
Hola, semoga sehat selalu ya, hilang yang meriang-meriang!
***
Tespek garis dua, harapan setiap wanita yang sudah menikah, terlebih lagi suaminya sudah sangat siap menjadi seorang ayah.
Selalu ada rasa bersalah bila ditanggal merah biasanya, hari yang ditunggu, yang dilihat bukan dua garis merah, melainkan bercak merah diikuti aliran deras setelahnya.
Baskara berikan minuman hangat ke depan Aisyah, hari ini bisa dikatakan dia akan mulai berpuasa, sejak kabar kehamilan Gina dua bulan lalu, setiap bulannya setelah keguguran waktu itu, Aisyah rutin memeriksa dan membuat tanda di kalendernya.
"Maaf ya," ujar Aisyah.
Baskara tersenyum, "Kamu selingkuh, A-isyah?"
"Mana mungkin!" dia terbelalak.
"Kalau begitu, jangan minta maaf!" Baskara kecup bibir merah itu. "Kamu cuman boleh bilang maaf kalau selingkuh atau masak sampai gosong, itu bahaya!"
"Tapi, ini kan-"
"Tidak." Baskara gelengkan kepalanya. "Ini atau itu, tidak ada yang layak dimintakan maaf. Kalau kamu minta maaf, itu akan sama saja menyalahkan Dia. A-isyah, setiap malam kamu tepati panggilannya, selama ini semua yang kamu minta terpenuhi, apa karena satu hal ini, kamu mau menyalahkan-Nya?"
Mata Aisyah berkaca-kaca, dia jatuh memeluk Baskara, dia melihat banyak sepupu yang mudah hamil dan dalam waktu dekat setelah menikah, sedang dirinya tidak. Sekalipun dia tahu, mama Fya juga mengalami hal yang sama, tapi entah kenapa hatinya bebal tak bisa mau mengerti, dia larut dalam perasaannya terus.
Usapan lembut Baskara di punggung itu membuat isakan Aisyah yang kencang berubah reda.
Memang tak banyak yang menyindirnya, hanya segelintir orang, walau begitu ucapannya sangat menancap di hati Aisyah, kekuatannya entah ke mana.
"Apa yang kamu mau sekarang, hem?"
Aisyah tidak menjawab.
"Program hamil mulai bulan depan?"
Masih belum menjawab, Baskara pandangi wajah seindah rembulan itu.
Sungguh, Aisyah harus banyak belajar kesabaran pada suaminya, pria itu tegas dan garang di luar, tapi begitu di rumah, semua atributnya terlepas, Baskara menjadi sosok yang berbeda, suami yang sangat suami, tidak bisa Aisyah jelaskan.
"Kakak tidak keberatan?"
__ADS_1
"Tidak, untuk apa aku keberatan, A-isyah. Programku itu bersamamu, jadi aku merasa aman kalau itu tetap bersamamu, hanya kamu!"
Aisyah tersenyum, dia mau mengatakan hal ini sejak bulan lalu, tapi maju-mundur dibuatnya sendiri mengingat tak jarang para pria menolak, kebanyakan pria menyatakan dirinya baik-baik saja.
Namun, suaminya ini menerima, bahkan sebelumnya menawarkan dengan wajah yang sumringah.
Sreng, sreng, sreeng ....
"Kakak, tidak bosan'kan kalau makan sayuran terus?"
"Tidak sama sekali, itu menyehatkan, perutku juga tidak akan buncit, ahahahahah. Kamu mau punya suami perutnya buncit?" dia kembung-kembungkan perut.
"Ahahahahahahah, jangan gitu, Kak!" dia sakit perut membayangkan Baskara berubah seperti badut ulang tahun.
Tawa dan wajah cerianya Aisyah, itu yang Baskara inginkan, tugasnya terasa tuntas kalau dia sudah membuat istrinya tertawa.
Kurangmu itu kurangku juga, A-isyah. Ada aku!
Baskara suapi istrinya, bergantian, dia mau Aisyah merasakan bagaimana dicintai seutuhnya, tidak ada yang lain meskipun hanya sekadar harapan.
"Ahahahahah, Kakak, awas ya!" Aisyah kejar Baskara, mereka mengelilingi rumah ini dengan penuh gelak tawa.
Bik Nur lama mengabdi dan dia tahu bagaimana sepak terjang Baskara, melihat Baskara kejar-kejaran seperti anak kecil bersama Aisyah, tentu membuat dia berpikir ratusan kali.
"Sini!"
"Eh, tapi kan Ais belum bisa kasih Kakak itu!" mundur, tidak mau mendekat.
Baskara kerlingkan matanya, "Kamu mikir apa hayo?!"
Blush!
"Kamu yang ingin ya, A-isyah? Kamu kangen sama petani spesialmu ya, hem?" kini berganti genit.
"Kaaaaaakk, jangan gitu!" dia geli melihat suaminya genit begini. "Kakak!"
Tidak bisa bergerak, Baskara sudah berkuasa akan dirinya, membuat kancing-kancing itu terbuka dan melakukan apa yang dia mau.
Portal bawah tutup, bukan berarti yang atas, kanan dan kiri juga, kan?
__ADS_1
***
"Aisyah harus siap loh sama hasilnya juga, Bas." ibu memaparkan soal pemeriksaan sampai program kehamilan. "Kan, bukan kamu saja yang diperiksa itu apa ... sel itunya, tapi dia juga, kayak bude Eta, gitu loh dan itu harus siap. Misal, ada masalah di dia, kamu pastikan dia tidak syok, Ibu itu takutnya Ais semakin down," jelas ibu.
Baskara juga mempertimbangkan hal itu, dia sudah biasa akan kekecewaan, pekerjaannya begitu, tapi tidak dengan Aisyah.
"Tapi, bagusnya kalau periksa, kalian jadi tahu dan persiapan dini." imbuh ibu.
"Aku ambil di sana, Bu. Jadi, kalau misal ada penyakit baru, bisa terdeteksi, tapi waktu keguguran dulu, mereka bilang kondisi rahim dan keseluruhan dari A-isyah, baik-baik saja. Hanya-"
"Stres." tebak ibu dan Baskara mengangguk. "Sekarang pun dia juga stres, dia tidak bisa, tidak sampai hati mau balas mereka yang kasar ke dia, jadinya dia simpan di hati sampai penuh dan tertekan. Ajak dia ke luar kota saja, sekalian kamu cari pandangan kerjaan baru, buat dia merasa damai!"
Ide bagus, anggap saja mereka berbulan madu.
Beberapa destinasi tempat, Baskara terima dari ibunya, mereka memang sering ke luar kota, tapi bekerja, bukan lainnya. Walau keluarga ikut, mereka tidak lain sebagai tim pendukung, kali ini di kota itu tak ada pekerjaan, Baskara hanya akan mengunjungi kantor cabang baru, tidak ada pokok pekerjaan di sana.
"Kamu mau mereka bulan madu di sana?" tanya ayah.
Ibu mengangguk, "Kalau mendadak ajak Aisyah ke tempat wisata atau apa, nanti dia merasa bersalah sama Bas, jadi bergaya ajak kerja saja, jadi dia tidak ada beban dan tidak merasa membebani Bas, di sana Bas punya banyak waktu buat berduaan, Yah."
"Aku tidak masalah, kalau mereka mau. Aku kira tadi bercanda mau bulan madu di dekat kantor cabang, bukannya menyewa resort atau apa," ujar ayah. "Jingga, dokter di luar negeri waktu itu mengatakan tidak ada masalah, hanya pikiran, usahakan Bas tidak terpancing untuk kerja di sana!"
"Heh, yang memastikan tidak ada pekerjaan itu ya tugas kamu, Yah. Kan, nanti yang sering cari Bas juga kamu, apa mau Saka disuruh ke sini? Atau mau dibantu Sofi?"
Ayah menolak, dia akan meminta bantuan yang lain saja, Saka sedang sibuk di luar sana, kalau Sofi jelas tidak mungkin.
***
Seperti yang ibunya katakan, akan ada respon kejut dari Aisyah bila mendadak diajak pergi, kerjapan itu Baskara tangkap, Aisyah sedang dimasa sensitif sekarang.
"Kamu tidak mau?" Baskara berjongkok di depan Aisyah.
"Mana mungkin Ais menolak, tapi itu-" dia jeda sebentar, lalu dia lanjutkan sambil menahan malu. "Ais kan lagi libur, kalau pulang kerja Kakak mau, bagaimana?"
Heuh?
***
Mampirin juga "Bojomu semangatku" nya BuCil ya!!
__ADS_1
mamaciii....