
"Abang hari ini libur kan ya?"
"Hem." libur, tapi tangannya tak berhenti berselancar di layar pipih yang dia pangku.
"Bisa nambah liburnya sampe besok?"
Saka bergeleng, dia belum sadar dengan ekspresi kecut istrinya, yang sudah tak sabar mau senam kaki di pusat perbelanjaan, mau memenuhi kulkas dan dapur mereka dengan banyak makanan.
Klontang!
Tidak, suami kakunya itu masih diam dan tak bergeming, entah pekerjaan apa yang tengah ditekuni sampai tak melirik Arsy sama sekali, rasanya semalam sudah cukup bagi Saka memujanya.
Apa dia merasa jengkel dicampakan?
No, Arsy tak semudah itu menyerah, teflon sudah kembali ke raknya, kini dia lepas ikatan melingkar di area leher hingga kain itu turun dan membuat buah segar yang malu-malu itu tampak sedikit, tak kurang, dia gulung ke atas bagian daster bawahnya, sengaja sampai perut.
Hup!
Dia duduk tepat di samping Saka, menempel seperti cicak.
Saka menoleh dengan banyak gurat bingung di wajahnya.
"Dia sama aku seksi mana?"
What?!
Saka menjawab dengan datarnya. "Kamu."
"Kalau seksi aku, kenapa Abang suka lihatin dia seharian, Arsy dianggurin?"
Dianggurin? Bukannya tadi Arsy minta ampun bila dia mendekat untuk kembali menggila seperti semalam? Apa dia salah lagi?
"Kamu ngomong apa sih?" bingung.
"Tuh!" manyun-manyun ke pekerjaan Saka. "Dia terus yang dilihatin, badannya Arsy enggak!"
Kan, ini salahnya.
"Abang lihatin kamu daritadi, katanya takut keterusan, jadi lihat ini aja, ya kan?"
"Ih, nggak gitu!"
"Terus?" kamus wanita memang sulit dimengerti, banyak sekali kosa kata yang harus Saka pahami, sedang dia bukan tipe yang suka begitu. "Abang nggak ngerti maksudnya."
"Ih, ngeselin!"
__ADS_1
Arsy bangkit, tidak jadi membawa suaminya dalam rayuan maut, dia harus sadar kalau suaminya butuh kabel data banyak untuk saling menyalurkan isian kepala.
Tubuhnya panas, inginnya sampai ke ubun-ubun, tapi harus tahu diri kalau suaminya memang beku dan kaku, butuh sentilan yang kuat dan penuh kesabaran.
"Syy, ngapain ngelamun di teras?"
"Nungguin Abang siomay!"
"Mana ada di sini abang siomay, Sy, yang bener aja kamu!"
"Bener, habis nggak diperhatiin sama Abang!"
Kan, salah lagi dia, tadi tidak mau diperhatikan lebih karena takut diterkam, sekarang marah, tidak mau bicara banyak, didekati emosi.
Maksudnya apa coba, harus gimana sama dia, maunya apa sih?
Saka berkutat dengan kesimpulannya sendiri, dia memilih masuk dan itu semakin membuat Arsy berdarah-darah, suaminya tidak peka sama sekali.
Sampai larut keduanya masih membisu, tak ada yang berbaring di kamar, berada ditempat yang berbeda.
"Hei, Abang salah apa sama kamu?" Saka peluk Arsy yang tengah membuat teh dari belakang, satu kecupan di bahu terbukanya. "Jawab dong, kita nggak bisa kan diem aja, harus ngomong, Abang nggak ngerti maksud kamu apa."
"Yang Abang tahu apa?"
"Salah!" Arsy berbalik hingga hidungnya menabrak dada bidang mempesona yang suka dia cakar-cakar itu.
"Salah di mananya?"
Arsy mendengus, benar-benar ingin dia sihir suaminya ini.
"Abaaaaaang, Arsy emang nggak mau begitu terus, pengen sama-sama Abang ngelakuin banyak hal, itunya bisa malem. Tapi, nggak berarti aku nggak mau deket Abang, mau dong dipelukin kayak tadi, terus ngobrol bareng sambil cium-cium, gitu!" jelas Arsy sambil menjejak.
Saka menimang sebentar. "Abang kepancing kalau udah kamu cium-cium," ujarnya jujur.
Arsy kembali manyun, dia memberontak kecil, tapi Saka tak melepaskannya, semakin merapatkan dekapan yang ada, bahkan berani mencium Arsy yang tengah mengomel, diam sejenak, lalu mengomel lagi.
"Abang nggak bisa udah lama nggak ketemu terus kamu cium, pengen angkut kamu ke kamar aja," jelas Saka lagi.
"Tapi, kan aku pengen dipeluk aja."
"Emang kalau Abang ajak gitu, kamu nggak mau?"
"Uuuhhhhh, Abang bukan gitu!" jadi dia yang merasa bersalah, mana wajah Saka memelas seperti tak diberi permen ibunya. "Abaaaaaang, nyebelin!"
Saka tak melepaskan pelukannya, dia tak tahu lagi, baiklah mungkin dia yang tak bisa menahan diri, tapi apa salahnya sedang Arsy begitu menggemaskan hingga ingin dia guling-guling saja.
__ADS_1
Sampai Arsy bisa dia tenangkan, baru Saka mengajak istrinya itu ke kamar, bukan di kasur, melainkan di sofa besar kamar itu, duduk berpangkuan sambil menonton film yang Arsy inginkan.
"Daritadi itu Arsy pengen kayak gini sama Abang tahu!"
"Ya mana Abang paham kalau Arsy nggak jelasin, Abang butuh bantuan terjemahan, Sayang." Saka jatuhkan wajahnya ke bahu terbuka itu, menguselnya sampai Arsy terkikik. "Kasih tahu Abang, Sayang. Seumur-umur mana pernah paham sama cewek, Sofi aja kalau gemes langsung cubit, ahahhahah. Abang peluk deh sampe pagi atau besok Abang libur lagi, hem?"
Yes!
Arsy tunjukkan jadwal jalan-jalannya, dia tahu Saka sangat sibuk, bahkan jadwal itu hanya isengnya saja, bisa jadi dia akan ikut Saka ke kantor dan menghabiskan waktunya di sana.
Satu tangan Arsy terangkat. "Filmnya belum selesai, Abang nggak boleh minta lebih dulu, eheheheh."
Wajah Saka sontak memerah, bukan marah, dia tengah menahan mati-matian gejolaknya sejak tadi, Arsy berada di pangkuannya.
Oke, hanya Arsy yang bisa mengubah es balok satu ini menjadi air mengalir, Saka kembali memeluk, fokus pada film, bukan yang lainnya.
***
Matahari mulai menyingsing, membuat yang bergelung di kamar terkoyak jiwanya untuk pergi.
Arsy tahu, suaminya tengah bingung mau pergi ke kantor atau bersamanya belanja, wajah itu terus saja dia amati sampai satu tangan terulur dan membuat dia berganti di gendongan.
"Abang kalau kerja nggak apa."
Ini, kosa kata wanita yang harus Saka kenali lagi, jangan sampai saat dia benar ke kantor, Arsy menangis darah di rumah karena tak dia perhatikan.
Tapi, apa artinya boleh bekerja nggak apa-apa itu banyak artinya.
"Kamu ikut Abang aja ya, gimana?"
"Abang nggak keganggu sama aku?" Arsy memasamg puppy eyes, menolak sekaligus memohon pada Saka.
Sungguh, demi apapun Saka harus memahami maunya sang istri.
"Nggak, Sayang. Malah enak kalau ada kamu di sana, Abang jenuh tinggal peluk kamu, terus kalau emang udah selesai, bisa jalan sama kamu, mau ya, Sayang!?"
Kini Saka yang sudah harus pandai merayu, berlaga dia yang membutuhkan sang istri lebih dari apapun.
Dengan senang hati, Arsy bahkan langsung membongkar lemari bajunya, memilih penampilan terbaik agar tetap menjaga kewibawaan dan menambah nilai sang suami.
"Abang, beneran?"
Saka mengangguk, dia bahkan melayangkan kecupan sayang dari jauh, demi hari yang indah.
Kapan wanita lebih jelas kalau bicara, sekali salah, mampus aku!
__ADS_1