
"Bang, maafin Arsy."
Saka tersenyum. "Nggak ada yang perlu dimaafin, Abang tahu Arsy lagi kesel, nggak apa. Abang banyak tanya ya?"
"Enggak, lagi nggak enak aja moodnya, panas gitu di dadanya Arsy kayak ada yang mendidih, tapi aku nggak tahu apa, susah buat diungkapin, Bang ... pengen marah, nangis, ketawa, diam, banyak tingkah dalam satu waktu, akhirnya Arsy kesel dan bisanya teriak, coba gimana yang Abang lihat, kucel kan aku?"
"Kucel tapi cantik, Sayang... Abang suka lihatnya kok, kamu nggak ada kurangnya, apalagi bikin Abang panas tiap malem. Nggak apa, namanya badan dan jiwa itu ada sisi capeknya, Abang kalau sebel capek sama kerjaan juga suka main tembak aja, tapi di tempat latihan, biar nggak kenak orang, udah sekarang Abang peluk biar tenang ya..." Saka dekap semakin rapat.
Bau!
Arsy dorong tubuh Saka, biasanya memang dia suka menempel dan ujung hidungnya ada di dekat ketiak Saka, tapi ini dia merasa tidak suka sama sekali, mendorong Saka menjauhkan diri dan berpindah duduk.
"Kamu bau, Arsy nggak suka baunya!"
"Bau apa? Abang udah mandi, pake deodoran kesukaan kamu juga, kok nggak suka, Sayang?"
"Pokoknya nggak suka, keteknya bau, aku nggak doyan!"
Hueek!
Saka periksa bau badannya, segar dan dijamin bisa membuat istrinya itu meminta jatah malam ini, tapi nyatanya Arsy tidak mau sama sekali, dia dekati, justru diberi bantal untuk tidur di luar, semua yang ada bau Saka tidak mau diletakkan di dalam kamar, big no.
__ADS_1
"Kenapa lagi ini?" gumam Saka sembari memeluk bantalnya di ruang tamu, sofa cukup besar dan panjang, setidaknya bisa membuat dia terlelap.
Satu jam sampai dua jam, Saka memang suka terbangun karena terbiasa berada di lokasi gawat darurat yang mengharuskannya siaga.
Tapi, suara rintihan dan tangisan wanita ini yang membuatnya tak nyaman, seingatnya masalah hantu menangis itu cuman ada di tanah air saja, atau mungkin hantu mak kun itu pindah ke luar negeri untuk mencari job baru.
Saka menggosok telinganya, suara itu semakin kencang dan nyata hingga dia berlari ke kamar mendapati Arsy duduk diambang pintu dengan air mata berlinang.
"Abang nggak tahu perasaan cewek, nggak pernah mau paham sama pintanya aku!" bugh, dia pukul Saka.
"Sy, kan tadi kamu bilang Abang tidur di luar, Sayang... mana yang Abang nggak paham sama kamu, Abang nggak lawan kamu loh, Sayang... plis, kamu kenapa?" Saka berusaha memeluk, tapi Arsy dorong menjauh.
"Abang nggak sayang sama aku, lebih suka tidur sendiri daripada sama aku, kalau aku usir itu harusnya Abang rayu Arsy biar mau, Abang nungguin Arsy buka pintu, di dalem Arsy tungguin Abang malah tiduran nyenyak di kursi!" Arsy menjejak kesal, dia sesenggukan sampai tubuhnya lemas dan pingsan.
"ARSY!"
Saka tangkap tubuh lemas istrinya, beruntung masih bisa dia amankan sebelum Arsy terjatuh dan kepalanya terbentur marmer, jantungnya berdegup kencang hampir sesak sendiri.
"Sy, Sayang... sadar hei!" Saka berikan minyak hangat ke hidung Arsy, tak lupa dia cium dan mendekap tubuh yang mendadak dingin. "Kamu kenapa, Sayang? Bangun dong, Abang takut kamu kenapa-napa, Sy... Sayang, hei Abang di sini, maafin Abang!"
Demi apapun, Saka sendiri tak bisa berpikiran jernih, dia terus mendekap Arsy sampai tubuh itu kembali hangat, bergegas dia memakai jaket dan membawa Arsy ke rumah sakit terdekat.
Sudah banyak praduga di kepala Saka, dia merasa gagal menjadi suami yang tak perhatian sama sekali dengan sang istri, dia sudah berusaha paham, tapi tetap saja salah.
***
Saka sugar rambutnya ke belakang, bodoh sekali dia sampai tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya.
Sedikit saja tadi dia terpancing pada amarah Arsy dan istrinya itu jatuh, dipastikan dunia keduanya akan runtuh, Arsy jelas akan membencinya.
Patut dia bersyukur pada Tuhan akan sikap dan pengendalian sabar yang bisa dia pertahankan, Saka kecupi punggung tangan yang bebas dari jarum infus itu, untuk sementara Arsy harus ada di sini, di bangkar yang mungkin membuat gadis itu mati karena bosan.
"Little Mom kesayangan," ujar Saka haru, dia akan menjadi ayah setelah ini, ada makhluk kecil yang tengah bertahan hidup dan tumbuh di dalam rahim istrinya, beruntung mereka tahu sejak usia dini agar lebih hati-hati. "Sayang, bangun yuk, pengen peluk kamu!"
Kembali lagi Saka kecupi punggung tangan Arsy yang lemas, kemungkinan akan ada penjagaan ketat di rumah Saka, maid yang di rumah akan dia tambah demi melayani sang istri, seperti yang dokter bilang kalau sampai dua minggu lagi, Arsy hanya boleh di sekitaran kamar saja, kalau mau ke luar kamar diusahakan pakai kursi roda demi menjaga kondisi kandungannya.
"Sayang, bangun gih, Abang kangen sama ocehan kamu, nggak mau omelin Abang? Masih marah karena Abang tidur di luar, hem?" Saka pun mengganti bajunya tadi, dia meminta supir kantor yang siaga ke rumah mengambil ganti. "Abang udah nggak bau, apa si kecil yang bikin kamu nggak suka ketek Abang lagi, hah? Dia nggak tahu aja kalau Momnya suka, bangun Sayang... Abang kangen!"
Suara Saka yang tak mau diam membuat tidur Arsy terusik, dia membuka mata perlahan sambil menahan pusing di kepalanya yang terus berdenyut juga berputar.
Bibirnya terbuka kaku, sulit rasanya mau berbicara kalau begini, hanya desisan lirihnya terdengar dan membuat Saka mendongak.
"Sayangku!" Saka bangkit dan mencium kening Arsy. "Tunggu, aku panggil dokter, little Mom!"
__ADS_1
Hem, little mom? Siapa dan apa itu?
Senyum di wajah suaminya mengalahkan mentari dan sinar rembulan, Arsy berulang kali menanyai dirinya sendiri, baru saja Saka menyebutnya dengan panggilan baru, little mom untuk dirinya yang entah kenapa.
Arsy meringis saat tahu salah satu tangannya tertancap jarum infus, bahkan dia berbaring di ruang inap rumah sakit, bukan di kamarnya, kelopak matanya terbuka lebar saat dokter dan suster mendekat, memeriksa kondisinya dan tersenyum berulang kali.
"Bagus, sudah lebih baik, tapi saya sarankan istri Anda menginap di sini sampai besok sore, Tuan."
Saka mengangguk. "Bagaimana kondisi bayinya?"
"Calon buah hati Anda dalam kondisi baik, tapi dipastikan jangan banyak gerak dan dijaga moodnya, permisi."
Kedua orang itu berlalu meninggalkan dua orang dengan raut wajah berbeda, Arsy berusaha mencerna dengan baik apa yang baru saja dokter itu katakan dan suaminya tanyakan.
Saka tersenyum lebar, dia dekap kepala Arsy dan mencium kening itu lama, turun ke bibir yang dia satukan sampai Arsy gelagapan.
"Sayang, kamu hamil anak kita." Saka berbisik tepat di depan mulut Arsy, dia kecup sekali lagi. "Kita akan jadi orang tua setelah ini, makasi Sayang!"
Arsy masih merasa bingung, tak mengerti akan ucapan suaminya, menjadi orang tua dan dia sedang hamil, sejak kapan karena dia tak merasa sesuatu selain kesal saja.
"Baang, kamu ngomong apa?"
Saka tertawa, dia tahu istrinya akan sama syok seperti dia tadi yang tak percaya, tapi dokter sudah memeriksanya.
Keputusannya tidak mengambil dinas sebulan tak salah, dia berhasil menanam saham terbaik. di rahim istrinya, bahkan sudah berkembang menjadi janin indah menggembirakan.
"Kamu hamil, Sayang."
"Aku, aku hamil?" Arsy menakup wajah Saka yang ada di atasnya. "Abang nggak bohongin aku, kan?"
Saka bergeleng, dia cium bibir Arsy sekali lagi, entah kenapa dia justru ingin mencumbu istrinya, beruntung alarmnya berbunyi dan ingat pesan dokter, Saka harus menahan diri sampai bayi itu kuat.
"Ada anak kita di rahim kamu, anak aku dan kamu, buah cinta kita yang kita proses tiap hari, ahahhaha, makasi Sayang...."
Arsy pejamkan matanya singkat, memanas karena tangisnya pecah, yang dia tunggu akhirnya tiba, dia akan menjadi ibu sebentar lagi, sekuat tenaga dan jiwa raganya akan berjuang menjaga anak di dalam kandungannya itu.
"Makasi, Sayang. Abang mau teriak girang, ahahahahah."
"Benihnya Abang ya?"
"Eit, iya dong. Sayang, jangan bikin aku takut!"
Arsy terkekeh, jelas benihnya Saka, setiap hari dia membuka diri dan rela dasternya robek karena Saka saja, membuat Saka puas dan menancap sempurna.
__ADS_1
"Ini anak aku, Sy!" tegas Saka, hak paten sudah.