Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Aku Mencintai Aisyah


__ADS_3

Holaa, jangan esmoni sama Gina ya OmaMama semua....


***


Gina robek semua berkas pemeriksaan kehamilannya tepat di depan Sena, menjelang hari di mana pernikahan mereka diaturkan dengan rapi, bahkan Baskara terlibat di sana, mendadak Sena mengatakan kalau hubungannya dengan Gina hanya sebatas kecelakaan semata.


"Kalau kecelakaan, itu hanya kamu lakukan sekali denganku, Sena. Tapi, kita melakukannya sudah berulang kali, sejak malam itu, kamu ingat itu, kan?" getir dia berkata begitu mengingat Sena mendadak berubah. "Kamu tahu waktu itu aku masih suci, aku masih gadis, bercak merah kamu lihat dengan jelas, sekarang kamu bilang ini bukan anak kamu, kok tega!"


Sena memandang benci perut itu, sudah berlalu hampir satu bulan sejak tanggal pernikahannya dengan Aisyah dibatalkan, bahkan kini Aisyah telah menjadi istri sah Baskara, tapi hatinya masih ada di sana meskipun dia tahu kalau dia salah, mencintai Aisyah dan menodai perasaan itu.


"Kamu bilang apa, hah?" Gina cengkram kerah kemeja Sena. "Kamu bilang kalau sama aku cuman karena kamu tidak bisa menahan hasrat kamu, iya?" matanya memerah.


Bruk!


Gina dorong sampai Sena yang tak berdaya itu membentur tembok pembatas kamarnya, dadanya naik-turun merasakan gejolak sakit yang Sena katakan hari ini.


"Tapi, itu kenyataannya, aku tidak mungkin menyentuh Aisyah atau menodai kehormatannya, jadi-"


"Jadi, apa? Kamu menyentuh aku, begitu? Apa kamu anggap cuman Aisyah yang punya kehormatan dan aku tidak?" emosinya tak terkendali. "Baiklah, kalau kamu mau kita batal menikah, Sen. Bunuh dia, bunuh anak kamu ini, bagaimana kalau kamu antar aku ke tempat itu, kita gugurkan dia, kalau gagal, biar aku mati sekalian sama dia, bagaimana?" dia menantang habis Sena. "Atau mau menunggu Baskara ke sini, dia membawa tembak ke mana-mana, atau mungkin pisaunya, aku bisa meminjam itu dan buat aku mati sekalian anak ini, anak kita!"


Gina pegang dan paksa tangan Sena menyentuh juga memukul perutnya yang sudah berjalan dua bulan lebih itu, dia mau Sena menghukum anaknya saja, dia juga tidak meminta hamil sebelum menikah.


"Pukul dia, pukul aku juga, pukul, Sen!" pinta Gina, dia paksa tangan itu menamparnya, memukul perutnya, tapi Sena tahan. "Kenapa? Kamu mau dia mati, kan? Kamu mau dia tidak ada di dunia ini, kan? Buat apa dia hidup kalau ayahnya tidak mengakui, bunuh dia dan aku!"


Sena hampir terpancing emosinya, desakan Gina membuatnya semakin benci, tapi ketukan di pintu itu membuat mereka berhenti.


Bug!


Satu hantaman melayang dan mendarat ke wajah Sena, siapa lagi kalau bukan Baskara yang melakukannya, dia selain bertanggung jawab menikahi Aisyah, dia juga harus mengurus pernikahan bedebah satu ini.

__ADS_1


Hatinya mencintai Aisyah, mulutnya berkata yang sama, tapi tubuhnya merengkuh dan menikmati tubuh lainnya, apa julukan yang pantas untuk Sena selain bedebah sialan itu.


"Tolong bawa dia ke luar!" titah Baskara pada mama Cita, wanita itu sudah ketakutan sejak Sena datang dengan wajah bengisnya. "Bawa dia ke luar!" ulangnya berteriak.


Dan yang terjadi setelah Gina ke luar bersama mama Cita adalah di luar kendali keduanya, yang jelas cara Baskara menyadarkan Sena jauh lebih buruk dibandingkan Gina.


Hak wanita selalu ada di tangan kanan Baskara, entah itu Gina atau siapa saja, dia akan geram kalau ada yang berani seperti ini, melemahkan wanita demi egonya.


"Bas, berbohonglah sekali saja, ajak Ais bertemu denganku. Ak-aku ingin mendengar dia mengizinkan aku menikah dengan Gina, aku yakin dia cinta sama aku, Bas. Coba, bagaimana bisa aku hidup sama Gina yang tidak aku cinta dan kamu hidup sama Ais yang sama-sama tidak cinta, itu menyakitkan, iya kan?" Sena memohon.


Cih, tapi aku tidak serakah sepertimu dan aku mencintai A-isyah lebih dari dirimu, bedebah sialan!


Baskara tak mengindahkan permintaan itu sampai Sena mengancam akan bunuh diri di kamar ini, dia merebut senjata di tangan Baskara dan endak membunuh dirinya tepat di depan Baskara.


"Katakan aku berdosa menghamili Gina, tapi belum jelas itu anakku atau bukan, wanita bisa hamil dengan siapa saja, ini tidak adil bila hanya aku yang dituduh, Bas!" dia masih belum sadar. "Aku mencintai Aisyah, aku sangat mencintainya, aku-"


"Apa karena kau mencintainya, itu menjadi alasan untukmu menyentuh wanita lain sebagai pelampiasan?" potong Baskara. "Bagaimana kalau aku melakukan hal yang sama pada ibu atau saudaramu atau anak perempuanmu, apa kau akan terima dan membiarkan aku pergi dengan yang aku cinta?"


"Tenangkan dirimu, A-isyah tidak akan mau bertemu dengan pria yang hampir gila!"


Maksudnya adalah Aisyah tidak pantas dipertemukan dengan Sena yang masih tidak bisa berpikir jernih, tidak jelas bicaranya dan justru membuat Aisyah sakit hati.


Karena bagi Baskara, Aisyah, istrinya itu mencintai Sena, dia takut mempertemukan Aisyah dengan Sena, lalu kembali membuat Aisyah menangis.


***


Lihat, bajunya selalu begitu, dia baru berkelahi dengan siapa sih? Sakit tidak?


Aisyah berdiri mematung di depan pintu kamarnya, tadi pagi kalau bukan karena ibu mertua dan adik ipar tentu dia tidak akan berani bersalaman dengan Baskara, terlebih lagi berkata 'hati-hati ya' memangnya dia mau mati apa di depan suaminya itu.

__ADS_1


Bruk!


Ck, Baskara bergeleng, dia lantas berdiri dan mendekati Aisyah.


"Apa jatuh itu hobby mu?" tanyanya sambil mengulurkan tangan membantu.


Tidak, kan tidak sengaja jatuh, Kak.


Aisyah hanya bergeleng, dia memang tidak terlalu berani memandang Baskara, maka dia sering menunduk di depan suaminya itu sekalipun sudah menikah, keberaniannya lenyap.


"Sena ingin bertemu denganmu, kalau kamu mau katakan saja, dia bilang rindu padamu."


Kakak tidak marah ada lelaki lain rindu padaku, begitu? Aku kan istrimu sekarang, kenapa datar begitu bertanyanya? Kakak tidak marah?


"Hmm, akan aku pikir lagi. Ada apa?" mulutnya berkata lain.


"Sudah aku bilang dia rindu padamu, mau tidak?" Baskara mengulanginya, suaranya terdengar kesal.


Kan, Kakak marah lagi.


"Apa Kakak akan menemani aku?"


"Hem."


"Baiklah, tapi temani aku ya."


Baskara mengangguk, dia beringsut ke luar, waktunya melapor pada sang ayah selagi ada di rumah utama.


Huh, dia mau rupanya, dia rindu juga pada Sena, kenapa aku percaya diri sekali kalau dia menolak sih? Buktinya dia percaya, buktinya dia mau. Lalu, kenapa mengajakku juga? Dia mau memperlihatkan mata cintanya pada Sena ke aku begitu? Baskara.

__ADS_1


Aisyah mengintip dari balik pintu, berharap Baskara berbalik dan meralat tawarannya.


Lihat, dia tidak marah kalau aku mau bertemu pria lain! Aisyah.


__ADS_2