Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Hari Penting


__ADS_3

"Istrinya Yoga, cewek kan?"


Hush, Pian melotot sejadi-jadinya, sudah jelas status istri itu ya perempuan, tidak mungkin dia menyebut pria itu istri, mana mau Yoga main adu pedang.


Mereka masih bersembunyi, sedangkan suara Yoga di luar sana perlahan menghilang dan tak bisa dia dengarkan jelas lagi, pasti posisinya sudah jauh.


Usap dada, merasa lega.


"Heh, jangan ngomong aneh-aneh, masa iya undangan?" Wira tak percaya, satu saja belum dia terima. "Jangan-jangan itu acara privat keluarga, jadi kayak aku sama Nando itu lolos, kalian saja yang kondangan, secara kalian itu kan pamannya!"


"Paman kepalamu!" Pian jitak kepala Wira. "Terus, masa iya yang datang hanya keluarga, selama ini kalau ada acara, keluarga dua belah pihak muncul, tapi ditambahkan kerabat dan teman kerja terdekat!"


"Lah, memangnya aku itu dekat sama siapa? Saka, Shafiyah? Kan, aku kernya sama Bas, Yan!"


Sial, berbicara dengan temannya satu ini memang membutuhkan kesabaran yang ekstra, dia kalah setiap kali berusaha mendebat Wira, belum lagi kalau Nando ada, bisa tercekik Pian.


"Paman yang baik harus beli hadiah nikahan ponakannya yang bagus dan mahal, jangan set panci yang cuman harga 250.000 saja, malu, Yan!"


"Mau nyumbang?"


Wira angkat kedua tangannya, dia masih punya tanggungan jawab, termasuk membeli makanan untuk teman atau kenalannya yang sering datang ke rumah.


Gila, Pian bergeleng di sini, yang satu lagi beluk mengaku, tapi dia pastikan akan sama dengan Wira juga, lelaki jadi biduan.


Tap, tap, tap ...


"Nakula?" gumam Pian menuduh lirih, seperti melihat wajah Nakula di seberang sana, tengah berjalan cepat sambil membawa laptop merah muda.


Diam-diam dia ikuti calon menantunya itu, Pian mengendap-endap seorang diri, matanya menelisik ke sisi mana Nakula akan pergi, tidak mungkin kalau Baskara mau bekerja dengan laptop feminim begitu, yang benar saja.


Brak!


"Ruangan Bas jadi benar kalau bapak hamil itu ingin laptop merah muda, apa setelah ini ada syukuran Bas jadi lunak?" gumamnya.


Sementara di dalam ruangannya.


Nakula serahkan laptop erot itu ke meja Baskara, sontak pria itu melipat kedua tangannya, memandang laptop cerah itu bergantian, dari satu warna ke lainnya.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Shafiyah meminta aku membawakan ini ke kantor, mau diminta tolong kek Bas katanya..." jawab Nakula, tak ada ekspresi senyum di sini, pagi ini masih tegang akan hari pernikahan dan semua persiapannya.


"Diapakan, ada yang rusak? "


"Katanya harus open, terus diservice kan!"


"Nah, itu yang gue maksud, dia minta bukan hanya dilihat, ada tambahannya, lagian aku buat apa laptop pink begitu, bisa syok semua di ruang meeting.


Nakula hanya tertawa kecil, dia juga hanya mendengarkan itu tanpa mau bertanya pada Shafiyah lebih lanjut.


Begitu Baskara buka dan cek laptop adiknya, senyum itu melebar di mana background layar itu tak lain foto saat mereka masih kecil, Shafiyah ada di gendongan Baskara dan Saka berdiri tepat di samping Baskara, menempel seolah takut kehilangan.


Hai, Kak ... tahun itu pertama kali aku berjumpa denganmu yang sepanjang hari ada di barak pelatihan, setiap menit aku menunggu dan semua foto yang ibu ambil adalah kenangan masa kecilku yang terindah.


Kalimat panjang yang sengaja Shafiyah ingin tunjukkan pada Baskara, hari ini, sudah lebih dari 10 tahun dari pertemuan mereka.


"Ya, Kakak?"


"Nanti, aku jemput sama kak Ais, kita makan bersama, aku ajak teman di sini sama calon suamimu!"


"Yeah, Kakak tahu apa yang aku mau!"


***


Makan bersama sebelum menikah, sengaja Baskara adakan untuk adik tercintanya yang akan segera menjadi istri orang, yang tak lain orang itu ada di depannya, sedangkan Shafiyah ada di sampingnya bersama Aisyah dan Saka.


Di depan itu tiga pengikut setia Baskara dan paman Yoga, ahahah, katakan saja dia begitu biar ngaku tua.


"Tahu ada makanan gratis, aku ajak istriku!" Yoga berkelakar.


"Memangnya siapa yang mau mengajak istrimu, nanti habis nasi banyak!" balas Baskara mengejutkan, biasanya tak akan membalas dengan kalimat usil begitu, mana ada wanita menghabiskan satu, terlebih lagi bertubuh kecil.


Nakula disenggol berulang kali oleh Pian dan Nando, "Cie yang mau belah duren!"


"Belah durennya siapa?" Nakula membalas polos.


Puuurrfttt,


Kopi susu yang Yoga sesap sontak tersembur, ada manusia jaman sekarang tidak tahu belah duren itu apa.

__ADS_1


"Tanya Saka kalau tidak tahu!" titah Yoga.


"Apa, aku, kenapa aku?" Saka menunjuk dirinya bingung, bisa dikira aneh-aneh kalau dia menjawab, bisa jadi akan dianggap sama dengan dua teman kakaknya itu. "Aku tidak tahu belah duren itu apa, jangan tanya aku!" mengibaskan tangan menjauh, dia akan sial kalau menjawab.


Yoga berdecak, "Tanya Bas saja kalau begitu, sudah jadi buah durennya di perut Ais, paham tidak?"


Baskara mengangguk, dia usap perut Aisyah sambil membusungkan dada, tembakannya berhasil tepat pada sasaran. Meledek Yoga yang baru menikah harian sudah membayangkan istrinya membawa bayi, ingin dia cekik saja paman mudanya itu.


"Memangnya apa?" tanya Shafiyah dan Nakula bersamaan.


Loh,


Pian dan ketiga lainnya sontak memejamkan mata, bagaimana bisa orang yang mau menikah tak paham kiasan seperti itu, mereka pastikan sekali lagi, nyatanya Nakula benar-benar tidak tahu, dia lebih paham akan jenis buah duren yang dijual di pasaran.


"Aku pernah dengar, tapi bagiku itu bukan hal lucu dan tak ada hubungannya dengan pernikahan, jad-"


"Ak, itu yang setelah menikah, malam pertama maksudnya, buat dedek bayi kayak Ais!" potong ibu hamil yang lebih mengejutkan.


Suaminya menoleh sambil menggelengkan kepala, semua jawaban terkalahkan oleh ibu hamil satu ini.


Gluk,


"Kenapa semua melihatku, Yanda?"


"Ndaaaa, kamu ngomong apa?" Baskara ingin menggigit pipi istrinya, kenapa tidak dia suruh pakai masker atau cadar saja, kalau begini jadi gemasnya tambah-tambah.


"Aku tidak berkata yang aneh-aneh, iya kan?" menempel pada bahu Baskara, malu mengudara, terlebih lagi di depannya ada para pria yang sontak melebarkan matanya karena jawabannya.


Di mana salahnya, kan tadi dia ditanya, jadi apa salahnya?


"Yanda, Yanda ... aku takut!" bisiknya.


"Aku lebih takut sama kamu, hayo kok jawab aneh!"


"Jawab aneh apa, kan aku jawab yang benar Yanda yang bilang dulu kan, itu Yanda yang kasih tahu ke aku, masa aku sekarang disalahin sih!" mengusel di lengan Baskara, protes sambil sesenggukan, antara mau menangis dan malu tingkat langit.


Yoga tak tega dan sebagai pemegang posisi tertua, dia minta Baskara mengerti.


"Bas, sudah, memang benar, tidak apa, biar Ais katakan!" kedip-kedip pada Baskara.

__ADS_1


__ADS_2