Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Putus Asa


__ADS_3

Shafiyah jatuhkan kepalanya ke bahu ibu, entah dia besok mau mengatur menu makanan apa untuk ayahnya itu, seperti baru makan jenis makanan lainnya.


"Ibu, aku tidak percaya ayah akan berkata begitu, apa dia kelaparan di sana?" bergumam-gumam.


"Ibu sendiri tidak tahu, seumur menikah dan merawat tiga anak ayahmu, Ibu tidak pernah mendengar dia berbicara begitu. Apa benar kamu salah atau telat mengirim menu makanan pada tangan kanan ayahmu di sana?" balas ibu, kedua bahu Shafiyah terangkat. "Tapi, ini langkah baru, eheheheh, ayahmu itu aneh memang, bersyukur saja kalau setelah ini kakakmu pulang dan bersimpuh pada istrinya, iya kan?"


"Benar, Ibu benar. Aku akan memeluk ayah ratusan jam kalau benar kakak pulang dan bersimpuh di depan kak Ais." dia bersemangat. "Tapi, Bu-" jatuh lagi. "-apa pernah Ibu melihat kakak begitu selain mengayun tembaknya, hem?"


Ibu menganga, iya juga, ayah dan Baskara itu satu paket yang tak bisa dipisahkan, sekalinya mereka berbicara pastilah berkuasa.


Namun, entah kenapa ibu keukeh dengan prinsipnya, dia yang bersama Baskara saat dia tidur dan melakukan apapun diwaktu kecil, dia sudah mengajari bagaimana membolak-balikkan hati.


"Ingat, dia kan berdarah campuran, tidak sepenuhnya ayahmu, jadi pasti ada lembutnya, oke!" keduanya mengangguk yakin, tidak ragu pada ayah dan Baskara.


Di teras belakang tempat biasanya Baskara menghabiskan lemon hangat sembari menikmati suara gemericik air kolam belakang, Aisyah duduk di sana, wajahnya pucat dan matanya sembab, dia tidak bosan menangis sejak tahu suaminya pergi dan kembali dari rumah sakit.


Banyak pesan yang dia kirimkan pada suaminya, kata maaf tak terhingga tertulis di sana, bahkan dia berjanji akan bersujud di kaki suaminya kalau kembali, dia bersalah di sini.


Nama pria lain yang dia sebut, lalu dia bertemu dan berbicara lama dengan pria lain, tanpa ada suaminya, dia bersalah, pantas Baskara meninggalkannya, itu sudah mencoreng harga diri suaminya.


"Ais, makan ya ...." ibu berusaha membujuk.


"Tidak, Bu. Aku masih kenyang."


"Jangan begitu, nanti kalau Bas pulang, lihat kamu pucat dan kurus begini, dia pasti tidak suka. Ayo, makan ya!"


Aisyah menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Percaya sama Ibu, makan sekarang, dia pasti kembali."


"Kapan kakak kembali, Bu?" dia angkat wajahnya. "Apa benar kakak mau kembali ke sini ketemu Ais?"


Ibu usap tangannya, "Dia pasti kembali, ada Ibu di sini, Bas tidak akan mengabaikan panggilan Ibu."


Aisyah melihat kepastian di mata ibu, dia pun membuka mulutnya, hanya dua suap dia terima setelahnya dia menolak, hatinya tak sekuat itu ternyata untuk percaya, ketakutannya jauh lebih besar.

__ADS_1


Lihat, berapa hari dia jauh dari suaminya, baru saja, tapi hatinya merasakan kerugian yang luar biasa, ibadahnya tidak lengkap tanpa suaminya di sini.


"Kak Ais menangis lagi?" tanya Shafiyah.


"Iya, tanyakan pada ayahmu, kapan kak Bas kembali, sayang!"


Shafiyah bergegas menghubungi ayahnya, kepalanya sampai miring ke kanan dan kiri merayu yang jauh di sana, bahkan dia sampai menawar bujuk rayu dengan pelukan ribuan kali hanya untuk ayahnya.


"Bagaimana?"


"Ayah tidak tahu, tapi ayah akan berusaha, demi aku!" Shafiyah menepuk dadanya yang membusung.


"Dasar anak ayah!" balas ibu.


***


Ini menjelang pergantian hari, tiga hari tak bersama atau satu rumah dengan suaminya Aisyah rasa bukanlah hal yang wajar, terlebih lagi mereka ada masalah.


Harapannya pupus, dia duduk di depan lemari bajunya, mungkin ini hari terakhir dia seharusnya ada di rumah dan keluarga besar ini, dia akan kembali asing seperti dulu sebelum mama Fya mengambilnya.


Aisyah memutuskan ke luar dari rumah ini, semakin di sini, dia semakin letih akan rasa bersalahnya.


Nanti, saat kakinya sudah melangkah ke luar rumah, itu akan menjadi hak terakhirnya menyandang marga Narendra, dia akan kembali menjadi Aisyah biasa, bukan bagian keluarga ini.


Dia tahu ini bodoh, tapi dia tidak mau begitu Baskara kembali dan dia menjadi beban.


Diam-diam Aisyah melangkah turun, dia tak membawa apapun selain ransel kecilnya, hanya satu baju dan mukenah saja, dia benar-benar menjadi anak kecil yang ditemukan mama Fya dulu.


Sesekali dia memandang kamar Baskara, dia berharap suaminya membuka pintu kamar itu dan menerima maafnya, tapi sampai air matanya mengering, belum ada tanda-tanda suaminya kembali.


Tas itu dia kenakan, tekadnya sudah bulat, maid dan penjaga dia minta tutup mulut, lantas siapa yang bisa menolak bila Aisyah memintanya dengan bercucuran air mata.


Kakak, maafkan Ais. Semoga setelah ini kakak menemukan gadis terbaik dan cinta sejati kakak, maafkan Ais.


Pintu utama rumah itu terbuka, maid dan penjaga memastikan ibu dan Shafiyah sudah terlelap hingga tak ada yang tahu kepergian Aisyah tengah malam ini.

__ADS_1


Seharusnya sore ini batas yang ayah berikan, entah kenapa Baskara belum menampakkan dirinya di depan Aisyah, yang menunggu sampai terlelap.


"Non, apa Bibik panggilkan ojek?" tawar bik Nur, dia ikut ke depan pagar.


"Tidak perlu, Ais bisa jalan ke depan, di sana biasanya ada taksi, Bik.


***


Baskara tendang ban mobilnya, bisa-bisanya bocor di jalanan sepi dan membuatnya kesusahan mencari tambal ban, belum lagi pesuruh di kantornya susah dihubungi.


Seharusnya dia sampai sebelum senja berlalu, mendadak ada yang harus dia selesaikan dan begitu selesai, mobilnya tidak bersahabat.


Brengsek!


"Tidak ada taksi di sini, yang benar saja, kenapa juga tadi lewat sini, bodoh!" memaki dirinya sendiri.


Ibu sudah mengabarkan padanya akan kepergian Aisyah dari rumah, hal itu membuat Baskara semakin mendidih kebingungan. Jalanan tak salah apa-apa, dia maki habis-habisan.


Dia gusar, memukul mobil dan apa saja untuk melampiaskan kegelisahannya itu, sekalinya Aisyah pergi, maka akan sulit mendapatkan hati Aisyah lagi, rasa bersalah mulai merundung hatinya.


Kalau saja aku tahu gelang yang aku dapatkan jauh lebih banyak dan dia menungguku dulu, aku tidak akan meragu, bodoh!


Sampai tiga puluh menit dia menunggu, belum ada tanda-tanda baik untuknya, Baskara mulai putus asa, kedua tangannya terkepal sampai buku kukunya terlihat putih, jalanan sepi ini menjadi tempat frustrasinya bernapas.


Ciiittttt!


Aisyah hampir terjungkal ke depan, dia tangan dengan kedua tangannya, taksi yang dia naiki memijak rem mendadak.


"Ada apa, Pak?" takut menjalar, ini jalanan sepi, bisa habis dia sendiri di sini. "Kenapa berhenti?" gemetar takut.


Supir itu menunjuk sedan hitam yang berhenti di tengah jalan, ada orang yang duduk depresi juga di sana.


"Non, takutnya itu begal!"


Aisyah dekap tubuhnya sendiri, dia semakin ketakutan, membaca doa apa saja untuk perlindungan.

__ADS_1


"Saya lihat dulu ya, Non. Kayak begal, tapi kok mobilnya bagus banget, tunggu di sini!"


"Iy-iya."


__ADS_2